
Mereka hanya saling diam sejak awal bertemu. Suasana restoran yang memang sepi pengunjung, membuat suasana semakin tidak nyaman.
Putra larut dalam pikirannya tentang pernikahannya dengan Mahira. Sementara Ririn sibuk dengan pikirannya yang menduga-duga tentang Putra.
"Mas, kita sudah sejam duduk diam-diaman seperti ini. Ada apa? aku ke sini untuk mengatakan sesuatu sama kamu. Jika memang memungkinkan, dan jika kamu mau dan Mahira setuju, aku siap untuk dimadu, Mas."
"Mahira tidak ingin berbagi, Rin."
"Maksud kamu, Mas?"
"Selama ini, aku memperlakukan dia dengan baik layaknya suami. Aku memberikan nafkah lahir dan batin. Apa yang aku miliki, aku berikan juga padanya. Meski aku tidak memberikan hatiku, tentunya."
"Lalu?"
"Dia jatuh cinta padaku begitu dalam. Baginya, aku adalah cinta pertamanya. Baginya, aku adalah segalanya. Sama seperti perasaanku padamu waktu dulu."
"Dulu? lalu sekarang?"
Putra menatap Ririn lekat. Dia baru sadar telah berbicara yang menyakiti hati Ririn. Lagi.
"Aku masih tetap mencintai kamu, tapi ...."
"Tapi apa? kamu juga mencintai dia, Mas?" Ririn mulai kesal.
"Jujur, aku menyayangi dia, Rin. Dia pergi dari rumah beberapa hari ini membutuhkan aku begitu cemas tentang keadaan dirinya. Dia ... dia sedang apa, ada di mana, dan ... aku tidak tau, Rin. Dia tidak didekatku membuat aku begitu cemas dan takut."
"Oh. Enak banget kamu, Mas. Kamu bisa membagi perasaan begitu saja pada kami berdua? kamu mencintai aku tapi kamu juga ingin tetap hidup dengannya?" Suara Ririn mulai meninggi.
"Kenapa? bukannya kamu bilang, tadi. Kamu bersedia untuk jadi istri yang ke dua?"
"Itu karena aku pikir kamu tidak mencintai dia. Aku kira, kamu benar-benar hanya menjalankan kewajiban suami padanya, ternyata? ini beda cerita,Mas. Beda lagi ceritanya jika kamu memiliki perasaan padanya. Aku tidak mau!"
"Kamu tenang saja. Dia sudah pergi. Dia pergi meninggalkan aku sekarang. Bahkan, wanita polos itu berhasil membujuk emak untuk merestui pernikahan kita."
"Apa?"
"Ya! dia mengorbankan hatinya untuk kita. Itulah yang dia lakukan."
"Terus?"
"Aku bingung, haruskah kita bahagia atas semua ini? sejujurnya, aku senang kita bisa menikah, tapi ... aku merasa ini tidak benar, Rin. Aku tidak ingin mengorbankan hatinya."
"Mas!" Ririn kecewa.
"Ini tidak benar. Ini salah."
"Mas, kamu bilang, kamu tidak akan menceraikan dia. Memang tidak. Dia yang menceraikan kamu, Mas."
"Ya. Kamu benar. Aku berjanji tidak akan menceraikan dia, dan aku menepatinya bukan? Baiklah, jika memang ini yang dia inginkan. Aku tidak akan membuat pengorbanan dia sia-sia." Ketus Putra.
*****
"Sebelum kita ke butik, kita mampir ke notaris sebentar," pinta Putra pada Ririn.
"Ada apa?"
"Ada sesuatu yang harus aku urus, hanya sebentar. Tidak apa-apa kan?"
"Hmm. Lagi pula masih ada waktu bener jam."
"Terima kasih."
Hampir satu jam lebih Ririn menunggu Putra di dalam mobil. Hingga dia melihat calon suaminya keluar. Ririn tersenyum bahagia.
"Sudah, Mas?"
"Hmm."
__ADS_1
"Boleh tau gak, kaki habis ngapain?"
"Aku?" Putra memasang sabuk pengaman. "Memberikan sesuatu hak Mahira."
"Maksud kamu?"
