Membeli Istri

Membeli Istri
part#69


__ADS_3

Hari ini Mahira dan aku kembali ke rumah sakit. Sudah sepekan dari pembicaraan aku dan dokter waktu itu. Sampai detik ini aku belum bicara apa-apa mengenai keadaan Ali.


Mahira ku tampak bahagia. Raut wajahnya begitu berbinar. Rina bahagia tampak jelas di wajahnya. Aku senang melihatnya. Setelah sekian lama dia begitu murung dan meratapi diri sendiri.


Aku tidak melepas genggaman tangannya sepanjang jalan. Beruntung Pak Misran sudah sehat dan bisa mengantar kami. Jadi aku bisa fokus pada istriku.


"Sayang, hari ini kamu sangat cantik."


"Aku mau menjemput anak-anak kita. Semalam aku bermimpi mereka pulang hari ini. Aku menggendong mereka dan membawa mereka pulang. Rasanya sangat bahagia, Mas."


"Alhamdulillah. Semoga pertanda baik, ya."


"Aamiin."


Bahkan keyakinan untuk membawa Ali pulang, sudah tidak ada. Bukan aku tidak percaya pada keajaiban. Aku hanya bersikap rasional agar saat sesuatu yang buruk terjadi, aku sudah siap.


Benarkah aku akan siap?


Mahira berjalan begitu cepat menuju ruang perinatologi. Bahkan dia meninggalkan aku jauh dibelakangnya.


Raut wajahnya seketika berubah begitu wajahnya mengintip dari jendela. Aku menghentikan langkah. Berusaha menguatkan diri saat melihat apa yang terjadi.


Benar saja. Ali sedang dikelilingi petugas. Mereka terlihat sibuk dan tegang.


Ya Allah, mungkinkah engkau akan mengambil Ali hari ini?


Seorang petugas keluar dan memanggil kami berdua. Dia bilang bahwa kami boleh masuk.


Tanpa aba-aba lagi, Mahira berlari menuju ruangan. Dia yang selama ini merindukan anak-anaknya atau dia ....


Anakku sudah tidak lagi dalam ruangan bersama bayi yang lain. Mungkin karena kami akan masuk jadi ruangannya di bedakan.


"Bu, anak ibu ...."


"Bicara dengan saya saja, Dok." aku menyela. Karena melihat Mahira tidak konsen. Fokusnya tertuju pada anaknya yang lemah tidak berdaya.


"Maaf, Pak. Tapi saya harus katakan, sebaiknya kita lepas saja alat-alatnya."


Hanya itu yang dokter katakan. Mungkin karena sudah tidak ada harapan.


Aku mengerti. Alat-alat itu hanya membuat Ali menderita. Dia selalu mencoba bertahan mungkin karena ingin disentuh oleh ibunya. Atau ....


Dengan segala kekuatan yang ada, aku mendekat dan berbisik pada Mahira yang masih menatap lekat Ali. Dia hanya mengelus wajah Ali.


"Kenapa tidak digendong. Ayo, kita bawa dia pulang."


Mahira menatapku dengan tangan yang masih menempel di wajah kecil Ali.


"Ikhlaskan Ali, sayang. Dia sudah terlalu lelah bertahan. Jangan buat dia menderita terlalu lama, ya."

__ADS_1


Mahira menatap kosong. Tidak menangis, tidak berkedip.


Kami semua terdiam. Hanya suara bayi-bayi lain yang sesekali terdengar menangis.


Dengan tangan yang bergetar hebat, Mahira meraih tubuh ringkih Ali. Menggendongnya dengan lembut. Lalu menciumnya penuh kasih sayang untuk pertama kalinya.


Mahira tersenyum.


Dia mendekap Ali. Meletakkan bayi kecil itu di dadanya. "Aku berharap, aliran kehidupan bisa aku berikan pada tubuhnya."


"Sayang, jangan begitu."


"Bunda ikhlas memberikan sisa umur bunda untukmu, Nak. Ambillah."


Ali bereaksi. Tubuhnya menjengkit seperti orang kaget. Tangannya bergerak seperti mencari pegangan. Mahira kembali mengangkat tubuh bayi kami lebih dekat pada wajahnya. Lalu memberikan telunjuknya untuk Ali raih.


Ali menggenggam erat telunjuk Mahira. Tubuh Mahira bergetar hebat meski dia tersenyum.


Aku dan beberapa petugas perempuan yang ada di sana tidak kuasa menahan air mata. Ali ku tidak kuat. Dia ingin pergi namun, seperti terhalang keikhlasan ibunya.


Aku mendekat. Merengkuh tubuh Mahira dan mengusap wajah bayi kecil kami.


"Ayah, ikhlas jika kamu mau pulang, Nak. Pergilah dengan tenang. Tunggu kami di surga."


"Bunda ikhlas, sayang. Pulanglah." bisik Mahira pada anak kami.


