
Abra memasuki ruangannya dan segera mengunci pintu itu. Dia tidak ingin ada seorang pun yang melihatnya, termasuk Sisca. Pria itu memeriksa setiap sudut yang ada di ruang kerja dan kembali membuka ruang rahasia. Namun, sayang Abra sama sekali tidak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk untuk saat ini.
Entah Ibra yang pandai menyimpan rahasia atau memang pria itu tidak memilikinya. Semua tempat sudah diperiksa Abra, tetapi tidak ada satu petunjuk pun. Dia juga tidak tahu ke mana saja saudaranya pergi selain ke kantor. Jangankan dirinya, Romi saja tidak tahu.
Dia benar-benar frustrasi, sampai pandangannya tertuju pada sebuah laptop yang ada di sana. Pria itu menyernyitkan kening setelah berhasil menyalakannya. Ternyata laptop itu tersambung dengan CCTV yang ada di ruang kerja Ibra. Baru kali ini dia tahu ada CCTV di ruangan itu.
Dilihat dari sudut yang ditampilkan di laptop, ternyata CCTV berada di sudut rak buku. Pantas saja selama ini dirinya tidak tahu karena memang Abra tidak pernah membaca buku yang ada di sana. Apalagi bentuk kameranya yang begitu kecil.
Selama ini tidak ada yang mengatakan padanya atau mungkin memang tidak ada yang tahu. Pria itu pun mencoba melihat semua video di sana. Hingga beberapa sudah terputar, tetapi tidak ada yang mencurigakan di sana. Lagi-lagi hanya helaan napas lelah dari Abra.
Sampai di saat video itu memperlihatkan ada Pak Bima yang memasuki ruangan, sambil membawa sebotol minuman yang diserahkan pada Ibra. Kejadian itu tidak cuma sekali. Setiap tiga hari sekali Pak Bima akan datang untuk memberi minuman yang sama. Untungnya kamera itu canggih jadi, bisa merekam pembicaraan mereka.
Pak Bima mengatakan jika itu adalah minuman berkhasiat yang akan membuat siapa pun yang meminumnya bertenaga. Saat Ibra bertanya di mana tempat perjualnya, Pak Bima berkilah jika itu adalah resep keluarga. Bahkan saat Ibra bertanya apa resepnya pun pria itu menolak dan mengatakan jika itu rahasia keluarga.
Abra jadi teringat perkataan Rio mengenai racun itu, yang memang harus beberapa kali diminum baru bereaksi. Sepertinya dia harus mencari tahu tentang pria itu. Abra pun mengcopy beberapa video, dia akan mengirimkannya pada Rio untuk diselidiki. Semoga saja anak buahnya bisa menyelidiki lewat jejak kepergian Pak Bima.
Pintu ruangan diketuk, membuat Abra tersentak dan segera membereskan semua dan mengunci pintu rahasia itu. Dia masih perlu mencari sesuatu yang lain di ruangan rahasia jadi, belum saatnya orang lain tahu, termasuk Romi. Mengenai Sisca, Abra yakin jika wanita itu tidak mungkin membocorkan rahasia.
Setelah dirasa semua sudah beres dan tidak membuat curiga siapa pun. Abra membuka pintu, ternyata Romi yang ada di sana. Dia berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk. Pria itu mencoba bersikap tenang agar tidak membuat asistennya curiga.
__ADS_1
Berakting memang cukup melelahkan, tetapi itulah yang harus dilakukannya. Entah sampai kapan ini semua berakhir. Ibra saja masih tertidur dan entak kapan bangunnya.
"Tuan, kenapa meja saya di pindah?"
"Bukankah memang ruanganmu ada di sana? Lagi pula aku sudah hafal semua orang yang ada di dekat Ibra jadi, aku sudah bisa pergi sendiri."
Kemarin Abra memang meminta dua orang OB untuk memindahkan meja Romi kembali ke ruangannya. Dia pikir hal itu tidak perlu lagi. Jika pun nanti ada masalah, pria itu berharap semua selesai dengan cepat.
