Membeli Istri

Membeli Istri
part#66


__ADS_3

"Sayang, bangun." Aku merasa tubuhku seperti di goyang-goyang. Benar saja, Mahira sedang menekuk wajahnya saat aku membuka mata.


"Kenapa?" tanyaku antara sadar dan tidak.


"Mau makan burung dara."


"Sekarang?"


"Iya. Masa tahun depan? keburu punya ade bayinya."


Dengan kepala yang terasa nyut-nyutan, aku terpaksa bangun. Aku melirik jam dinding. Pukul dua dini hari. Kepalaku terasa bertambah berat. Sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari apa yang dia inginkan.


Tanpa bertanya apa-apa, aku mengambil jaket lalu meraih kunci mobil. Tidak ingin mengeluh apa lagi meminta keringanan untuk membelikan apa yang dia mau, lain kali. Itu akan membuat dia menangis histeris. Bukan hanya itu, aku juga harus tidur di kamar atas.


Orang bilang, ngidam itu hanya akan terjadi saat usia kehamilan dibawah empat bulan. Kenapa wanitaku masih saja ngidam meski usia kehamilannya mau menginjak delapan bulan.


Benarkah dia mengidam? atau sengaja membuatku kesal? ahh, segini pusing dan repotnya menghadapi wanita ngidam. Tidak ngidam saja wanita sangat sulit dimengerti.


Dari pukul dua hingga pukul tiga, aku belum juga menemukan apa yang istriku mau. Keliling kota sudah aku lakukan. Menyusuri pinggiran jalan yang sangat sepi.


Masih terus berusaha hingga azan subuh berkumandang. Dengan perasaan was-was, aku memilih untuk pulang ke rumah. Rasanya lelah. Mataku juga perih.


"Mas, gak nemu ya? ponsel kamu gak di bawa kenapa?"


Aku hanya bisa mengangguk dengan hati yang campur aduk. Antara sedih dan juga lega. Aku yang berusaha keras mencari apa yang dia inginkan dan pulang dengan perasaan takut dan bersalah, mendapati Mahira sedang makan ayam goreng sambil menonton televisi. Tidak lupa segelas susu hamil tersedia juga di atas meja. Begitu juga buah-buahan lengkap.


"Ayam goreng juga rasanya mirip-mirip. Gak apa-apa bisa jadi ganti. Aku baru ngeh, malam-malam mana ada yang jualan burung dara. Untung si jabang ngerti dan mau makan ayam goreng sebagai pengganti."


Aku tidak membalas apa pun dan memilih menuju tempat tidur. Menarik selimut lalu tidur.


"Kok tidur, salat subuh dulu. Bukannya nanti pukul tujuh ada rapat di kantor?"


Astagfirullah!


Aku segera bangkit, mengambil air wudhu. Selepas salat, segera mandi dan bersiap. Mahira menatap dengan buah apel yang menutupi mulutnya.


Duduk dengan kaki terbuka. Perut besar dan mulut penuh makanan. Begitulah pemandangan yang selalu aku lihat.


Wanitaku sangat subur.


"Bi, bikinin saya sereal." aku berteriak pada Bi Tuti. Tidak ingin terlambat untuk meeting bersama klien dari luar negeri.


Tidak butuh waktu lama, semangkuk sereal dengan toping strawberry sudah siap dihadapan ku.


Setelah habis, aku segera pergi ke kantor. Tidak lupa mengecup kening dan perut istriku yang sudah sangat besar.


Ngebut di jalanan agar cepat sampai. Bagiku, bertemu dengan klien luar negeri itu sangat penting, karena proyek yang sedang aku kerjakan cukup fantastis nominalnya. Selain itu, mereka tidak suka yang namanya keterlambatan.


"Na, Rona! klien sudah datang belum?" tanyaku pada sekertaris.


"Belum, Pak. Masih ada waktu beberapa menit lagi."


Syukurlah. Aku masih ada waktu untuk bersiap diri. Merapikan baju yang tidak sempat Mahira rapikan.


"Pak, mari ke ruang meeting." Rona–sekertarisku muncul dari balik pintu.


"Ya. Na, Mas Putra ikut serta juga?"


"Iya, beliau sudah menunggu di ruangan."


"Baiklah, ayo kita ke sana."


Aku berjalan diikuti Rona menuju ruangan meeting. Semua yang berkepentingan sudah hadir kecuali klien kami.


"Kamu kurang tidur?" tanya Mas Putra sambil membuat isyarat lingkaran di matanya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Mahira semalam ngadat lagi. Minta yang tidak ada."


"Sabar. Demi buah hati."


"Iya, Mas."


"Maaf, Pak." tiba-tiba Roni manager marketing datang menghampiri. "Klien kita membatalkan pertemuannya hari ini. Mereka terkena insiden kecil di jalan. Mungkin besok atau lusa kita adakan rapat lagi."


"Astagaaa! kalau begitu, suruh saja dia jualan burung dara!"


Aku kesal dan menggebrak meja. Mata mereka yang ada dalam ruangan menatapku kecuali Mas Putra, dia hanya cengengesan mentertawakan aku.


