Membeli Istri

Membeli Istri
part#40


__ADS_3

Sebulan tinggal di sini membuat aku sediki lupa padanya. Pada semua kenangan indah tentangnya. Kelucuan yang dihadirkan lewat para lansia, merupakan obat terbaik untukku menghilangkan lara.


Ya, aku lebih suka menghabiskan waktu bersama para jompo ketimbang dengan anak-anak yang ada di sini. Entahlah, rasanya hati ini sakit jika bersama mereka. Kenangan akan dia yang sempat singgah di rahimku akan terkuak lagi. Perih.


Biasanya, kue putu akan datang ke sini hampir setiap hari. Tapi, sudah beberapa hari ini dia tidak datang. Tidak juga memberi kabar. Aku tidak menunggunya, hanya saja kebiasaan dia mengganggu setiap waktu, membuat aku merasa kehilangan saat tidak ada kabar lagi darinya.


Aku memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat berlogo hijau. Tidak ada balasan. Sedikit kecewa. Dia satu-satunya orang yang aku miliki saat ini. Teman yang selalu ada disetiap aku butuh dan aku sedih. Sandaran untukku berkeluh kesah selain pada-Nya.


"Kecewa, ya?"


Aku terperanjat dan hampir menjatuhkan ponselku. Dia yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat aku kaget dan kesal. Aku marah padanya entah karena apa. Setelah puas memarahinya, aku pergi begitu saja. Belum jauh dari tempat itu, ponselku berbunyi. Masih nama dan nomor yang sama. Calon suami.


Aku ragu untuk mengangkat telpon darinya. Hingga aku sadar, tidak ada alaan untukku marah padanya. Aku menyesal meski hatiku masih bergemuruh.


"Ya." Aku masih ketus.


"Maaf, ada beberapa hal yang harus aku urus sampai tidak sempat memberi kabar.


"


"Bukan urusanku."


"Harus! Bagaimana juga, aku ini calon suami kamu."


"Begitu kah?"


"Sesuai nama yang kamu simpan di ponsel."


"Maaf, ya. Harus kita perjelas. Di sini kamu yang menyimpan nomor dan nama sendiri."


"Kalau tidak suka kenapa tidak diganti?"


Skak mat. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Aldo. Aku sendiri tidak tau kenapa aku tidak mengganti namanya.


"Mau aku ganti, kok."


"Tidak perlu." Aku kembali kaget saat suara itu terdengar dari telinga yang berbeda posisi ponsel berada.


"Kamu itu–"


"Berhentilah menenggelamkan diri di masa lalu, karena hidup berjalan ke masa depan."


Dia begitu serius saat berbicara. Tidak seperti biasanya. Tidak ada tawa kuda di wajahnya. Tanpa senyuman bahkan.


"Bukankah sendiri itu lebih baik dari pada hidup dengan orang yang salah. Kenapa kamu tidak paham itu?"


"Aku tau, itu sebabnya aku mundur. Kamu tau itu bukan?"


"Apa kamu juga tau, hidup dengan orang yang tulus menerima kekurangan kamu, itu jauh lebih baik."

__ADS_1


Lagi. Dia berhasil membuat aku tidak bisa berkata-kata. Ada apa dengannya hari ini? Pergi beberapa hari dan kembali menjadi sosok yang aneh. Aku tidak suka.


"Kadang, kita membuat sebuah guyonan agar seseorang bisa merasa nyaman dengan fakta yang terselubung di dalamnya."


"Aldo, ada apa denganmu hari ini? Aku tidak menyukainya. Aku lebih suka Aldo yang kemarin."


"Yang mana pun aku, kenyataannya kamu tidak pernah menyukaiku, bukan?"


"Bukan begitu, Al. Maksudku–"


Belum juga aku menyelesaikan ucapan, dia langsung pergi begitu saja. Tanpa menoleh sedikitpun.


"Aldo ...." Sedih rasanya melihat dia seperti itu. Aku tau perasaannya padaku. Sebelum dia pergi menghilang tanpa kabar waktu itu, dia sempat berbicara padaku.


"Ra, mau naik motor gak? Keliling kampung sini, enak loh. Pemandangan di sini tuh indah. Yaaa meski tidak ada yang mengalahkan keindahan wajah kamu."


"Ya ampun. Gombal sekali anda."


"Tapi suka kan?"


"Lumayan lah. Buat hiburan."


