Membeli Istri

Membeli Istri
part#20


__ADS_3

Mahira asik memakan tempe mendoan dengan cabe rawit. Dia melupakan apa yang dia ingin tahu dari Putra. Dia tidak ingin mendengar jawaban yang akan lebih menyakiti hatinya.


Lain halnya dengan Putra yang hanya meminum teh hangat yang kini sudah dingin karena terlalu lama didiamkan. Sesekali dia melirik Mahira yang makan dengan lahap.


"Gak pedes?"


"Ini bukan gula Pak kalau saya bilang manis. Cuma enak aja. Gorengan tanpa cabai itu ibarat saya tanpa Bapak."


"Kenapa?"


"Menderita. Hahaha. Becanda kok. Yaa Bapak bayangkan aja kalau cabe ini diganti madu. Rasanya aneh bukan?"


"Hmm. Kan bisa ganti pakai saos."


"Rasanya beda. Kurang mantap. Tapi tergantung selera juga sih."


"Kamu masih ingin tahu jawaban saya?"


"Jangan!" Mahira menghentikan kunyahannya.


"Kenapa?"


"Saya sedang tidak ingin menangis malam ini. Rasanya letih sepanjang waktu harus menangis sendirian. Cukup masa kecil saya saja yang selalu dihiasi dengan tangisan."


"Tapi saya ingin memberitahu kamu jawabannya."


"Jangan, tidak perlu. Nanti Bapak bisa ceraikan saya saja kalau saya sudah cukup pintar untuk hidup sendiri. Yaaa, Bapak tau sendiri saya tidak bisa pergi kemanapun jika suatu saat nanti saya diceraikan. Tidak ada tempat yang bisa saya datangi untuk berlindung. Untuk itu, biarkan saya menjadi pintar dan mandiri dulu, setelah itu Bapak bisa lepaskanlah saya. Here."


"Saya tidak akan menceraikan kamu, Mahira."


"Tapi saya juga tidak bisa kalau Bapak menikah lagi dengan wanita itu. Kalau saya sudah bukan istri Bapak, setidaknya saya tidak punya hak untuk cemburu. Itu akan membuat Bapak lega karena tidak punya beban untuk memikirkan perasaan saya yang bukan lagi istri Bapak. Bapak tidak berdosa jadinya. Bener gak?"

__ADS_1


"Mahira ...."


"Saya mau sekolah, Pak. Boleh kah? tapi ada gak ya sekolah yang mau menerima murid tua seperti saya?"


"Nanti akan saya panggilkan guru untuk kamu."


"Ke rumah ini?"


"Iya, saya akan mencarikan guru terbaik untuk mendidik kamu supaya cepat pintar."


"Wahhh ... gak sabar ya Pak ingin menceraikan saya? hahaha."


"Bukan itu maksud saya ...."


"Iya juga gak apa-apa. Saya malah Terima kasih karena Bapak selalu mengabulkan keinginan saya. Anggap saja ini permintaan terakhir dari saya sebagai istri."


"Terserah kamu mau beranggapan apa."


Putra menatap Mahira dengan tatapan yang entah apa artinya. Dia bisa melihat mata Mahira berair. Wanita itu hanya berusaha menahannya agar tidak jatuh.


Putra memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Sementara Mahira menangis di depan kulkas yang terbuka.


*****


Sudah sepekan ini Mahira belajar. Seperti anak TK yang belajar menulis dan membaca dari awal. Dia cukup pintar untuk segera bisa menulis dan membaca dengan baik.


Mahira yang fokus pada pelajarannya terkadang membuat pekerjaan rumah yang memang terlalu berat untuknya terbengkalai. Bi Mirah yang ternyata mengundurkan diri benar-benar membuat dia kelelahan. Untuk itu Putra mencari tiga pelayan sekaligus dari sebuah perusahan jasa.


"Kenalkan nama kalian. Ini istri saya, nyonya di rumah ini. Mahira."


"Saya darinah, umur saya 43 tahun, Pak, Bu." wanita dengan perawakan kurus dan tinggi badan yang sedang.

__ADS_1


"Saya Suryati, umur saya 36 tahun, Bu, Pak." kali ini wanita hitam manis dengan tubuhnya yang gempal memperkenalkan diri.


"Kalau saya Tuti, panggil saja saya entut. umur saya 38 tahun." wanita ini juga memiliki tubuh yang gempal.


"Saya Mahira, istri pak putra. Senang ada kalian di sini. Semoga betah, ya."


"Baiklah, kalian tinggal di rumah khusus para pegawai. Ada di belakang. Udin, tolong antarkan mereka," ucap Putra pada satpam.


"Siap, Pak. Mari ikuti saya."


Pembantu baru itu mengikuti langkah Udin menuju belakang rumah Putra. Di sana ada sebuah rumah kecil tapi sangat layak huni untuk para pegawainya. Fasilitasnya pun tak main-main. Pendingin ruangannya bukan kipas tapi AC. Ada TV layar datar yang besar. Masing-masing pekerja memiliki satu kamar dengan kamar mandi masing-masing. Ada dapur yang lengkap dengan kulkas yang isinya tak kalah lengkap. Kulkas itu biasa Putra isi seiring dengan belanja bulanan rumahnya saat Bi Mirah masih bekerja. katanya jika ingin membuat pekerja betah, buat mereka nyaman.


"Kenapa banyak sekali? cukup satu aja padahal."


"Mulai detik ini, kamu hanya melayani kebutuhan saya."


"Itu kan saya lakukan sejak kita belum menikah."


"Jangan pakai tanganmu selain untuk menyentuh saya."


"Kalau saya mandi siapa yang membersihkan tubuh saya kalau tangan saya hanya untuk menyentuh Bapak. Kalau saya cebok? kalau saya makan? kalau saya ngupil? kalau saya mau garuk-garuk? kalau saya nangis, siapa yang mau ngusap ingus saya?"


"Untuk pertanyaan pertama, saya bersedia melakukannya."


"Yang pertama apa ya?" Wajah Mahira mengkerut berusaha mengingat apa yang dia ucapkan.


"Sudahlah." Putra mengacak-acak lembut rambut Mahira.


"Tuh kan, jantung saya. Paaak ...." Mahira mencucu, dia berjalan mengikuti suaminya dengan memegang ujung kemeja bagian belakangnya. Persis seperti anak kecil yang sedang bermain kereta api bersama ayah mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2