"Aku memberikan sebagiannya yang aku miliki atas nama Mahira, dia pantas mendapatkan itu semua."
"Oh."
"Tidak apa-apa kan?"
"Ya. Lagi pula dia masih istri kamu juga. Kalian belum bercerai."
"Akan segera terlaksana. Kita ikuti apa yang dia mau. Itulah kenapa pernikahan kita hanya dibawah tangan, untuk sementara."
Ririn sedikit kecewa. Meski ada rasa bersalah, tapi dia tidak suka dengan statusnya yang hanya akan menjadi istri siri Putra. Meski itu hanya sementara waktu sampai akhirnya Mahira dan Putra resmi bercerai.
Sudah dua bulan dari kepergian Mahira. Hari ini, Putra dan Ririn akan melaksanakan ijab qobul. Pernikahannya yang hanya di hadiri oleh orang tua dan saudara. Selainnya karena aturan pemerintah, toh mereka hanya menikah secara agama. Tidak ada pesta dan acara syukuran lainnya.
Pernikahan akan di langsungkan di apartemen Ririn.
Putra, Emak dan adik-adik Putra tengah bersiap. Mereka sibuk dengan seserahan yang akan mereka bawa. Meski hanya menikah agama, Putra ingin memberikan yang terbaik untuk Ririn dari segi seserahan. Barang-barang mewah dan beberapa set perhiasan nampak begitu cantik dengan bingkisan yang elegan.
"Wawa Ira ...." Pekik anak Abel. Sontak semua mata tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di depan pintu. Emak yang memang sangat mencintai menantunya itu langsung berhambur dan memeluk Mahira, pun dengan yang lainnya.
"Kamu apa kabar, Ra? ke mana saja selama ini? kenapa tidak memberi kabar sama emak? emak khawatir." Emak memeluk dan mengelus punggung Mahira.
"Aku baik, Mak. Emak gimana kabarnya?"
"Emak baik, Nak."
"Wawa, kemana aja? aku kangen sama Wawa."
Ponakan Putra yang memang sangat dekat dengan Mahira, merajuk.
"Teh, kenapa harus jadi begini sih? gak asik banget." Abel mencucu, pun Riska. Mahira hanya tersenyum menanggapinya.
Mata Mahira tertuju pada sosok yang memakai pakaian jas lengkap berwarna hitam. Sosok yang selalu tampak menawan di mata Mahira. Laki-laki yang sampai saat ini selalu membuat dia kesulitan untuk bernafas.
Mahira berjalan perlahan-lahan, menghampiri Putra yang mematung di anak tangga.
"Selalu saja terlihat sangat tampan." Ucap Mahira sambiloto tersenyum. "Masih suami kan? jadi gak apa-apa dong, ya, memuji suami sendiri." Imbuhnya.
"Ra, apa kabar?"
"Saya baik, Pak. Alhamdulillah ...."
"Kamu makin cantik dengan memakai hijab."
"Wahhh ... ini pertama kalinya loh, Bapak memuji saya," Mahira mencoba mencairkan suasana, meski matanya kesulitannya untuk menahan air mata agar tidak luruh.
"Sayaโ"
"Tidak apa-apa. Ini kepulauan yang benar. Jangan merasa bersalah, Pak."
"Mahira ...." lirih Putra.
"Saya ke sini untuk mengucapkan selamat dan memberikan doa agar pernikahan Bapak bahagia."
"Terima kasih."
"Saya juga ingin meminta sesuatu."
"Katakan, apa itu?"
"Hak saya untuk mendengarkan kata talak dari mulut Bapak."
__ADS_1
Hening. Hanya suara Isak tangis yang jelas terdengar dari mulut Emak dan yang lainnya. Termasuk para asisten rumah tangga yang menyaksikannya saat itu.
Tangan Mahira mulai bergetar. Tubuhnya susah payah menahan beban yang hampir tidak bisa dia topang.
Putra menuruni anak tangga, hingga tidak ada lagi jarak antara Mahira dan dirinya. Diraihnya pundak Mahira. Dia mencium kening wanita yang detik ini masih menjadi istrinya.
Putra memeluk tubuh Mahira untuk pertama kalinya. Dia memeluk tubuh mungil Mahira begitu erat.
