
"Astagfirullah!" Mahir sedikit berteriak begitu lift naik. Tanpa sadar dia memegang lengan Putra dengan kencang. Sontak putra melirik karena kaget dengan suara Mahira.
Mahira tampak ketakutan karena dia merasa hendak jatuh akibat gaya gravitasi yang terjadi. Mulutnya menggembung karena dia merasa mual. Orang-orang yang turut serta dalam lift itu melirik iba dan ada juga yang tersenyum sinis atau mungkin lebih tepatnya mengejek.
Putra menarik kepala Mahira ke dalam dekapannya. "Pejamkan matamu," bisiknya.
Sikap putra merubah beberapa senyum sinis menjadi iri. Ya, adegan itu membuat beberapa orang baper dibuatnya.
Lift berhenti di beberapa lantai karena orang-orang sebagian turun hingga menyisakan mereka berdua saja. Musibah bagi Mahira karena dia harus kembali merasa mual dan pusing begitu lift kembali naik. Putra mengeratkan pelukannya.
Akhirnya mereka sampai di lantai tiga yang Putra tuju. Mereka berjalan perlahan. Sesampainya di luar, Putra melepas pelukannya perlahan. "Bukalah matamu. Pelan-pelan saja." Putra sedikit membungkuk karena Mahira tidak terlalu tinggi. Kepalanya hanya sebatas dada Putra.
"Hey! lu udah nyampe?" teriak seorang wanita gempal. Putra menengok ke arah sumber suara. Lalu kembali menatap Mahira yang masih terlihat pusing.
"Gimana? udah baikan?"
"Hmm. Saya tidak apa-apa, Pak."
"Loh? kenapa?" tanya Wiwin.
"Dia pusing karena naik lift."
"Oh, wajarlah. Gue juga pertama naik lift gitu. Perut gue mual pala puyeng."
"Bisa kita jalan lagi?" tanya Putra pada Mahira. Tangannya masih menempel di bahu Mahira.
"Iya, Pak. Maaf sudah membuat anda malu tadi. Saya baru pertama kali naik alat ini. Tadi orang-orang menatap kita seperti mengejek. Saya memang kampungan. Ahh memang saya orang kampung kan? jangankan alat itu, mobil aja saya baru kali ini naik. Mana mobilnya pelit banget cuma ada dua tempat duduk. Kalau di kampung biasanya pakai mobil yang belakangnya terbuka, bisa ramai-ramai naik kita. Anginnya angin alami."
"Katanya belum pernah naik mobil?" tanya Wiwin.
"Saya sering liat kalau tetangga pada mau piknik setiap habis lebaran idul Fitri."
"Kamu gak ikut?"
__ADS_1
"Gak, Mba. Mana ada orang yang mau ngajak saya. Orang saya—"
"Sudah. Ayo kita pergi." Putra memotong pembicaraan Mahira. Dia tidak ingin Mahira menceritakan kisah pahitnya pada Wiwin. Itu hanya akan membuat gadis itu kembali menangis. Putra berjalan dengan langkah sedikit cepat, diikuti Wiwin dan Mahira. Sepanjang jalan menuju butik, Wiwin mencuri pandang melihat Mahira. Wiwin seperti melihat wanita di era 80an.
"Selamat pagi, Pak. Sudah lama anda tidak berkunjung. Sukurlah hari ini datang. Kami punya koleksi terbaru. Silakan." Seorang pelayan wanita dan pria menyambut Putra. Mempersilakannya masuk dan duduk di sebuah sofa besar yang berada di tengah-tengah butik tersebut.
"Tolong berikan dia beberapa pakaian." Putra menunjuk Mahira. "Carikan baju yang pas."
Pelayan itu melirik Mahira. "Baik, Pak. Kami akan berikan yang terbaik. Mari ikut saya, Kak." pelayan itu mengajak Mahira. Mahira tampak ragu hingga akhirnya dia mengikuti pelayan itu setelah mendapat isyarat anggukan dari Putra. Merekapun pergi.
"Itu cewek yang mau nikah sama Lo?"
"Hemm."
"Cantik ya. Lugu juga sepertinya. Pantesan emak maksa banget lu nikah sama dia."
"Kenapa?"