"Tapi, Tuan, bagaimana jika ada seseorang yang ingin memanfaatkan Anda?"
"Saya bukan anak kecil yang mudah dibodohi," jawab Abra sarkas.
"Baiklah, Tuan, kalau begitu saya permisi."
Romi pergi begitu saja, sementara Abra hanya diam dan sibuk dengan pekerjaannya tanpa menjawab perkataan asistennya. Mulai hari ini dia harus lebih waspada kepada siapa pun. Tidak ada yang bisa dipercaya untuk saat ini.
Sementara di rumah keluarga Handi, Syakila sedang menemani seorang dokter untuk memeriksa keadaan Ibra. Saat dokter sedang sibuk dengan pekerjaannya, Syakila melihat tangan Ibra bergerak. Dia pun memastikan penglihatannya jika itu memang benar.
"Dokter, lihat tangan Ibra bergerak!" seru Mama Syakila.
__ADS_1
Seketika dokter itu pun melihat dan benar saja tangan Ibra sedikit bergerak. Dokter segera memeriksa keadaan pria itu sedetail mungkin. Dia tidak ingin terlewat satu pun karena jika ada yang salah, bisa-bisa pekerjaannya akan melayang.
Setelah diperiksa dengan saksama, ternyata tidak ada pergerakan lagi dari Ibra. Dokter pun menjelaskan jika itu wajar sebagai komunikasi antara pasien dan keluarga. Dokter juga menyarankan agar Syakila sering mengajaknya berbicara atau berinteraksi lainnya. Tidak ada yang tahu kapan Ibra akan sembuh. Mudah-mudahan saja dia bisa sembuh tanpa penawar dari racun itu.
Dokter itu pun meninggalkan Syakila yang sedang duduk di tepi ranjang. Padahal tadi dia begitu bahagia saat melihat tangan Ibra bergerak. Nyatanya masih membutuhkan waktu. Jauh di lubuk hatinya, wanita itu merasa lelah.
"Ibra, sampai kapan kamu akan seperti ini? Apa kamu tidak merindukan kehidupan ini? Ada Salwa yang masih menunggumu. Apa kamu tidak ingin menikah dengannya? Cepatlah sadar! Bukankah kemarin kamu bilang ingin segera menikah? Sadarlah, setelah itu Mama sendiri yang akan mempersiapkan semua pernikahanmu. Kamu tahu, jika Abra saat ini sedang menggantikan posisimu. Papa dan Mama terpaksa melakukannya karena tidak ada cara lain. Papa tidak mau perusahaan sampai goyah karena sudah kehilangan pemimpinnya. Entah apa Abra bisa menjalankan pekerjaannya atau tidak. Yang pasti kamu harus segera sadar dan mengambil alih semua yang kamu miliki."
Cukup lama Syakila berbincang di sana. Dia mencurahkan segala kegundahan hati yang dirasakannya. Setelah wanita itu mengatakan semuanya, Syakila segera meninggalkan ruangan itu dan menuju kamarnya. Dia harus menceritakan kepada sang suami mengenai apa yang terjadi pada Ibra hari ini.
Pasti Handi akan sangat senang mendengarnya. Mudah-mudahan setelah ini akan ada kabar baik lainnya yang akan datang. Pria itu meminta pada sang istri agar tidak menceritakan pada Abra lebih dulu karena dia takut putra sulungnya akan berhenti mencari penawar jika tahu ada peningkatan pada kesehatan Ibra.
Syakila pun mengiyakan permintaan sang suami karena perkembangan Ibra pun belum bisa dipastikan akan sampai sejauh apa. Sebenarnya wanita itu tidak tega pada Abra, tetapi mau bagaimana lagi, hanya putra sulungnya yang saat ini bisa diandalkan. Semoga disaat hari itu tiba, Abra tidak membencinya karena lebih memihak Ibra
.
.
.
__ADS_1