Membeli Istri

Membeli Istri
part#7


__ADS_3

"Gimana jadinya kmaren? lu bawa dia beli baju dimana?"


"Pasar."


"Pengen ketawa sih aslinya. Tapi jujur, dia itu benar-benar polos dan jujur. Cocok emang buat dampingi lu hidup."


Putra tidak membalas. Dia fokus pada makan siangnya. Cuaca hari itu begitu terik. Bahkan mata Putra terasa silau di buatnya meski dia berada di dalam ruangan ber AC di sebuah kafe tempat dia dan Wiwin makan siang.


Sebuah spaghetti bolognese habis tak bersisa. Dengan satu gelas juice yang sama-sama sudah tidak meninggalkan apapun dalam gelasnya.


"Lapar?" tanya Wiwin setengah meledek.


"Lagi doyan makan aja. Entahlah ...."


"Mungkin karena ada semangat baru dalam hidup lu."


"Mungkin."


"Terus? kapan kalian nikah? mau tunangan dulu atau langsung nikah?"


"Itu emak yang ngatur semua. Gue tinggal nunggu aja."


"Kenapa gak lu kamar aja dulu. Semisalnya lu ajak dia makan malam romantis, terus kasih dia bunga, habis itu lu berlutut beri dia cincin."


"Gue gak yakin dia terenyuh."


"Hahahaha. Bener juga. Dia itu gadis polos. Biasanya nih ya, tipe cewek kaya gitu tuh senengnya dikasih sesuatu yang sederhana. Gak perlu mewah tapi berkesan."


"Gue bakal lakuin itu kalo nikah sama pacar gue."


"Emang lu gak suka sama dia?"


"Cinta ... belum ada kayaknya."


Wiwin mengernyitkan dahi. Ucapan sama sikap Putra tidak sinkron. Wiwin baru melihat bagaimana dia memperlakukan Mahira begitu manis. Wiwin mungkin saja salah menduga karena Putra memang baik terhadap semua orang. Pikirnya.


"Mahira bilang daerah dia gak terlalu jauh dengan proyek gue saat ini."


"Benarkah? wah ...."


"Kenapa?"


"Takdir. Pas kalau gitu."


"Apaan sih Lu? gak jelas."


Ponsel Putra berbunyi. Dia merogoh ponselnya dari balik jas.


"Emak. Tunggu sebentar ya mbul."


"Hemm."


Putra sedikit menjauh dari Wiwin.


"Assalamualaikum, Mak."


"Waalikumsalam. Putra, kamu sedang apa? dimana sekarang?"


"Makan siang di luar, kenapa?"


"Mahira ada?"


"Dia di rumah. Putra masih kerja, sekarang lagi makan siang. Ada apa memangnya?"


"Nanti hari Jumat emak sama keluarga ke rumah kamu. Kita mau ngadain acara pertunangan kamu sama Mahira."


"Oh, begitu rupanya. Baik, Mak. Nanti Putra minta bantuan Wiwin buat nyambut keluarga."


"Loh? Mirah kemana?"

__ADS_1


"Dia minta libur, pulang kampung."


"Ya sudah kalau gitu. Emak tutup dulu teleponnya, assalamualaikum."


"Waalikumsalam."


Putra menghela nafas panjang. Di tatapnya layar ponsel cukup lama. Kemudian dia kembali duduk.


"Kenapa? tiba-tiba gak berselera gitu?" tanya Wiwin sambil melahap kentang gorengnya yang entah untuk keberapa porsi.


"Jumat lu libur ya. Bantuin gue nyambut keluarga besar dari kampung."


"Beres kalau itu sih! tapi kenapa muka lu asem gitu di liatnya?"


"Sabtu malam Minggu gue tunangan sama Mahira."


"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Wiwin. Sampai detik ini dia masih tidak bisa menebak perasaan sahabatnya. Putra terlalu baik pada semua orang, itulah yang membuat Wiwin tidak bisa menebak perasaan Putra pada gadis itu.


****


Wiwin sudah memesan berbagai macam kue serta memesan makanan untuk menyambut keluarga besar sahabatnya, Putra. Dulu, Putra pernah bilang bahwa kebiasaan di kampung itu, jika akan mengadakan acara apapun selalu rame dan banyak yang ikut. Bahkan acara wisuda pun bisa terlihat seperti akan pergi nikahan. Banyak.


Untuk itu, Wiwin sengaja memesan banyak makanan dan segala sesuatunya. Rasanya lebih baik lebihan dari pada kekurangan.


