
"Ke mana saja kamu semalaman? Siapa yang sudah membawamu pergi dari rumah Nando? Kenapa tidak memberi kabar? Kamu sudah membuat masalah di rumah Nando dan membuatnya masuk rumah sakit. Tidakkah kamu merasa bersalah?" cecar Anton saat melihat kedatangan Salwa.
Wanita itu hanya menatap sinis pada papanya. Bukannya bertanya bagaimana keadaannya, ini malam mengintrogasi panjang lebar. Niatnya pulang untuk menenangkan pikiran dan hati, justru malah semakin menambah beban. Tidak adakah yang peduli padanya sedikit saja?
"Aku tidak kemana-mana. Ada orang baik yang menolong saat Nando ingin melecehkanku. Tidakkah Papa berpikir, bagaimana jika Ibra tahu apa yang terjadi semalam? Apa Papa tidak takut jika Ibra akan menarik investasinya?"
"Itu tidak akan terjadi selama kamu tidak membuka mulutmu."
"Terserah Papa saja. Aku ingin istirahat."
"Kamu belum jawab pertanyaanku. ke mana saja kam—"
"Untuk kali ini, aku tidak ingin ada perdebatan. Biarkan aku istirahat, aku benar-benar lelah dengan semua yang terjadi dalam hidupku. Sekali lagi, untuk hari ini aku harap, Papa, mengerti. Aku mohon bebaskan aku dari pertanyaan itu. Biarkan aku istirahat."
Tanpa menunggu jawaban dari papanya Salwa menuju ke kamar. Dia menutup pintu dan menguncinya. Tubuhnya luruh di balik pintu itu. Entah bagaimana dirinya akan menghadapi kehidupan yang akan datang. Mungkin selamanya wanita itu akan terkurung dalam sangkar emas ini.
Harapan yang sebelumnya yang Salwa gantungkan pada Abra, kini lenyap begitu saja. Pria itu sama sekali tidak ingin membawanya. Lebih menyakitkan lagi, Abra tidak ada perasaan padanya. Padahal hati Salwa sudah terikat pada pria itu
Mengenai Ibra, wanita itu akan mencoba menerima takdirnya. Mungkin memang nasibnya harus berakhir dengan pria itu. Namun, apa mungkin tunangannya akan menerima dirinya yang sudah tidak suci lagi? Biarlah waktu yang akan menjawab. Salwa sudah pasrah akan hidupnya.
*****
Sementara di apartemen, Abra mencari keberadaan Salwa. Semua tempat sudah dia periksa. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu.
"Maaf, Tuan. Anda mencari nona tadi?" tanya Rio—anak buah Abra.
"Iya, kamu tahu di mana dia?"
"Tadi dia pamit, katanya mau pulang."
"Pulang sama siapa?"
"Saya kurang tahu, Tuan. Mungkin naik taksi."
__ADS_1
"Naik taksi bagaimana? Dia nggak ada uang sama sekali. Apa dia meminta padamu?"
Abra mengusap wajahnya kasar. Tidak bisakah Salwa menunggunya untuk mengantar? Dia hanya mandi sebentar, tetapi wanita itu sudah pergi.
"Tidak, tadi dia langsung pergi setelah berbicara denganku."
"Dia bicara apa saja?"
"Dia cuma bilang, suruh sampaikan terima kasih kepada Anda karena sudah menolongnya."
"Tidak ada yang lain?"
"Tidak ada, Tuan."
Abra semakin merasa bersalah. Seharusnya dia yang mengantar Salwa pulang karena pria itu yang membawanya ke sini. Apa mungkin wanita itu merasa terluka karena dirinya menolak untuk membawanya pergi? Bagaimanapun Abra sudah mengambil kehormatan Salwa, tetapi jika dipikirkan lagi, kalau dia membawa wanita itu pergi, maka hidupnya tidak akan tenang.
Pria itu sangat tahu bagaimana keluarganya yang selalu mengedepankan Ibra. Sedangkan Salwa adalah wanita yang paling saudaranya cintai. Abra berpikir mungkin selama ini wanita-wanita yang dikencani oleh Ibra hanyalah untuk mengusir kesepian saja. Semoga nanti setelah menikah dengan tunangannya, kebiasaan itu akan berhenti.
