
"Aku tidak mau, Mas!" Aku menepis tangan Aldo yang memaksaku masuk ke sebuah restoran mewah di Jakarta.
"Kita udah sampai, Ra."
"Aku mau pulang!" aku segera berlari menjauhinnya.
"Hey, hey! Mahira, tunggu dulu."
Langkah kakiku semakin cepat saat aku tahu Aldo mengejarku. Tidak! bukan seperti ini. Ini tidak mungkin. Aku tidak mau sekian berakhir seperti ini. Aku menyeka air mataku yang sudah tidak bisa aku usap lagi sebenarnya.
"Mahira!" Aku mendengar Aldo berteriak bersamaan dengan bunyi klakson dan lampu yang menyala terang.
Brukkk!
Tubuhku terhempas. Rasanya sangat sakit. Sikut ini terasa sangat linu. Bokongku pun sama. Jantungku seperti berhenti berdetak. Antara sadar dan tidak, aku mendengar orang-orang ikut berteriak lalu perlahan suara kaki semakin mendekat.
"Kamu tidak apa-apa?" Suara itu? aku segera membuka mata agar tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak Putra?"
Aku melihat Pak Putra tepat berada di belakangku. Dia merengkuh tubuhku.
Begitu melihat sekeliling, beberapa orang mengerumuni. Mereka bernafas penuh kelegaan.
"Sayang ...." Aldo segera memelukku. Menarik tubuhku yang sedang berada dalam rengkuhan Pak Putra. "Maaf, maaf, maaf." suara Aldo bergetar hebat. Begitu juga dengan tubuhnya.
"Ayo, kita pergi dari sini."
Aldo menggendong tubuhku. Membawaku pergi meninggalkan orang-orang itu dan juga Pak Putra. Apakah dia yang menyelamatkanku? aku melirik sekilas. Dia tersenyum lega.
Beberapa orang keluar dari pintu restoran tempat aku seharusnya bertemu dengan wanita yang akan Aldo kenalkan. Mereka ....
"Mahira!" Pekik Bu Ranti yang diikuti Vera dan juga beberapa teman Aldo yang lainnya.
"Maaf semuanya, rencana kita gagal. Aku harus segera membawa mahira ke rumah sakit."
"Cepat bawa dia sekarang juga Aldo, jangan sampai dia kenapa-kenapa." Bu Ranti tampak cemas. Dia mengusap wajahku sebelum Aldo memasukkan tubuhku ke dalam mobil.
Aldo menancapkan gas. Mobil melaju dengan cepat. Beruntung, jalanan tidak terlalu macet.
Bingung, tapi aku merasa tubuhku begitu sakit dan terasa perih dimana-mana. Aku juga merasa sesuatu menetes dari hidungku. Hangat.
__ADS_1
Segera aku lap dengan kerudungku agar tidak mengucur semakin banyak. Aku menutup hidungku dengan ujung kerudung.
Sesekali Aldo melirik. Dia begitu cemas dan semakin mempercepat mobilnya. Tidak butuh waktu lama. Kami sampai ke rumah sakit.
Keadaan mobil masih menyala, Aldo segera membawaku ke dalam. Berteriak-teriak pada petugas agar segera memeriksakan keadaanku.
Beberapa diantara mereka datang menghampiri. Salah satu petugas yang memakai jas putih segera memeriksa.
"Kondisi istri Anda, baik-baik saja. Tidak perlu penanganan medis yang insentif. Setelah beberapa lukanya kami bersihkan, Anda bisa membawa istri Anda pulang, Pak."
"Alhamdulillah. Terima kasih, dok."
"Sama-sama. Tunggu lukanya dibersihkan, ya. Sekalian saya buatkan resep obatnya."
"Iya, Dok."
Beberapa perawatan perempuan, membersihkan luka-luka lecet di beberapa tempat. Sementara Aldo hanya melihat dengan cemas.
"Udah, Pak. Nanti tunggu resepnya saja."
"Terima kasih, suster."
Jujur, aku sendiri masih belum mengerti. Apa dia begitu merasa bersalah setelah aku hampir saja mengalami kecelakaan? apa harus seperti ini dulu, agar dia mau memeluk dan menciumku lagi.
