
Kepala masih terasa sangat berat dan nyut-nyutan saat samar-samar aku mendengar seseorang berbicara di telepon.
Membuka mata perlahan. Kunang-kunang dan kabur. Hingga aku sadar aku berada di mana. Benar saja, saat aku membuka mata dan memandang dengan jelas, aku ada di kamarku. Kamar saat menjadi istri Pak Putra.
Pak Putra? bukankah dia yang sedang berdiri di jendela? sedang apa dia di sini?
Dengan sisa kekuatan yang sangat sedikit, aku berusaha bangun. Dan ....
"Astagfirullah!" Pekikku. Pak Putra menoleh. Dia segera menghampiri.
"Kamu sudah sadar? apa yang kamu rasakan sekarang, apa masih pusing?"
"Pakaian ... ke mana pakaian saya, Pak. Siapa yang menggantikan pakaian saya?" sungguh. Aku begitu takut.
"Tenang saja. Bukan saya yang menggantikan pakaian kamu. Ada Bi Asti di sini."
"Siapa itu?"
"Dia asisten di rumah ini."
Aku lega mendengarnya. Ya Allah, ini lebaran bukan? masih terdengar suara takbir. Tapi ... kenapa terlihat ada lembayung?
"Pak ... ini idul Fitri bukan? kenapa terlihat sudah sore?"
"Ya. Ini idul Fitri. Apa kamu tidak ingat apa yang terjadi semalam?"
Aku mengernyitkan dahi. Memikirkan apa yang semalam terjadi. Tidak ada yang aku ingat selain aku memakai baju pemberian Al ....
"Aldo. Ke mana Aldo? di mana dia sekarang? apa yang terjadi? kenapa saya ada di sini bersama Bapak? Al ... Al ... Aldoooo." Aku berteriak memanggil Aldo.
"Dia tidak ada di sini Mahira. Apa kamu benar-benar tidak ingat apapun?"
Aku kembali berpikir.
"Semalam saat Bapak menelpon, saya merasa sangat pusing dan tiba-tiba tidak sadarkan diri."
"Sebelumnya?"
"Saya ...." Aku berpikir keras. Dan ... "Saya minum air pemberian pelayan di rumah Aldo. Pelayan yang masuk saat Aldo di luar kamar."
Pak Putra hanya diam berdiri, menatapku tajam seolah dia menginginkan aku untuk berpikir sendiri.
"Tidak mungkin. Aldo tidak sejahat itu. Dia tidak mungkin berbuat seperti itu pada saya, Pak. Saya sangat percaya padanya."
"Lalu kenapa kamu ada di sini?" tanya Pak Putra tidak suka. "Pernah kamu bayangkan, apa yang akan terjadi jika saya tidak segera datang saat itu?" Pak Putra berteriak. Wajahnya merah padam. Dia kesal dan sangat marah.
"Tapi, Pak ...."
"Kamu pikir, kamu tahu semuanya tentang dia? saya! saya lebih lama kenal dia dari dulu. Bagaimana cara dia hidup dan menghabiskan harta orang tuanya. Mahira, Mahira, Mahira!"
Aku semakin takut saat melihat Pak Putra semarah ini. Untuk pertama kalinya aku melihat dia semarah ini. Aku sangat takut.
Pak Putra mungkin sadar aku ketakutan. Dia mencoba menenangkan diri, dan mengatur nafasnya. Lalu duduk di sampingku di ranjang. Aku sedikit mundur. Menjauh.
"Mahira, dia tidak sebaik yang kamu pikir. Dulu aku pernah melarang mu untuk dekat dengan dia bukan? kalau bukan Ririn yang cerita bahwa kamu mungkin sudah terjebak Aldo, saya tidak akan bisa menyelamatkan kamu."
"Ririn?"
"Ya. Dia datang ke yayasan mami bukan? dia melihat kamu mengejar Aldo. Dia dan juga saya merasa yakin bahwa kamu sudah masuk perangkap. Itulah kenapa saya membututi kamu dan dia."
__ADS_1
Logis. Cukup masuk akal penjelasannya. Hanya saja, hatiku berkata lain. Aku tidak yakin Aldo mampu melakukan hal itu padaku.
