
Aku segera berlari memasuki rumah. Begitu melihat Bi Tuti, aku segera menghampirinya.
"Bi, Bi, Bibi. Istriku mana? dia baik-baik saja bukan? kemana dia?" tanyaku panik sambil celingukan.
"Tenang, Den. Neng Mahira ada di kamarnya."
"Apa? terus ... itu ...."
"Pak Misran, tadi dia jatuh. Mau dibawa ke rumah sakit gak ada yang bisa nyetir. Nelpon Aden juga gak aktif-aktif. Ya sudah nelpon ambulan aja."
"Syukurlah."
"Maaf?"
"Oh, enggak. Maksud saya, tadi saya pikir itu Mahira. Ya sudah, saya ke kamar dulu. Makasih Bi."
Tak sabar rasanya ingin bertemu dan melihat langsung wanitaku. Begitu masuk kamar, aku melihat dia sedang duduk sambil menangis.
"Sayang ...." aku memeluk tubuhnya.
"Mas ... huwaaaa." dia menangis semakin menjadi dalam pelukanku. Dia pasti sangat sedih karena Pak Misran sudah seperti Bapak baginya.
"Ayo, kota ke rumah sakit sekarang. Kita harus menemaninya, Mas." Dia melepas pelukanku. Menatap wajah dengan memohon.
"Tidak sayang, sudah ada satpam bukan? lagi pula tidak baik ini hamil ada di rumah sakit."
"Tapi kaki dia sepertinya patah, Mas. Dia jatuh lagi ngambil mangga. Aku yang memintanya."
"Iya, tapi jangan ke sana dulu. Nanti aku akan yang ke sana. Kamu sebaiknya di rumah saja. Lagi pula, tidak boleh menjenguk orang sakti bukan? jam jenguk di hilangkan dari rumah sakit."
"Biarin! pokoknya aku mau ke sana sekarang!"
Dia berusaha bangkit dengan susah payah. Memaksa ingin pergi. Aku mencintaimu melarangnya dengan memegang tangannya, tapi dia masih saja kekeuh ingin pergi.
"Aku mau ke sana! Mas mau antar atau tidak, aku tetap mau ke rumah sakit."
"Sayang, jangan begini. Kasian bayi kita. Pikirkan juga dia yang ada di dalam rahim kamu."
"Mereka baik-baik aja kok. Pokoknya aku mau pergi, sekarang!"
Bisa apa aku? kalau ada kemauan, dia tidak bisa ditentang. Maka, aku hanya bisa pasrah dengan menahan amarah.
"Maas!" dia berteriak dari luar sana. Ya, aku memang tidak mengikuti langkahnya dan memilih diam di kamar untuk menenangkan hati dan otakku dulu.
"Maaas!"
"Neng, ya Allah! Ded, Aden! tolongin."
Aku terperanjat saat mendengar Bi Tuti ikut berteriak. Aku segera berlari menghampiri mereka.
"Ya ampun, sayang!"
Mahira terduduk sambil memegang perutnya, entah air apa yang membasahi tubuhnya. Sedikit bau amis.
"Ketubannya pecah, Den. Ayo, segera ke rumah sakit!"
Aku menggendong Mahira dan calon anak-anakku menuju mobil.
"Pak, Pak. Ini barangnya gimana?"
Astaga! aku lupa buket untuk Mahira.
"Bi, tolong urus itu."
Sekarang yang paling penting adalah Mahira dulu. Dia harus segera ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
__ADS_1
Sepanjang jalan, Mahira berteriak kecil. Perutnya terasa sakit katanya. Tangannya memegang kuat lenganku, bahkan mungkin lecet karena terasa perih.
Aku mengendarai mobil dengan cemas, takut dan gugup. Peluh bercucuran. Tidak tega rasanya mendengar istriku meringis kesakitan.
Bukan hanya itu, tapi kehamilan Mahira belum sembilan bulan. Apa yang akan terjadi pada bayi-bayi kami ya Allah.
Begitu sampai rumah sakit terdekat, aku memarkirkan mobil begitu saja lalu membopong Mahira memasuki UGD.
"Tidurkan di sini, Pak." salah seorang petugas menunjukkan tempat tidur. Beberapa petugas datang menghampiri Mahira, aku mundur beberapa langkah agar tidak menghalangi pekerjaan mereka.
Entah apa yang mereka lakukan, aku hanya diam sambil berdoa. Bahkan aku tidak sadar telepon berdering sedari tadi. Entah untuk yang keberapa kalinya telpon itu berbunyi hingga aku sadar.
"Halo."
"Do, gimana Mahira? dibawa ke rumah sakit mana?"
"Mami tau dari mana?"
"Bi Tuti yang ngasih tau mami. Kamu share koleksi ya. Nanti mami segera nyusul."
"Iya."
Aku segera mengirim lokasi setelah perbincangan kami selesai.
"Pak, istri Bapak harus di operasi. Bayinya kembar, kami tidak bisa ambil resiko jika harus lahir normal."
"Lakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka bertiga, Dok. Berikan yang terbaik."
"Bapak tanda tangan dulu surat pernyataan dan juga administrasi lainnya. Kami akan melakukan beberapa prosedur dulu pada pasien."
"Ya. Baik."
Setelah menyelesaikan semua urusan administrasinya, Mahira dibawa ke ruang operasi. Sepanjang koridor, tangannya terus menggenggam tanganku. Dingin. Dia takut.
"Sayang ... kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melewati semuanya, ya. Kamu itu wanita hebat. Aku akan selalu di sini menunggu kamu dan anak-anak kita."
"Tidak apa-apa sayang ... ada dokter yang ahli yang menangani kamu."
