
Mahira sedang membereskan pakaian yang akan dia bawa kembali ke Jakarta. Sementara putranya sedang membawa mobil yang akan di pakai nanti.
Pagi itu suasana di depan rumah emak masih ramai oleh para pembeli di warung. Semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Abel yang sibuk dengan kedua anaknya terdengar sesekali berteriak. Putra hanya tertawa mendengar keributan adiknya itu.
"Waduhh ... ada mantu nih! Gak nyalim, Tong?"
Putra menengok sumber suara itu. Dia kemudian berdiri dan mengahadap Bapak mertuanya. Laki-laki tinggi dengan perut seperti orang hamil sembilan bulan itu nyelonong dengan tangan meraih jajanan yang ada di warung emak.
Mulutnya penuh makanan dengan seulas senyum menjijikan.
"Tong, bagi duit! jangan pelit-pelit sama mertua. Durhaka."
"Berapa?"
"Puluh juta aja dah, kagak banyak-banyak."
"Untuk apa uang sebanyak itu?"
"Yaaa maklumlah. Bapak ini kan jombol. Butuh belaian. Udah lama juga gak pipis." Dia tertawa terbahak-bahak. Makanan yang sedang dia kunyah sampai ada yang muncrat. Hampir mengenai wajah Putra.
"Pak. Lebih baik Bapak pulang saja. Tidak enak di lihat orang," ucap Mahira yang muncul dari belakang Putra. Dia mendekat hendak menyalim lengan bapaknya. Namun, di tampik. Tangan bapaknya mengenai mulut Mahira. Gadis itu meringis.
Putra segera melangkah maju melihat kejadian itu. Di rangkulnya Mahira.
"Saya akan berikan uang itu, bapak pulang saja dulu."
"Jangan, Pak. Uang itu akan bapak gunakan untuk mabuk, berjudi dan juga main perempuan. Kita akan terbawa dosa."
"Heeey!" Bapak mertua Putra berteriak pada anaknya, Mahira. "Anak kurang ajar! mentang-mentang udah jadi istri bos, kamu lupa sama orang yang sudah membesarkan kamu? dasar anak durhaka!" Laki-laki itu marah dan menaikan tangannya hendak menampar Mahira. Namun, Putra mengangkisnya dengan kuat hingga mertuanya terpental dan jatuh ke tanah.
"Hati-hati dan jaga sikap! dulu dia anakmu, tapi sekarang dia istri saya. Hadapi saya jika berani macam-macam pada sesuatu yang sudah menjadi milik saya!"
"Menantu kurang ajar. Lebih baik aku nikahkan dia dengan juragan hendar. Percuma menikah dengan pengusaha tapi pelit."
"Silakan pergi sebelum saya panggil polisi kesini."
"Setan! durhaka kalian berdua! awas kalian semua. Akan saya buat perhitungan untuk penghinaan ini. Ingat itu!" racaunya sambil berlalu.
Nafas Putra memburu. Dia begitu kesal dengan tindakan mertuanya yang memalukan.
"Ra, kamu tidak apa-apa?" tanya Putra sambil melihat bibir istrinya yang terkena tangan tua bangka itu.
"Saya tidak apa-apa, Pak."
"Ayo kita masuk ke dalam."
Putra dan Mahira masuk. Di dalam rumah, Abel dan anak-anaknya tampak ketakutan.
__ADS_1
"Sudah, tidak apa-apa. Dia sudah pergi. Kalian jangan takut lagi."
Abel mengangguk dan membawa anaknya ke halaman belakang rumah. Putra membawa istrinya masuk ke kamar. Mahira duduk di atas ranjang dan Putra bersimpuh di depan Mahira.
"Kita segera pulang ke Jakarta. Jangan cemas," ucapnya sambil menyeka air mata yang jatuh di pipi Mahira.
"Pak ...."
"Ya."
"Saya minta maaf untuk semua ini. Saya sudah membuat Bapak dan keluarga malu juga terancam. Saya benar-benar minta maaf karena hadirnya saya di keluarga ini malah membawa petaka. Mumpung belum jauh, lebih baik kita akhiri semua sampai di sini. Masih ada waktu untuk Bapak mencari wanita lain dan menikahinya sebelum Bapak bertambah tua." Dengan serius dan linangan air mata Mahira berkata. Namun, Putra yang mendengarnya merasa tergelitik dan ingin tertawa lepas.
"Bapak kenapa? apa yang saya ucapkan barusan terdengar lucu? saya serius. Saya benar-benar minta maaf. Hu hu hu. Saya tidak tau harus bilang apa? hu hu hu. Saya tidak pandai bicara, saya hanya ingin minta maaf atas sikap orang tua saya, Pak. Hu hu hu." wanita menangis seperti Azka yang minta di belikan mainan.
"Tidak apa-apa. Tenanglah, tidak apa-apa." Bisik Putra sambil memeluk lembut istrinya. Tangannya menepuk-nepuk Mahira seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya.
Azan Zuhur berkumandang. Mahira dan Putra salat berjamaah. Setelah itu mereka berpamitan pada keluarga. Seperti biasa, Putra akan membuat kedua ponakannya menangis sebelum mereka berpisah. Dan Abel akan menjitak kakaknya itu.
"Hati-hati di jalan, ya. Jangan nangis terus. Nanti gak cantik lagi."
"Iya, Mak. Saya pamit. Saya minta maaf untuk semuanya. Maaf juga tas sikap kedua orang tua saya." Mahira kembali menangis. Kali ini dia menangis di dalam pelukan ibu mertuanya.
