Membeli Istri

Membeli Istri
part#50


__ADS_3

Aku dan Aldo makan malam dengan saling diam setelah kami bersitegang cukup lama di kamar. Hh! Sudah seperti sepasang suami istri saja.


"Aku bukan tidak mau, tapi hanya menunda sampai kamu mau menikah denganku secara ikhlas."


Laki-laki pengecut!


Lalu untuk apa dia mencoba merayu dan mengejarku selama ini, apa hanya karena ingin meniduri ku seperti wanita lain?


Ya. Orang bilang, jika pakaian kita tertutup, malah akan membuat laki-laki semakin penasaran. Laki-laki baik akan mengobati penasarannya dengan akad, dan laki-laki kurang ajar seperti Aldo akan menuntaskan penasarannya dengan nekad.


"Aku akan mencari tahu dulu siapa yang menaruh obat tidur ke dalam minuman kamu waktu itu. Setelah terungkap, kita akan segera menikah."


Aku sibuk mengunyah dan mengabaikan ucapannya.


"Pembantu yang waktu itu masuk ke kamar kamu, dia menghilang."


Masa bodo! heran aja, orang sekaya dia begitu kesulitan mencari pembantu satu orang saja.


Aku masih diam.


"Aku dan Mas Putra diadu domba. Aku sudah menjelaskan ini kepadanya, tapi dia tidak percaya. Dia bersikeras ingin membawamu kembali. Aku gak ikhlas. Aku tidak ingin kamu kembali jatuh cinta padanya."


Hening.


"Bukankah kamu bilang padaku waktu itu, agar aku tidak melepaskan kamu."


"Rumah semewah itu gak ada cctv. Wow!"


"Ada, hanya kebetulan saja rusak."


"Semua?"


"Tidak. Tapi kami tidak menemukan jejak apa-apa di rekaman yang lain."


"Mungkin saja memang dia tau seluk beluk rumah kamu dengan jelas. Siapa lagi kalau bukan kamu sendiri."


"Sayang ... harus gimana lagi aku menjelaskan semuanya? aku benar-benar tidak melakukan hal sebejad itu. Jika memang aku hanya ingin meniduri kamu, kenapa gak dari dulu saja? banyak kesempatan untuk aku berbuat jahat jika aku mau. Tapi ... aku memang ingin melindungi kamu. Sayang itu menjaga, bukan merusak."


Aku diam karena hatiku membenarkan apa yang dia ucapakan. Jika dia ingin berbuat jahat, dari dulu sudah dia lakukan.


"Demi Allah, aku ingin menjadikan kamu istri. Bukan hanya sekedar teman tidur di atas ranjang. Aku ingin kamu menjadi teman hidup. Menjadi ibu untuk anak-anak aku, kelak."


"Sudahlah. Aku sudah kenyang."


Rasanya muak mendengar ucapan Aldo. Rasanya berubah. Tidak semanis dulu. Wajahku tidak memanas karena malu atau tersipu. Aku kesal.


Aku kembali ke kamar dan mengunci diri di kamar. Lagi.


*****


"Mau saya antar ke mana, Nona?"


"Saya ingin pergi sendiri. Kamu gak usah ikut-ikutan. Saya ini bukan presiden yang harus dijaga."


"Tapi saya bekerja di sini untuk menjaga anda."


"Kamu itu bawahan saya. Kalau kamu masih ingin bekerja dan menghidupi keluarga kamu, makan ikuti apa yang saya perintahkan!"


Para bodyguard itu hanya diam. Tanpa perlawanan apa lagi berani menyekap aku di dalam kamar.

__ADS_1


Hanya dengan supir saja, aku ingin pergi mencari sedikit udara. Meski aku marah dan kesal pada semuanya termasuk pada Tuhan. Aku masih memiliki sedikit malu untuk tidak melepas hijab ke halayak umum.


"Pak, gak usah tunggu saya. Bapak pulang aja."


"Ba-baik, Non."


Aku tahu dia sebenar takut pada Aldo jika meninggal aku sendirian. Biarlah, nanti aku yang akan memarahi Aldo. Impas.


