Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
10. Di pantai


__ADS_3

"Kamu mau?" tanya Salwa saat Abra sudah menjalankan mobilnya.


"Tidak perlu," jawab Abra singkat. Dia memang tidak tahu bagaimana rasanya makanan itu. Melihat saja sudah tidak berselera.


"Kamu belum merasakannya, coba saja sedikit. Pasti kamu ketagihan. Ini rasanya enak, meski tampilannya tidak sebagus dengan makanan yang ada di restoran. Ayo, coba buka mulutmu!" pinta Salwa dengan menyodorkan satu sendok batagor di depan mulut Abra.


Pria itu awalnya menolak. Namun, wanita itu terus saja membujuk dan memaksanya. Mau tidak mau Abra akhirnya membuka mulut. Saat Salwa memasukkan satu sendok batagor ke dalam mulutnya, pria itu bisa merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya.


Ada rasa pedas, asin, gurih, dan sedikit manis. Dia tidak menyangka jika makanan itu terasa enak sekali. Ingin meminta lagi, tetapi rasa gengsinya terlalu tinggi.


"Bagaimana rasanya?" tanya Salwa sambil melihat Abra yang masih mengunyah.


"Biasa saja."


"Kamu saja yang tidak bisa merasakan mana makanan enak dan tidak. Ya sudah, biar aku makan sendiri."


Abra hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Meski sebenarnya dia masih ingin merasakan makanan itu, tetapi pria itu enggan menjatuhkan dirinya dengan meminta padanya. Salwa menikmati makanannya sampai habis, hingga tidak terasa mereka telah sampai di pantai.


Mereka turun dan berjalan beriringan. Salwa sengaja bergelayut manja di lengan Abra. Pria itu pun hanya diam saja. Seperti janjinya dia akan menuruti semua keinginan wanita itu.


"Kita duduk di sana saja!" ajak Abra sambil menunjuk sebuah kedai tidak jauh dari sana.


"Aku ingin bermain air," rengek Salwa.


"Kita tidak bawa baju ganti. Sebaiknya tidak usah."


"Ayolah, Sayang! Aku mau main air."


"Tidak, kalau kamu mau silakan saja. Sebaiknya aku pulang, aku tidak mau basah-basahan." Abra segera berbalik. Namun, Salwa dengan cepat memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi, maafkan aku. Aku akan menurutimu, tapi jangan tinggalkan aku," ucap Salwa dengan pelan.


Dapat Abra rasakan jika saat ini punggungnya telah basah. Pasti Salwa tengah menangis. Dia ingin berbalik, tapi wanita itu melarangnya dan masih tetap meneteskan air mata. Salwa merasa malu jika Ibra melihatnya dalam keadaan ini.


Pria itu merasa bingung dengan keadaan ini. Abra tidak berniat membuat Salwa menangis. Dia juga merasa tidak berkata kasar, apalagi menyakitinya lalu kenapa wanita itu menangis? Apa Abra sudah menyakitinya tanpa sadar?


"Salwa, jangan seperti ini. Banyak yang melihat kita," ucap Abra dengan pelan agar tidak didengar orang lain.


Salwa pun melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya aga pria itu tidak melihatnya. Abra yang tahu pun segera memeluk tunangan saudaranya tanpa malu. Ada rasa bersalah karena sudah membuat wanita itu menangis.

__ADS_1


"Bukankah kita memutuskan untuk bersenang-senang? Jadi jangan menangis," ucap Abra dengan berbisik. "Ayo, kita ke sana!"


Pria itu menarik tangan Salwa dan membawanya ke sebuah tumpukan batu besar seperti tebing. Wanita itu menurut saja sambil mengusap sisa air matanya. Keduanya duduk bersisian menghadap gelombang air di pantai itu. Cukup lama mereka terdiam tidak tahu harus berbicara apa.


"Apa perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Abra.


Salwa menatap pria yang ada di sampingnya dan tersenyum. "Biasa saja, selalu seperti ini."


"Jika ingin bercerita, katakan saja. Aku akan mendengarkannya."