Bagaimana jika itu memang benar?
*****
Tidak ada pilihan lain selain tinggal di rumah yang secara hukum memang milikku. Hanya saja, banyak yang berbeda di sini. Pekerjanya tidak lagi sama. Asisten rumah tangganya tidak sehangat dulu. Satpam dan supir di sini sudah berubah. Mereka bukan orang-orang yang aku kenal dulu.
Ditambah lagi ada empat bodyguard yang selalu menjaga pintu gerbang. Aku merasa seperti ada dalam penjara. Tidak bisa dan tidak boleh keluar sama sekali kecuali jika ditemani Pak Putra.
Sudah dua Minggu setelah kejadian. Aku masih belum bisa percaya pada apa yang terjadi.
Aku merasa benar-benar sakit. Melebihi rasa sakit saat Pak Putra meninggalkan aku dulu. Jika saat dengan Pak Putra, aku sudah tau konsekuensinya sejak awal. Tapi dengan Aldo?
Aku sudah percaya padanya. Juga telah jatuh hati padanya.
Dia adalah orang yang membuat aku merasa berarti telah ada di dunia ini. Dia yang membuat aku berhasil bangkit dari keterpurukan, selalu menghibur dan selalu ada untukku saat aku butuh.
Aku tidak yakin dia tega melakukan itu padaku. Dia yang sama sekali tidak berani menyentuhku sama sekali, mana mungkin dia tega melakukan hal keji padaku. Memberikan obat tidur dan ....
"Astagfirullah ...." aku menangis tersedu di atas balkon. Menangis entah karena kecewa dan berharap ini tidak Aldo lakukan. Atau karena hal lain. Entahlah ...
Aku benar-benar merasa tidak berguna. Selalu terlibat masalah dengan orang yang sama. Jika tidak bersama Pak Putra, aku hidup bersama Aldo. Seperti piala bergilir. Siapa yang paling kuat, dia yang mendapat piala itu.
Benar-benar hina.
Aku segera mengusap air mata saat melihat mobil masuk ke dalam halaman rumah. Mobil yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Aku segera kembali ke dalam kamar. Dan memilih untuk membaringkan diri di kasur. Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah dan juga ... bayi?
Pintu terbuka tanpa di ketuk. Ririn masuk dan juga bayinya.
"Tidak."
"Baiklah." Ririn duduk di tepi ranjang. Tepat di hadapanku.
"Ini anak kami, namanya Reno. Anak laki-laki yang akan segera kehilangan ibu kandungnya tapi juga akan segera mendapatkan ibu sambungnya." Dia meletakkan Reno yang sedang tertidur pulas.
"Apa maksudnya, Mba?"
"Tidak ada pilihan lain untuk kamu selain menikah kembali dengan Putra. Itu solusi agar kamu tidak di ganggu Aldo. Dia segan sama Putra."
"Maaf. Tapi saya tidak bisa menikah dengan Pak Putra."
"Kenapa? Mahira, sepertinya suami saya sudah mencintai kamu sejak kalian masih bersama. Hanya saja, dia juga tidak bisa melepaskan aku untuk kedua kalinya. Jadi, aku mohon. Untuk kali ini, menikah lah dengannya. Kalian saling mencintai."
"Mba. Kami sudah talak tiga. Itu artinya, saya harus menikah terlebih dahulu dengan orang lain, baru bisa menikah kembali dengan Pak Putra."
"Kalau begitu, kita cari saja laki-laki yang bersedia menikah sama kamu. Kita bayar dia berapapun yang dia minta."
"Mba. Apa mba tau sarat yang lainnya?"
"Apa?"
"Saya harus berhubungan badan dengan suami saya. Saya harus sudah di jamah oleh suami saya baru setelah itu kami cerai dan menikah dengan Pak Putra."
"Ya ... ya, sudah! lakukan saja. Kita lakukan apapun agar kamu bisa kembali dengan Putra."
"Mbaaa!" Aku berteriak! Reno terbangun karena kaget. Bayi itu histeris karena ketakutan. Ririn segera menggendongnya. Tidak la berselang, Putra datang dengan tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Ada apa?" Dia langsung menggendong bayinya. Menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
Entahlah. Tapi aku sama sekali tidak ingin minta maaf. Meski bayi itu sangat ketakutan mendengar suaraku.