Suasana mall tidak terlalu ramai. Mungkin karena masih masa transisi dari PSBB. Masih banyak aturan yang tidak boleh kami langgar. Termasuk hanya memperbolehkan 50 persennya saja pengunjung mal yang diperbolehkan masuk.


Berjalan-jalan tanpa tahu apa yang sedang di cari. Apa lagi yang aku butuhkan? semua perlengkapan di kamar sudah cukup. Semua ada dan barang-barangnya pun tidak bisa di bilang murah. Termasuk pakaian yang kenakan. Busana muslim yang khusus Aldo pesan dari seorang design ternama di Indonesia. Aku rasa, Aldo takut jika membeli baju yang sudah jadi. Kebesaran ataukah terlalu kecil untukku.


"Tapi, dia pakai ukuran baju siapa untuk membuat semua baju muslim ini? ahhh, bodo amat."


Aku masuk pada salah satu toko jam tangan yang cukup terkenal. Mataku menyusuri semua bentuk jam yang terpajang di etalase kaca. Hingga mataku berhenti pada satu model jam tangan yang mungkin cocok untuk Aldo.


Aku akan membelikan dia hadiah. Entahlah, aku hanya ingin saja. Tak apa mahal, toh uang yang aku pakai juga uang dia sendiri. Aku tidak tahu, ponsel dan dompetku ada di mana.


Cukup puas berkeliling, belanja barang yang sebenarnya tidak begitu aku butuhkan, aku melangkah ke luar untuk memesan taksi.


"Mahira!"


Langkah kaki ini terhenti saat aku mendengar suara laki-laki yang sangat aku kenal. Tidak ada niatan untuk membalik badan, aku segera berlari. Sudah bisa ditebak, dia bisa mengejar dan menarik tanganku.


"Jangan lari. Mau ke mana? ayo kita pulang. Kamu kenapa masih percaya sama Aldo? ikut pulang sekarang juga!"


"Tidak, Pak. Saya tidak mau! Lepaskan!"


"Mahira, Aldo bukan laki-laki yang baik. Kamu ikut saya ke rumah Sekarang juga."


"Gak mau, Pak. Lepaskan! tangan saya sakit."


Pak Putra tidak memperdulikan diriku gang terus meronta. Dia menyeretku menuju mobilnya. Barang-barang belanjaanku jatuh semua, termasuk jam untuk Aldo.


"Mahira. Sudah berapa kali saya ingatkan kalauโ€“"


"Dia tidak kasar pada saya seperti yang Bapak lakukan sekarang. Dia juga tidak mengurung saya. Itulah kenapa saya merasa nyaman pulang ke rumah dia."


"Saya tidak mengurung kamu. Saya hanya ingin memastikan kamu untuk tidak bertemu Aldo lagi."


"Kenapa? apa alasan Bapak? kita itu sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang. Bapak tidak punya hak memaksa saya dalam hal apapun."


"Dengar, Mahira. Apa kamu tidak sadar kalau dia telah menaruh obat tidur ke dalam minuman kamu? kalau saja saya tidak membututi kalian dan tidak segera datang, kamu bayangkan saja apa yang terjadi sama kamu sekarang!"


"Saya tidak percaya! yaaa ... sebelum saya tau kebenarannya. Bapak dan Aldo mengatakan hal yang jauh berbeda. Bahkan, jika pun Aldo melakukan hal itu, asal dia mau tanggung jawab, saya tidak keberatan."


"Mahira ...." Pak Putra terlihat pasrah dan marah sekaligus.


"Pak, hidup saya sudah tidak berarti sekarang. Saya tau sejak dulu, tidak ada yang benar-benar menghargai dan menginginkan saya di dunia ini. Tak apa. Seburuk apapun Aldo, paling tidak hidup saya berkecukupan. Saya sudah muak dengan semua masalah yang tidak pernah berhenti menghantui. Jadi ... silahkan Bapak pergi. Percuma saja. Saya tidak akan mau ikut dengan Bapak."


