Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
13. Di apartemen Ibra


__ADS_3

Tengah malam, Abra tidak bisa tidur. Tiba-tiba dia merasa lapar. Pria itu pun keluar untuk mencari makanan atau sesuatu lainnya yang bisa dimakan. Namun, saat sampai di lantai satu, Abra terkejut melihat keberadaan Salwa yang sedang tidur di sofa ruang tamu.


"Bukankah tadi dia mengatakan jika di apartemen ini ada dua kamar? Kenapa dia malah tidur di ruang tamu? Apa dia ketiduran di sini?" tanya Abraham dalam hati.


Pria itu pun mendekati Salwa, berniat untuk membawanya ke kamar. Namun, saat akan mengangkatnya, wanita itu membuka mata. Ada perasaan tidak enak yang Abra rasakan karena merasa dirinya sudah lancang menyentuhnya.


"Maaf, aku tadi melihatmu tidur di sini jadi aku berniat untuk membawamu ke kamar," ucap Abra yang tidak ingin Salwa salah paham.


"Ke kamar mana?" tanya Salwa yang sengaja ingin memancing.


"Kamar tamu."


"Bukankah tadi kamu bilang tidak akan menyentuhku?" tanya Salwa menatapnya dengan suara mengejek.


"Tentu saja tidak, aku ingin membawamu ke kamar tamu karena aku pikir di sini tidak nyaman. Aku tidak ada maksud apa-apa. Bukannya tadi kamu mengatakan selama ini jika ke sini, kamu tidur di ruang tamu?"


Salwa menegakkan tubuhnya dan bersandar pada sofa kemudian menjawab, "Aku tidak pernah lagi tidur di sana. Kamar itu pernah dipakai Ibra bermain dengan wanitanya. Aku tidak sudi tidur di tempat itu."


Abra menganggukkan kepala. Pria itu mengerti bagaimana perasaan Salwa. Kalau dirinya berada di posisi wanita itu pun, dia akan melakukan hal yang sama. Abra memilih duduk di sampingnya. Akan tetapi, yang tidak pria itu habis pikir, kenapa Salwa masih mau menginjakkan kakinya ke sini.


"Kamu sendiri, kenapa belum tidur?" tanya Salwa.


"Aku tidak bisa tidur. Tiba-tiba aku jadi lapar."


Salwa berpikir sejenak mengingat di rumah ini ada makanan apa. "Tapi di sini tidak ada makanan, hanya ada mie instan. Apa kamu mau?"


"Boleh, apa saja daripada aku kelaparan."


"Baiklah, tunggu sebentar. Biar aku buatkan."


Salwa berlalu menuju dapur. Dia membuatkan Abra mi instan karena hanya itu yang ada di sana. Wanita itu mencoba mencari makanan lainnya. Namun, tidak ada sedikit pun.


"Aw!" teriakan Salwa mengundang perhatian Abra yang ada di ruang tamu. Pria itu segera berlari menuju dapur, takut jika terjadi sesuatu pada tunangan saudaranya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kamu berteriak?" tanya Abra dengan wajah khawatir.


"Tidak apa-apa, hanya nggak sengaja kesiram air," jawab Salwa sambil menyembunyikan tangan di belakang tubuhnya.


"Kesiram air panas?" tanya Abra yang diangguki oleh Salwa. "Coba lihat!"


Abra menadahkan tangannya berharap Salwa mau manunjukkan lukanya, tetapi wanita itu menolak keinginan pria yang ada dihadapannya. Abra pun memaksa dan menarik lengan Salwa.


"Bagaimana bisa kamu bilang tidak apa-apa! Kulit kamu pasti melepuh kalau tidak diobati. Kamu lihat! Ini sudah memerah. Di sini ada obat nggak?"


"Ada di sebelah sana," tunjuk Salwa pada sebuah lemari.


Abraham mengambilnya dan meminta Salwa untuk duduk di kursi ruang makan. Dia mengoleskan salep dengan telaten ke tangan wanita itu. Salwa hanya diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria itu. Matanya berkaca-kaca. Dia terharu dengan perhatian yang diberikan Abra.