Abra yakin, jika Ibra mencintai Salwa, maka dia akan menerima semua kekurangan dari wanita itu. Termasuk keadaan wanita itu yang sudah tidak suci lagi. Di lubuk hatinya yang paling dalam ada perasaan tidak rela. Namun, segera ditepisnya. Sudah cukup, pria itu tidak ingin bermasalah dengan keluarganya.
"Belum, Tuan, tapi sejauh yang saya lihat sepertinya pelaku adalah orang terdekat Tuan Ibra karena obat yang diminumkan itu tidak cukup untuk diminum sekali. Perlu berkali-kali agar obat itu merasuk ke dalam tubuh dan bereaksi. Jika hanya satu atau dua kali mungkin efeknya hanya tertidur satu malam penuh.
"Apa kamu yakin dengan penemuan itu?"
"Sangat yakin karena saya juga pernah menangani kasus seperti ini."
"Apa kamu tahu penawarnya?"
"Tidak, Tuan," jawab Rio dengan menundukkan kepalanya. "Saya juga sudah mencoba menghubungi klien saya sebelumnya, tapi dia bilang pelakunya dulu sudah meninggal jadi, mereka juga tidak tahu."
"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu. Aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Abra segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Rio. Pikirannya saat ini tertuju pada Salwa. Dia ingin memastikan, apakah wanita itu sudah sampai atau belum. Berkali-kali pria itu menghubungi ponselnya. Namun, tidak ada yang mengangkat satu kali pun.
Akhirnya Abra memutuskan untuk melakukan panggilan ke nomor Anton. Mungkin dia bisa mendapat jawaban dari papa Salwa. Hanya dalam deringan yang kedua kali, panggilannya sudah diangkat.
"Halo, selamat pagi, Ibra. Pagi sekali, ada apa?" tanya Anton yang berada di seberang telepon.
"Selamat pagi, Om. Saya mau tanya, apa Salwa ada di rumah? Dari tadi saya mencoba menghubunginya, tapi tidak diangkat," ujar Abra yang berusaha biasa-biasa saja. Dia tidak ingin Anton mencurigai sesuatu.
"Tadi ada di rumah. Mungkin dia tidak pegang ponselnya."
"Oh gitu, syukurlah kalau tidak apa-apa. Aku tadi khawatir padanya, tidak biasanya dia mengabaikan panggilanku. Baiklah kalau begitu, nanti saja aku coba hubungi dia lagi," ujar Abra. "Oh ya, mengenai proyek yang baru, bagaimana kelanjutannya?"
"Semuanya berjalan dengan lancar. Kamu jangan khawatir, nanti biar sekretaris saya yang akan menghubungi sekretaris kamu," jawab Anton dengan sedikit gugup.
"Saya tunggu, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar."
"Tentu saja, kamu jangan khawatir."
"Baiklah kalau begitu, saya tutup dulu. Terima kasih."
Abra menutup panggilannya. Dia merasa lega karena Salwa sudah sampai di rumah dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin wanita itu masih tidur, mengingat semalam keduanya hanya tidur sebentar setelah kegiatan mereka. Pria itu pun menaiki mobil menuju perusahaan.
Hari ini ada sesuatu yang harus Abra periksa di ruangan kerja Ibra. Lebih tepatnya di ruang rahasia yang pernah dilihatnya. Dia ingin tahu apa saja yang ada di sana. Kemarin pria itu belum sempat menelitinya satu persatu. Mungkin ada satu petunjuk yang didapatkannya nanti.
Tidak berapa lama akhirnya Abra sampai juga di perusahaan. Semua orang menunduk dengan hormat saat dia melewati loby. Para wanita pun tersenyum manis, mencoba merayu sang pemilik perusahaan. Namun, Abra sama sekali tidak menggubrisnya. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Selamat pagi, Pak," sapa Sisca yang berada di depan ruangan Ibra.
Abra melewatinya tanpa mengucapkan satu kata pun. Sisca merasa aneh dengan atasannya. Namun, dia tidak berani menegur. Sepertinya pria itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Lebih baik menunggunya memanggil, toh hari ini tidak ada jadwal.
.
.
__ADS_1
.