Membeli Istri

Membeli Istri
part#23


__ADS_3

Seperti pagi biasanya. Mahira terbangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan dan pakaian Putra. Dia sudah terlihat ceria seperti sebelumnya. Banyak bicara dan becanda bersama para pembantunya.


Dia juga tidak segan sarapan bersama mereka. Bercengkrama sebelum memulai kembali pekerjaannya. Sementara Putra duduk sendiri menyantap telur orak-arik dan juga roti panggang.


Ya, Mahira memang sengaja menjaga jarak dengan Putra. Dia berusaha untuk tidak sering menatapnya karena itu hanya akan membuat dia semakin mencintai suaminya. Mahira memang selalu jatuh cinta setiap menatap Putra, apa lagi saat Putra tersenyum. Lesung pipinya akan membuat Mahira salah tingkah sendiri.


Putra tidak banyak bertanya. Dia membiarkannya Mahira dengan apapun yang dia inginkan. Hanya saja, Putra merasa aneh. Tidak ada lagi yang membawakan tasnya sampai depan, tidak ada lagi suara berisik yang mengiringi langkahnya, suara yang terkadang dia rindukan saat sedang sibuk bekerja. Tidak ada lagi orang yang mencium tangannya dan menengadahkan tangan sambil berdoa untuk keselamatannya.


Ya, Mahira memang unik. Dia berdoa dengan tangan menengadah dengan suara yang lantang setiap Putra akan berangkat bekerja. Dia akan berkata 'Aamiin' dengan kencang lalu mengusap wajahnya. Melambaikan tangan sampai mobil Putra menghilang dari pandangan matanya. Wajahnya? wajah cantik itu selalu tersenyum melepas kepergiannya suaminya ke kantor.


Semua itu hilang pagi ini.


*****


"Tumben bapak bawa mobilnya yang putih," ucap satpam saat dia ikut bergabung bersama Mahira dan pekerjaan lainnya.


"Kenapa memangnya?" tanya Tuti.


"Mobil itu biasanya cuma di pakai kalau mau kumpul sama club'nya. Gak pernah dibawa ke kantor atau kemanapun juga."


"Yaaa mungkin lagi ingin, atau mobil yang lainnya rusak." Darinah menambahkan.


"Masa iya dari sekian banyak mobil, rusak semua? mobil itu tuh mobil modifikasi, khusus untuk club."


"Mungkin memang akan pergi bersama club'nya," ucap Mahira. Kemudian dia berani lalu pergi.


Matahari mulai beranjak naik sinarnya menerpa begitu galak kali ini. Membuat para penduduk di muka bumi ini takut dan menghindari sorotan sinarnya.


"Pak Misran, antar saya ke butik," pinta Mahira. Supir itu segera berjalan dan mengambil mobil milik Mahira yang Putra belikan. Mobil yang cukup besar dan lebar. Saat itu Putra tidak bertanya Mahira ingin mobil seperti apa, dia hanya ingat saat Mahira mengeluh tentang mobilnya yang hanya dua kursi. Putra berpikir bahwa Mahira lebih menyukai mobil yang besar dan luas.


Dalam perjalan, Mahira hanya diam. Matanya melihat segala sesuatu yang ada di pinggir jalan. Para ojol yang mungkin sedang menunggu orderan datang. Pedagang kaki lima yang sedang mengobrol asik dengan seksama pedagang lainnya. Para anak jalanan yang sibuk menengadahkan tangan. Para pengamen yang sebenarnya memiliki suara bagus, tapi harus menjual suaranya dengan keikhlasan orang-orang.


"Nyonya, mau ke butik mana?"


"Jangan panggil saya nyonya lagi mulai hari ini, Pak. Panggil saya neng aja kalau Bapak segan memanggil nama saya."


"Walah, saya bisa kena marah nantinya."


"Dari pada saya pecat. Pilih mana?" goda Mahira.


"Wahahaha. Baiklah, Neng. Kita mau ke butik mana?"


"Yang waktu itu saya dan Putra pergi, Pak. Masih ingat kan? soalnya saya udah lupa. Hihi."

__ADS_1


"Oooh, iya ya ya. Saya masih ingat. Saya sering ke sana. Waktu saya beli baju-baju muslim untuk Neng juga beli di sana."


"Baju muslim?"


