Membeli Istri

Membeli Istri
part#39


__ADS_3

Si Kue Putu itu selalu saja tersenyum saat berapa denganku. Entahlah, sebutan itu kini melekat begitu saja. Setiap melihat atau mengingat dia, aku tak lagi menyebutnya Aldo. Dia memang seperti kue putu. Manisnya hambar dan berisik. Tapi banyak orang suka. Melekat meski dia konglomerat.


Dia berdiri menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil hitam yang selalu dia bawa. Mobil yang dulu aku keluhkan pada Pak Putra karena jumlah penumpang yang bisa diangkut hanya dua orang saja.


Aku menghela nafas saat akan menghampirinya.


"Apa kamu mengganti namaku di ponselmu?"


"Tidak, Tuan."


"Apaan tuh?"


"Yaaa, kamu. Kenapa kalimat pertanyaannya aneh."


"Lagi nyoba formal."


"Itu bukan formal tapi kolot. Berasa jaman dulu."


"Ya udah sih. Yuk, kita pergi."


"Aku baru semalam di sini, belum kerja udah keluyuran. Gak ah! aku kerja dulu, habis itu baru bisa pergi. Lagian mau ke mana sih?"


"Ini juga sebagian dari kerja. Kan nganter anak bos makan."


"GAK MAU!"


"Manisnya kalau lagi manyun begitu."


Aduh, kepalaku mulai nyut-nyutan kalau dia udah kumat seperti ini. Seperti aku memang harus segera menghindar supaya tidak pingsan menghadapi dia yang tengil itu.


"Mba Mahira." Suara seseorang tiba-tiba datang menyapa dari belakang. Aku menoleh.


"Eh, Mba Kay."


"Jadi kita berkeliling yayasan?"


"Iya, tunggu sebentar. Saya harus menunggu sampai kue putu pergi."


"Kue putu?"


"Ah, bukan. Maksud saya itu ... aduuh. Mba Kay bisa tunggu saya di dalam saja. Nanti saya ke sana."


"Iya, baiklah. Mari, Mas."


Aldo hanya sedikit tersenyum dan menggerakkan kepalanya pelan. Dia kenapa? sikapnya sangat berbeda.


"Gagal ini sih. Piye toh jal?" Dia menggaruk kepalanya kasar.


"Mau ikut aku keliling lihat panti gak?"


Sudah ku duga. Dia tersenyum kuda lagi. Tanpa penolakan. Dia berjalan cepat dengan senyum Pepsodentnya yang tidak pernah hilang. Ampun deh!

__ADS_1


Aku berjalan menghampiri Mba Kaysha yang sudah menunggu di joglo. Dia tersenyum saat kami datang.


"Yuk, Mba."


Kami berjalan menyusuri yayasan Bu Ranti. Yang pertama kami datangi adalah kamar pada pegawai di sini. Kamar ke kamar aku masuki, berkenalan dengan mereka yang kebetulan ada. Sisanya sedang bekerja mengurus anak-anak yatim piatu dan para jompo.


Setelah itu, aku diajak melihat kamar para anak-anak yang tinggal di sini. Tidak seperti panti asuhan lainnya yang sering aku lihat di film-film, berantakan dan kumuh. Ini berbeda jauh. Rapi, wangi dan tertata. Mereka tidur di atas ranjang yang layak dan bagus.


Kemudian ada juga ruang balita dan bayi. Sungguh lucu. Dindingnya dihiasi dengan berbagai macam karakter yang lucu dan cantik. Banyak boneka dan mainan khusus untuk anak-anak usia balita. Ada juga rak susu dan botol susu yang terletak diujung ruangan. Tertata rapi dan bersih. Ada lemari pakaian dan popok juga di sana. Lengkap, sama seperti kamar bayi anak-anak orang kaya.


Aku sempat berkenalan dengan pegawai yang ada di sana. Becanda dengan beberapa balita yang sangat lucu. Aku gak habis pikir, kenapa mereka sampai dibuang begitu saja? dari sini aku bersyukur karena meski tidak disayang, aku tidak dibuang.


"Kita ke kamar lansia, ya."


"Iya, Mba."


Agak sedikit jauh dari kamar para balita. Karena terhalang taman dan juga beberapa ruangan lainnya. Ruang kantor, administrasi, keuangan dan sebagainya.


"Walah, Den Aldo tumben ikut berkeliling. Udah lama sekali gak mampir," ucap seseorang begitu melihat Aldo. Aku menoleh pada Aldo. Lagi-lagi dia hanya tersenyum memaksakan. Aku merengut melihat tangan also yang dimasukkan ke dalam saku celana, padahal yang menyapa dia wanita sepuh.


Aku melotot. Memberi isyarat agar dia mengeluarkan tangannya. Ragu, tapi dia mau.


"Mba Kay, ini siapa? cantik sekali."


"Dia calon istri saya, Nek."


"Owalah, cocok sekali memang. Yang satu cantik dan yang satunya tampan. Nenek doakan agar kalian selalu bahagia."


"Mba Kay, nanti Laila marah tidak?"


"He he he. Saya tidak tau, Nek. Kita lihat saja nanti, ya. Nenek mau ke mana?"


"Ini, nenek mau ke depan. Mau ketemu sama ningsih. Sudah lama tidak bertemu."


"Oh, iya. Hati-hati ya, Nek."


Wanita sepuh itu tersenyum sambil melambaikan tangannya pada kami. Aku melirik Aldo sinis dengan sudut bibir terangkat sedikit. Dia membalasnya dengan menjulurkan lidah. Geregetan liatnya!


"Itu siapa, Mba Kay?"


