Membeli Istri

Membeli Istri
part#68


__ADS_3

Seminggu sudah Mahira di rumah sakit. Seharusnya lima hari saja sudah bisa pulang, tapi kemarin dia sempat merasa pusing dan ternyata tekanan darahnya rendah.


Bayi kami masih harus tinggal lebih lama lagi. Berat badannya belum mencukupi, kondisi mereka masih harus dalam pantauan dokter.


Wanitaku menatap sedih dari balik kaca. Matanya mengusap-usap seakan dia sedang mengusap wajah anak-anak kami.


Air matanya tidak henti bercucuran. Wajahnya yang pucat semakin terlihat mengenaskan. Kesedihannya yang tidak bisa memeluk anaknya membuat dia kehilangan semangat.


Air susunya pun belum keluar banyak. Meski telah diberi obat oleh dokter, tetap saja, ASI Mahira masih sangat sedikit bahkan nyaris tidak keluar. Dia sempat stres dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Sayang ... ayo kita pulang. Nanti kita ke sini lagi kalau kamu udah baikan."


"Mereka butuh asi aku, Mas. Tapi aku tidak bisa memberikan hak mereka. Ibu macam apa aku ini."


Selalu saja begitu.


Dokter bilang itu adalah gejala baby blues sindrom. Tidak bahaya jika gejalanya masih sangat sederhana. Bahaya jika gejala yang timbul sudah seperti membenci bayinya dan cenderung menyakiti.


Mahira hanya butuh dukungan dari keluarga terdekat. Terutama aku suaminya.

__ADS_1


"Sayang, nanti juga keluar, kok, ASI nya. Kata dokter, kamu sendiri harus sehat dan banyak makan sayur. Kalau kamu tetap di sini, bagaimana bisaโ€“"


"Ya. Ayo, kita segera pulang. Biar pas mereka sudah bisa pulang, ASI ku sudah siap." tiba-tiba dia begitu semangat. Alhamdulilah.


Setiap hari, Mahira selalu makan makanan bergizi. Segala macam sayur dan makanan lainnya dia lahap. Search di google dan segala macamnya.


Hasilnya? sama. Tidak keluar juga. Setiap berkunjung ke rumah sakit, dia selalu meminta maaf pada anak kami, Alghifari dan Aliansyah. Alghi dan Ali.


Menangis tersedu karena tidak bisa memompa ASI untuk mereka.


Sudah hampir satu bulan Algi dan Ali di rumah sakit. Dokter berkata bahwa Algi menunjukkan banyak perkembangan, berbeda dengan Ali. Ali anak yang lahir lebih dulu tidak banyak berubah. Berat badannya tidak naik banyak, organ tubuhnya pun ada yang tidak sempurna. Terutama paru-paru.


"Saya mengerti, Dok." Aku tahu dokter tidak tega harus mengatakan bahwa Ali akan meninggal jika alat itu dicabut.


"Bagaimana kondisi istri Bapak?"


"Sudah membaik. Dia hanya selalu sedih karena ASI nya kini benar-benar mengering."


"Jangan beritahu masalah Ali, takut syok dan akan merasa semakin bersalah."

__ADS_1


"Iya, Dok. Saya akan menyampaikan ini jika waktunya sudah tepat."


"Sabar, Pak. Semoga Ali dan istri Bapak bisa sama-sama sehat."


"Aamiin."


Ya Allah. Bagaimana Mahira bisa menerima berita ini jika aku saja begitu terpukul mendengarnya.


Sekuat apapun aku. Setegar apapun aku, tapi entah kenapa, membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada anakku, membuatku kehilangan dunia, rasanya.


Duniaku hancur. Tulangku seperti tidak bisa menopang berat tubuhku lagi. Hati ini serasa diremas tanpa ampun. Mataku panas. Dadaku sesak.


Ya! makhluk kecil itu seperti kelelahan untuk bernafas meski alat-alat membantunya. Dia berusaha berjuang meski aku tau, dia sudah sangat lelah.


Tubuh kecilnya sesekali bergerak lemah. Nafasnya turun naik dengan cepat. Matanya seperti menatap, tapi terpejam. Entahlah ....


Seperti ingin pergi tapi tidak bisa. Bertahan tapi sulit.


"Ya Allah, Nak."

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2