Membeli Istri

Membeli Istri
part#64


__ADS_3

Besok adalah hari dimana Papi akan datang ke rumah membawa calon istri pengganti Mahira. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana besok. Apa yang akan Mahira lakukan? dan apa yang harus aku lakukan?


Sepertinya, besok adalah hari yang akan sangat berat untuk aku lewati. Maka dari itu, hari ini aku hanya akan menghabiskan waktu bersamanya.


"Sayang, kemarilah," ucapku saat dia selesai mandi dan berpakaian. Sementara aku, aku masih rebahan usai subuh tadi.


"Gak ngantor?"


"Siapa yang mau mecat aku kalau gak masuk seminggu pun. Kemarilah ...."


Dia yang masih mengeringkan rambutnya, menghampiri dengan wajah terpaksa. Membuka selimut lalu masuk dan memeluk tubuhku.


"Sayang, hari ini kita jalan-jalan, kita shoping, makan, dan kemana saja yang kamu inginkan. Makan apa saja yang kamu mau."


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua sama kamu." Aku mempererat pelukan. Tubuhnya yang berisi, membuat aku semakin nyaman.


"Apa kamu takut, Mas?"


"Kenapa?"


"Karena besok kamu harus melepaskan aku dan menerima wanita itu."


DEG!


"Jangan kaget, aku tahu semuanya. Selama ini aku hanya diam karena tidak ingin menghabiskan waktu dengan kesedihan dan air mata."


Aku memeluk dan mencium tubuhnya. Rasanya sangat takut jika untuk hari berikutnya tidak bisa seperti ini lagi. Bukan karena aku tidak bisa mempertahankan Mahira, karena kalau aku masih menentang keinginan Papi, Mahira lah yang akan kena imbasnya. Aku tidak mau dia ada dibawah ancaman Papi.


"Jangan takut, Mas. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Dia mengecup bibirku. Mengusapnya lalu bangkit.


"Ayo, kita pergi jalan-jalan. Pagi ini aku ingin makan rujak."


"Sepagi ini makan rujak? sayang, nanti sakit perut."


"Hari ini aku bos nya. Ok?"


Aku tertawa meski ingin sekali menjerit dan marah.


*****


Linu. Itulah yang aku rasakan saat melihat wanitaku memakan rujak buah dengan lahap. Mangga muda, kedondong, juga jambu air. Air liur ini sudah sangat sulit aku bendung.


"Sayang, sudah. Ini udah yang ke tiga porsi. Kita makan yang lain saja, gimana?"


"Siap! setelah ini kita pergi makan kepiting. Ayo, cari makanan laut yang paling enak di Jakarta." Dia berbicara dengan mulut penuh.


"Laksanakan!"


Aku sengaja memilih restoran disebuah hotel ternama di ibu kota. Kebetulan, anak pemilik hotel ini adalah temanku.


Dia kutelpon agar menyiapkan chef terbaik yang bisa memasak seafood paling enak.


Aku masih menatap Mahira tidak percaya, dia kini tengah melahap kepiting berukuran raksasa. Dua kilo hanya satu ekor. Belum dengan lobster yang juga berukuran jumbo.


"Sayang, kamu bisa muntah kalau makan sebanyak ini."


"Bawel!"


Kuelus kepalanya lembut saat dia begitu menikmati makanannya. Sesekali dia juga menyuapiku.


"Habis ini kita mau kemana lagi? mau makan apa lagi?"


"Gak kuat! habis ini kita ke pantai saja, aku ingin main pasir."


"Kita ke Bali, gimana?"


"Ancol aja udah. Kejauhan kalau harus ke Bali."

__ADS_1


"Baiklah."


Beruntung dia tidak meminta makanan lagi, aku takut lambungnya rusak kalau dia harus memasukan makanan lagi.


Tidak butuh waktu lama untuk segera sampai ke Ancol. Orang-orang sedang bekerja, sementara aku? aku sedang berusaha menenangkan hati.


Seperti anak kecil. Wanitaku bermain pasir sambil duduk gelempor begitu saja. Tidak perduli kerudung dan bajunya basah serta kotor. Dia juga merengek meminta alat mainan pasir padaku.


Aku hanya menatap dari kejauhan. Tidak ingin dia melihat betapa sedihnya aku saat ini.


Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana melewati hari tanpa dirinya. Bisakah dia tidur tanpa dadaku sebagai bantalnya? bisakah dia menjalani hari sendirian tanpa sanak keluarga? mungkin jika kami berpisah, aku akan mati karena rindu dan kesedihan. Tapi dia? dia akan menderita karena tidak memiliki siapa-siapa.


Jika bisa, aku ingin menjerit dan menangis, tapi sangat sulit. Dadaku hanya bisa merasakan sesak yang teramat.


"Sayang ...." dia melambaikan tangan. Tunggu! dia manggil apa barusan?


"Sayang, sini." Dia melambaikan tangannya lagi, memintaku untuk mendekat. Aku segera berlari. Rasanya ... entahlah. Ini pertama kali dia memanggilku sayang.


"Kenapa? ada apa?" tanyaku ngos-ngosan. "Coba sekali lagi panggil aku dengan nama apa tadi."


"Sayang."


"Sekali lagi." Aku jongkok agar bisa mendengar dengan jelas ucapannya.


"Sayang. Sayangku, Aldo." bisiknya kemudian mencium pipiku. Di sini. Di tempat umum.


"Ck! ada apa denganmu hari ini?"


"Siap-siap menghadapi esok hari. Kita harus bahagia hari ini." ucapnya sambil tersenyum manis. Tangannya sedang membentuk istana pasir.


"Kenapa kamu bisa setenang ini? apa kamu tidak takut menghadapi papi besok?"


"Aku lebih takut menghadapi Allah. Papi itu hanya manusia biasa. Segalanya Allah yang menentukan. Kita percaya saja pada Allah. Apapun yang terjadi besok, itu semua pasti yang terbaik untuk kita semua."


Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Mencoba memberikan ketenangan yang sebenarnya aku pun membutuhkan itu saat ini.


"Ehmm." dia mengangguk. Aku bersihkan pasir-pasir yang menempel di baju dan kerudungnya. Menuntun dia dan berjalan menuju parkiran.


"Ada yang ingin kamu beli lagi? buah, martabak, atau bakso atau pizza atau apalah itu."


"Aku ingin istirahat aja, sayang." dia bersandar di bahuku. Manja sekali. Sesekali tangannya memukul pelan pahaku. Mungkinkah dia tegang, takut dan cemas?


"Tidurlah. Perjalanan kita akan lama. Jalanan sudah mulai macet karena waktunya pulang kerja."


"Jangan kemana-mana, ya. Tetaplah di sisiku apapun yang terjadi."


Menelan ludah sendiri seperti menelan racun. Dia ketakutan ya Allah.


"Iya, sayang. Aku tidak akan kemana-mana."


Hening.


Aku larut dalam pikiran yang entah apa yang sedang aku pikirkan sebenarnya. Terlalu kalut dan rumit. Kesal, marah, sedih dan entahlah ....


*****


Hari ini, aku kembali tidak bekerja. Takut jika Papi ke rumah saat aku tidak ada. Mahira sendirian. Tidak akan aku biarkan itu terjadi.


Begitu selesai mandi dan berpakaian, aku turun untuk sarapan. Namun, hanya Bi Tuti yang ada di sana, kemana wanitaku?


"Bi, istri saya mana?"


"Oh, lagi keluar sebentar. Katanya mau beli kue."


"Kue?"


"Iya, katanya mau beli kue tradisional ke pasar."


"Sendirian?"

__ADS_1


"Tidak. Pak Misran sama Pak Teguh ikut juga."


"Dia bawa security juga? tumben."


Aku memutuskan untuk duduk dan sarapan. Lega, jika Mahira pergi bersama dua orang laki-laki. Mudah-mudahan dia aman.


Selesai sarapan, aku pergi untuk duduk di teras depan sambil membaca koran. Saat Mahira datang, aku ingin menyambutnya.


Aku membaca beberapa lembar berita hari ini. Isinya sama, masih tentang pandemi dan segala sesuatunya.


Ada juga berita bisnis. Mengabarkan tentang perekonomian saat ini. Ya, bagi sebagian besar saat ini, ekonomi sekarang sangat sulit. Adanya beberapa perusahaan yang bangkrut, menambah daftar pengangguran yang berujung pada tindakan kriminal.


