Membeli Istri

Membeli Istri
part#17


__ADS_3

"Besok saya mulai kerja."


"Iya, Pak. Nanti saya siapkan segala sesuatunya. Pak, bi mirah kapan ke sini?"


"Kenapa? cape kerja sendiri?"


"Sangat. Bapak jangan lakukan cukup bayangkan saja. Rumah ini tuh luas banget dan tinggi banget. Sementara saya yang kecil ini harus mengerjakan semuanya. Saya bangun jam tiga bukan untuk salat, tapi untuk memulai pekerjaan rumah. Belum lagi malam sebelum pukul dua belas harus melayani Bapak, bahkan kadang siang hari. Saya harus masak, mencuci baju kita berdua. Ngasih makan tiga supir dan tiga satpam. Tubuh saya bisa kering, Pak."


"Mau cari pembantu lagi?"


"Bi Mirah saja. Kenapa harus cari yang lain. Saya gak mau kalau pembantu baru kita nanti masih gadis atau janda kembang. Dia bisa gatel liat Bapak. Kalau dia godain Bapak gimana? saya gak mau diusir tengah malam, apa lagi pas hujan lebat. Hiiyyy."


"Saya bisa usir kamu pagi hari."


"Ish! becanda Bapak gak asik!" Mahira mencucu dan memukul dada Putra.


"Lah, katanya gak mau di usir tengah malam. Saya bisa menunggu sampai esok paginya."


"Iihhh! Bapak tuh, gak lucu."


"Pagi hari pas cuacanya cerah jadi gak basah kuyup." Putra menambahkan dengan tawanya yang berhasil membuat Mahira semakin kesal.


"Emang Bapak mau, nikah sama janda? atau sama gadis lain? Bapak udah siap lahir batin punya istri dua? emang bisa adil? bisa menafkahi keduanya?"


"Loh, kenapa tidak? kalau kamu izinkan, so what?" ledek Putra.


"Enggak! saya tidak akan mengizinkan Bapak menikah lagi. Weeee."


"Sunah loh punya istri sampai empat."


"Empat udelmu!!! udah ah, gak asik!"


Mahira benar-benar kesal. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut dan membelakangi Putra.

__ADS_1


Putra terdiam sejenak. Dia menarik nafas lalu kembali fokus pada buku yang sedang dia baca.


Selang berapa menit, terdengar suara Isak tangis dari balik selimut. Selimut itu terlihat naik turun seirama dengan suara tangisan.


"Ra ...."


"Jangan di buka. Bapak diem aja, jangan sentuh pokoknya."


"Kamu kenapa? tadi hanya becanda."


"Gak! pokoknya jangan buka selimut ini. Hu hu hu. Bapak jangan sentuh saya. Cari aja janda kembang yang mau bapak sentuh. Hu hu hu."


Sebenarnya Putra sangat tergelitik mendengar celotehan Mahira yang samar-samar karena tertutup selimut tebal.


"Cemburu?" tanya Putra.


"Apa itu? saya gak tau Bapak ngomong apa. Pokoknya saya tidak suka. Hu hu hu."


Putra mendesah.


"Biarin! pokoknya jangan buka selimutnya!"


"Buka bajunya aja boleh?"


"Gak boleh!"


"Beneran nih? ya sudah saya turunkan kelambunya nih."


Mahira langsung membuka selimutnya. Dia tau jika Putra menurunkan kelambunya, itu artinya dia akan meminta haknya.


"Kenapa di buka? gak mau kalau kelambu ini turun? banyak nyamuk."


"Ngarang! mana ada nyamuk di kamar ini. Pokoknya, saya tidak mau Bapak menikah lagi. Hu hu hu ...."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Dada saya sakit. Rasanya saya tidak bisa bernafas membayangkan Bapak menikah lagi. Sakitnya tidak jelas, saya tidak tau rasa sakitnya sebelah mana, tidak terlihat tapi sakit banget. Hu hu hu."


"Ra ... dengerin saya. Berhenti dulu nangisnya."


"Hu hu hu ...."


"Mahira, istriku. Denger dulu." Putra menggenggam tangan Mahira. Dan Mahira pun diam meski masih sesenggukan. Mereka saling menatap.


"Kamu cemburu? itu namanya cemburu. Karena itu artinya kamu mulai mencintai dan menyukai saya."


"Benarkah? apa seperti ini rasanya jatuh cinta? kenapa sakit sekali? apa mereka juga sering merasa sesak?"


"Hmm. Ra, kita tau sejak awal bagaimana pernikahan ini terjadi bukan?"


"He-em." Mahira mengangguk.


"Saya tidak mengira kamu akan begitu cepat jatuh cinta pada saya. Tapi Mahira, saya belum bisa membalas rasa cinta kamu. Kebaikan yang saya lakukan hanya sebatas melaksanakan kewajiban saya sebagai suami."


"Pak, memangnya kalau jatuh cinta itu harus di balas ya?"


"Apa?" Putra sedikit heran dengan pertanyaan dari Mahira. Tidak sedikitpun terlihat guest kesedihan atau kekecewaan dari wajah Mahira.


"Mahira, saya belum bisa mencintai kamu sampai detik ini. Saya bersikap baik karena, yaaa ... saya ingin kamu bahagia."


"Loh, bukannya itu juga cinta, Pak?"


"Bukan, saya tidak mencintai kamu Mahira. Mungkin belum."


"Kenapa? apa saya belum bisa jadi istri yang baik untuk Bapak? pasti karena ...."


"Karena saya mencintai wanita lain."

__ADS_1


Mahira menatap lekat wajah suaminya tanpa berkedip sedikitpun.


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2