
Mahira membaringkan tubuhnya dan kembali membelakangi Putra.
"Ra ...."
"Kali ini saya benar-benar tidak ingin diganggu. Tolong mengerti."
Putra merasa bersalah atas apa yang dia katakan barusan. Lambat laun Mahira pasti akan merasakan ini semua. Sikap baiknya telah membuat Mahira jatuh cinta. Putra sadar itu. Hatinya tidak bisa berbohong, meski selama ini dia bersikap baik dan mungkin terkesan manis untuk sebagian wanita, tapi yang putra berikan bukanlah cinta. Cinta yang dia miliki sudah dimiliki wanita lain. Wanita yang kini telah menjadi istri seseorang.
Putra memejamkan matanya erat. Kepalanya terasa pusing. Dia bingung harus bersikap seperti apa. Menurutnya, dengan memenuhi hak dan tanggung jawab dia sebagai suami sudah lebih dari cukup. Dia membahagiakan Mahira lahir dan batin. Memberikan apa yang tidak semua suami bisa lakukan. Perhatian dan materi.
Bagi putra, memberikan nafkah batin sudah cukup dengan mereka melakukannya hubungan suami istri pada umumnya. Dia bukan tokoh film yang menikah karenanya terpadu dan tidak menyentuh istrinya sama sekali.
Dia ingat apa yang Emak katakan bahwa mencintaimu wanita lain selain istri bukanlah sebuah dosa. Dosa itu ketika Putra menceraikan istrinya demi wanita yang dia cintai.
Toh, wanita yang telah mengambil hati Putra pun sudah menjadi istri orang lain. Hanya saja, hati dia tidak bisa berpaling sampai detik ini. Apa yang salah? batinnya.
Putra tidak bisa berbuat apa-apa selain diam menatap punggung kecil istrinya. Ingin dia minta maaf dan mengusap Mahira. Bukan waktu yang tepat, Putra berpikir lebih baik Mahira dibiarkan dulu seperti ini sampai hatinya benar-benar tenang.
*****
"Pagi, Pak. Baru selesai salat subuh ya?" tanya Mahira saat melihat suaminya yang masih memaki sarung. "Saya sudah siapkan teh hangat dengan sedikit gula. Diminum, ya?"
"Ra, kamu tidak marah?"
"Kenapa harus marah? karena Bapak mencintai wanita lain dan bukan saya? hahaha. Tidak apa-apa, itu hak Bapak. Lagi pula saya jadi istri Bapak juga karena emak, bukan karena Bapak yang menginginkan saya. Rasanya dada saya lebih sesak dari saat saya melihat Bapak tersenyum dan mengacak-acak rambut saya. Wajah saya terasa panas dan marah. Sedih tapi tidak bisa menangis. Entahlah ... rasanya sangat aneh."
'Mahira sudah kembali cerewet, itu artinya dia baik-baik saja' pikir Putra. Wanita itu masih sibuk di dapur. Dan Putra memperhatikannya sambil minum teh yang disiapkan istrinya itu.
"Hari ini saya pergi ke kantor."
"Iya, saya tau. Makanya saya segera bangun pagi meski semalam saya hanya tidur satu jam. Mata saya tidak bisa merem sama sekali. Rasanya melelahkan."
Air yang Putra telan terasa begitu berat. Lengket seperti lem. Hatinya merasa sedih telah membuat Mahira begitu tersakiti karena kejujurannya.
__ADS_1
"Maaf."
"Kenapa minta maaf? mata saya yang tidak mau diajak merem kenapa Bapak yang minta maaf. Jangan terlalu dipikirkan, Pak. Saya cukup sadar diri dan tidak akan meminta lebih dari Bapak. Segini juga udah Alhamdulillah banget. Membayangkan hidup dengan lelaki tua dan banyak anak, membuat saya sadar bahwa hidup bersama Bapak jauh lebih baik. Hihi."
Putra merasa semakin bersalah. Mahira yang benar-benar merasa Putra adalah tempat terbaik untuknya, ternyata malah membuat dia merasa tersakiti secara tidak dia sadari.
"Kamu tidak apa-apa sendirian?"