"Iya, waktu sebelum Neng jadi istrinya pak putra, dia membeli banyak baju muslim. Katanya untuk istrinya."


"Tapi saya kan tidak berhijab, Pak."


"Mungkin sebenernya pak putra ingin Neng berubah. Kan emak sama adiknya pak putra semua berhijab."


"Ooh. Iya. Heheh." Mahira tertawa getir. Dia tau baju itu bukan untuk dirinya. Matanya tiba-tiba membulat, air matanya mulai berlinang. Dia kini sadar, kenapa ada banyak Bros di kamarnya. Dan juga ....


"Cincin-cincin longgar di jariku karena memang bukan untukku," tuturnya berbisik. Mahira segera menghapus air matanya saat mobil berhenti di depan butik yang dia tuju.


Dengan langkah sedikit cepat karena mengindari sengatan terik matahari, Mahira memasuki butik yang cukup besar dan terkenal di Jakarta.


Mahira yang memang sedikit kalut dan tidak fokus, lagi-lagi menabrak seseorang. Kali ini dia terjatuh ke lantai. Melihat itu, Pak Misran segera menghampiri dan membantu majikannya berdiri.


"Aduuh. Maaf, say–"


"Kamu lagi? yasalam! mimpi apa aku semalam."


Ternyata orang yang Mahira tabrak masih orang yang sama dengan yang di Fresh Food waktu itu.


"Neng tidak apa-apa?"


"Tidak, Pak. Sebaiknya Bapak kembali ke mobil saja."


"Iya, baik, Neng."


"Heh! kamu sengaja ngikutin saya, ya? kenapa harus bertemu lagi dengan kejadian yang serupa."


"Mana saya tau! tanya saja sana sama Allah. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini kecuali karena kehendak Allah atau takdir."


"Maksudnyaaa kita bertemu seperti ini karena takdir?"


"Ya terus? karena apa? karena Spongebob yang kuat mengangkat spatula ketimbang masemelo?"


"Marshmellow wey!"


"Iya, itu deh pokoknya. Jadi gimana nih? saya sudah minta maaf berkali-kali waktu itu. Mau di maafkan atau tidak? kalau dimaafkan ya sukur karena sudah seharusnya seperti itu. Kalaupun tidak, itu bukan urusan saya. Dosanya bukan ada di saya, tapi di kamu yang tidak mau memaafkan orang yang sudah memintai maaf. Ka–"


"Bersisik banget sih! bisa gak kalau ngomong itu jangan panjang kali lebar kali tinggi."

__ADS_1


"ENGGAK!"


"Astagahhhhh ...." Laki-laki itu tampak frustasi.


"Baiklah, baiklah. Saya kali ini tulus minta maaf. Tolong maafkan saya."


"Kamu mau saya maafkan?"


"Iya. Mau.


"Bantu saya dulu kalau begitu."


"Bantu apa?"


"Ikut saja dulu. Kamu saya belikan baju di butik ini, ambil yang paling mahal dan yang paling bagus. Setelah itu kita beli sandal dan tas. Terakhir kita pergi ke salon dan–"


"Wahhh! minta maaf di Jakarta itu enak ya? kita dibelikan apa saja. Kalau begitu lain kali saya akan melakukan kesalahan lagi dan meminta maaf lagi sama kamu. Lumayan bisa Belanda gratis."


"Ya ampun!"


Mahira segera berlari dan memilih beberapa dress cantik yang ada di dalam butik itu. Setelah lama memilih, akhirnya dia mendapat gaun cantik berwarna putih atas persetujuan laki-laki itu.


"Kenalkan, namaku Aldo."


"Aku Mahira."


"Supir kamu gimana?"


"Nanti saya suruh pulang saja. Oya, kamu orang baik bukan? saya takut nanti saya di culik soalnya. Atau saya diperkosa dan di bunuh."


"Bukan! saya penjahat kelas dunia."


"Oh, sukurlah."


"What?" Aldo bengong mendengar ucapan Mahira.


"Kenapa? kan kata orang, orang yang benar-benar baik itu tidak akan mengakui dirinya baik. Kamu kan ngakunya penjahatnya barusan. Itu artinya kamu orang baik."


Mahira berjalan mendekati Pak Misran. Dia berbisik lalu kemudian pak Misran pergi dengan mobil Mahira.


"Wanita aneh!" Bisik Aldo.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2