
...Tak sanggup ku memikirkannya lagi...
...habis saparuh nyawaku tangisimu...
🌺🌺🌺🌺🌺
Aku mungkin wanita yang paling egois di dunia ini. Selalu memikirkan perasaan diri sendiri. Ya, aku memang mencintai suamiku, meski aku tau dia tidak mencintaiku. Harusnya itu wajar, dan tidak menjadi wajar saat hatinya telah menjadi milik orang lain.
Orang bilang, tulus mencintai itu ketika kita merelakannya dia bahagia bersama yang dicintainya. Meski rasanya aku tidak sanggup, akan aku coba. Aku lebih tidak ingin lagi jika suamiku menderita karena perasaannya. Dia begitu baik padaku meski hidup dalam tekanan batin yang luar biasa.
Tidak mudah, tapi aku pasti bisa. Aku akan meninggal dirinya demi kebahagiaannya juga.
Pergi dari rumah dan tinggal di sebuah pondok pesantren, tidak terkenal memang tapi di sini aku bisa menenangkan diri. Introspeksi diri dan berpikir dengan jernih. Keputusan yang aku ambil memang ceroboh, itulah yang orang katakan, termasuk guruku.
"Seharusnya kamu pertahankan pernikahanmu. Sudah baik dan benar apa yang suami kamu lakukan dengan tidak merusak ikatan yang telah Allah ridhoi." Begitulah ucapan beliau saat itu. Aku nakal, dan tidak mendengar apa yang beliau katakan. Aku tetap pada pendirianku untuk melepaskan statusku sebagai Nyonya di rumah besar itu.
Masih terasa dengan jelas bau tubuhnya saat terakhir kali dia memelukku. Namun, rasa itu sirna saat kata talak terngiang di telinga. Aku segera beristighfar. Kini, dia bukan lagi suamiku. Dia telah menjadi milik wanita lain sepenuhnya.
Di dalam kamar yang besar ini, aku hanya bisa diam setelah aku berkeluh kesah pada ilahi. Waktuku yang selalu ku habiskan dengan menyebut nama-Nya, sisanya ku pakai untuk mengenang bagaimana kami berdua di kamar ini, dulu. Indah.
Semua tentangnya memang sangat indah meski aku sadar, mungkin baginya tidak seindah yang aku rasa.
Bisa saja selama ini dia sangat menderita, hidup bersamaku sementara hatinya ingin pergi ke tempat lain.
"Kamu memang suami yang sangat luar biasa, Pak. Semoga Allah meridhoi itu semua."
Aku tidak tau ini salah atau tidak, tapi dalam doaku selalu ada namanya. Dia selalu ku sebut dalam tarikan nafasku di atas sajadah. Aku ingin dia bahagia. Itu saja.
Dia yang bukan lagi suamiku tapi masih bertanggung jawab sepenuhnya atas hidupku. Memberikan uang untuk biaya hidup dan perawatan rumah serta kendaraan yang dia berikan.
"Ini semua sudah disetujui Ririn sebelum kami menikah."
Begitulah yang dia katakan. Untuk itulah aku menerima semuanya. Semua ini akan aku tolak jika istrinya tidak meridhoi. Aku tidak ingin jadi penyebab pertengkaran dalam rumah tangganya. Rasanya sungguh sakit. Cukup aku yang pernah mengalaminya.
__ADS_1
Hari-hari aku lalui dengan datar. Tidak ada kegiatan yang bisa aku lakukan selain berdiam diri di kamar. Menyibukkan diri dengan selalu bermunajat pada-Nya. Memohon kekuatan hati dan diberikan keihklasan untuk menerimanya kenyataan.
Hari ini adalah dua hari menjelang Ramadhan. Aku beserta seluruh asisten rumah tangga beserta pegawai yang lainnya pergi ke Supermarket. Kami akan membeli beberapa persiapan untuk Ramadhan nanti.
Rombongan. Aku, tiga asisten rumah, dua supir dan satu satpamnya yang aku bawa. Karena satunya harus berkata di rumah. Hidupku masih seperti ratu, hanya saja kali ini tanpa seorang raja. Dulu, aku adalah serpihan abu yang tidak ingin orang sentuh, sekarang? belanja pun didampingi banyak orang. Lucu memang.
