
Keesokan harinya, wanitaku masih mencucu. Wajahnya ditekuk seperti orang yang sedang mengalami encok. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sungguh lucu dia. Wajah bulatnya yang cantik, semakin menawan saat dia marah padaku.
"Masih marah?" tanyaku dengan suara yang dilembut-lembutkan. Takut dia semakin marah.
Tak ada jawaban. Dia malah sengaja mengigit sandwich dengan penuh tenaga, seakan akulah yang sedang dia gigit. Ingin sekali aku mencubit pipinya. Atau kugigit saja bibirnya.
Setelah menyeruput teh yang dia buat untukku, aku mendekat, memeluk tubuhnya dari belakang. Dia berontak tapi dengan tenaga seadanya.
"Maaf, ya." aku mencium kepala dan pipinya. "Kalau kamu marah, aku jadinya gemesssh."
Dia menoleh ke arah wajahku yang jaraknya hanya beberapa ruas jari saja. Membuat wajah kami begitu dekat. Bahkan aku merasakan embusan nafasnya. Ah! aku jadi ingin melakukan sesuatu yang semalam tertunda.
Dia membuka mulutnya hendak ingin berkata, tapi segera aku tutup kembali dengan sebuah kecupan hangat. Dia membelalak, menengok kiri dan kanan. Sepertinya dia takut apa yang aku lakukan, terlihat oleh orang lain.
"Takut terlihat? makanya, ayo di kamar saja."
Kami saling menatap. Memendam sesuatu yang terasa mulai memanas dalam jiwa. Senyuman itu, aku tahu. Hingga pagi yang dingin menjadi pagi yang begitu panas untuk kami berdua. Rintikan hujan yang hanya membasahi lapisan luar tanah, menambah romantisnya suasana untuk dua orang manusia yang sedang berusaha memenuhi syarat untuk mendapatkan restu orang tua. Anak.
*****
Delapan bulan setelah memberi kejutan yang berujung sebuah kecelakaan.
Hatiku mulai merasa takut. Meski dihadapan Mahira, aku berusaha tenang. Papi datang ke kantor dan mengingat bahwa waktuku sudah semakin habis. Papi bahkan sudah mendiskusikan rencana pertunangan aku dengan anak sahabatnya. Bukan dengan sepupu Kak Niar, wanita itu telah menikah dengan laki-laki kaya lainnya. Cih!
Aku memperhatikan wajah wanitaku yang semakin hari semakin membulat. Ya, berawal pada malam pertama Nenek meninggal, Mahira sering ngemil malam. Nafsu makannya juga bertambah. Dia yang dulu kurus, kini mengeluh bahwa underwear miliknya sudah banyak yang tidak muat.
"Mas, pulang ngantor tolong beliikan aku ****** *****, ya."
"Aku?"
"Iya, terus siapa?"
"Kenapa gak kita aja?"
"Aku males. Tolong, ya. Jangan yang aneh-aneh milih warna sama bentuknya. Awas aja kalau beli yang kaya kelambu nyamuk."
Sungguh. Aku terkekeh mendengarnya. Sejurus kemudian aku terdiam. Apa yang akan aku lakukan jika sudah sampai di toko?
Dengan sangat terpaksa, aku memberanikan diri memasuki toko pakaian dalam wanita. Terlihat berjejer dengan aneka warna yang beragam, dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Hanya ada aku, jenis yang berbeda sendiri yang ada di dalam sana. Sangat mencolok.
__ADS_1
"Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko. Mungkin dia melihatku begitu kebingungan. Bercucuran keringat, kaki dan tangan bergetar, hampir saja ngompol di celana. Ah! tidak. Itu terlalu berlebihan.
"Saya mencari underwear untuk istri saya." aku tersenyum canggung.
"Oh, ukuran berapa?"
"Eh, maaf?"
"Underwear istri Bapak ukuran berapa? nanti biar saya bantu nyari dan memilih model yang sesuai untuk selera istri Bapak."
"Aduh! gimana ya?" aku menggaruk kepala yang tidak gatal. "Nanti, saya coba bayangkan dulu sebesar apa?"
"Maaf, Pak?" tanyanya heran atau mungkin memang kaget atau pura-pura tidak mendengar.
"Eh, enggak. Maksud saya, nanti saya telepon dulu."
