
Sekitar hampir tengah malam aku baru sampai rumah. Tidak basa basi lagi, aku langsung masuk ke dalam rumah dan mencari wanitaku.
Sangat pelan aku membuka pintu kamar, takut dia terbangun. Namun, begitu membuka pintu Mahira sedang duduk di sofa, menyalakan televisi dengan snack di tangannya.
"Sayang ... belum bobo?"
"Eh, Mas. Udah pulang?" tanyanya. Wanita cantik itu segera berdiri. Tidak seperti biasanya, dia bukan mencium tanganku tapi merapatkan tubuh dengan tangan melingkar dileher. Mengabaikan tanganku yang siap untuk dia cium.
"Ada apa? tumben ngemil malem-malem?"
"Lapar ...." jawabnya manja. Seraya memajukan bibirnya. Sexy. Membuat aku gemas melihatnya. Aku mengusapnya perlahan.
"Ih, kenapa? mau cium ya?" tanyanya sedikit menggoda.
"Bukan, itu bibirnya kotor bekas remahan ciki."
"Oh kirain." Dia mencabik. Lucu sekali.
"Kenapa? kecewa yaaa ...."
"Idih!" Dia melepaskan tangannya dari leher, berbalik untuk meninggalkanku. Tapi tidak semudah itu, dia telah menggodaku tak akan aku lepaskan begitu saja.
Aku menariknya kembali, dan memeluknya dari belakang. Sengaja kugoda dengan mengembuskan nafas di telinganya. Dia menggeliat. Geli. Aku tersenyum.
"Mandi dulu. Dari pagi pasti belum mandi kan?"
Aku mengerjap. Sadar bahwa tubuhku mungkin saja kotor dan bau keringat. Segera aku lepaskan pelukan. Tidak ingin wanitaku terkena kotoran dan kuman dari tubuhku. Ah! sial. Dia memang selalu membuat aku lupa segala hal. Sangat menggoda. Tubuh kecil berisi itu selalu membuat aku ingin berada di dekatnya.
Aku membersihkan tubuh dengan seksama. Jangan sampai ada kotoran yang menempel. Menggosok gigi begitu lama agar tidak bau yang membuat dia tidak suka berdekatan denganku.
"Ini bajunya, Mas."
__ADS_1
Ya. Wanitaku selalu menyiapkan segala perlengkapan untukku. Aku bahkan tidak akan memakai baju jika bukan dia yang menyiapkan. Itulah kenapa aku begitu tersiksa saat harus berpura-pura menjauh darinya. Sumpah demi apapun, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Sakit.
"Mas, aku laper."
"Sama."
"Emang Mas belum makan juga? kenapa?"
"Pengen makan kamu."
"kanibal dong."
"Kamunya jangan jadi daging, jadi lollipop aja."
"Di β"
Wanitaku tidak meneruskan perkataannya. Aku rasa dia malu untuk melanjutkannya. Ah, wanitaku memang masih polos kadang-kadang.
Tangannya yang lembut, kubelai mesra. Wangi tubuhnya yang selalu membuatku gila, kuhirup dalam-dalam saat dia sudah ada dalam dekapan.
Aku seperti anak kecil yang kepalanya diusap pelan. Aku suka.
"Sayang ...."
"Hmm."
"Maaf ya untuk kejadian waktu itu? masih ada yang sakit gak?"
Dia menggerakkan kepalanya. Memberitahu bahwa dia baik-baik saja. Aku melepaskan pelukan untuk melihat wajah cantiknya.
"Kenapa jam segini belum bobo? nungguin?"
__ADS_1
"Iya. Mas kan tau, aku gak bisa tidur sendiri. Gak bisa bobo pake bantal, harus pake dadanya Mas."
"Ck! manja sekali sih. Istri siapa coba ini tuh?" Aku mencubit hidung kecilnya.
"Aww! sakit tauuu."
"Tau."
Dia memukul dadaku tanpa tenaga. Lagi, aku menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Nyaman.
"Sayang, kamu kenapa ngemil malam-malam? nanti gendut loh."
"Maksudnya?"
DEG!
Aku merasa takut. Nada suaranya sudah tidak enak didengar.
"Kalau aku gendut, masalah buat Mas? mas gak cinta lagi sama aku? Mas mau nyari wanita lain yang lebih cantik dan langsing, gituh?"
"Enggak sayang, enggak. Bukan itu maksudku."
"Udah, ah! aku mau bobo aja."
"Ehhh, mau kemana?"
"Gak denger tadi aku bilang apa? aku mau bobo!"
Wanitaku marah. Berjalan dengan menghentakkan kaki ke lantai. Membanting tubuhnya ke ranjang lalu menutupinya dengan selimut.
Aduhh! gagal bikin anak ini sih? sial!
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