
"Gak ke kantor, Pak?"
"Saya tidak bisa meninggalkan kamu sendirian."
"Di rumah ini banyak orang, kenapa saya sendirian? Bapak kalau kau kerja, gak apa-apa. Nanti saya bisa minta tolong orang rumah kalau butuh sesuatu."
"Saya bisa kerja dari rumah. Saya harus memastikan kondisi kandungan kamu baik-baik saja."
"Baiklah. Tapi, Pak ...."
Putra melirik. Dia yang sedang sibuk dengan laptopnya, menghentikan jari-jarinya. Melihat tubuh Mahira yang tidak tertutup selimut, Putra bergerak lalu menyelimuti Mahira dengan benar. Lalu kembali menyandarkan tubuhnya di samping Mahira.
"Baru sehari ini saja, saya sudah sangat jenuh. Harus berapa lama saya tidur tidak bergerak?"
"Sabar. Semua demi anak kita. Kamu jangan banyak bergerak dulu."
"Hemm. Baiklah." Mahira mengembuskan nafas sedikit kesal. Dia membalikan badan dan menatap suaminya yang kini kembali sibuk dengan laptop.
Semakin lama Mahira menatap, rasa cinta dalam hatinya semakin bertambah. Dia tersenyum dengan air mata yang menetes. Mahira begitu mencintainya, hanya saja laki-laki itu mencintai wanita lain. Dia merasa bingung harus bersikap seperti apa, haruskah dia mundur? atau bertahan?
Mahira sadar dan tahu betul kalau selama ini kebaikan yang dia terima dari Putra, hanya sebatas kewajiban. Terlebih lagi, Putra melakukan itu karena demi Emak. Putra tidak ingin Emak kecewa jika Putra memperlakukan Mahira tidak layak.
"Pak ...."
"Hmm."
"Bolehkah saya tidur di pangkuan Bapak?"
"Tentu saja, kenapa tidak?" jawabnya datar dengan mata masih menatap layar laptop. Putra mengangkat benda putih itu agak jauh dari tubuhnya, agar Mahira bisa tidur di pangkuannya.
Mahira tidur di pangkuan Putra. Matanya melihat huruf-huruf yang suaminya ketik di layar.
"Jangan bersedih terus. Tidak ada yang harus kamu takutkan," bisik Putra.
"Bahkan saat saya harus melupakan bahwa suami saya mencintainya wanita lain?"
Putra terdiam mendengar pertanyaan Mahira. Apa yang harus dia katakan, hatinya memang tidak bisa berpaling dari Ririn meski dia tidak memungkiri kenyamanan yang dia rasakan saat berada dekat Mahira.
"Maaf."
"Tak apa. Kita sama-sama tahu ini sejak awal, pernikahan kita memang ...."
"Jangan bahas ini lagi, ya. Istirahatlah. Saya akan menemani kamu di sini." Putra mengusap rambut Mahira.
"Ya, paling tidak saya harus bersyukur dan menikmati apa yang saat ini saya dapatkan. Meski tidak bisa memiliki hati Bapak, saya mendapatkan raga dan perhatian Bapak. Itu cukup."
"Ya, selain hati, kamu mendapatkan semua yang saya miliki. Nikmatilah. Istirahatlah."
Mahira mencoba memejamkan mata, sementara Putra melanjutkan pekerjaannya.
Matahari sudah mulai menaiki tahtanya. Mahira sudah tertidur pulas di pangkuan Putra. Laki-laki itu hanya diam dengan tangan yang membelai kepala istrinya. Tidak dia pedulikan rasa pegal yang sedari tadi merayapi.
__ADS_1
"Pak, boleh saya masuk?" suara Tuti terdengar dari luar setelah dia mengetuk pintu tiga kali.
"Ya. Masuklah."
Wanita itu muncul dari luar dengan malu-malu.
"Ada tamu, Pak."
"Siapa?"
"Namanya Bu Ririn."
Putra terperanjat. Sadar sikapnya bisa membangunkan Mahira, dia segera bersikap lebih tenang dan berbicara sedikit berbisik pada pembantunya.
"Suruh tunggu sebentar."
"Baik, Pak." Tuti mundur perlahan, lalu menghilang di balik pintu yang kini tertutup.
Putra kebingungan. Dia tidak ingin membangunkan istrinya, tapi tidak mungkin juga Ririn harus menunggu sampai Mahira bangun, yang entah kapan itu terjadi.
Ponsel Putra berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Ririn.
[Apa aku harus kembali pulang saja, Mas?]
Putra berpikir keras sebelum dia membalas pesannya.
[Baiklah, kalau aku menganggu kalian. Kota bertemu di lain waktu saja.]
Mendapat balasan pesan seperti itu. Hati Ririn semakin sakit. Dia meletakkan ponselnya. Matanya kembali menatap sebuah foto besar. Mahira dan Putra memang terlihat bahagia saat mereka menikah.
Pikirannya kembali teringat pada masa lalu. Masa saat mereka begitu bahagia merancang rumah ini. Bagaimana Ririn sangat antusias menata ruang demi ruang di rumah yang akan mereka tempati, awalnya.
Putra dan Ririn sampai harus ke luar negeri untuk berburu furnitur dan juga pernak pernik yang akan mereka jadikan pajangan.
