Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
55. Masalah


__ADS_3

“Nanti kita cari waktu untuk bicara lagi dengan mereka. Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu, sampai semuanya baik-baik saja, baru aku akan bicara dengan mereka,” ucap Abra pada sang istri.


“Itu lebih bagus, Mas. Setidaknya kamu punya niat yang baik untuk bicara sama mereka.”


Salwa tersenyum pada sang suami. Dia tidak bisa memaksa Abra, tetapi setidaknya wanita itu sudah berusaha agar suaminya menjadi orang yang lebih baik lagi. Salwa yakin jika semuanya akan indah disaat waktu yang tepat.


Abraham mengangguk sambil tersenyum ke arah istrinya. “Kamu mau pergi ke suatu tempat dulu, sebelum pulang?”


“Ke mana, Mas?”


“Aku nawarin kamu, barangkali kamu mau pergi ke mana gitu. Aku antarin, mumpung kita masih di sini.”


“Memang kamu sudah nentuin, kapan kita akan pergi?” tanya Salwa balik.


“Belum, maksudku mumpung kita di luar, sekalian gitu.”


Salwa terlihat berpikir, dia bingung mau ke mana. Akhirnya terpikirkan tempat di mana wanita itu tinggal sedari kecil. Meski penuh luka yang ditorehkan oleh ayahnya, tetapi Salwa mencoba untuk ikhlas menerimanya.


“Aku boleh ketemu Papa Anton? Seperti yang kamu katakan tadi, aku ingin bicara sesuatu sama dia sebelum pergi.”

__ADS_1


Sebenarnya Abra merasa keberatan, tetapi dia tidak mungkin melarang Salwa. Terlebih dia akan pergi dari sini.


“Baiklah, kamu mau ke kantornya atau nunggu di rumah?”


“Nunggu di rumah saja, Mas. Di kantor Papa pasti punya banyak pekerjaan.”


“Baiklah, kita ke sana.”


****


“Kamu ada masalah sama bos?” tanya Roni pada Lukas yang sedang menikmati kopinya.


Keduanya memutuskan pergi ke kafe untuk menikmati kopi. Lukas memilih duduk di lantai dua, hingga bisa melihat pemandangan di luar.


“Ada kamu di sini, kenapa harus repot tanya sama bos?”


Lukas kembali diam menikmati kopinya. Roni bisa menduga jika memang mereka sedang ada masalah. Sepertinya sesuatu yang serius. Dia memang sudah sangat lama mengenal sahabatnya ini, Lukas memang bukan orang yang terbuka, tetapi tidak setertutup sekarang.


Ponsel dalam saku Lukas berdering, ternyata panggilan dari salah satu bawahnya yang berada di luar negeri. Pria itu menyernyitkan keningnya, tidak biasanya mereka langsung menghubungi lewat sambungan telepon. Biasanya hanya lewat pesan singkat saja.

__ADS_1


“Halo,” ucap Lukas setelah menggeser tombol warna hijau.


“Halo, Bos. Anak buah kita ada yang menjadi korban pengeroyokan oleh musuh kita.”


“Apa?” Lukas terkejut, hingga tanpa sadar dia berteriak begitu nyaring, membuat orang yang berada di sekitar melihat ke arahnya. Roni pun meminta maaf pada semua orang agar memaklumi sahabatnya itu.


“Siapkan pesawat malam ini juga. Saya akan kembali,” ucap Lukas yang segera beranjak dari sana. Roni mengikutinya dari belakang. Dia yakin telah terjadi sesuatu yang gawat di sana.


“Lukas, apa yang terjadi? Apa musuh sudah mulai menyerang?” tanya Roni disela langkah mereka.


“Anak buahku ada yang dikeroyok oleh mereka. Aku tidak bisa tinggal diam lagi, aku harus segera ke sana.”


“Lalu bagaimana dengan bos?”


“Katakan pada bos Abra, jika dia menolak pergi malam ini, aku tidak akan memaksanya. Yang pasti aku harus segera kembali malam ini juga bersama dengan Leo.”


Lukas segera berlari menuju apartemennya. Untung saja dia tidak pergi terlalu jauh tadi. Roni mencoba menghubungi Abra. Namun, ponselnya tidak aktif dengan terpaksa Roni pun menghubungi Salwa. Dia tidak punya banyak waktu lagi, Lukas akan pergi malam ini juga. Pria itu harus memberitahukan bosnya. Entah mau ikut sekalian bersama dengan Lukas atau menunggu penerbangan umum nanti.


“Halo, assalamualaikum,” ucap Salwa yang berada di seberang telepon.

__ADS_1


.


.


__ADS_2