"Sssstt. Jangan terlalu di pikirkan. Semuanya akan baik-baik saja. Cup cup cup."
Putra melihat pemandu itu merasa terenyuh. Sebegitu sayangnya emak pada Mahira. Bahkan Emak rela menggelontorkan uang yang tidak sedikit demi mendapatkan Mahira.
Haruskah aku merasa beruntung karena mendapat Mahira? tanya Putra dalam hati.
"Jaga mahira baik-baik. Jangan sakiti dia ya, Nak. Jadilah suami seperti ayahmu. Sayang pada keluarga terutama emak, istrinya."
"Iya, Mak."
Setelah berpamitan. Putra dan Mahira pergi.
Sepanjangan perjalanan. Mahira hanya diam. Tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Dia masih memikirkan tentang dirinya dan orang tuanya. Merasa jadi anak yang tidak di inginkan membuat dia merasa hancur.
Putra meliriknya sesekali. Dia sengaja tidak bertanya apapun. Membiarkan istrinya berpikir sendiri dulu, selain itu Putra juga harus berkonsentrasi pada kemudinya.
Hampir Magrib saat mereka tiba. Di jalan cukup macet hingga mereka sedikit terlambat. Barang-barang di bawa oleh satpam. Mahira berjalan dengan dirangkul Putra.
"Hey! kamar kamu di atas sekarang."
"Ya?" Mahira tidak fokus.
"Kita sudah menikah, kamar kamu di atas sekarang. Lupa?"
"Ah, itu. Iya, kita sudah menikah sekarang. Maaf, saya tidak konsentrasi. Pikiran saya gak karuan rasanya."
__ADS_1
"Ayo, kita naik. Mandi biar segeran."
"Hmm."
Mahira menaiki anak tangga dengan lemas. Bukan dia kehilangan tenaga. Akan tetapi pikiran dia sedang tidak pada tempatnya. Putra hanya bisa menarik nafas dalam melihat kondisi Mahira.
Kondisi Mahira berubah seketika begitu mereka sampai di kamar. Matanya membelalak seketika, takjub melihat kamar yang besarnya mengalahkan rumah dia di kampung.
Ranjang berukuran besar dengan ukiran yang indah. Menjuntai kain cantik dari atas yang menutup sisi kanan dan kirinya. Tirai itu bisa di ikat ke pinggir saat ranjang itu tidak di pakai. Selimut tebal dengan tekstur yang sangat lembut bak kapas.
Tepat di tengah kamar ada sofa dan meja yang elegan berwarna brown. Lantai bagian bawahnya beralaskan karpet bulu yang tebal. Dari atas langit-langit yang tinggi terpajang lampu hias kristal yang menjurai ke bawah. Cantik.
Sofa itu menghadap tembok yang terpasang televisi besar di sana. Di sebelah kanan ada meja rias besar dengan kaca yang lebar nan tinggi lengkap dengan lampu-lampu di pinggirnya. Berbagai macam alat make-up lengkap ada di meja itu.
"Pak, ini buat Bapak?" tanya Mahira sambil mengangkat pensil alis dan maskara.
"Bukan, itu punyamu. Mulai hari ini kamu belajar dandan ya. Semua perlengkapan wanita di kamar ini adalah milikmu. Nikmatilah."
Wajah Mahira sumringah. Dia begitu senang melihat beberapa make up, lipstik dan parfum yang tidak hanya satu macam.
"Mau lihat ruangan sebelah sini?"
Mahira menengok ke arah belakang, dimana Putra berdiri di sana. Dia mengangguk cepat. Kemudian berjalan mengikuti suaminya.
Mata Mahira kembali membulat sempurna. Ruangan itu penuh dengan kemari kaca yang transparan. Penuh dengan baju, tas , sepatu dan alat fashion lainnya. Sebelah kanan tampak baju-baju pria. Sementara sebelah kiri bergelantungan baju wanita, pun dengan sepatu, sandal dan juga tas.
Di bagian tengah ada meja yang penuh dengan laci. Bagian atas yang transparan memperlihatkan beberapa aksesoris wanita. Gelang, kalung, anting, cincin dan juga Bros.
"Pak, saya tidak memakai kerudung. Untuk apa Bros ini?"
"Itu bisa di pakai untuk gaun polos."
"Oh ...." Mahira asik melihat-lihat semu benda cantik yang ada di ruangan itu. Benda-benda miliknya yang tak pernah terbayangkan sama sekali.
"Khusu kotak itu, isinya perhiasan asli. Emas dan berlian," ucap Putra saat langkah Mahira berhenti di depan lemari kecil yang memaki kaca cermin, tertutup. "Bukalah."
Begitu pintu lemari kecil itu terbuka. Mahira hampir tidak bisa bernafas. Berbagai bentuk perhiasan ada di sana. Indah dan berkilau. "Itu tidak terkunci, nanti akan saya kunci memakai sandi tanggal pernikahan kita."
Mahira masih terpaku, dia sama sekali tidak mendengar apa yang Putra ucapkan.
"Ra."
"Ya."
"Jahitan kamu masih sakit?"
"Tidak sih. Kenapa? Bapak mau–"
__ADS_1
"Bukan. Saya hanya bertanya." Putra gugup. Dia segera berlalu dari ruangan itu untuk menutupi rasa malunya. Sementara Mahira. Mahira masih asik dengan perhiasan-perhiasan itu, tanpa sedikitpun tau bagaimana perasaan Putra barusan.
🌺🌺🌺🌺🌺