Selama ini tidak ada yang benar-benar menyayanginya, apalagi perhatian padanya. Bahkan jika ada orang yang berbuat baik, itu hanya kepalsuan mereka karena ada sesuatu yang diincar. Entahlah apa yang dikejar.


"Lain kali hati-hati. Kenapa kamu ceroboh sekali? Untung saja cuma tangan kamu, bagaimana kalau tubuh kamu yang tersiram," gerutu Abra tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatannya yang mengolesi tangan Salwa.


Pria yang ada di depannya dan Ibra memang memiliki wajah yang sama, tetapi tetap ada yang membedakan mereka. Jika dilihat sekilas tidak ada yang membedakan keduanya, tetapi jika dilihat dengan saksama, akan ada perbedaannya. Alis Abra lebih tebal dari Ibra. Begitupun dengan hidung Abra juga lebih mancung dari Ibra.


Abra mendongakkan kepalanya dan menatap Salwa karena tak kunjung mendapat respon dari wanita itu. Padahal biasanya dia wanita yang cerewet. Pandangan mereka bertemu, ada sesuatu dalam diri mereka yang ingin memberontak, tetapi entah itu perasaan apa.


Tanpa sadar wajah Abra dan Salwa saling mendekat jarak mereka hanya tinggal satu senti. Keduanya saling mengagumi satu sama lain, entah itu dari segi fisik maupun kepribadian masing-masing. Tiba-tiba Abraham tersadar dan menjauhkan wajahnya.


Keduanya salah tingkah dibuatnya. Wajah mereka pun memerah, entah karena malu atau karena suhu tubuh yang memanas. Salwa merutuki dirinya karena dia terlihat seperti wanita gampangan, yang dengan mudahnya menyerah pada pria. Namun, hati kecilnya mengatakan untuk tetap melanjutkannya.


"Kamu sudah tidak apa-apa, kan?" tanya Abra, dia berusaha menetralkan suaranya yang sedang gugup. Sungguh tidak nyaman berada diposisi sekarang ini.


"Sudah tidak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri."


"Sudahlah, tidak usah membuat mie instan. Aku bisa menahan lapar hingga pagi."


"Maaf, karena aku kamu jadi kelaparan," sesal Salea.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, santai saja. Bagaimana kalau kamu tidur saja di kamar Ibra. Biar aku yang tidur di ruang tamu."


"Tidak perlu, aku juga sudah tidak mengantuk," sahut Salwa


Keduanya terdiam. Mereka bingung harus berkata apa. Suasana tiba-tiba terasa canggung bagi keduanya. Bibir Salwa pun seolah terkunci rapat padahal biasanya ada saja bahan pembicaraan darinya.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan," tawar Abra mencoba mencairkan suasana. Jujur dia tidak suka melihat Salwa yang jadi pendiam. Pria itu lebih suka kecerewetan dan sikap sok tahunya.


"Jalan-jalan? Ini masih tengah malam menjelang pagi. Mana ada jalan-jalan jam segini."


"Justru itu, kita yang membuat sejarah baru, jalan-jalan di tengah malam," ujar Abra membuat Salwa terkekeh.


Salwa tidak menyangka jika tawaran Abra mampu membuat suasana menjadi lebih baik. Namun, tawaran itu tidak buruk juga. Hitung-hitung sambil menunggu fajar.


"Boleh juga, memang kamu ngajak jalan-jalan ke mana?"


"Jalan di taman atau jalan-jalan di trotoar juga boleh."


Salwa tertawa mendengarnya. "Emang dasar kamu nggak mau modal. Masa ngajak jalan-jalan di trotoar? Yang bener saja?"


"Justru tempat itu lebih asyik, banyak penjual makanan dan penjual lainnya," ucap Abra beralasan.


"Iya, kalau siang atau malam hari. Sekarang ini tengah malam bahkan hampir pagi. Mana ada penjual."


"Kita lihat saja nanti."


"Baiklah, ayo, kita pergi! Aku ambil tas. Nanti kita langsung pulang saja tidak perlu kembali ke sini," ujar Salwa yang diangguki Abra. Mereka keluar dari apartemen dengan beriringan. Keduanya tidak sungkan lagi satu sama lain.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2