Membeli Istri

Membeli Istri
part#54


__ADS_3

"Alhamdulillah ...."


Kami semua yang hadir menyaksikan pernikahanku dengan Aldo berucap syukur. Kami menikah di kampung ku, Cirebon.


Emak yang saat itu juga hadir, tak hentinya menangis. Aku tahu, hati emak kecewa meski bukan berarti dia membenci pernikahan ini.


"Meski sedih, emak akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu, Ra. Emak tidak pernah berhenti mendoakan kamu setelah emak salat. Bagi emak, kamu itu anak emak."


Begitulah ucapnya saat aku sungkem padanya. Emak memelukku erat seperti tidak ingin melepaskan. Aku pun sama. Setelah sekian lama tidak berjumpa dan putus komunikasi, kami bertemu di acara ini. Karena kebetulan Emak tetanggaan dengan Bapak. Keluarga Emak menghadiri, termasuk Pak Putra.


"Do, jika kamu sudah tidak mencintai dia, kembalikan dia padaku dan keluargaku."


"Aku ragu akan hal itu, karena sepertinya aku tidak bisa berhenti mencintai dia, Mas."


"Pak. Terima kasih untuk segalanya, untuk kebaikan Bapak dan keluarga selama ini," ucapku.


"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan datang pada saya. Rasa sayang saya untuk kamu tidak akan berubah. Kita masih bisa jadi saudara. Ok?"


Ah, dia memang selalu begitu. Kedewasaannya membuat aku merasa memiliki Kakak laki-laki. Bodohnya aku karena jatuh cinta pada rasa sayang yang diberikan seorang Kakak.


Aku dan Aldo menikah secara sirih. Aku memutuskan untuk memilih hatiku yang takut akan kehilangan Aldo. Bukan hanya itu, pernikahan ini telah mendapatkan restu dari Bu Ranti dan Vera, begitu juga Kak Yanwar. Meski Kak Yanwar dan istrinya–Kak Niar, harus bertengkar hebat.


Kak Niar ingin Aldo menikah dengan sepupunya. Itulah kenapa dia sampai tega memasukan obat tidur itu pada minumanku dengan tujuan supaya aku membenci Aldo.


Setelah acara pernikahan sederhana itu selesai, aku dan Aldo memutuskan untuk menginap terlebih dahulu di sebuah hotel yang ada di kota Cirebon.


"Mau jalan-jalan gak? kita sewa becak yuk buat keliling kota Cirebon." Ajak Aldo setelah kami salat Ashar. Kebetulan cuacanya tidak panas dan tidak juga hujan.


Aku dan Aldo naik becak, keliling kota Cirebon. Berawal dari depan hotel yang berada di jalan Baypass. Menyusuri jalan utama. Aku melihat sebuah tulisan 'gua Sunyaragi'. Aku tidak tau itu tempat apa.


Setelah berbelok di lampu merah kedua, kami terus berjalan menyusuri jalan Cipto. Ada dua mall besar di sana yang saling berdampingan.


"Pak, bawa kami ke Grage Mal, ya."


"Mas nya mau jalan-jalan di sana tah?"


"Iya, katanya ada nasi Jamblang terkenal di sana."


"Ooh, iya. Nasi Jamblang mang Dul. Kelewat kok, Mas. Nanti kita berhenti di depannya persis."


"Oh, begitu. Baiklah. Antar ke sana ya, Pak."


"Iya, Mas."


Sementara Aldo dan tukang becak berdiskusi, aku masih asik menatap sekeliling. Ya, aku memang dibesarkan di Cirebon, tapi belum sekalipun menginjakkan kaki di tengah kota ini.


Mang becak berhenti di tempat yang Aldo tuju, sebuah tempat makan yang sangat ramai meski tempatnya jauh dari kata mewah. Sederhana tapi banyak sekali pelanggan yang beli. Kebanyakan dari mereka bahkan mengendarai mobil.

__ADS_1


"Mang, ayo. Kita makan sekalian." Aldo mengajak mang becak. Bapak dengan umur yang mungkin seperti Bapakku itu tampak ragu-ragu. Dia menolak dengan halus karena merasa tidak enak.


Aldo memaksa. Dia menyeret mang becak itu. Hatiku terenyuh. Dia Aldo, suamiku yang baik hati.


Selesai makan, kami kembali lagi ke hotel. Tidak ingin berada di jalan saat azan magrib berkumandang.


Sesampainya di hotel, aku segera mengambil air wudhu dan menunggu azan sambil sedikitpun berzikir dengan tasbih.


Aldo hanya menatapku. Dan aku grogi dibuatnya. Tidak ada suara. Hening. Entah kenapa, aku merasa sangat gugup. Ruangan ber-AC tapi aku merasa gerah. Degup jantungku semakin tidak beraturan saat Aldo menghampiri dan duduk tepat di depanku. Masih dengan tatapannya yang tanpa berkedip.


Dia tersenyum dan ....


Allahuakbar ... Allahuakbar ...


"Azan," ucapku bergetar. Aldo segera bangkit dan menggelar sajadahnya sendiri di depanku.


Kami melaksanakan salat dengan khusyuk. Alhamdulillah.


Aldo mengulurkan tangan, agak sedikit ragu, malu dan entahlah ... tapi aku tidak ingin dia marah. Bukan hanya itu, aku gugup sebenarnya. Aku terima dan kucium punggung tangannya.