"Tidak! kalaupun kamu harus menikah, jangan dengan dia."


"Lalu dengan siapa?"


Pak Putra menatap lekat.


"Dengan kamu, Mas?"


Aku dan Pak Putra menengok bersamaan.

__ADS_1


"Aldo ...." Aku segera menepis tangan Pak Putra. Lalu berlari dan bersembunyi di belakang Aldo. Aldo melirik.


"Jangan sakiti dia lagi, Mas. Jangan egois. Bukankah menikahi Ririn adalah keinginan kamu? nikmati saja."


"Iya, Pak. Saya bukan Anjeli yang akan kembali pada Rahul," ocehku. Pak Putra mengernyitkan dahi. Ah, mana tau dia film India.


"Do, saya tidak percaya sama kamu. Itu intinya."


"Kenapa? karena kejadian kemarin? Mas! sumpah demi apapun, bukan saya yang memberikan Mahira minuman itu. Bahkan, pelayan di rumah kami menghilang."


"Lucu! bahkan dengan ratusan anak buah yang kamu miliki, kamu tidak bisa mencari pelayan wanita yang kabur?"


"Aku sudah mencari ke kampung dan ke semua saudaranya, gak ada hasil! Denger ya, Mas. Entah apa tujuan orang itu, yang pasti, dengan kita bertengkar seperti sekarang adalah kepuasan untuknya. Apa lagi Mahira sempat depresi gara-gara ini. Tolong ... jangan ganggu Mahira lagi."


"Kita lihat saja nanti. Yang jelas, dia harus ikut bersama saya."


"Tidak! aku tidak mau, Al. Di rumah itu aku tidak bisa bebas seperti sekarang. Aku tidak bisa keluar rumah. Aku mohon ...." Aku menggenggam tangan Aldo erat, memohon agar dia mau melindungiku dari pak Putra.


"Tenang saja." Dia mengusap punggung tanganku. "Kita akan pulang ke rumah. Kamu jangan takut."


Lega. Aku bisa percaya pada Aldo. Entahlah, meski marah membuatku menutup mata dan telinga untuk semua orang, tapi hatiku percaya padanya.


"Mas, aku masih menghargai Mas sebagai kakak. Jangan biarkan aku melakukan sesuatu diluar batas."


Pak Putra menahan amarah, terlihat jelas di wajahnya yang mengeras dengan gigi yang saling mengerat.


Dengan kesal, dia pergi dari hadapan kami berdua.


"Hupf! untunglah. Terima kasih, Al."


"Lain kali, jangan pergi sendiri. Kenapa tidak mau di temani bodyguard dan supir?" Aldo kesal. Aku tahu di cemas.


"Karena aku tahu kamu pasti datang kalau aku butuh. He he he."


Aku teringat pada belanjaan yang terjatuh. Segera berlari lalu memunguti barang-barang yang berjatuhan.


Alhamdulillah. Jam tangan itu masih tersimpan rapi di dalam box. Sedikit kotor, ku usap dengan ujung tangan gamisku.


"Apa itu? belanja banyak sepertinya."


"Ini, buat kamu."


"Apa?"


"Buka, dong kalau mau tau."


Dengan wajah terlihat berbinar, Aldo mbuka box itu. Dia tersenyum setelah melihat isinya.


"Kenapa? gak suka, ya. Pastikan karena murahan. Ahhh, tau gitu aku beli yang mahal aja sekalian, toh uang kamu juga yang aku pakai."


"Bukan. Justru aku senang. Baru kali ini ada yang ngasih kado tapi make duit aku juga."


"Aldooo!"


Aku memukul tangannya. Rasanya malu banget. Mau gimana lagi, aku tidak tau keberadaan dompet dan ponselku. Justru ini bagus, akan lebih aneh lagi jika aku membelikan Aldo sesuatu yang uangnya pemberian dari Pak Putra. Ck! ck! ck!


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Maaf ya kesayangan, karena aku baru up!

__ADS_1


Dukung terus cerita aku dengan like, komen dan juga vote.


Terima kasih untuk kalian yang selalu setia. Love u all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2