
Aku masih duduk sambil melihatnya yang sedang di obati. Bi Ranti terlihat tenang meski bibirnya bergetar.
Tangan Aldo tampak memar saat tangannya dengan keras menghantam mobil. Dia yang marah dan juga putus asa melampiaskannya pada mobil hitam kesayangannya itu.
Ya. Aldo menghentikan langkahnya saat jarak kami benar-benar dekat. Dan dia memukul mobil dengan tangannya. Berteriak sampai orang-orang berdatangan menghampiri. Termasuk Bu Ranti dan Ririn. Aldo histeris dalam kondisi bersimpuh di hadapanku. Dan aku? aku mematung karena kaget dan tidak tau harus bagaimana.
Aldo segera di bawa Bu Ranti. Dan aku kembali berbicara dengan Ririn. Dia berpakaian pulang. Memeluk tubuhku erat.
Ruangan Bu Ranti hening. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara.
"Bu, permisi."
"Ya, Rani. Masuklah."
"Itu, orang-orang yang mengirimkan makanan sudah datang. Apa saya suruh mereka ke sini saja?"
"Jangan. Suruh mereka ke joglo depan saja. Saya yang akan ke sana."
"Baik, Bu."
Pintu kembali tertutup.
"Mami tinggal dulu, ya , Nak. Kalau ada apa-apa, tolong beritahu Mami secepat."
Aldo masih diam tidak menjawab. Dia sepertinya masih marah padaku. Bu Ranti keluar tanpa melihat kearahku sedikitpun. Mungkin dia lebih marah.
Hening.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Aldo memulai pembicaraan.
"Aku doakan semoga pernikahan kamu yang sekarang bahagia. Semoga Mas Putra bisa mencintai kamu.
Tidak ingin menjawab atau membalas ucapannya. Aku mengambil lap handuk yang ada di wadah yang berisikan air es.
Meraih tangannya lalu mengompresnya. Aku tau, ini salah. Untuk kali ini, maafkan hamba ya Allah.
"Berhenti bersikap baik yang hanya akan memberikan harapan palsu padaku. Jika kamu terus begini, makan akan sulit untukku melepaskan. Aku begitu yakin kamu mencintaiku saat prank waktu itu. Ternyata ... jika di bandingkan tawaran mas putra, maka semuanya akan sia-sia. Aku–"
"Jika sulit, maka jangan lepaskan aku kalau begitu." Aldo menatap intens pada kedua bola mataku. Seperti mencari sesuatu untuk menambahkan keyakinannya.
"Lalu jika mas putra datang untuk melamarmu?"
"Maka jangan biarkan aku bertemu dengannya. Lindung dan jaga aku agar tidak lepas. Aku itu lemah pada perasaan antara kamu dan dia. Hanya kesungguhan dari salah satunya yang bisa meyakinkan hatiku pada siapa aku akan memilih."
Ada binar kebahagiaan dari mata Aldo. Aku masih bingung pada perasaanku. Aku hanya belajar pada Pak Putra. Dia kembali pada perasaannya setelah bertemu kembali dengan Ririn. Itulah kenyataannya. Jauh sebelum Ririn datang, mungkin saja dia mencintaiku. Bahkan, setelah kami berpisah pun Pak Putra masih memikirkan diriku.
"Apa yang sedang kamu lakukan? membuntuti saya? mau saya laporkan ke polisi?" waktu itu. Ada dua orang laki-laki yang selalu terlihat disekitar rumah, bahkan saat aku pergi keluar.
"Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini? jawab atau saya teriaki kalian maling biar di keroyok masa." Aku mengancam.
"Ma-maaf, Bu. Kami hanya melaksanakannya tugas dari Pak Putra. Kami di minta untuk mengawasi dan menjaga ibu dari jauh."
"Apa?"
Saat itu aku terkejut. Aku sadar dia mencemaskanku.
Bahkan, beberapa kali aku sering melihat mobilnya terparkir di luar gerbang. Berhenti untuk beberapa saat. Dia tidak membuka kacanya, tapi aku yakin dia sedang memperhatikan.