"Jadi?"


"Apanya?"


"Ish. Malu tau, aku ini berhijab dan tidak pantas begituan."


"Emang kita mau ngapain? Kita itu gak pegangan tangan. Kalau perlu, motornya kita halangi pake papan triplek."


"Ha ha ha. Ada-ada aja kamu tuh. Ya udah, aku mau. Gak usah pake papan. Jauhan aja dikit."


"Dikit? Kenapa gak banyak-banyak. Mau deket-deket ya sama aku?"


"Mau pergi gak?" Tanyaku tegas. Dia langsung berlari mengambil sepeda motor milik penjaga di sini.


Motor melaju menyusuri peswahan yang sedang menguning. Sebentar lagi akan panen. Angin berembus sejuk. Meniup pepohonan yang membuat dedaunan malambai-lambai. Sungguh indah ciptaan-Mu ya Allah.


Motor berhenti di tepi sungai. Sangat dangkal dan jernih. Aku bahkan bisa melihat dasar sungai itu.


"Mana tukang baksonya?"


"Kamu beneran ingin bakso?"


"Kan kamu bilanh sendiri mau makan bakso. Dasar tukang bohong."


"Iya, iya, nanti kita makan bakso setelah dari sini, ya. Tapi kalau sudah magrib."


"Kenapa harus ke sini dulu?"

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Penting dan serius. Juga rahasia. Jangan sampai tukanh bakso tau."


Aku tertawa lepas. Entah kenapa tapi aku merasa sangat geli mendengarnya.


"Masa muslimah tertawanya gitu."


Aku segera menutup mulut mendengar ucapan Aldo. Malu banget rasanya.


"Ra, kamu ingat terakhir kita bertemu?"


"Ya, kenapa? Waktu itu–"


"Sejak saat itu, aku selalu memikirkan kamu. Entahlah, tapi kamu selalu ada dalam benakku. Rasanya aku benar-benar frustasi mengingat kamu adalah istri seseorang."


Aku hanya bisa diam mendengarkan pernyataan Aldo.


"Jujur saja, aku memang kurang ajar karena bahagia mendengar kamu telah berpisah dengan mas putra. Maaf untuk itu."


Hening.


Aku merasa angin bertiup lumayan kencang. Hijabku bahkan menutupi wajahku karena tiupan angin.


"Ra, izinkan aku mengatakan perasaan ini padamu. Aku ingin kamu menjadi aisyah untukku. Setia padaku sampai aku mati dalam pelukanmu."


"Al, maaf. Aku ...."


"Aku tau, kamu tidak perlu membalas perasaan ini. Cukuplah hidup denganku dan ikatan yang halal. Itu saja."


"Jangan. Aku pernah ada di poisis itu, Al. Awalnya aku mengira semua akan baik-baik saja. Tapi nyatanya, aku mengalah pada rasa itu. Kamu tau sendiri akhir kisahnya seperti apa bukan?"


"Beda, Ra. Kamu tidak memiliki seseorang untuk lari dariku."


"Tapi hatiku sudah diambil olehnya. Apa bedanya, Al? Kamu akan kecewa dan menderita. Pak Putra sendiri tidak akan lari jika aku yang bukan melepaskannya bukan?"


"Itu bedanya. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu untuk apapun dan demi siapapun juga."


"Al ...."


"Kita coba saja dulu. Aku akan setiap sampai masa hidupku di dunia selesai. Atau sampai kamu sendiri merasa lelah harus berpura-pura mencintai dan berbakti padaku, kelak."


"Jangan begini, Al. Kamu berhak mendapat wanita yang baik. Siapa aku ini? Aku bahkan pernah menikah dengan orang lain. Di luar sana masih banyak gadis yang jauh lebih cantik dan lebih baik dari aku."


"Aku tidak mencari seorang gadis. Aku sedang mencari seorang istri untuk menjadi ibu dari anak-anakku."


"Maaf, Al. Aku tidak bisa. Aku masih mencintai Mas mu. Jujur saja, Al. Aku masih sangat mencintai mantan suamiku. Aku minta maaf."


Sejak saat itu, Aldo tidak pernah menghubungiku atau datang ke yayasan ini. Dia menghilang tanpa kabar. Dia kini telah kembali dengan sikap yang berbeda dari awal kami bertemu. Aku .... Ya Allah apa yang harus aku lakukan?


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2