Aku mencium kedua pipi dan keningnya saat dia hendak masuk ke ruang operasi. Tangannya masih saja erat menggenggam, sampai akhirnya dia melepas dengan terpaksa.
Beberapa menit setelah Mahira masuk, keluargaku datang. Lengkap. Tanpa bocil.
"Aldo ...." Mami memelukku. Nyaman. Sektika, rasa takut itu hilang.
"Sabar. Kamu harus tegar untuk istri dan anakmu," ucap Kak Yanwar sambil menepuk bahuku.
"Kamu itu calon ayah. Belajar kuat! jangan cengeng!"
"Iya, Pih."
Kami semua menunggu dengan cemas. Mungkin operasi sesar bukan sesuatu yang harus di takutkan, sudah banyak mereka yang menjalaninya dan selamat, termasuk Kak Niar.
Kami memikirkan bayinya yang masih belum cukup bulan. Mahira terlalu tegang karena memikirkan Pak Misran sampai dia kontraksi. Entahlah, banyak faktor yang menyebabkan semua ini terjadi. Terlebih ini semua adalah takdir. Itu pasti.
Samar-samar kami mendengar suara tangisan bayi. Kecil tapi cukup jelas. Kami yang diluar saling pandang dengan wajah penuh harap.
Ada binar kebahagiaan dan kelegaan dalam wajah kami yang sedari tegang.
Berapa lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Dua orang petugas keluar dengan mendorong dua inkubator. Itu anakku.
Bergetar tapi cukup kuat untuk berjalan dan mendekat. Mereka sangat kecil. Wajahnya merah. Matanya terlihat sedikit bengkak dan masih menutup. Tangannya yang satu keluar, Bergerak perlahan. Mulutnya terbuka lalu tertutup, seperti ingin minum.
Hanya saja ....
"Silahkan di azani dulu, Pak."
__ADS_1
Aku menatap petugas itu. Dia mengangguk meyakinkan. Aku menatap Papi dan Kak Yanwar. Mereka berdua mengangguk.
Sangat perlahan dengan suasana hati yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku mengangkat bayi kecilku. Kucium wajahnya yang berbau khas itu.
Aku mengumandangkan azan dengan suara bergetar. Haru. Tangannya bergerak mengenai wajahku. Rasanya ... seperti ada sengatan listrik hangat yang mengalir langsung ke jantung dan seluruh tubuhku.
Aku menangis.
Lalu, aku mengangkat bayiku yang satu lagi. Dia tampak lemah. Tangannya tidak aktif bergerak. Hanya sesekali dengan lemah.
Entahlah ... saat mencium dan mengadzani dia, ada perasaan yang berbeda.
Aku takut.
"Cucu saya yang ini kenapa?" tanya Mami.
"Mere berdua laki-laki, hanya saja bayi yang satunya sangat lemah. Kami harus membawanya segera agar bisa di tangani."
"Baik. Silahkan"
"Saya akan menemani mereka," ujar Papi seraya mengikuti petugas yang membawa bayiku.
"Mami ...." lirihku, "Aku takut. Aldo ingin mereka berdua sehat dan selamat."
"Iya, Do. Jagoan kamu akan baik-baik saja. Mereka anak-anak yang kuat, sama seperti ibunya."
Ya! Mahira adalah wanita tangguh yang pasti akan menurun pada anak-anaknya.
Tidak berselang berapa lama, pintu ruang operasi terbuka. Sebuah ranjang keluar dari sana. Mahira tertidur lemas di atasnya.
"Sayang ...." aku mendekat. Mendekap dan menciumnya bertubi-tubi.
"Mas ... anak kita. Mana mereka? kenapa hanya satu bayi yang menangis?" tanyanya terbata.
"Mereka baik-baik saja, ada di ruangan bayi."
"Aku mau ketemu, Mas."
"Nanti mereka akan dibawa ke kamar kamu. Sekarang, kamu harus stabil dulu."
Mahira menutup matanya kemudian membukanya perlahan. Wajahnya seperti menahan sakit.
"Kenapa?" tanyaku sambil mendorong bed menuju ruang perawatan.
"Gak nyaman."
"Tidak apa-apa, Pak. Biasanya anestesinya atau obat biusnya mulai hilang. Akan ada rasa tidak nyaman dari bagian punggung sampai telapak kaki. Mungkin juga bekas suntik epiduralnya masih ngilu."
"Oh, baiklah. Tidak apa-apa jika itu bukan masalah besar."
"Bukan, Pak. Itu gejala umum efek dari sesar."
Aku memegang erat jemari Mahira. Sementara Mami, Kak Yanwar dan Kak Niar mengikuti dari belakang. Beruntung, mereka harus saja pergi ke luar kota dan melakukan tes swab. Hasilnya masih bisa dipakai karena masih baru.
Sementara aku memang penanggung jawab pasien jadi bisa masuk dengan bebas. Baru nanti siang akan tes swab.
Setiap rumah sakit memiliki prosedur berbeda. Terlebih ini adalah salah satu rumah sakit milik partner kerja Papi.
Begitu sampai ruang perawatan VVIP. Mahira dipindahkan ke tempat tidur yang berbeda. Lebih besar dan lebih lengkap lagi.
Mahira memang kuat. Dia wanita tangguh yang mampu melalui segala hal yang menyakitkan.
Dia meringis kesakitan saat anastesinya sudah mulai hilang. Dia sesekali menghembuskan nafas panjang.
Bahkan, dia bisa segera membalikkan badannya pada esok harinya. Dia berkata bahwa dia harus segera sembuh agar bisa bertemu dengan anak-anaknya.
__ADS_1
Menurut dokter, itu bagus. Mobilisasi dini akan mempercepat penyembuhan lukanya.
🌺🌺🌺🌺🌺