
Waktu terus berlalu. Detik ke detik, setiap jam, sepanjang hati hingga bertemu tahun ke tahun. Sebesar apapun keinginan, sekuat apapun niat dan sebanyak apapun usaha yang dilakukan, hasilnya tetap ada pada kehendak yang kuasa.
Hampir dua tahun pernikahan, rahimku masih saja kosong. Belum ada tanda akan datangnya penghuni kecil.
Penantian yang sangat menguras emosi. Mengaduk hati. Menguji rasa sabar.
Tidak pernah berhenti berdoa agar yang diharapkan segera datang, dan yang menanti setia menunggu. Dan dia ... dia selalu tetap setia pada cintanya. Ya, aku selalu berdoa agar Aldo masih tetap setia pada hati dan cintanya untukku.
Tuntutan demi tuntutan dari pihak keluarga, kadang membuat kami sedikit berseteru. Kesabaran yang kami jalani sedikit terpercik bara emosi karena tidak mendapat apa yang diharap.
Sedih. Bukan lagi. Lebih kepada rasa kesal dan ketakutan yang teramat sangat.
Aku takut Aldo pergi. Aku takut akan kembali kehilangan suami yang aku cintai. Ya Allah ....
"Mas, hari ini pulang jam berapa?" tanyaku saat menyiapkan pakaiannya setelah dia mandi.
"Mungkin agak malem, soalnya ada meeting nanti sore. Mau bahas proyek pariwisata yang di Majalengka."
"Oh, begitu rupanya. Baiklah, mungkin aku tidak harus menyiapkan makan malam bukan?"
"Hmm. Kami akan makan malam di luar nantinya. Kamu istirahat lebih awal saja. Gak perlu nunggu aku pulang."
Sudah hampir seminggu lebih Aldo seperti ini. Dia selalu pulang larut malam dan melewati makan malam bersama denganku. Sakit rasanya.
Ini bukan Aldo yang aku kenal. Dulu, dia tidak pernah mau melewatkan makan malam denganku. Bahkan, dia akan membatalkan apapun yang menghalangi kami untuk bertemu di meja makan.
"Aku tidak ingin melewati semalam pun untuk makan dengan bidadari. Rugi bener." Begitulah yang selalu dia ucapakan saat kamu akan mulai makan. Dan sekarang?
Aku mengantarkan dia sampai depan, mendoakan selalu dalam hati untuk keselamatan dan kelancaran pekerjaannya di kantor. Meski dia sudah tidak seperti dulu. Tanpa dekapan hangat. Hanya kecupan sekilas pada pucuk kepalaku.
Begitu mobil tak lagi pada jangkauan mata, air mata ini mulai turun tanpa henti. Menangisi dia yang telah berubah.
"Apa dia mulai bosan? atau dia putus asa karena tidak bisa kuberi anak?" bisikku dalam selaan isak tangis.
"Neng, sudah atuh. Jangan sedih terus. Ayo, kita masuk. Malu kalau kelihatan sama orang lain." Bi Tuti menghampiri, merengkuh pundakku lalu kami masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ini, minum dulu. Saya bikin teh madu buat Eneng. Biar segeran." Bi Tuti memberikan secangkir teh hangat.
"Bi, apa keputusanku salah lagi kali ini?" aku menyeruput Teh. Tersenyum getir saat mengingat semua yang terjadi padaku.
"Mungkin, aku memang tidak ditakdirkan untuk bahagia. Sekenario yang tidak pernah ada habisnya dengan air mata. Saat kehadiran anak tidak begitu diharapkan, dia hadir meski harus kembali pergi. Sekarang ... dia malah tidak muncul sama sekali. Padahal, kehadirannya akan membawa keajaiban untuk orang tuanya kelak."
"Sudahlah, Neng. Kita hanya harus percaya bahwa keputusan Allah itu pasti yang terbaik untuk umatnya. Kadang, apa yang menurut kita baik belum tentu menurut Allah, begitu juga sebaliknya."
"Aku hanya takut kehilangan suami untuk yang kedua kalinya, Bi. Kehilangan Aldo akan membuatku benar-benar terpuruk melebihi saat aku kehilangan Pak Putra. Aku ... aku tidak ingin kehilangan Aldo, Bi."
Tangisku lepas. Tak kuat rasanya membendung sesak yang selama ini tertanam di dada.
Aldo yang mulai berbuah membuatku benar-benar frustasi. Parno yang berlebihan membuatku kesulitan untuk tidur, bahkan untuk menelan saja rasanya sangat sulit.
