
Kini, sudah satu bulan usia pernikahan kami. Aldo masih dengan tingkahnya yang selalu membuat kejutan untukku. Kejutan yang kadang membuat aku merasa malu karenanya. Meski, hatiku menyukai itu. Ya, aku menyukai setiap detik tentang dirinya.
Sebisa mungkin aku selalu mengontrol hati. Tidak ingin jatuh cinta terlalu dalam. Menghindari rasa kecewa yang akan sangat membuatku terpuruk lebih jauh dari sebelumnya. Mengingat hubungan kami masih belum mendapatkan restu Papi.
Kebahagiaan kami masih selalu dihantui kecemasan. Terutama aku.
"Jika suatu saat hubungan kita tidak berjalan sesuai keinginan. Aku akan memastikan kamu untuk tidak hidup sengsara."
"Maksudnya?" tanyaku tidak suka.
"Kamu harus punya pekerjaan. Pekerjaan yang menghasilkan uang banyak tapi tidak menyita waktumu terlalu banyak."
"Gak enak banget arah obrolan kita, Mas."
"Bukan gitu. Aku hanya tidak ingin masalah kamu dengan istri mantan suami kamu dulu terulang."
"Ihh. Udah, ah! malam-malam gini kok bahasanya begituan. Gak enak banget. Aku mau bobo."
Aku memposisikan tubuhku. Membelakangi dia dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Ya, aku sendiri tau bagaimana pernikahan ini. Hanya saja, jika dia membahasnya, seperti esok adalah perpisahan untuk kami.
Niat Aldo memang baik. Seperti rumah ini yang beralih atas namaku, agar tidak bisa digugat siapapun setelah kami berpisah. Kendaraan dan juga tabungan. Persis sepertinya yang Pak Putra lakukan dulu. Hanya saja, Aldo melakukan ini jauh-jauh hari. Agar tidak ada yang menggugatnya kelak.
"Sayang ... jangan marah. Maksudku bukan itu."
Aku diam. Larut dalam kesedihan. Mencoba menahan sejak tadi, namun akhirnya Aldo mengetahui kalau aku sedang menangis. Dia panik.
Aldo berpindah tempat. Dia jongkok di samping tempat tidurku. Membuka paksa selimut yang menutupi wajah.
__ADS_1
"Sayang ...." lirihnya. Wajahnya begitu merasa sangat bersalah. "Aku minta maaf, ya. Janji, tidak akan bahas masalah ini lagi," ucapnya seraya mengangkat dua jari tangannya.
Aku masih menangis.
Aldo mengangkat kepalaku, meletakkannya di pangkuan. Membelai lembut kepalaku.
Dulu sebelum kami menikah, Aldo pernah bilang bahwa dia akan meminta restu orang tuanya dengan menghadirkan cucu untuk mereka. Namun, sampai saat ini kami belum pernah melakukan hubungan suami istri.
Aku ingin bertanya kenapa. Hanya saja, aku merasa itu sangat memalukan. Bagaimana kalau Aldo mengira aku wanita gatel yang memang ingin disentuh, butuh kasih sayang karena lama menjadi janda. Hina banget. Moa kuputuskan untuk diam.
"Sayang ... semua akan baik-baik saja. Kamu tenang, ya?"
Haruskah aku tenang sesuai ucapan dia? ya, mungkin aku hanya harus menikmati setiap detik hari-hari yang aku lalui dengannya. Tidak perlu memikirkan masa depan. Karena itu sepenuhnya udah diataur oleh sang maha kuasa.
"Ayo, kita tidur."
Tertidur dalam pelukan Aldo. Itulah setiap malam yang kami lewati tanpa melakukan apa-apa.
*****
"Sayang, aku ke kantor dulu. Kalau mau pergi, ajak Pak Misran. Jangan sendirian."
"Iya. Lagi pula aku mau pergi ke mana, Mas? aku perginya kalau kamu udah pulang aja. Biar ditemenin."
"Ya ampun, manjanya. Gak bosen di rumah terus?"
Aku menggelengkan kepala sambil merapikan pakaian Aldo yang sudah rapi.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti pulang kerja kita pergi keluar. Aku gak lama kok."
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
"Hmmm, rasanya gak pengen jauh-jauh dari kamu, maunya terus seperti ini saja," bisiknya dengan mempererat pelukan. Sesekali dia mengecup kepalaku.
"Mas, udah telat. Ini udah siang. Masa mau pelukan terus?"
"Biarkan saja. Aku bos di kantor itu, telat atau tidak gak akan ada yang protes." dia tidak mau melepas pelukannya.
"Yaaa gak gitu juga, Mas. Bos itu harus memberi contoh yang baik pada anak buahnya."
"Baik, baik nyonya. Aku akan segera pergi sekarang juga." Dia melepaskan pelukannya begitu saja dengan wajah cemberut. Aku tertawa geli melihatnya. Agar dia tidak marah, aku menarik tubuhnya dari belakang. Melingkarkan tangan pada perutnya yang seperti roti sobek.
"Jangan lama-lama kerjanya. Aku bisa nangis karena rindu sama Mas."
"Iya, sayang. Aku pergi dulu, ya." dia menggenggam tanganku. Lalu bergegas menuju mobilnya. Ini memang sudah sangat terlambat. Kami saling melambaikan tangan dengan kecupan jauh. Tak lupa kuselipkan doa dalam hati agar dia selalu ada dalam lindungan Allah.
Baru berapa menit aku duduk di sofa depan televisi, ponselku berbunyi. Nomor tidak di kenal.
"Assalamualaikum ...."
Suara itu tidak menjawab. Hingga aku harus menunggu beberapa saat.
"Kita harus bertemu."
"Papi?"
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