
Aku masih menahan rasa sakit yang kini terasa sangat luar biasa. Ibu jari kakiku ternyata kemasukan serpihan batu pada kukunya. Jangan bayangkan bagaimana rasanya. Untuk mengambilnya kukuku harus di lepas. Alhamdulilah nikmat banget.
Masih diam posisi kami saat mobil Aldo meluncur mengantarku ke hotel tempat aku menginap. Melangkah dengan satu kaki yang diseret, membuat beberapa orang menatap penuh tanda tanya. Andai jika aku sudah halal bagi Aldo, mungkin dia akan menggendongku berjalan. Itu bisa aku lihat dari raut wajahnya yang terlihat begitu greget. Atau mungkin dia merasa bersalah karena kejutan tidak berfaedah tadi.
Aldo memang keterlaluan. Dia begitu nekad melakukan hal yang aku anggap bodoh hanya untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perasaanku padanya. Namun, itu menjawab semuanya. Termasuk kebimbangan yang aku rasakan selama ini.
Kini, aku tahu. Rasa kehilangan saat dia tidak ada. Rasa kagum saat melihat perubahan demi perubahan yang dia tunjukan, dan tawa saat berada bersamanya bukan karena dia aku anggap sebagai teman terbaik. Aku memang tidak ingin kehilangan dia. Aku takut dia pergi. Aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya.
Mungkin karena aku tidak pernah pacaran sebelumnya. Aku merasa jadi wanita murahan dan rendah. Kenapa aku mudah sekali jatuh cinta. Melihat kebaikan Pak Putra, aku langsung jatuh cinta dalam sekejap. Dan sekarang ....
Tidak aku pungkiri, aku memang butuh kasih sayang. Aku haus belaian orang yang memang mencintaiku. Aku, ingin hidup bersama dia yang membutuhkan kehadiranku.
Aku hanya ingin dicintai. Itu saja. Dan aku mendapatkannya dari Aldo.
Tak apa orang mau bilang apa. Bukankah dicintai orang yang kebetulan sama-sama kaya itu adalah rezeki? apa yang salah? aku mencintai mereka karena memang hanya mereka yang perduli padaku. Suatu kebetulan saja, Aldo mencintaiku dan dia terlahir sebagai anak sultan. Bukan niat hati ingin memoroti atau aji mumpung numpang hidup dan menikmati hartanya.
Kalau niatku memang karena harta. Mungkin aku tidak akan perduli pada Ririn yang tidak suka saat suaminya memberikan aku hartanya. Jika aku memang matre, tidak akan aku kembalikan apa yang sudah atas namaku.
Mungkin ini adalah hadiah dari rasa sakit yang aku rasakan sejak kecil. Alhamdulilah.
"Kalau ada apa-apa, segera telepon. Jam berapapun. Jangan sungkan apa lagi merasa malu. Ok?"
Aku hanya mengangguk pelan tanpa menatapnya. Katanya, menatap dia yang belum halal itu dosa. Ah, meski kadang aku masih sering melakukannya. Hanya satu bulan saja aku tinggal di pesantren waktu itu. Masih banyak yang harus aku tau tentang ilmu agama.
"Ra ...."
"Ya." Aku mendongak.
"Terima kasih."
Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum sebelum kami terpisah oleh pintu yang segera aku tutup.
Perasaanku masih sangat kacau. Antara aku memang tidak ingin kehilangan dia, dan karena rasa malu. Malu pada diriku sendiri. Belum lama menjadi janda tapi sudah bisa menerima laki-laki lain. Ya Allah, apa ini salah?
Setelah meras segar karena tubuhku sudah bersih dan sudah berganti pakaian. Aku merebahkan diri di atas kasur sambil memainkan ponsel. Ada pesan yang belum sempat aku baca.
"Pak Putra?" sedikit bertanya saat melihat pengirim pesan tersebut.
[Mahira, apa pun yang dikatakan Ririn, jangan kamu dengar. Abaikan saja. Saya minta maaf jika kamu merasa terganggu. Terima kasih]
Ya, aku baru ingat. Sebelum kejadian tadi, Ririn sempat bilang dia ingin melamarku untuk suaminya.
"Apa-apaan mereka itu? istrinya ingin melamarku dan suaminya? Memangnya kalian bisa mempermainkan perasaanku?"
Aku sedikit kesal. Entahlah kalau isi pesan ini berbeda. Apa aku bisa kembali goyang, atau ...