"Ya kalau lu nikah sama cewek yang udah tau segalanya, bisa aja lu cuma di porotin doang. Dia mana tau tentang duit. Dan yang pasti, sepertinya dia baik. Wajahnya polos banget."
"Eh, itu proyek yang di Majalengka udah sampai mana?"
Putra terdiam. "Mahira juga orang sana. Cuma gak tau daerah mana."
"Bisa pas gitu. Gak coba tanya?"
"Belum. Nanti deh kal–" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Mahira mendekat dengan mimik wajah yang kaget dan takut bersamaan. "Kenapa?" tanya Putra yang jadi cemas melihat wajah Mahira.
"Kita jangan belanja baju di sini, Pak. Masa kemeja putih dengan bahan yang menerawang mahal banget. Kalau di pasar mungkin bisa lebih murah. Uangnya bisa dipakai untuk yang lain."
Putra dan Wiwin saling menatap. Wiwin mengapit kedua bibirnya dengan gigi. Jelas, dia menahan tawa.
"Tidak apa-apa. Beli saja pakaian yang kamu pakai."
__ADS_1
"Sayang uangnya, Pak. Yuk, kita pergi saja. Uang segitu banyak masa cuma buat beli baju. Kalau kita rajin nabung malah bisa buat beli sawah atau kebun. Baju itu barang nyamuk, suatu saat akan menjadi lap dapur."
"Lap dapur?" tanya Wiwin.
"Iya, saya pakai lap dapur itu bekas baju yang sudah tidak terpakai. Kalau harga bajunya saja udah mahal begini, mana tega saya jadikan bajunya sebagai lap dapur. Mungkin akan saya pakai meski di tambal berkali-kali. Bagi sebagian orang, harga baju ini bisa dipakai buat makan berbulan-bulan." Mahira kembali terlihat bersedih. Ya, baginya uang yang dipakai untuk beli baju ini bisa dia pakai untuk makan tiga bulan lamanya. Mengingat bagaimana dia hidup begitu susah. Bukan tidak ada yang membantu, hanya saja Bapak Mahira tidak pernah mau menerima bantuan orang. Gengsi, katanya. Merasa dihina saat ada orang yang mau memberinya bantuan.
"Kamu lulusan sekolah apa?" tanya Putra.
Mahira mendongak. "Kalau tidak salah, saya berhenti pas kelas empat SD."
"Tau harga baju itu berapa?"
"Saya tidak tau baju itu berapa, kata mba nya baju itu sangat mahal. Gak cocok dipakai saya. Baju itu bisa untuk saya makan selama berbulan-bulan katanya."
Mendengar penjelasan Mahira, Putra naik pitam. Dia begitu marah dan segera berdiri menghampiri pelayan yang membantu Mahira memilih pakaian.
"Berapa harga baju ini?" tanya Putra dengan gigi yang saling menekan.
"Ma-maaf, Pak." pelayan itu begitu ketakutan melihat raut wajah Putra. Melihat hal itu, manager yang kebetulan ada di sana segera menghampiri. Dia meminta maaf atas sikap bawahannya. Dia juga menjelaskan bahwa pelayan itu baru masuk beberapa hari ini.
"Berapa harga baju ini?" Kali ini Putra meninggikan suaranya.
"Se-sembilan juta, Pak."
"Bahkan, harga ini seperti uang koin seribu untuk saya. Jika kamu melihat dia lusuh dan kampungan, paling tidak itu hanya pakaiannya bukan etikanya."
Wiwin hanya bisa diam tidak mengira bahwa sahabatnya itu begitu banyak bicara pada orang lain.
"Mulai saat ini, saya tidak akan pernah menginjakan kaki lagi kesini."
Putra menarik tangan Mahira dan berlalu pergi dari toko itu. Wiwin mengikuti. Mereka memasuki lift. Wajah Putra masih terlihat sangat kesal. Sebagai sahabatnya sejak lama, Wiwin bahkan tidak berani menyapanya.
Saat lift hendak turun, Putra menarik kepala Mahira kembali dalam dekapannya. Dia masih ingat bahwa gadis ini akan ketakutan. Untuk kesekian kalinya Wiwin dibuat terperangah.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