"Udah biasa, Pak. Di kampung malah lebih menyedihkan karena selalu sendiri di tempat yang jelek. Di rumah ini meski sendiri tapi semuanya komplit. Kerja aja dengan tenang tanpa memikirkan saya. Tidak usah memikirkan saya terlalu dalam, kita ini hanya manusia yang terpaksa bersama."
Jantung Putra terasa tidak berfungsi. Mahira berhasil menusuknya begitu dalam hanya dengan satu kalimat terakhirnya.
"Saya siap-siap dulu." Putra bangun dari kursi menuju kamarnya.
"Bajunya sudah siap, kalau tidak suka bisa Bapak ganti sesuai yang Bapak inginkan. Maklum, saya tidak pandai dalam memilih pakaian."
"Terima kasih."
*****
Putra membatalkan semua pertemuan yang sudah tertunda sejak lama. Hari ini dia tidak ingin membahas pekerjaan dengan klien penting. Pikiran dan hatinya sedang tidak baik-baik saja, itu tidak bagus.
Dia hanya termenung di balik meja. Memikirkan semuanya. Memikirkan segala yang terjadi dalam hidupnya setelah Mahira hadir.
Tidak dipungkiri, wanita itu membuat dia nyaman dan bahagia. Dia selalu terhibur dengan kepolosan dan keluguan istrinya. Suaranya yang berisik membuat dia merasa rindu seperti saat ini. Rasanya begitu sepintas tidak ada dia di dekatnya.
Namun, di sisi lain hatinya. Wanita yang bernama Ririn tidak pernah bisa pergi. Cintanya tidak berubah. Kerinduannya pada sosok wanita berjilbab itu jauh lebih besar. Pesona dan kebaikan Mahira tidak mampu menghapus bayangan Ririn.
"Aarghh!!!"
Putra meremas kepalanya begitu keras. Ingin dia memecahkannya agar beban yang bersarang ikut hilang.
Dia mengabaikan ketukan pintu yang sedari tadi berbunyi.
__ADS_1
"Putra! ini gue. Gue masuk ya."
Putra tidak menjawab meski dia tau orang yang sedari tadi mengetuk pintu adalah Wiwin.
Lama Wiwin menunggu, akhirnya dia memerintahkan masuk karena khawatir akan sahabatnya itu. Sekertaris Putra menelpon Wiwin dan memberitahu keadaan Putra yang sedari pagi tidak keluar dan tidak mau diganggu. Hingga waktu menunjukkan pukul 14. 45, kini.
"Astagfirullah! lu stres? mau gue bawa ke rumah sakit jiwa gak? atau panggil ustadz buat ruqyah sekalian."
Wiwin kaget begitu masuk, dia melihat semua barang acak-acakan. Kertas berhamburan di mana-mana. Tampilan Putra kusut. Jas yang entah ada dimana, dasi yang sudah tidak terbentuk dengan rapi, dan kemeja yang sudah tidak berkancing.
"Lu kenapa? bangkrut?"
Putra berdiri dengan mata tajam menyalak. Wiwin sedikit merinding melihat sahabatnya. Takut-takut dia akan mengamuk dan Wiwin kena sasarannya.
"Pak, ada yang ingin bertemu." Sekertaris Putra memberitahu
"Keluar! saya tidak ingin bertemu siapapun. Kamu dengar?" suara Putra melengking.
"Termasuk tidak ingin bertemu denganku?" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh sekertaris Putra.
Putra mundur beberapa langkah. Tubuhnya seperti lemas tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Wiwin yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menatap wanita itu dan Putra bergantian.
Wanita itu berjalan. Bajunya yang menjuntai, menyapu lantai dan kertas-kertas yang berserakan. Dia menghampiri Putra.
"Ck! ck! ck! kamu itu kenapa? perusahaan kamu baik-baik saja, tapi sikapmu seperti yang baru saja kehilangan segalanya. Hahaha. Apa kabar, Mas? lama kita tidak bertemu."
Putra masih diam mematung. Dia kesulitan bergerak begitu wanita cantik itu begitu dekat dengannya. Jangankan bergerak, sekedar menarik nafas saja Putra sudah merasa kesulitan.
"Ririn?" Lirihnya.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1