Aku seperti sudah kehilangan akal. Dzikirku masih palsu. Meski beristighfar, nyatanya hatiku masih dikuasai amarah. Aku masih belum sungguh-sungguh pasrah pada-Nya. Dzikirku masih gombal.
Bagaimana aku bisa bersikap normal dan eling. Sementara sejak di rumah ini, aku seperti orang gila. Terkurung dalam sangkar. Bahkan, kerudungku lepas entah ke mana. Rambut yang selalu aku tutup dari Aldo dan yang lainnya, kini terlihat bebas oleh Pak Putra.
Aku marah saat itu. Tidak peduli pada pengetahuan agama yang secuil itu.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Ririn. Kesal sungguh saat dia seperti peduli padahal tidak. Pintar sekali dia berakting di depan Pak Putra.
"Kamu mau apa sebenarnya? kenapa selalu datang dan mengatakan hal yang sama. Dengar, Mba. Say–"
"Tenangkan dirimu Mahira. Sabar, aku tau ini tidak mudah. Tapi cobalah tenang."
"Tenang bagaimana? benar-benar wanita ular. Pergi dan jangan pernah datang padaku lagi. Pergi sekarang juga!"
"Mas, Mas. Sini Reno. Kamu tenangkan dulu Mahira."
Pak Putra menghampiriku setelah dia memberikan Reno pada Ririn. Wanita itu keluar membawa anaknya.
"Jangan mendekat!"
"Mahira, tenangkan dirimu. Tarik nafas pelan-pelan. Ok"
"Tidak. Saya mau keluar dari sini. Pak, saya mohon. Izinkan saya bertemu Aldo. Saya ingin bertemu dengan dia sekali saja."
"Mahira. Jangan. Kamu jangan pernah bertemu dengan dia lagi. Saya akan menjaga kamu di sini. Lupakan Aldo. Dia bukan pria yang pantas untuk kamu."
"Lalu siapa yang pantas? Bapak?"
"Mahira, bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin memastikannya kamu baik-baik saja. Hanya itu."
"Saya tidak pernah baik-baik saja setelah kita berpisah, Bapak juga tahu betul hal itu, bukan?"
"Saya minta maaf untuk itu semua. Saya minta maaf telah membuatmu hancur, Mahira."
"Semua sudah terlambat. Saya memang manusia yang tidak pernah ada harganya. Di mata semua orang, saya hanyalah seonggok daging busuk yang tidak berarti. Kalian orang-orang kaya yang memiliki harta melimpah, membuat saya seperti mainan yang menyenangkan bukan?
Kemarin saya di sana, dan sekarang saya ada di sini. Lalu besok saya akan diambil lagi oleh Aldo, lalu apa Bapak akan mengambil saya kembali? apa kalian pikir saya itu sebuah bola, atau piala bergilir."
"Mungkin lebih baik jika saya tidak ada di dunia ini."
Pak Putra memicingkan mata. Dia siaga mungkin takut aku melakukan sesuatu hal yang berbahaya. Ya. Itu yang sedang aku pikirkan. Terlintas dalam benak untuk mengakhiri hidup. Mungkin jika aku melompat dari balkon, bisa menghilangkan nyawa. Aku berlari sekencang mungkin.
Belum sampai balkon, Pak Putra menarik tanganku. Tubuhku yang memang lebih kecil darinya dengan entengnya dia tarik dan masuk ke dalam pelukannya.
Aku berontak. Tidak ingin tersentuh oleh laki-laki yang menjadi penyebab hancurnya hidupku. Kekuatanku kalah jauh. Aku tetap berontak dengan sisa tenaga yang kumiliki.
Aku menangis pasrah dalam pelukan pak Putra.
"Aldo ... Aldo ...."
Hanya nama itu yang aku sebut. Rasanya sangat sulit untuk dijelaskan. Satu sisi aku kecewa. Tapi dalam lubuk hatiku, aku masih mengharapkan dia. Berharap dia adalah Aldo yang memang aku kenal.
"Pak, saya ingin bertemu dia sekali saja," pintaku.
"Mahira ...." Lirih pak Putra.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