Mahira begitu tenggelam dalam pelukan suaminya. Dia seakan tidak ingin melepaskan pelukan itu. Membenamkan wajahnya pada dada yang selalu jadi bantalan saat dia tertidur, dulu. Detik yang sangat berharga yang tidak akan pernah dia rasakan untuk waktu yang akan datang.
Bau tubuhnya yang sangat Mahira rindukan, seakan tidak ingin dia biarkan pergi begitu saja.
"Saya menjatuhkan talak kepadamu, Mahira. Mulai saat ini kau bukan lagi istriku," bisik Putra ditelinga Mahira.
Mahira memejamkan mata, seketika tangannya terlepas dari punggung Putra yang sedari tadi dia eratkan. Kini, tidak ada lagi hak untuknya pada tubuh laki-laki itu. Air matanya mengalir sangat deras. Kakinya melangkah ke belakang agar tubuhnya tidak lagi berdekatan dengan Putra.
Tangan Putra gemetar melepaskan pelukannya. Air matanya mulai jatuh saat melihat wanita itu melangkah menjauhi dirinya. Jauh dalam lubuk hatinya, ingin rasanya dia meraih tangan mantan istrinya. Tapi ....
Perlahan Mahira berjalan melangkah keluar dari rumah yang dulu dia tempati bersama Putra. Seperti berjalan di atas beling, bagi Mahira. Sakit.
Suara tangisan Emak bergema. Rengekan anak-anak Abel menambah riuh suasana. Mereka menangis melihat orang-orang menangis.
Jilbab Mahira sudah basah dengan air mata. Tatapannya kosong. Dia berjalan semakin jauh, namun, tidak pernah tau ke mana langkah kaki itu akan bertuju. Kata talak dari Putra masih terngiang jelas di telinganya.
"Tunggu." Langkah Mahira terhenti saat tangan seseorang menaiki tangannya.
"Pak," ucapnya begitu dia menoleh ke belakang. Ada sedikit harapan dalam hatinya, meski ....
"Ini." Putra memberikan sebuah paper bag.
"Apa ini?"
"Hak kamu. Tidak banyak, tapi itu yang bisa saya berikan untuk kamu."
Mahira tampak bingung.
"Itu sertifikat rumah ini, surat mobil kamu dan beberapa surat mobil yang lainnya. Ada juga sertifikat tanah dan tabungan atas nama kamu."
"Untuk apa?"
"Kamu harus benar-benar dalam keadaan yang baik dari segi materi. Itu akan membuatnya saya tenang melepaskan kamu."
"Rumah dan kendaraan ini perlu biaya, seken saya ...."
"Biaya perawatan akan saya tanggung semuanya sampai kamu akhirnya menikah dan memiliki seseorang yang bisa menafkahi kamu."
Perih. Itulah yang Mahira rasakan saat mendengar ucapan Putra.
"Saya harus pergi. Sampai jumpa lain waktu."
"Tapi, Pak ...."
"Begitu saya keluar dari gerbang, saya dan keluarga saya tidak akan kembali lagi ke rumah ini."
Air mata Mahira kembali tumpah ruah. Kini, dia benar-benar telah menjadi orang lain dalam hidup Putra. Dia merasa asing dalam sekejap.
Mahira masih berdiri mematung saat mobil Putra dan keluarganya melintas untuk pergi ke acara pernikahan mantan suaminya. Hijab yang menutup dada dan pinggangnya sedikit berayun terkena embusan angin. Dia kembali memejamkan mata, berharap Allah memberikan kekuatan kepadanya.
"Aku hanya mencintaimu, ya Rabb. Peluk dan raih hati ini ya Allah. Kuatkan hamba." Bisiknya di dalam hati.
Putra hanya melirik sekilas. Air matanya kembali menetes begitu dia melihat wajah Mahira.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
**Hallo semuanya. Terima kasih telah setia dengan karya-karya ku yaaa ... semoga kalian suka.
Agar author bersemangat dalam menulis, tolong beri dukungan dengan cara vote, like, komen juga yaaaa .... hatur nuhun.
__ADS_1
Love u full untuk para readers๐๐**