"Baiklah." Wanita itu pergi menjauh, memberi privacy untukku.
Sial! kemana juga wanita bulat yang cantik itu sekarang. Dia tidak juga menjawab telepon dariku.
Terlalu lama aku berusaha menelpon yang tidak kunjung ada jawaban, akhirnya aku memutuskan untuk memilih ukuran dengan mengandalkan daya ingatku saja.
Dengan ditemani wanita tadi, aku memilih beberapa model underwear yang sudah sepasang. Sangat lucu atau entahlah .... aku juga merasa heran dengan bentuknya yang aneh-aneh. Ternyata, wanita itu memang sangat rumit. Bahkan model pakaian dalam yang tidak terlihat pun begitu rumit.
"Haha. Mana da underwear yang sopan. Kalau untuk suami, lebih baik memakai yang seksi sekalian. Seperti ini."
Wanita itu memilih sesuatu yang biasa aku lihat saat wanita-wanita yang ada di masa laluku.
"Tidak! istriku suka yang mahal, sederhana tapi elegan. Sama seperti dirinya. Sederhana tapi sangat berharga."
"Isian wanita mah sama aja, Pak. Yang jadi pembeda itu kan kemasannya."
"Justru itu. Kemasan yang lebih elegan dan tidak terbuka seperti ini, akan membuat kami lebih penasaran."
Wanita itu terlihat malu entah marah atau tersinggung, aku tidak tahu dan tidak perduli. Aku hanya ingin sesuatu yang berbeda dan yang terbaik untuk wanitaku.
Setelah lama memilih, akhirnya aku mendapatkan sepuluh pasang underwear untuk Mahira. Semoga saja ukurannya pas. Termasuk warna dan bentuknya.
Wanitaku berlari kecil keluar, menyambut kedatanganku dengan senyuman. Bahkan dia mengikuti mobil yang belum aku hentikan. Tidak ingin dia cape, akhirnya aku menghentikan mobil sebelum pada tempatnya.
"Kenapa berhenti di sini?"
__ADS_1
"Gak mau kamu cape karena ngikutin mobil aku." aku memeluk setelah mengusap kepalanya.
"Beli?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Pasti, dong."
"Gak malu?"
"Emmm. Sedikit, sih. Aku sampe di deketin mba pelayannya. Dia nawarin berbagai bentuk yang manis, sexi dan lucu. Tapi–." aku segera menghentikan ucapanku saat wajah cantik itu berubah kesal. Buru-buru kugendong tubuhnya yang semakin berat saat dia akan melangkah pergi. Dia marah lagi.
Waktu yang aku jalani seakan terlalu cepat. Semakin dekat pada hari dimana Papi akan sengaja datang ke rumah ini membawa calon istri untukku.
Sebegitu menyebalkannya seorang ayah untukku. Seperti dia adalah bos tempat seseorang bekerja.
Meski gundah, aku selalu tersenyum pada wanitaku. Tidak perduli apa yang akan terjadi nanti.
Kalau Papi mau datang membawa wanita itu, datanglah. Biarkan semua terjadi. Kita lihat apa yang akan menjadi pilihan Tuhan untuk pernikahan kami.
Sebaiknya aku tidak memikirkan hal yang belum terjadi. Nikmati saja saat-saat bersama Mahira sekarang ini.
Berusaha dan terus berdoa agar Allah mau memberikan kepercayaannya padaku untuk menjadi seorang ayah. Aku berjanji akan menjadi seorang ayah yang lebih baik dari Papi. Jika anakku laki-laki, maka akan aku biarkan dia mencari jodohnya tanpa melihat seberapa besar kekayaan yang keluarganya miliki.
"Mas! kamu kenapa milihnya kegedean?"
"Milih apa?"
"Ini."
Mahira membawa underwear yang tadi siang aku beli.
"Kamu ngukur pinggang siapa? mba pelayannya?" Mahira memelotot kesal.
"Enggak, sayang. Aku nelpon kamu tapi gak aktif-aktif. Ya udah aku mengandalkan pikiranku sendiri."
"Mikirin apa kamu?"
"Mikirin pinggul kamu."
"Ish!"
Mahira membalikan badan dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ada apa dengan wanita? benar-benar seperti dalemannya. Rumit!"
🌺🌺🌺🌺🌺