"Dia Nek Rasmi. Ningsih itu salah satu anak panti yang disayanginya. Sudah seperti cucu sendiri katanya. Kemarin Nek Rasmi sakit, jadi tidak bertemu dengan Ningsih."


"Oh, begitu rupanya." Aku manggut-manggut.


"Kalau Laila? siapa itu? memangnya kenapa dia bisa marah? pada siapa?"


Pertanyaan yang segitu banyak tidak satupun dijawab. Mba Kaysha hanya tersenyum melirik Aldo yang ada di belakang. Begitu aku ikut melirik, dia malah bersikap sok cool. Merapikan rambut bagian depannya seraya bersiul kecil.


Setelah beberapa menit kami berjalan, akhirnya sampai juga di kamar para jompo. Ya kalian tau sendiri lah isinya bagaimana. Mereka nenek semua. Meski tidak semua sepuh dan uzur.


Mataku tertuju pada salah satu Nenek yang letak kasurnya paling ujung. Dia berbeda dengan yang lainnya. Modis.

__ADS_1


Nenek itu sedang berdandan, bersenandung yang aku sendiri tidak tau itu lagu apa. Kami menghampirinya.


"Oma ..." Pelan sekali Mba Kaysha menyapanya. Nenek itu menengok kami. Dia yang sepertinya akan menjawab sapaan Mba Kaysha, mulutnya terhenti begitu menatapku. Matanya sinis penuh selidik. Intens menatapku dari atas sampai bawah. Aku merasa tidak nyaman, takut dia terganggu.


"Oma, kenapa hari ini sangat cantik? pantas saja seseorang sudah menunggu di depan. Ternyata dia tau kalau Oma sangat cantik dan wangi hari ini." Mba Kaysha memuji sekaligus becanda entah meledek atau apapun itu.


Saat ingin bertanya pada Aldo, aku heran karena dia tidak ada di belakang. Kepalaku celingukan mencarinya.


"Masa? sudah lama dia tidak datang ngapelin, ternyata hari ini dia ke sini. Kay, aku sudah wangi belum? gimana gincu yang aku pakai, apa kurang merah?"


"Oma udah cantik pol. Udah gih, jangan kelamaan dandannya, nanti ayangnya keburu marah."


"Ah, iya. Ya sudah, aku keluar dulu ya. Harus cepet nih, takut dia ngambek."


Langkah yang dia bilang cepet itu, sungguh diluar kenyataan. Usia sepuh telah menguras energinya. Aku dan Mba Kaysha yang mengikuti dari belakang pun ikut melangkah mengikuti iramanya. Andai saja boleh, sudah aku gendong saja Nenek ini. Hi hi hi


Keterkejutanku belum usai saat kami sampai di luar kamar. Aku melihat Aldo berdiri dengan setangkai bunga. Bunga yang sama persis tumbuh di sebelahnya.


"Ayaaang ...."


Mataku hampir loncat keluar begitu Nenek ini berhambur dalam pelukan Aldo. Tidak ada penolakan. Aldo menyambutnya dengan hangat dan penuh kasih. Dia juga memberikan bunga itu pada Si Nenek.Wajah keriput itu terlihat bahagia.


Sorak sorai dari para lansia di sini terdengar riuh. Mereka tertawa sambil tepuk tangan. Suara mereka yang khas membuat aku ikut tertawa. Aku tidak bisa menghentikan tawaku saat melihat lucunya para wajah lansia yang keriput dan tanpa gigi itu. Ya Allah, tidak ada ciptaan-Mu yang tidak sempurna. Mereka yang dibuang, sangat sempurna untuk menghilangkan duka lara dalam hatiku. Masha Allah. Allahuakbar.


"Mba Mahira, saya ke kamar mandi sebentar. Gak apa-apa ya saya tinggal."


"Iya, Mba. Silahkan."


Begitu Mba Kaysha pergi, aku memutuskan untuk mengikuti Aldo dan Nek Laila. Aku sungguh penasaran apa yang akan kue putu lakukan padanya. Anak petakilan itu, apa yang bisa dia lakukan pada Nenek-nenek?


Aku duduk disebuah bangku taman, tidak jauh dari posisi Aldo dan Nek Laila. Mereka duduk di bawah yang tertutup hamparan rumput hijau. Aldo terlihat telaten mengajak Nek Laila bicara. Terkadang mereka berbisik-bisik lalu tertawa bersama. Ah! aku benar-benar ingin tau apa yang mereka bicarakan.


Aldo berdiri lalu duduk berhadapan dengan Nek Laila. Dia memegang tangan Nenek itu.


"Terpesona ... aku terpesona, memandang wajahmu yang manis." Aldo menyanyikan lagu itu di hadapan Nek Laila, meski matanya tertuju padaku. Aku tau, dia menyanyikan lagu itu untukku. Aku memelototi dirinya. Dia tersenyum. Senyuman yang berbeda kali ini. Bukan cengengesan tapi ....


Sementara itu, tawa Nek Laila begitu nyaring karena lagu yang Aldo nyanyikan. Persis seperti ABG yang sedang ke ge-eran. ABG versi jaman dulu.


"Mba Mahira. Maaf, ya nunggu lama."


Aku segera memalingkan pandangan pada Mba Kaysha. "Enggak, kok. Saya seneng di sini. Jadi gak berasa nunggu lama."


"Kita ke bagian dapur yuk."


"Ya, baiklah."


Aku berdiri. Sambil bercengkrama melangkah pergi meninggalkan Aldo dan Nek Laila. Sebelum langkah ini semakin jauh, entah dorongan dari mana kepalaku memutar kebelakang.


Aku merasa kikuk begitu tatapan aku dan Aldo bertemu. Dia kembali tersenyum. Senyuman penuh arti yang tidak ingin aku mengerti meski aku tau arti dibalik itu semua.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2