"Tidak, aku hanya ingin menikmati pemandangan saja."


Ponsel dalam tas Salwa berdering. Wanita itu pun membukanya, tertera nama papa di sana. Mau tidak mau dia harus mengangkatnya jika tidak, maka akan menjadi masalah untuknya.


"Halo."


"Kamu ada di mana? Kenapa pergi sendiri? Bukankah sudah ada sopir di rumah?" tanya Anton yang berada di seberang.


"Aku ... aku pergi bersama Ibra. Dia yang mengajakku," ucap Salwa berbohong sambil melihat ke arah pria di sampingnya.


"Benar kamu bersamanya? Kamu tidak mencoba untuk membohongiku, kan?"


"Halo, Om. Maaf, sudah membawa Salwa tanpa meminta izin."


"Oh, tidak apa-apa. Tadi saya hanya mengkhawatirkannya saja. Tidak biasanya dia pergi tanpa sopir. Kalau begitu, nikmati waktu kalian. Saya masih ada pekerjaan."


"Iya, Om. Terima kasih."


Abra memutus sambungan telepon dan memberikan ponsel itu pada Salwa. Mereka kembali terdiam sambil memandangi air laut. Dia merasa kasihan dengan wanita yang ada di sampingnya. Pria itu tahu jika Anton menghubunginya tadi bukan hanya karena khawatir saja. Pasti ada alasan lain.


Waktu berjalan dengan begitu cepat, tidak terasa matahari hampir tenggelam.


"Sebaiknya kita kembali!" ajak Abra.


"Aku ingin lihat matahari tenggelam dulu," sahut Salwa tanpa mengalihkan pandangannya dari pusat tata Surya.


Abra pun ikut terdiam sambil sesekali melihat ke arah Salwa. Wanita itu terlihat semakin cantik dengan dengan sinar orange karena pantulan matahari. Rambutnya tergerai indah, melambai tertiup angin. Abra merasa iri pada saudaranya yang memiliki tunangan secantik dan sebaik Salwa meski wanita itu cerewet.


"Ayo, kita pergi!" ajak Salwa yang berusaha bangun. Namun, dia terduduk kembali karena merasa kakinya kram.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Abra yang kembali berjongkok setelah sebelumnya sudah berdiri.


"Sepertinya kakiku kram."


"Kita memang sudah terlalu lama duduk di sini, sampai lupa makan siang."


"Maaf, aku terlalu larut dengan pemandangan ini. Sampai lupa mengajakmu makan."


"Sudahlah, tidak perlu merasa bersalah. Sekarang coba luruskan kakimu pelan-pelan."


Salwa pun menuruti perintah Abra. "Ini sakit sekali." rengeknya.


"Iya, pelan-pelan. Rilekskan tubuhmu." Abra membantu meluruskan kakinya dengan sedikit pijatan. Lama-lama sakitnya mulai menghilang.


"Sudah lebih baik. Biar aku coba berdiri." Salwa mencoba berdiri dengan dibantu Abra. "Ayo, kita cari makan dulu!"


Meski masih terasa sakit, tetapi Salwa berusaha terlihat baik-baik saja. Dia melingkarkan tangannya di lengan Abra. Mereka berjalan beriringan menuju sebuah restoran di dekat pantai. Keduanya sama-sama tidak pemilih soal makanan jadi, tidak sulit mencari tempat untuk makan.


Sampai di restoran, mereka memilih meja di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan luar. Seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka.


"Kamu pesan jus alpukat juga?" tanya Salwa.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Abra balik dengan menyernyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa," jawab Salwa kemudian beralih menatap pelayan yang sedang mencatat pesanan. "Sudah, Mas. Itu saja."


"Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar." Pelayang itu mengangguk dan meninggalkan mereka.


"Setelah ini mau ke mana? Apa masih ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Abra.


"Aku ingin ke apartemen kamu. Kita ke sana sebentar, ya!"


"Apartemen?" tanya Abra dengan wajah kebingungan. Dia tidak pernah tahu jika Ibra memiliki apartemen.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2