Waktu menunjukkan pukul 14. 20 menit. Benar saja dugaan Wiwin. Keluarga Putra yang datang seperti anak SMP yang hendak studytour. Dua bis banyaknya.


Bisa dibayangkan bagaimana rame dan berisiknya emak-emak sebanyak itu. Jika suara kita ingin terdengar maka berteriak lah sampai urat lehermu terlihat jelas bahkan hampir putus.


Mereka berbicara banyak sekali. Mulai dari membahayakan makanan yang belum pernah mereka makan sebelumnya. Membahas rumah Putra yang seperti istana, dan bahkan ada sebagian yang menggunjingkan Mahira. Mereka rupanya tidak setuju Mahira menjadi bagian keluarganya.


Wiwin tidak mengerti kenapa mereka begitu terlihat seperti membenci Mahira. Gadis polos nan lugu itu bahkan bisa membuat siapapun yang baru melihatnya jatuh hati. Matanya penuh ketulusan.


"Lu ngapain melongo?"


"Ahh, itu. Emm gue ngantuk sepertinya." Wiwin canggung.


"Iya, gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa. Makasih ya."


"Hmm. Untuk acara makan malam sama acara besok udah gue serahin semua sama EO. Jadi lu terima beres aja."


"Iya, makasih udah bantuin."


"Gue pulang, salam buat anak gadis gue."


Putra mengernyitkan dahi.


"Mahira." jelas Wiwin.


Putra mengangguk dengan seulas senyum di wajahnya.


Seperti yang Wiwin katakan. Acara makan malam sudah disiapkan oleh pihak EO (event organizer). Sungguh acara makan malam yang tidak akan pernah bisa mereka lupaka. Selain makanan yang memang enak, acara itu dilakukan di halaman belakang rumah Putra. Tepat di samping kolam renang. Lampu-lampu bergelantungan menghias taman itu. Bunga-bunga yang bertengger indah menambah romantisnya suasana. Hanya saja, kali ini mereka menjalaninya dengan perbedaan. Ya, setelah sebelumnya mereka harus test lab untuk memastikan mereka terbebas dari virus yang sedang mewabah, Meeka juga harus memakai masker.


Putra baru menyadari bahwa sejak sore tadi dia tidak melihat Mahira. Dia menduga wanita itu ada di kamarnya. Putra pun segera masuk ke dalam rumah dan menghampiri pintu kamar Mahira.


Setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil Mahira. Wanita itu muncul di balik pintu. Memakai pakaian tidur dengan mata yang sembab. Putra sedikit kaget. Bagaimana bisa pemeran utama dalam acara ini malah terlihat begitu sedih dan menangis.


"Saya boleh masuk?"


Tidak ada jawaban. Mahira hanya membiarkan tangannya terlepas dari gagang pintu. Membiarkan pintu terbuka lebar kemudian dia berjalan menuju tempat tidur.


Putra mengerti bahwa itu artinya Mahira mengiyakan. Putra masuk dan menutup pintu kamar. Dia tidak ingin orang lain mendengar penjelas Mahira, jika nanti Mahira memberitahunya alasan kenapa dia menangis.


Mahira duduk di tepi ranjang. Sementara Putra berdiri tepat di hadapan gadis itu. Dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit miring saat dia bertanya pada Mahira.


"Ada apa? kenapa mengurung diri di sini?"


Mahira menggeleng. Kepalanya menunduk. Gadis itu kembali menangis. Putra bisa melihat dari tetesan air mata yang jatuh kepangkuan gadis itu.

__ADS_1


"Apa ada yang menyakitimu?"


Lagi-lagi Mahira menggeleng. Putra tidak bertanya lagi. Dia menunggu sampai Mahira menceritakan sendiri apa yang terjadi. Lama mereka berdua dalam diam.


"Pak. Kenapa anda mau menikahi saya? padahal saya ini wanita miskin. Saya juga anak dari preman kampung. Latar belakang hidup saya buruk. Harusnya saya menikah saja dengan tua Bangka itu. Setidaknya itu layak saya dapatkan. Begitulah yang mereka bicarakan tadi. Wanita yang mendampingi Bapak, harusnya wanita cantik yang berasal dari keluarga baik-baik. Berpendidikan dan tidak membuat anda malu."


Gadis itu selalu saja bicara banyak meski hatinya sedang bersedih. Putra menghela nafas setelah mendengar ucapan Mahira. Dia memang sudah mengira bahwa calon istrinya itu tersinggung dengan ucapan salah seorang tamu yang hadir, keluarga tepatnya.


"Kamu cantik."