"Itu kaya den al, ya."
Bi Tuti berucap. Aku menoleh ke arah dimana Bi Tuti menatap. Terlihat sosok yang aku kenal. Bertemu dengannya selalu dalam kondisi yang tidak baik, dan selalu berakhir tidak baik pula. Aldo.
Sepertinya dia menyadari, rombongan emak-emak yang menyukai sosok tampang itu tengah menatapnya. Dia tersenyum, bukan padaku tapi pada para Bibi centil ini. Matanya melirik padaku sekilas, lalu kembali menatapku lekat seperti sedang mengira-ngira. Ya, dengan penampilan yang baru ini, dia memang tidak akan mengenaliku.
Aku tersenyum lalu kembali memilih beberapa barang di etalase. Tidak lama kemudi dia sudah ada di sampingku. Wangi parfumnya masih kuat di hidungku. Aku tersenyum tanpa menoleh.
"Ck ck ck. Wanita ini sungguh selalu memesona diriku. Sayang, sudah jadi istri orang. Hupf!"
Aku masih tersenyum tanpa menoleh. Mengambil beberapa bumbu instan, lalu memasukkannya pada troli yang di dorong pak satpam.
"Hmm?" Aldo seperti kaget, atau karena tidak begitu mendengar apa yang Bi Darinah ucapkan.
"Huss! jangan berisik. Biarkan saja nyo– eh, maksudnya Neng Mahira yang memberitahu. Jangan ikut campur." Bi Tuti berusaha menjelaskan.
"Wah! ada apa ini? apa kalian memiliki rahasia yang tidak boleh aku tahu? wah, wah, jahat sekali kalian ini. Ck!"
"Kalian pergilah, beli apa saja yang kalian inginkan." Aku meminta mereka pergilah berbelanja. Mungkin tak apa, aku ngobrol dengan Aldo. Ini tempat umum, semoga tidak ada fitnah. Lagi pula masa idahku sudah lewat.
Kami memutuskan untuk minum kopi. Tidak banyak bicara. Hanya diam dengan pikiran masing-masing. Aldo juga mungkin canggung, dengan penampilanku yang sekarang, dia tidak bisa leluasa berbicara ataupun bersikap. Tidak seperti sebelumnya. Dia berani menyentuhku. Dan bodohnya aku membiarkan hal itu terjadi. Aku berdosa ya Allah.
"Lebih anggun, sih." Dia mencoba mengawali pembicaraan.
"Terima kasih. Aku hanya sedang mencoba menjadi lebih baik. Doakan aku agar bisa Istiqomah."
"Apa itu Istiqomah?"
__ADS_1
Aku tersenyum. "Teguh pendirian. Semoga aku tidak membuka hijabku lagi."
"Oh, iya. Aamiin. Semoga kamu menjadi wanita muslimah sejati. Bukan hanya tubuh yang kamu tutupi, tapi semuanya."
"Aaminn."
"Apa kabar Mas Putra? kenapa tidak mengantar kamu belanja?"
"Dia sudah bukan suamiku lagi, Al. Kami sudah berpisah beberapa bulan lalu."
"Wah, kesempatan dong ya." Dia berbisik.
"Maaf?" Aku berusaha untuk berpura-pura tidak mendengar.
"Aaah. Bukan apa-apa. Minum kopinya, takut keburu dingin." Dia gugup. Meminum kopi dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu apa kabar? kapan aku terima undangan pernikahan, nih?" aku berusaha menghangatkan suasana.
"Ah, apaan, sih? belum ada wanita yang pas."
"Kenapa?"
"Belum nemu aja. Mungkin memang belum waktunya."
"Kalau kamu ingin mendapatkan wanita yang baik dan salihah, salihkan dulu dirimu sendiri. Maka, kamu akan segera bertemu dengan wanita yang kamu anggap 'pas' itu."
Aldo termangu. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkinkah dia tersinggung atas apa yang baru saja aku katakan, atau dia membenarkannya? entahlah.
"Aku harus pergi, Al. Tolong bayar, ya kopinya. He he he."
Aku bangkit dan pergi meninggalkan Aldo setelah dia menjawab salam ku. Langkah ini semakin cepat, takut para Bibi menunggu terlalu lama.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1