Sadar apa yang baru saja aku lakukan, aku memilih pergi meninggalkan ruangan menuju ruangan ku.


"Astaga. Kenapa lelah sekali."


Aku melempar jas lalu melonggarkan dasi. Menghempaskan diri keatas sofa.


"Stres sekali sepertinya calon papa muda ini."


Aku membuka sebelah mata dan melihat Mas Putra sudah berdiri dihadapanku dengan tatapan mengejek sekaligus kasihan. Menyebalkan.


"Berapa usia kandungan istrimu?"


"Mau delapan bulan."


"Udah tau jenis kelaminnya?"


"Belum. Setiap periksa, mereka selalu dalam keadaan berpelukan. Tidak bisa terlihat jenis kelaminnya."


"Mereka?"


"Twins."


"Wow! selamat, ya. Sekali punya anak langsung dikasih dua."


"Itulah wanita. Hargai mereka karena perjuangan mengandung anak kita."


"Iya, Mas. Tapi aku merasa lelah, terkadang."


"Pernah coba mengambil alih beban dia?"


"Bagaimana bisa? ngaco aja Mas ini."


"Itulah. Beban mereka harus ditanggung sendiri selama sembilan bulan, belum lagi melahirkan, lalu menyusui. Itu semua tidak akan pernah bisa diambil alih orang lain meski hanya sedetik."


Mas Putra menatap berusaha meyakinkan bahwa apa yang aku rasakan bukanlah apa-apa. Sebuah tamparan untukku.


Ya. Aku sadar, rasa lelah Mahira setiap malam karena tidak bisa tidur nyenyak. Sering ke kamar mandi dan juga kesulitan untuk berjalan. Itu semua tidak bisa dititipkan pada siapapun meski hanya sekejap mata.


"Aku pulang dulu lah, Mas. Ambil alih semua urusan kantor untuk sementara."


"Kangen?" godanya.


"Ck!"


Kuraih jas yang tadi aku lempar begitu saja.


Ya, aku merindukan dia, istriku. Aku ingin minta maaf karena sempat kesal padanya. Mungkin dia merasakan hal itu sampai dia lupa merapikan baju dan dasiku. Aku menyesal.


Saat dalam perjalanan, aku melihat toko bunga. Terlintas dalam benakku untuk memberikan dia buket bunga mawar merah yang besar.


"Mba, tolong buatkan saya buket mawar yang sangat besar. Ambil semua mawar merah yang ada di sini."


"Gak ikutan yang lagi viral aja, Pak."

__ADS_1


"Apa?"


"Pake uang. Jangan pake bunga."


"Pake berlian aja, bisa? saya sudah pernah pake uang, tapi dia malah gak suka."


"Tumben ada cewe gak suka begituan."


"Uangnya dipegang semua sama dia. Udah banyak. Lebih banyak dari uang saya malah. Ya udah, tolong segera ya."


"Iya, Pak."


"Mba, bisa pake cokelat gak?"


"Bisa, Pak. Tapi Bapak harus bawa cokelat sendiri."


Aku melihat keluar toko bunga. Beruntung ada dua mini market bersebelahan. Segera aku berlari kecil untuk memborong semua cokelat dari dua mini market itu. Tidak hanya cokelat, beberapa Snack juga aku borong untuk dijadikan buket.


Istriku suka sekali ngemil. Maklum, ada dua yang juga ikut nebeng ngemil dalam tubuhnya.












Begitu semuanya selesai, aku baru menyadari satu hal. Mobilku tidak cukup untuk membawa ini semua.


Aku merogoh ponsel berniat menelpon kantor, agar mengirimkan satu mobil untuk membawa semua ini. Sialnya, ponselku mati.


"Pak, kalau perlu, Anda bisa memakai mobil kami saja."


"Ah, terimakasih untuk itu. Kalau begitu bawa semua ini ke rumah saya."


"Baik, Pak."


Beruntung, atau memang aku yang lupa kalau toko bunga memang selalu memiliki armada untuk mengirim pesanan para pelanggannya.


Sepanjang perjalan, aku begitu senang. Rasa lelah dan kantuk yang sedari tadi menggelayut, kini hilang sudah. Rasanya tidak sabar untuk sampai rumah dan memberikan hadiah ini pada calon Ibu dari calon anak-anakku.


Perjalanan yang cukup padat, tidak aku rasakan. Senyuman dari wajahku pun tak pernah hilang.


Hanya saja, begitu sampai depan rumah, sebuah mobil ambulans keluar dari balik pagar dan melaju begitu cepat meninggalkan halaman rumahku.


Seketika perasaan bahagia sirna, berubah menjadi was-was yang begitu hebat.


Aku mendadak bergetar, tidak bisa berkata-kata dan juga seperti membeku.


Bunyi klakson dari mobil belakang yang membawa hadiah untuk wanitaku, membuatku sadar. Segera aku tancap gas dan masuk ke dalam halaman rumah.


"Mahira ... sayang," lirihku dengan mulut bergetar.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2