"Bapak juga tampan. Kaya pula. Kenapa juga menikah dengan gadis yang pantasnya hanya menjadi pembantu di rumah Bapak. Saya tidak tau, ini karena saya yang memiliki takdir bagus atau bapak yang bernasib sial."


Mendengar ucapan Mahira, sontak membuat Putra tertawa keras. Mahira yang bersedih dibuat kaget dan menatap Putra dengan penuh kebingungan.


"Pak? bapak kenapa? bahagia melihat saya sedih? atau saya terlihat lucu? kenapa tertawa seperti itu? saya yang lagi nangis jadi kaget dan gak nangis lagi. Pak, Bapak kenapa? bukan kesurupan kan?" Mahira banyak bertanya karena Putra tidak berhenti tertawa.


Mahira berdiri. Dia berjinjit untuk bisa melihat wajah Putra. Gadis itu mengibaskan tangannya di depan muka Putra.


Putra sadar saat matanya bertemu dengan mata Mahira. Dia mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha bersikap seperti biasa.


"Sudah tertawanya?" tanya Mahira serius. Namun, di mata putra, itu adalah suatu kepolosan yang menggelitik dirinya.


"Mahira."


"Hemm. Anda baik-baik saja kan? tidak kerasukan atau gimana? saya takut, karena baru kali ini saya melihat orang tertawa saat mendengar curhatan sedih seseorang."


"Gak usah jinjit. Duduklah."


Mahira tersadar bahwa sedari tadi kakinya jinjit. Dia pun duduk. Diikuti Putra.


"Dengarkan saya bicara." Putra membenahi posisi duduknya agar terlihat serius di mata Mahira yang terlihat masih mencurigai Putra. Mungkin dia berjaga-jaga agar Putra tidak 'kerasukan' sepertinya tadi.


"Mahira. Saya tidak apa-apa. Dengarkan saya dengan serius."


"Baik, Pak. Saya akan mendengar."


"Kita tau, kalau pernikahan ini karena keinginan emak. Sebagai anak, saya hanya tidak ingin beliau sakit hati dan bersedih. Sementara kamu, kamu menikah dengan saya karena menganggap bahwa ini lebih baik daripada kamu menikahi kakek-kakek yang sudah memilki istri banyak."


"Iya, dia bahkan sudah memiliki cucu. Ngeri saya."


Putra tersenyum.


"Meski pernikahan ini terjadi karena ... sebutlah paksaan, tapi saya akan berusaha menjadi suami yang baik."


Mahira menatap Putra lekat. Otaknya berusaha keras mencerna apa yang Putra ucapkan.


"Begini, saya akan melaksanakan kewajiban saya sebagi suami, dan kamu akan mendapatkan hak kamu sebagai istri."


"Hak dan kewajiban suami istri? maksudnya? terus kewajiban saya sebagai istri apa? bukankah selama ini saya mencuci, membersihkan baju, menyiapkan makan danโ€“"


"Nafkah. Kamu mengerti?"


"Uang maksudnya? kan Bapak juga ngasih saya uang saku. Beliin baju, sendal, mukena, dan semuanya. Apa bedanya? kita hanya harus menjalani semuanya seperti biasa saja bukan?"


"Mahira, nafkah itu ada dua jenis. Nafkah lahir dan nafkah batin."


"Itu apa lagi? aduuh Pak, saya malah tambah pusing. Bisa jelaskan dengan kata-kata normal saja? saya rasanya tidak bisa mengerti dengan ucapan yang terlalu mewah. Sakit kepala saya berusaha ngerti tapi tidak ngerti apa-apa."


Putra mendengkus kesal. Dia yang sebenarnya canggung membahas ini, Mahira sendiri malah tidak mengerti dan minta penjelasan lebih detail. Kepala Putra benar-benar berdenyut dibuatnya.


Putra berdiri. Dia ingin pergi dari kamar yang terasa pengap itu. Mahira segera berdiri mengikuti Putra. Dia merasa bersalah dan tidak enak hati telah membuat Putra marah.


"Pak, jangan marah. Saya minta maaf kalau saya salah. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang bapak maksud. Aduuh, bagaimana saya menjelaskan pada Bapak bahwa otak saya memang sangat kecil. Saya ...." Mahira terlihat begitu frustasi. Dia tidak bisa mengatakan apapun tentang perasaan bersalahnya.


Putra menarik pinggang Mahira lalu mengecup bibir gadis itu. Begitu bibir mereka saling menjauh, Putra bisa melihat dengan jelas bagaimana reaksi wajah Mahira yang seperti terhipnotis. Diam tak bergerak.


"Ini namanya nafkah batin. Mahira."


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ

__ADS_1


__ADS_2