__ADS_1
Aku tahu kapan dan jam berapa dia datang. Sempat suatu saat aku sengaja duduk di balkon. Berharap dia bisa melihatku. Nyata, dia kembali datang. Aku sengaja berpura-pura tidak melihat. Dan, waktu untuk dia berhenti didepan rumah semakin lama dari biasanya.
Aku tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Jangan sampai aku bertemu dengan Pak Putra dan akhirnya kembali luluh. Aku tidak ingin menyakiti hati Aldo yang sudah sangat baik padaku. Dan mungkin juga aku sudah merasa nyaman dengannya.
Pak Putra. Andai saja dirimu bisa sedikit menahan perasaan untuk Ririn waktu itu, mungkin kita akan baik-baik saja dan bahagia. Bapak hanya bingung waktu itu, dan saya juga tidak kuat dan dengan bodoh melepaskan Bapak. Kata andai memang sangat menyakitkan, tapi ada kata bagaimanapun yang bisa mengobatinya.
*****
Malam ini adalah malam idul Fitri. Terdengar takbir dimana-mana. Rasa haru menyeruak seketika. Tidak ada lagi kesedihan dalam hati. Tidak ada lagi tempat kumuh dan menakutkan seperti waktu kecil dulu.
Lihatlah, aku kini berdiri di rumah yang lebih pantas disebut istana. Dikelilingi orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku. Mereka yang menerima apa adanya diriku dengan segala kelir dan kelemahannya.
"Sudah, Kakak jangan melamun dan bersedih terus. Ayo, kita nyalakan kembang api di atas," ucap Vera. Adik perempuan Aldo. Gadis ceria yang sangat cantik. Dia juga baik hati. Kami berjalan menuju lantai paling atas. Ada sebuah bangunan terbuka yang Aldo sebut roof top. Ada kolam renang dan juga taman kecil. Mereka biasa melakukan bakar-bakar di atas sana. Ada ayunan dan juga sebuah gazebo. Pemandangan kota terlibat dari sini, meski sebenarnya kami hanya melihat gedung-gedung tinggi menjulang.
Cuaca mendung tapi tidak juga hujan. Anginnya dingin bertiup. Seluruh keluargaku berkumpul di atas sana, menunggu kedatangan aku dan Vera.
Aldo dengan baju koko warna krem dan celana hitamnya, tersenyum padaku. Dia menatapku tanpa jeda dengan kedua tangan bersilang di dada. Ah, sepertinya tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada laki-laki yang satu ini.
Bu Ranti dan suaminya sedang asik duduk memperhatikan kedua cucunya yaitu Mahesa dan Gendhis. Mereka anak dari kakak Aldo, Kak Yanwar. Di samping kak Yanwar berdiri wanita yang tak kalah cantik dari Vera, memakai baju muslim tanpa kerudung. Kak Niarwati namanya. Anak seroang pengusaha kaya dari Surabaya.
Mungkin, jika dari segi penampilan, aku lebih terlihat sebagai pembantu di sini. Pakaianku yang sederhana sangat berbanding terbalik dengan para wanita keluarganya ini. Glamor dan elegan.
"Berkedip dong Kakak. Matanya kelilipan loh entar." Vera menggoda Aldo. Laki-laki itu menyunggingkan bibirnya. Matanya menyipit menggodaku.
"Malam idul Fitri terindah untukku." Dia bergumam. Vera langsung pergi dengan senyum nakalnya. Aku berdiri tepat di hadapannya.
"Jangan menatap seperti itu. Laki-laki itu harus menundukkan pandangan."
"Kalau aku nunduk, gimana aku bisa melihat wanita secantik kamu?"
"Gombal!" aku melotot.
"Apa? ke bawah? aku baru aja naik. Masih capek. Masa harus turun lagi?"
"Sebentar saja kok. Yuk!"
Belum juga aku menjawab, Aldo sudah berteriak pada keluarganya meminta izin untuk membawaku turun ke bawah.