Ali terdengar bersuara. Menangis atau tertawa, entahlah ....


Mahira mendekap erat bayinya. Dia berusaha tegar dan tidak menitikkan air mata saat itu. Kami tau, Ali telah pergi untuk selamanya.


Aku dan Mahira pasrah. Bayi kami kini benar-benar kami bawa pulang ke rumah. Meski dia tidak bisa menghiasi rumah kami dengan tangisannya tapi dengan tangisan kami semua.


"Algi sudah sehat, dia sudah bisa di bawa pulang."


Ya. Algi pun ikut pulang bersama kami. Doker bilang, Algi sudah sehat meski harus sering kontrol untuk memastikan semuanya baik-baik saja.


Memiliki bayi kembar memang resikonya adalah lahir dengan berat badan yang kurang dari normal. Terlebih anak kami lahir belum cukup bulan.


Ini sudah menjadi kuasa illahi. Dia datang untuk mengambil restu dari kakeknya untuk orang tuanya.


Ali, Nak. Ayah mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Meski kehadiranmu hanya sekejap. Terima kasih karena telah membuat kakekmu merestui pernikahan Ayah dan Bunda.


Mahira begitu tegar. Mulai dari memandikan sampai menyiapkan kain kafan untuk Ali, dia tidak menangis. Hanya diam.


Aku tahu, di antara kami semua, dialah yang paling terluka. Bisa aku lihat saat dia menyiapkan kain kafan, dia terlihat tersenyum getir. Mungkin, dia berpikir, harusnya dia sedang menyiapkan popok untuk Ali, bukan kain kafan.


Bahkan saat kami menuju pemakaman pun, Mahira masih terlihat tegar.


Hingga ....

__ADS_1


"Ikut! bunda ikuuuut ...."


Mahira histeris saat tubuh kecil Ali hendak masuk ke dalam liang lahat. Aku yang ada di bawah untuk menerima jenazah anakku, di suruh naik ke atas untuk menenangkan Mahira.


Kudekap tubuhnya yang mulai melemah. Tangisannya yang tadi begitu memekakkan telinga kini mulai hilang. Hanya terdengar suara tangisan yang menyayat hati. Merintih meratapi bayinya yang kini telah tertutup tanah merah.


"Sayang, ikhlas. Masih ada Algi yang membutuhkan kita," Bisikku pada Mahira.


Dia memejamkan mata. Berusaha untuk tenang dan mungkin dia sadar setelah mendengar ucapanku.


"Algi ...." Kini dia menangis menyebut anak kami yang satunya lagi.


Mahira masih saja menangis, dan akhirnya aku memutuskan untuk membawanya pulang meski penguburan Ali belum usai.


****


"Sayang ... Ali. Maafkan bunda karena tidak menyaksikan pemakan kamu sampai selesai. Bunda masih belum punya keimanan yang kuat untuk menerima kenyataan bahwa kamu lebih dicintai Allah.


Nak, terima kasih telah hadir menemani hidup bunda selama sembilan bulan ini. Menemani bunda tidur, makan dan berdoa saat malam tiba. Bunda akan selalu merindukan waktu saat kita berkumpul bersama nanti. Dengan ayah dan juga Algi.


Nak, Bunda tidak pernah melupakanmu meski hanya sekejap mata. Dalam hati bunda, kamu akan selalu hidup. Genggaman jemari kecil kamu masih bunda rasakan. Bunda sadar, saat itu kamu memang sangat lelah untuk bertahan bukan? Bunda minta maaf karena egois memintamu untuk terus berjuang.


Aki sayang, doa bunda akan selalu mengalir untukmu disetiap helaan nafas bunda. Semoga kamu di sana bahagia.


Sayang ... bunda benar-benar merindukamu, Nak.


Maafkan bunda, Ali. Maafkan Bunda."


Mahira memeluk batu nisan Ali, tidak perduli bajunya kotor dan basah karena air hujan.


Mahira kembali keesokan harinya setelah dia merasa benar-benar kuat untuk mengunjungi makam Ali.


Meski ada Algi, nyatanya itu tidak cukup untuk menghibur hati Mahira. Rasa sakitnya tidak bisa terobati sepenuhnya.


Itulah cinta seorang Ibu. Meski dengan puluhan anak sebagai pengganti anak yang telah pergi, tidak lantas membuat Ibu melupakan rasa sakit saat mereka kehilangan anaknya.


Ali, sayang. Ayah juga merindukanmu, Nak.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบend๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Akhirnya ....


Kisah ini sudah berakhir nya readers, terima kasih pada kalian yang telah setia dan selalu memberikan like dan komentarnya.


Terima kasih juga karena kalianlah yang selalu hadir memberikan semangat untuk terus up cerita ini.


Terima kasih tak terhingga untuk yang memberikan vote kalian. Lope U pulll.


Tunggu kisah selanjutnya di judul yang berbeda.

__ADS_1


Bye ....


__ADS_2