Ya Allah, aku tidak ingin kehilangan Aldo untuk alasan apapun. Berikan keajaiban padaku. Hadirkan buah hati dalam rahimku. Berikan aku kepercayaan untuk bisa menjaga mahluk ciptaan-Mu yang paling indah. Hadirkan tawa dan tangisannya di rumah ini, sebagai pengganti segala derita yang selama ini aku rasakan.
Segera kuhapus air mata saat mendengar suara mobil masuk ke halaman. Terlihat dari dalam, mobil itu bukan milik Aldo. Lalu siapa?
Aku masih menatap penasaran, siapa orang yang akan turun dari mobil itu? Tidak lama kemudian seseorang yang sangat aku kenali turun. Aku begitu bahagia saat melihatnya. Segera berlari menghampiri.
"Ini juga tidak sengaja."
"Ya sudah, ayo kita masuk dulu."
Aku menggelayutkan tangan pada Emak. Dengan senyuman yang tiba-tiba datang di wajahku dan tidak pernah hilang sampai kami duduk di sofa ruang tamu.
"Ahhh. Akhirnya emak bisa ketemu kamu juga, Ra. Sudah lama, ya. Emak kangen sama kamu. Apa kabar kamu sekarang?" tanya emak panjang lebar seraya mengelus kepalaku.
Aku masih tersenyum. "Baik, Mak. Emak gimana?"
"Emak? yaaa seperti yang kamu lihat, emak sehat. Hanya saja bertambah tua. Rasanya untuk menjenguk anak-anak dan mantu ke Jakarta saja sangat lelah."
"Emak habis ketemu Pak Putra? kapan Emak ke sini?"
"Emak udah empat hari, Ra. Nanti sore rencananya emak pulang, tapi belum jengukin anak yang satu lagi."
__ADS_1
"Emang anak emak yang di Jakarta siapa lagi? Abel atau Riska, Mak, yang tinggal di sini?"
"Kamu." Emak memajukan bibirnya. " Kamu juga kan anak emak. Makanya sebelum pulang, emak ke sini dulu mampir."
Aku sangat terharu mendengar Emak. Tawa yang sempat hadir kini hilang kembali. Berganti tangisan yang mengharu biru. Emak mendekapku yang tengah menangis kencang.
"Ssshhh. Jangan menangis, Ra. Kalau ada apa-apa, kamu cerita sama emak. Jangan sungkan. Meski sudah bukan istri putra lagi, tapi hubungan kita tetap sama. Ibu dan anak."
Tangisanku semakin menjadi saat Emak bahkan tau aku sedang bersedih tanpa memberitahunya apa-apa.
"Eh, ada tamu."
Aku segera melepaskan pelukan. Segera menengok kebelakang. Sedikit kaget melihat Aldo sedang berdiri di sana.
Aku bangkit lalu menghampirinya. Mencium tangannya yang segera dia tarik kembali. Aku terhenyak. Perih.
Malu juga karena harus disaksikan Emak.
"Kalau begitu, emak pulang dulu, ya. Kapan-kapan ke sini lagi."
Aku bergerak tidak ingin Emak pergi, tapi melihat wajah Aldo yang seperti tidak suka, aku memilih untuk diam.
"Maaf, Mak. Hati-hati di jalan." Hanya itu yang bisa aku lakukan. Menatap pedih saat emak naik mobil lalu menghilang dibalik gerbang. Rasanya sakit sekali.
"Sedih? kenapa gak jadi menantunya lagi?"
Marah. Sangat marah saat mendengar ucapan Aldo. Aku segera mendongak dan menatap Aldo kesal.
Baru saja aku ingin bicara, tapi dia pergi begitu saja.
"Mas!" aku berteriak. Namun, dia tetap berjalan meninggalkanku.
Marah, sedih menjadi satu kesatuan yang sangat memukkan. Aku benar-benar geram karenanya.
Bukan hanya dia hang sedih dan marah'karena tidak juga memiliki anak. Aku! aku juga tidak kalah sedihnya dari dia. Bahkan, aku adalah orang yang rela melakukan apa saja asal bisa segera hamil. Aku juga tidak pernah lelah menjalani terapi. Tidak sedikit obat dan ramuannya yang telah aku telan demi mendapatkan buah hati. Lalu dia? dia hanya bisa tenggelam dalam kemarahan sampai tega menyakiti hatiku seperti ini.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