"Jangan di apa-apain anak orang itu!" teriak Kak Yanwar.
"Tenang! sedikit aja kok, gak akan meninggalkan jejak."
Aku terkejut dengan jawaban Aldo. Jujur, aku takut dan membuat kaki melangkah mundur. Aldo melirik. Dia terkekeh-kekeh.
"Becanda, sayang. Ayo, kita turun aja dulu. Gak akan aku apa-apain. Percaya?"
Ya. Aku percaya padanya. Dia tidak akan berani menyentuhku. Maka aku mengikutinya langkahnya ke bawah.
Kami berjalan menuju sebuah kamar. Bukan kamar tempat aku akan tidur.
"Ini kamar siapa?"
"Aku."
"Mau apa kita ke sini. Gak, ah!"
"Sayang. Kita gak akan ngapa-ngapain. Aku cuma ingin ngasih sesuatu untuk kamu. Ayo."
__ADS_1
Ragu-ragu aku melangkah masuk ke sebuah kamar. Jangan tanya kamarnya semewah apa, aku saja tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti, ini lebih mewah dan besar dari kamarku dan Pak Putra. Ah, selalu dia lagi yang aku sebut.
"Ini." Aldo menyerahkan kotak besar berwarna emas. Dengan hiasan pita hitam di atasnya. Cantik.
"Buka, dong."
Aku menatap Aldo sekilas. Tersenyum padanya lalu membuka kotak itu.
"Indah ...." lirihku. Sebuah baju muslim yang senada dengan yang Aldo pakai sekarang. Bertaburkan manik-manik atau apalah itu namanya. Berkilau saat terpapar cahaya lampu.
"Pakai ini. Aku akan menunggu di luar."
"Al ...."
"Hmm."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Aku mengganti pakaian dengan hadiah dari Aldo. Di dalam kamar mandi. Sangat cantik dan pas di tubuhku. Hanya saja, aku kesulitan untuk memakaikan risleting bagian belakang. Terlalu panjang.
Aku mendengar seseorang masuk. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku takut itu Aldo.
"Non, ini saya bawakan minum. Non."
Ah! itu pasti pelayan di sini. Begitu tau suara itu perempuan. Aku langsung keluar dan meminta bantuan dia untuk memasang risleting.
"Sudah, Non. Ini minumannya. Mau di minum apa saya simpan saja di meja."
"Saya minum saja, Bi. Dari tadi berusaha memasang resleting, capek juga."
Aku mengambil minuman dari atas nampan yang masih dipegang pelayan itu.
"Saya bawa keluar gelasnya, ya."
"Iya. Makasih ya, Bi."
Pelayan itu keluar membawa setengah air yang masih bersisa. Aku duduk di depan cermin untuk memakai kerudung. Ponselku berbunyi. Saat aku melihat siapa yang menelpon, aku kaget dan juga ragu untuk mengangkatnya. Tapi, hati ini begitu kuat mendorongku agar menerimanya.
"Ya. Halo."
"Ada di mana?" tanyanya cemas.
"Kenapa? apa urusan Bapak?"
"Kalau ada di rumah Aldo, segera minta agar dia mengantar kamu pulang."
"Pulang? memangnya ada rumah untuk saya pulang, Pak?"
"Ke rumah kita. Pulang ke sana. Ada satpam yang memegang kunci cadangan. Pulang ke sana!" Tidak seperti bisanya. Pak Putra marah padaku.
"Kenapa? saya sebentar lagi akan menjadi anggotanya keluarga ini, Pak. Saya akan menerima Aldo sebagai suami yang mencintai saya."
"Jangan. Mahira, dengar ...."
"Aduuhh ...." aku meringis. Kepakai terasa pusing. Aku mendengar suara Pak Putra berteriak memanggil. Semakin lama semakin berat. Aku mengumpulkan tenaga untuk berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Namun, belum sampai ke tempat tidur. Aku sudah tidak kuat menahan berat di kepala dan .... aku tidak ingat apa-apa.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