
Pukul 10.00 Handi pulang dengan tergesa-gesa. Tadi dia mendapat telepon dari istrinya yang mengatakan, bahwa Ibra sudah membuka mata. Pria itu pun segera meninggalkan perusahaan dan melimpahkan semua pekerjaan pada Abra. Handi ingin putra sulungnya tetap berada di perusahaan.
Pria itu tidak ingin Abraham tahu jika Ibra sudah membuka mata. Handi berlari memasuki rumah tanpa menghiraukan sapaan dari para asisten rumah tangganya. Dia menuju kamar yang selama ini ditempati Ibra, yang berada di lantai tiga.
"Bagaimana keadaan Ibra? Apa benar dia sudah membuka mata?" tanya Handi pada istrinya. Sementara itu, di ranjang ada seorang dokter yang sedang memeriksa.
"Tunggu sebentar, Pa. Kita tunggu apa kata dokter," jawab Syakila. Handi pun melihat ke arah putranya dan memang benar, Ibra sudah membuka mata. Namun, anehnya dia seperti boneka, hanya berdiam diri. Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Ibra dan mendekati kedua orang tua pasien.
"Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Handi yang sudah tidak sabar.
"Sebaiknya kita bicara di depan saja," ujar dokter yang segera keluar dari kamar. Handi dan shakila mengikutinya ke depan pintu. Dokter pun menjelaskan bagaimana keadaan Ibra.
"Begini, Pak. Tuan Ibra memang sudah membuka matanya, tetapi dia belum bisa berkomunikasi dengan baik. Dia hanya bisa memberi kode lewat isyarat mata. Tubuhnya juga belum bisa digerakkan."
Handi dan Syakila merasa sedih dengan keadaan putranya. Namun, keduanya lega, setidaknya Ibra ada peningkatan. Mereka hanya perlu bersabar. Di saat waktunya tepat nanti, mudah-mudahan Ibra bisa sembuh total.
"Kira-kira berapa lama, Dokter, anak saya akan kembali seperti semula?" tanya Handi lagi.
"Saya tidak bisa memastikannya, Tuan. mudah-mudahan saja tidak sampai lima bulan."
Handi mengusap wajahnya dengan kasar. Lima bulan itu waktu yang cukup lama. Dua bulan yang terlewati saja sudah begitu lama. Apalagi harus menunggu lebih lama lagi. Melihat orang tua Ibra yang diam, dokter pun berpamitan karena merasa sudah tidak ada lagi pertanyaan.
"Saya harus kembali ke rumah sakit lagi. Jika ada perkembangan selanjutnya, segera hubungi saya. Mudah-mudahan Tuan Ibra bisa segera sembuh. Untuk obat, sepertinya masih cukup untuk beberapa hari. Saat obatnya habis saya akan ke sini lagi."
"Terima kasih, Dok."
Dokter pun pergi karena masih banyak pasien yang menunggunya. Sementara itu, Handi dan Syakila memasuki kamar yang ditempati Ibra. Tampak putranya menatap mereka yang berjalan mendekat. Wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang dan menggenggam telapak tangan Ibra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mama senang mendengar jika kamu ada perkembangan. Sekarang kamu bisa melihat. Mama harap kamu bisa segera bisa bicara dan berjalan seperti sedia kala. Mama dan Papa sedang mencari pelaku yang sudah melakukan hal ini kepadamu. Buat Mama dan Papa, hanya kamu yang jadi penyemangat kami," ujar Syakila dengan mata berkaca-kaca. Ibra hanya mengedipkan mata sebagai jawaban untuk mamanya.
"Kamu harus segera sembuh agar bisa memimpin perusahaan. Semua orang menunggumu," ucap Handi yang berada di sisi istrinya. Pria itu memberi kode pada istrinya untuk keluar.
Sepeninggal Handi, Syakila berbicara banyak hal pada putranya mengenai apa saja yang terjadi setelah Ibra tidak sadar, kecuali tentang keberadaan Abra tentunya. Ibra hanya diam mendengarkan, sesekali tersenyum melihat bagaimana antusiasnya sang Mama bercerita.
Bukannya Ibra tidak tahu apa pun tentang saudara kembarnya. Meski selama ini dia tertidur, tetapi otak dan pikirannya masih berfungsi. Pria itu tahu semuanya tentang Abra dan yang terjadi. Termasuk Salwa.