[Tidak apa-apa. Lagi pula saya tidak tertarik dengan tawaran istri Bapak.]
[Ya. Kamu memang sudah seharusnya mendapatkan kebahagiaan. Saya selaku berdoa agar kamu bahagia di luar sana.]
Aku membulatkan mata saat dia begitu cepat membalas pesanku. Lagi dan lagi hatiku gamang. Jujur, aku ingin tau apa yang terjadi sebenarnya. Namun, aku takut salah melangkahkan lagi.
[Saya juga selalu melakukan hal yang sama. Jangan tanya kenapa, karena seluruh dunia pun tau jawabannya."
Aku sedikit memancing, ingin tau reaski yang dia berikan.
[Terima kasih.]
Menyesal. Itulah yang aku rasakan saat ini. Malu luar biasa. Harusnya aku sadar bahwa dia memang hanya mencintai wanita itu. Kebaikannya memang hanya karena saat itu aku adalah istrinya. Dia hanya melakukan kewajibannya. Ya Allah! ada apa denganku? Sadarlah Mahira. Lupakan dia dan mulailah membuka hati untuk Aldo. Mantapkan perasaan mulai dari sekarang hanya untuk Aldo.
Ponselku kembali berbunyi. Aku yang yang sedang membenamkan diri pada bantal langsung mengangkat kepala dan meraih ponsel. Masih berharap dia memberikan pesan yang sedikit membuat hatiku senang. Astagfirullah ... aku memukul-mukul kepala berharap segera sadar.
"Aldo ...."
[Jangan tidur terlalu malam. Besok sahur mereka akan mengirimkan makanan. Kamu gak perlu jalan keluar."
__ADS_1
Ah! dia memang perhatian dan baik. Pak Putra pun sama baiknya. Tapi Aldo, dia baik karena dia memang mencintaiku. Itu bedanya.
[Iya, terima kasih.]
[Masih sakit? sudah minum obatnya?]
[Masih. Tapi gak terlalu sakit setelah minum obat, sih.]
[Sukurlah. Sekali lagi aku minta maaf]
[Iya, tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, kok]
[Baiklah, segera tidur. Besok aku jemput jam 10 pagi.]
[Iya. Selamat malam. Semoga mimpi indah]
Tidak ada balasan. Mungkin dia tidak ingin aku merasa terganggu. Aku segera bersiap untuk tidur. Meski hanya tinggal beberapa jam saja, lumayan lah.
Aku terbangun kembali saat mendengar ponsel berbunyi, mungkin sudah sedari tadi. Diiringi suara telpon kamar hotel.
"Mana ini yang harus aku angkat dulu. Aldo atau telpon?" gumamku dalam keadaan mata mengerjap-ngerjap. Ngantuk.
"Ya, hallo."
"Selamat malam, Bu. Maaf menganggu. Apa makanan untuk sahur bisa kami antar sekarang?"
"Oh, itu. Iya boleh. Silahkan."
"Baik, kalau begitu akan segera kami antar. Terima kasih."
"Sama-sama."
Ponselku sudah berhenti berdering. Aku memutuskan untuk menelponnya balik.
"Baru bangun?" tanyanya.
"Sahur dulu. Orang hotel udah ngirim makanannya belum?"
"Mau. Mereka tadi menelpon."
"Sukurlah. Cuci muka dulu sana. Biar cantiknya semakin bertambah."
"Heleh. Pagi buta gini udah gombal."
"Hehehe. Ya sudah, aku juga mau sahur dulu. Daah."
"Iyaaa."
Tidak lama kemudian, bel berbunyi. Aku bergegas untuk membuka pintu. Layanan kamar yang membawa makanan datang.
"Sahur nya, Bu."
"Iya, Mas. Silahkan masuk."
Mas-mas itu masuk dengan mendorong troli yang membawa ... kenapa banyak sekali? aku memperhatikan orang itu dengan seksama. Ada yang aneh. Dan ....
"Al?"
Dia tetap diam dan menata makanan di atas meja. Aku mendekat. Aku yakin itu Aldo. Parfumnya sangat aku kenali. Setiap bertemu denganku, dia selalu memakai parfum yang sama. Bukan karena dia tidak memiliki parfum lain, aku yakin sih.
"Aku suka wangi parfum kamu yang sekarang," ucapku saat itu. Dan itulah kenapa dia selalu memakai parfum yang sama setiap kali kami bertemu.
"Wangi parfum kamu tidak bisa berbohong, Aldo. Aku hafal betul wanginya."