Tuntutan perut dan kebutuhan hidup, membuat mereka yang tidak memiliki iman, memutuskan mencari penghasilan dengan cara yang instan. Tidak perduli dampak pada tindakan mereka.


Sudah hukum alam memang. Bukankah mereka hanya berusaha untuk bertahan hidup. Bagai buah simalakama memang. Biarlah, dosa menjadi urusan sang kuasa.


Tiba pada halaman berikutnya. Dari judulnya saja aku sangat terkejut. Seorang anak tega menggugat orang tuanya hanya karena sakit hati. Dunia sudah edan memang.


Suara mobil memasuki halaman, saat itulah aku sadar sudah terlalu lama aku berada di sini. Menunggu wanitaku yang sedang jajan ke pasar.


Hanya saja, mobil itu bukan mobilku yang sedang dipakai Mahira.


"Papi?"


Mobil Papi dan dua mobil lainnya memasuki halaman rumah. Jujur, aku takut. Kemana Mahira? kenapa dia lama sekali?


Mobil berhenti. Dari mobil depan, turun Papi dan Mami. Begitu pandanganku bertemu dengan mata Mami, aku bisa melihat betapa sedihnya dia. Mami pasti sangat serba salah.


Mobil kedua terbuka. Turun seorang laki-laki dengan pakai rapi. Memakai batik dan celana hitam. Mungkin umurnya hampir sama dengan Papi. Siapa dia? sahabat Papi yang satu ini belum pernah aku lihat sebelumnya. Laki-laki itu diikuti seorang wanita yang sama-sama memakai batik yang senada, berbentuk gaun. Rambutnya diikat sangat rapi. Perhiasan emas dimana-mana. Cih!


Mobil ketiga terbuka. Turun seorang laki-laki muda yang mungkin seumuran dengan Kak Yanwar. Satu orang lagi turun, dia lebih muda. Kemudian diikuti lagi oleh seorang wanita. Dia turun dengan bantuan dua orang laki-laki yang terlebih dahulu turun.


Wanita itu terlihat muda. Memakai gaun yang membuka bagian dadanya. Gaun yang panjang namun, membuka belahan sampai atas lutut.


Pasaran! udah bosen liat yang gituan. Ck ck ck. Papi salah pilih wanita.


"Aldo." Papi menyapa dengan senyuman sumringah. Mereka masuk mengikuti Papi dan meninggalkan aku begitu saja.


"Hai, Do." Wanita itu menyapa.


"Emang kita kenal?"


Lalu aku berlalu begitu saja.


Begitu masuk. Mereka semua telah duduk di sofa, Bi Tuti sedang berbicara dengan Mami. Mungkin sedang pesan minuman.


Aku duduk di kursi lain yang agak jauh dari mereka. Mendengar mereka berbincang membuatku muak dan kesal. Ditambah lagi Mahira yang belum juga datang.


"Bi, tolong ambilkan ponsel saya di kamar."


"Iya, Den."


"Aldo, kenalkan. Ini teman Papi waktu kuliah di Jerman dulu. Namanya Pak Kusworo. Ini istrinya Ibu Sintia. Nah, ini anak pertamanya Erga, dan ini anak bungsu mereka, Athar."


Papi memperkenalkan mereka satu persatu. Aku hanya membungkukkan kepala sedikit dengan senyuman yang sangat dipaksakan.


"Nah, yang itu. Itu calon istri kamu namanya Mia. Cantik ya, Do."


"Saya sudah punya istri. Kalian tidak tau itu?" tanyaku pada mereka. Siapa tau dan pasti mereka akan menghentikan perjodohan ini jika mengetahui kalau aku sudah beristri.


"Aku tau, dan aku tidak keberatan," ucap Mia. Wanita tidak punya harga diri pikirku. Mana ada wanita yang tega mengambil suami wanita lain. Kecuali dia seorang binal. Menjijikan.


"Kami tau, Nak Aldo. Kami mengerti kalau selama ini nak Aldo pasti begitu berat hidup berumahtangga dengan wanita mandul. Tapi dengan begitu, nak Aldo pasti sangat sabar karena masih mau bertahan. Saya salut."


Bujug! pantesan anaknya kek iblis. Orang ibunya ratu iblis. Wanita-wanita ini sungguh tidak punya hati.


"Saya tidak mandul!"


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2