Ibra tidak ingin Salwa jatuh cinta pada Abra. Itulah yang membuatnya berusaha keras agar bisa terbangun. Dia tidak ingin apa pun miliknya menjadi milik saudara kembarnya. Dari awal Salwa adalah calon istrinya jadi, wanita itu harus benar-benar menjadi istrinya.
"Ya sudah, Sayang. Kamu istirahat dulu, Mama mau temenin Papa makan siang. Mama keluar dulu, ya?"
Ibra kembali mengedipkan matanya tanda mengiyakan. Syakila pun pergi meninggalkan putranya setelah menaikkan selimut. Meski tidak rela, wanita itu harus pergi karena ada yang perlu dia bicarakan dengan sang suami.
Di lantai satu, Handi mengumpulkan semua asisten rumah tangganya. Pria itu menceritakan siapa selama ini yang mereka anggap Ibra. Beberapa diantaranya ada yang tahu dan ada yang tidak. Handi juga memerintahkan untuk menutup mulut mengenai perkembangan Ibra pada Abra. Semua orang mengangguk saja karena tidak ingin kehilangan pekerjaan.
"Sampai Ibra sembuh total."
"Tapi, itu pasti akan sangat menyakitinya," sahut Syakila. Sebagai seorang ibu, dia tidak tega melihat putranya merasa sedih. Bagaimanapun Abra tetaplah putranya meskipun sudah bertahun-tahun mereka terpisah.
"Sejak kapan kamu peduli padanya? Ingatlah, dia itu anak yang tidak berguna. Dia tidak pernah membuat kita bangga sedikit pun dan selalu membuat masalah."
Syakila tidak lagi berkata apa pun. Dia yakin jika Abra pasti bisa menjaga dirinya. Buktinya sudah lima belas tahun putra sulungnya hidup di luar negeri dengan keadaan baik-baik saja.
*****
Siang hari, Salwa terbangun. Wanita itu melihat sekeliling, ternyata tidak ada Abra di sisinya padahal dia berharap pria itu masih ada di sini. Salwa turun dari ranjang, berniat mencari makan karena perutnya sudah berbunyi meminta diisi.
__ADS_1
"Non Salwa, sudah bangun! Bibi belum buatin bubur," tegur Bik Sumi.
"Siapa yang mau bubur, Bik?" tanya Salwa karena dia sendiri merasa belum mengatakan apa pun.
"Tadi Tuan Ibra bilang suruh buatin bubur buat Non."
"Aku nggak mau bubur, Bik. Aku mau makan ikan gurame yang dibakar terus dikasih sambal yang pedas."
Bik Sumi melongo dibuatnya. Bagaimana bisa orang yang sakit malah ingin makan sambal. Ingin menolak pun rasanya tidak sopan. "Bibi nggak beli ikan, Non. Kan, di rumah nggak ada yang suka. Non juga tumben mau makan ikan, biasanya nggak pernah mau?"
"Nggak tahu lah, Bik. Tiba-tiba pengen aja."
"Tapi di sini nggak ada, Non!"
"Nggak papa, Bik. Aku pesan go food aja." Salwa segera mengutak-atik ponselnya dan memesan makanan yang dia inginkan. Senyum, terus saja menghiasi wajah cantik wanita itu.
"Jangan yang pedas, Non. Ingat! Non Salwa baru sembuh," tegur Bik Sumi, seketika membuat Salwa terdiam.
Hampir saja wanita itu lupa tentang kondisi fisiknya. Untung saja ada Bik Sumi yang mengingatkan. Salwa mengusap perut datarnya yang tertutup meja makan jadi, tidak ada yang melihat gerakannya.
Sekarang bukan hanya tentang keadaan dirinya yang harus diperhatikan, tetapi ada juga calon anaknya. Sebagai seorang ibu, dia ingin yang terbaik untuk buah hati.
Salwa berjanji akan memberikan kasih sayang yang lebih. Dia tidak ingin anaknya merasakan apa yang dirasakan wanita itu. Hidup dengan bergelimang harta, tidak mampu membuatnya bahagia.
.
.
__ADS_1
.