Dia menoleh setelah menyimpan piring terakhir. Membuka maskernya. Dan benar saja itu Aldo. Aku menggelengkan kepala saat nyengir kuda itu hadir kembali di wajahnya.
__ADS_1
"Apa-apaan sih, Al? sampe segininya."
"Aku tuh bela-belain nyewa baju ini ke pihak hotel. Biar bisa menyajikan makanan buat kamu sahur," ucapnya manja. Seperti anak kecil yang sedang merayu ibunya untuk dibelikan permen.
"Kok bisa? emang bisa ya?"
Dia hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan nyengirnya yang tidak hilang. Ah, aku lupa. Orang kaya mah bebas. Slogan itu sepertinya memang tidak salah. Mereka bisa melakukan apa saja dengan uang. Terlebih, orang tua Aldo adalah pengusaha sukses, aku yakin yang punya hotel ini termasuk orang yang dikenal orang tua Aldo.
"Sahur bareng, ya."
"Kita gak boleh berada di ruangan yang sama berduaan saja. Kita bukan mahrom, Al."
"Tenang, tunggu sebentar." Dia seperti mendapatkan Ilham, entah apa itu. Segera berlari kecil keluar kamar dan datang dengan ....
"Astagfirullah Aldo ...." Aku semakin tidak habis pikir begitu tiga orang temannya masuk.
"Nah, kita sudah tidak berdua lagi bukan? mereka akan menemani kita."
Jujur, aku terharu. Hanya karena ingin sahur bersamaku, dia sampai melakukan hal sejauh ini. Dan itu, temenennya mau aja di ajak ke sini. Aku yakin bukan karena uang. Setahuku, teman-teman Aldo rata-rata orang kaya juga.
"Terima kasih, Al."
"Jangan geer dulu. Aku melakukan ini karena merasa bersalah atas kakimu." Dia itu memang menyebalkan. Dan aku tahu itu hanya candaan.
Kami akhirnya makan sahur berlima. Tetap saja, aku dan Aldo makan terpisah dari mereka bertiga. Teman-teman Aldo makan berpencar. Ada yang di tempat tidur, di sofa dan bahkan lesehan di bawah. Aku dan Aldo makan berdua di meja.
"Aldo ... terima kasih karena kamu selalu membuat aku merasa berarti ada di dunia ini."
"Lebih lagi kalau jadi Nyonya," timpal temannya.
"Jangan! dia mah posesif. Bisa-bisa tangan kamu dia borgol biar nempel ke tangannya." Tambah temannya yang duduk di lesehan. Aku tidak tau siapa nama mereka. Aldo tidak selalu mengenalkan nama teman-temannya padaku.
"Takut kamu di gebet," katanya.
"Banyak bacot! makan aja udah. Anggap aja sarapan yang terlalu pagi."
"Ini bukan pagi! ini malem! Tar besok pagi, baru sarapan. Ini sih makan malam yang terlalu larut."
"Udaaah. Besok pagi bisa makan lagi kan? biar agak gemukan tuh badan Lo pada."
Aku hanya mengernyitkan dahi. Dan sepertinya Aldo tau maksudku.
"Mereka bukan muslim." Bisiknya. Aku manggut-manggut. Baiklah, aku berterima kasih lagi untuk itu.
Mereka masih menemani saat azan berkumandang. Aldo bilang, dia ingin salat berjamaah denganku. Temannya tetap menemani karena tidak ingin timbul fitnah.
"Aku balik ke kamar dulu. Nanti kalau udah siap mau ke yayasan, kamu telpon aja."
"Kamar?"
"Iya, aku nginep di sini. Takut kamu butuh sesuatu, kan deket. Kalau aku di rumah terlalu jauh."
"Modus! Untung kamu wanita baik-baik. Kalau enggak, dia udah sekamar mungkin sama kamu." Celoteh temannya.
"Heeehhh ...." temannya yang lain menarik dan membekap mulut orang itu. Aku hanya tersenyum.
Wajah Aldo berubah menjadi seperti malu dan sedih, entahlah.
"Al. Tidak apa-apa. Itu masa lalu. Yang penting itu bagaimana ke depannya."
Setelah berucap. Wajahnya kembali seperti semula.
"Ya sudah. Aku ke kamar dulu."
"Ya."
__ADS_1
Begitu matahari sedikit naik. Aku menelpon Aldo. Dan kami segera meluncur ke yayasan.
🌺🌺🌺🌺🌺