Aku mendongakkan kepala, dia tersenyum lalu tanpa aba-aba mengecup keningku.


Aku terkejut tapi tidak bisa bereaksi apa-apa selain membeku. Jantung yang berdegup kencang tiba-tiba seperti berhenti berfungsi. Lama dia mengecupku. Perlahan aku menutup mata dan mulai menikmati kecupan pertamanya.


"Aku akan berusaha menjadi suami yang baik. Tegur jika aku salah dan menyakitimu dengan tidak sengaja," ucapnya sesaat setelah mengurai kecupannya.


"Iya, Mas."


Waktu berjalan denganku menghabiskannya berdzikir, aku meminta ketenangan agar rasa gugup ini tidak berkepanjangan. Rasanya, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, aku merasa malu dan juga ...


Rasa gugup itu semakin bertambah setelah salat Isa selesai.


Aldo tengah berbaring dengan menyandarkan tubuh ke sandaran tempat tidur. Masih fokus pada ponselnya.


Setelah melipat mukena dan memakai baju tidur yang ... menurutku ini lebih mirip seperti saringan penanak nasi, atau tirai magnet. Kenapa, ada orang yang membuat pakaian seperti ini. Sungguh membuatku malu pada diri sendiri.


Hebat! pakaian ini sudah Aldo persiapkan. Sejak kapan? Entahlah. Dipakai kok malu sendiri, gak dipakai juga ini permintaan suami. Mau gimana lagi?


Dengan sedikit kesal. Aku segera menutup tubuh dengan selimut tebal. Membelakangi Aldo. Bukan marah. Sekali lagi, itu karena aku terlalu gugup.


Aku merasakannya Aldo bergerak. Dia menarik selimut lalu kurasakan tubuhnya mendekat. Jangan tanya bagaimana perasaanku.


"Sayang ... Kenapa?" Bisiknya tepat ditelinga. Embusan nafasnya membuat telingaku geli, dan aku bereaksi untuk itu. Mengangkat bahuku mendekati telinga. Aldo tertawa kecil.


Tubuhku ditariknya perlahan. Membuat kami saling berhadapan. Tatapan matanya yang tajam, dan wajahnya yang tampan, membuat aku tidak kuasa untuk tidak jatuh cinta padanya.


"Jangan takut." Dia menarik tubuhku ke dalam dekapannya, " Mas, tidak akan meminta hak untuk malam ini. Jangan terburu-buru. Santai saja, jangan gugup."

__ADS_1


"Lalu, pakaian ini untuk apa?"


"Memangnya tidak boleh, ya, kalau suami ingin melihat istrinya seksi. Istri yang baik-baik harus ke barat-baratan jika di depan suami. Ke timur-timuran kalau di luaran."


"Mana ada kayak gituh."


"Ada. Contohnya kamu."


"Ish!" aku mendorong tubuhnya agar bisa melihatnya wajahnya, "Ini kan keinginan kamu, bukan keinginan aku, Mas."


"Kenapa kamu pakai? aku kan gak maksa, kalau gak mau, ya lepaskan saja. Lebih bagus juga."


"ihhhh." aku mencubit dadanya manja. Dia kembali merengkuh tubuhku. Menghela nafas lalu mencium pucuk kepalaku.


"Terima kasih."


"Untuk?"


"Menjadi istriku."


"Aku juga terima kasih karena Mas mau menjadikan aku istri."


"Sudah malam. Tidurlah. Besok kita akan kembali ke ibu kota."


Aldo semakin erat memeluk tubuhku. Aku menahan dadaku dengan kedua tangan, tak ingin jantungku yang hampir meloncat, terdengar oleh Aldo.


Kuraba wajahnya saat dia mulai tertidur, tangannya tak lagi begitu erat mendekap. Sedikit demi sedikit aku melepaskan diri dari pelukannya.


Dia menggeliat, lalu kembali tidur dengan posisi terlentang sedikit menjauh dariku.


Malam semakin larut, tapi sedikitpun aku tidak bisa memejamkan mata.


Dengan posisi miring dan tertidur seperti Putri duyung, aku menatap lekat wajah suamiku. Menikmati keindahan yang Allah ciptakan.


Dia, memang sangat tampan. Aku Rida tahu, menikah dengannya adalah anugrah atau musibah untukku. Dia tampan dan juga mapan. Antara musibah dan anugerah yang terpisah begitu tipis.


Larut dalam lamunan sendiri, sampai tak sadar jika Aldo sudah membuka matanya dan sedang menatapku. Aku terkejut dan segera membalikkan badan. Namun, tangan Aldo begitu cepat menarik bahuku hingga jarak diukur kami hanya seruas jari. Bahkan, aku bisa merasakan aliran hangat dari nafasnya.


Kami saling menatap dalam diam.


Dengan perlahan, tangannya menyusuri tanganku hingga berakhir di tengkuk. Menariknya sangat halus. Aku memejamkan mata pasrah jika dia ingin menciumku.


"Sayang ... sudah malam. Ayo, segera tidur," bisiknya. Lalu kembali tertidur.


Tetewwww!


Mukaku terasa panas karena malu dengan pikiranku yang iya-iya sejak tadi.

__ADS_1


Ya ampun!


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2