Setelah mendapatkan obat, kami pun pulang. Sepanjang perjalan, kami berdua larut dalam keheningan. Bedanya, kali ini Aldo menggenggam tanganku erat. Seperti tidak ingin terlepas. Begitupun saat aku turun dari mobil, dengan sigap dia melindungi kepalaku.
"Aku gendong, ya."
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa jalan sendiri."
"Jangan. Aku takut kamu kesakitan."
"Memang sudah sakit, Mas. Bahkan sebelum insiden ini terjadi. Luka yang aku rasakan lebih sakit dari ini."
Aldo terpaku. Dia menatapku penuh rasa bersalah. Dengan cepat kilat Aldo menarik tubuhku masuk dalam pelukannya. Erat. Sangat erat.
"Maaf, sayang. Aku minta maaf karena telah membuat kamu terluka beberapa hari ini. Maaf." Aldo semakin erat memeluk tubuhku.
"Surprise!!!"
Tiba-tiba beberapa orang berteriak. Aku melihat teman-teman Aldo, Vera dan yang lainnya bersorak gembira.
__ADS_1
"Aduuh! lepas dulu dong kak pelukannya."
"Ogah!"
"Lanjut nanti! sekarang kita lanjutkan saja acaranya di sini. Biar gak gatot-gatot amat." Vera mencucu.
"Ada apa ini, Mas?"
Aldo tersenyum. "Kamu lupa? ini kan anniversary kita yang kedua, sayang."
Ya ampun. Aku bahkan lupa pada hari pernikahan sendiri. Belakangan ini aku sibuk dengan perubahan sikap Aldo sampai lupa hal lain.
"Jadi ... maksud, Mas? wanita itu, siapa?"
"Mami dan Vera. Mereka wanita yang selalu menghibur dan menenangkan aku, sayang. Mereka yang selalu memberi suporter untukku bersabar menanti buah cinta kita."
"Kamu tidak akan meninggalkan aku sendiri kan, Mas? kamu akan tetap setia bukan? kamu masih akan tetap mencintaiku meski belum ada anak diantara kita kan, Mas?"
Aldo kembali memeluk tubuhku. Sangat erat dari sebelumnya. "Tidak akan! untuk alasan apapun, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, istriku sayang."
Lega. Itulah yang ku rasakan saat ini. Sesak dalam dada selama ini seperti meledak dan pergi begitu saja terbawa angin seperti asap. Aku menangis sejadinya di pelukan Aldo. Berterima kasih karena perlakuan dia selama ini hanyalah akting, bagian dari kejutan yang akan dia berikan untukku. Insiden yang hampir membuatku celaka telah menghancurkan rencana Aldo.
"Cup! cup! sudah sayang, jangan menangis lagi. Aku benar-benar minta maaf, ya. Tidak ada maksud sedikitpun buat kamu terluka bahkan membuat kamu sampai celaka."
Aku menggelengkan kepala cepat seraya mengusap air mata. "Itu semua tidak penting, Mas. Bagiku, hatimu selalu setia adalah hal yang paling penting. Harta sebanyak apapun tidak ada harganya. Yang paling berharga untukku hanya kamu, Mas. Hanya kamu."
"Aku juga sama. Akau rela papi mengambil semua harta yang aku punya jika itu bisa membuat kita direstui."
"Aduuuh, udah dong! ini jomblo pada kepanasan liat kalian begitu."
Kami semua tertawa. Vera mendekat dengan kue tart di tangannya. Aku dan Aldo meniup lilin, memotong kue lalu saling menyuapi.
"Ini hadiah untuk kamu." dengan cepat Aldo melumuri wajah adiknya dengan krim. Vera marah lalu membalasnya, tapi Aldo berhasil mengelak. Tidak sampai disitu, Vera tetap berusaha mengejar Aldo.
Aku sangat bahagia melihat mereka berdua berlarian seperti itu, rasanya akan sangat bahagia memiliki saudara, mungkin. Tidak seperti diriku yang hidup sebatang kara, sepertinya.
Maaf ya Allah. Aku pernah ingin bunuh diri. Padahal aku tahu, itu sangat tidak engkau sukai.
Astagfirullah ....
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1