"Bapak tidak merestui hubungan kalian karena dia bukan dari keluar terpandang meski dia kaya raya."
Itulah alasan orang tua Ririn yang dulunya seorang pejabat negara. Mereka ingin Ririn menikah dengan anak pejabat juga. Keluarga terpandang yang saat menikah bisa di hadiri oleh orang-orang penting. Sungguh alasan yang sangat tidak masuk akal bagi Ririn.
"Mereka itu orang kampung. Kalau kamu menikah dengan kaki-laki itu, yang akan datang ke acara pernikahan jamu pun pasti orang-orang udik. Kampungan. Apa kata teman-teman bapak yang sama-sama pejabat?"
Sebagai anak, tidak ada yang bisa Ririn lakukan selain menurut. Dia akhirnya menikah dengan anak anggota dewan, sesuai keinginan orang tuanya. Cinta Ririn kandas meski tidak pernah hilang dalam hatinya. Kebaikan suami Ririn membuat dia pada akhirnya menerima sepenuhnya suami secara lahir dan batin. Meski dalam lubuk hatinya selalu ada nama Putra. Sama seperti yang Putra alami saat ini.
Ririn menghapus air mata yang tidak sadar sudah membasahi wajahnya. Dia mengambilnya ponsel dan membalikkan badan hendak pergi.
"Rin ..."
Ririn menghentikan langkahnya saat Putra memanggil. Dia diam tidak menoleh.
"Duduklah. Kita bicara sebentar."
Ririn masih diam. Dia bimbang antara ingin dan tidak ngobrol dengan Putra. Meski akhirnya dia mau duduk dan bicara. Bukankah itu memang tujuan awal dia ke sini. Mengorbankan rasa malu.
__ADS_1
"Maaf ... tadi aku–"
"Tak apa. Siapa juga aku harus mengganggu sepasang suami-istri, di rumahnya pula."
"Bukan begitu ...."
"Aku ke sini hanya ingin bertanya. Tapi sudah tidak ingin aku tanyakan lagi. Meski tanpa bertanya, aku sudah tau jawabannya."
"Mahira sakit. Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian. Tadi dia tidur di pangkuanku, aku tidak tega membuat dia bangun. Maaf, harus menunggu."
Hati Ririn seperti disayat belati tajam yang beracun. Rasa sakit yang dia rasakan hampir seperti akan kehilangan nyawa. Dengan datarnya Putra berbicara tanpa memikirkan perasaan Ririn.
"Oh. Beruntung, ya, wanita yang jadi istri kamu."
"Aku hanya berusaha jadi suami yang baik. Itu saja."
"Bahkan itu lebih baik dari pada memiliki suaminya yang hanya mencintai tapi tidak bisa menghargai."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Hatimu. Tadinya aku ingin bertanya, apakah kamu menjalani pernikahan ini hanya karena keinginannya orang tua, ya aku tau, emak yang ingin ini semua terjadi. Tapi kini aku tau, kamu pun menikmati pernikahan ini sepertinya."
"Kami menikah memang karena perjodohan. Perasaan hatiku padamu tidak berubah. Hanya saja ...."
"Kamu mulai menyukainya bukan?"
"Aku menyukai istriku. Suka bukan berarti cinta, sayang."
"Suka itu awal dari timbulnya cinta, Mas. Kamu sekarang menyukai dia, lama-kelamaan kamu akan jatuh cinta padanya. Dan itu artinya aku akan benar-benar tersingkir dari hatimu."
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" suara Putra meninggi.
"Aku tidak tau, Mas. Aku tidak mungkin juga meminta kamu menceraikan dia."
"Ya! meski kamu meminta, aku tidak akan memberikannya."
"Apa?" Lirih Ririn. Jawaban Putra membuat dirinya semakin sesak nafas. Ririn memang tidak akan meminta Putra menceraikan Mahira, tapi apakah harus, Putra memperjelas semuanya?
"Ya. Aku memang mencintai kamu, sayang. Aku sangat mencintai kamu. Aku menderita jika memikirkannya ini semua. Bagaimana aku harus menjadi suami yang baik, dan apa yang harus aku lakukan pada perasaan ini, perasaan kita?" Putra mengusap wajahnya kasar.
"Mas ...."
"Aku menyukai Mahira karena keluguannya, karena kebaikan hatinya, karena kami selalu bertemu setiap saat, dia selalu ada untukku. Bagaimana dia membuat aku merasa konyol. Aku menyukai semua itu. Tapi di waktu lain, aku begitu merindukan dirimu. Menginginkan dirimu ada dalam hidupku. Arrggh!"
"Mas, sudah. Hentikan ... jangan seperti ini."
Ririn cemas melihat Putra terlihat sangat frustasi. Dia tau apa yang Putra rasakan karena itu yang dia alami saat menikah dulu. Ririn semakin terisak saat melihat Putra menitikkan air mata. Laki-laki itu begitu sedih.
Putra ingin memeluk Ririn, tapi itu mustahil. Ririn tidak akan mengizinkan, selain itu, kini dia telah menjadi suami seseorang. Ririn dan Putra duduk di lantai. Putra hanya terdiam menatap Ririn yang terus menangis.
Sementara itu, Mahira ikut menangis melihat Ririn dan suaminya, dari balik kaca. Meski tanpa sadar darah kembali menetes menyusuri kakinya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