Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
27. Calon anak kita


__ADS_3

Salwa merasa terharu. Dia tidak menyangka bahwa Abra akan mengungkapkan isi hati padanya jadi, cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Wanita itu segera memeluknya dengan erat. dia benar-benar bahagia setelah mendengar pengakuan cinta dari Abraham.


"Aku juga mencintaimu. Apa pun keadaannya nanti, aku akan berusaha agar kita bisa bersama-sama. Aku hanya ingin bahagia bersamamu," bisik Salwa.


Abra pun membalas pelukan Salwa. Dia juga senang karena Salwa juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Kini hanya tinggal memikirkan bagaimana cara menghadapi dua keluarga. Untuk keluarganya sendiri, pria itu tidak yakin. Jika ayah Salwa, Abra bisa mengusahakan.


Asal ada uang, Anton bisa dikendalikan, tetapi keluarganya? Dia tidak yakin akan hal itu. Bisa saja pria itu menggunakan kekuasaan yang pria itu miliki, tetapi Abra tidak mau menyakiti keluarganya. Meski kedua orang tuanya tidak pernah menganggap keberadaannya, dia tetap anak kandung mereka.


"Baiklah, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke dokter kandungan dan memeriksa keadaanmu. Apakah kamu benar hamil atau tidak. Aku ingin anak kita tidak kekurangan apa pun, seandainya dia benar ada di sini," ucap Abra sambil mengusap perut rata Salwa.


"Apa tidak bisa diperiksa di sini saja? Aku takut jika kita periksa di rumah sakit besar, akan ada orang yang melihat dan nanti akan semakin mempersulit rencana kita. Kita belum merencanakan apa pun untuk kedepannya. Aku tidak ingin mereka melakukan sesuatu pada calon anak kita."


Abra berpikir sejenak, benar apa yang dikatakan Salwa. Itu akan menjadi masalah besar nantinya. Meskipun mereka bisa menutupi wajah dengan masker, tetapi menghindari masalah lebih baik.


"Iya, kamu benar lalu, bagaimana kita bisa tahu kalau di perut kamu ada anak kita?"


"Tanya dokter tadi saja."


"Iya, sebentar aku panggilkan dulu." Abra pun segera memanggilkan dokter yang ada di sana. Untung saja dokter tadi tidak sedang memeriksa pasien jadi, dia bisa segera datang.


"Selamat siang, Bu! Apa ada keluhan yang Anda rasakan?" tanya dokter itu dengan senyum ramah.


"Tidak ada, Dokter. Apa pemeriksaan untuk mengetahui jika istri saya sedang hamil bisa dilakukan di sini saja? Dia bilang terlalu lelah kalau harus pergi ke rumah sakit," tanya Abraham beralasan.


Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Wajah Salwa memerah karena malu, setelah mendengar Abra berkata jika dia adalah istrinya. Wanita itu jadi tidak sabar untuk segera menjadi istrinya. Dia membayangkan betapa bahagianya bisa hidup bersama dan menjadi istri Abra.


"Bisa saja, Pak. Seperti yang sebelumnya saya katakan jika Ibu bisa melakukan tes urine. Tadi saya menyarankan ke dokter kandungan agar lebih yakin saja."


"Kita tes urine saja, Dok. Nanti jika memang benar hasilnya positif, baru kita periksa ke dokter kandungan. Kami tidak ingin kecewa saja," sahut Abra.


"Baiklah, Ibu, bisa ke kamar mandi? Ibu, silakan buang air kecil, nanti ditampung di sini, ya! Kalau tidak bisa turun, biar perawat yang bantu buang air di sini saja," ucap dokter tersebut sambil menyerahkan gelas kecil.

__ADS_1


"Bisa, Dok." Salwa mencoba bangun dari tidurnya. Abra segera membantu wanita itu.


"Aku bantu," ucap Abra sambil membawa tiang infus dan memapah Salwa. Keadaan wanita itu belum sehat benar jadi, dia khawatir nanti terjatuh.


"Sebaiknya kamu keluar, aku tidak enak kalau kamu ada di sini!" pinta Salwa.


"Memangnya kenapa? Aku hanya khawatir Jika kamu jatuh."


"Tapi itu tidak baik. Kita belum halal jadi, tolong sebaiknya kamu keluar."


"Aku khawatir sama kamu. Bagaimana kalau aku berbalik saja. Aku tidak bisa meninggalkan kamu."


"Baiklah, lebih baik seperti itu." Walaupun kesusahan, Salwa berusaha untuk melakukan sendiri. Dia tidak ingin Abraham melihatnya. Bagaimanapun mereka belum halal meski sebelumnya mereka sama-sama pernah berbagi peluh.


Setelah selesai, keduanya kembali ke kamar dan menyerahkan urine tadi kepada dokter. Dokter itu meminta mereka menunggu sebentar. Abra membantu Salwa untuk kembali tidur di atas ranjang, mengingat tubuh wanita itu yang masih lemas. Dia benar-benar perhatian pada kekasihnya.


Tentu saja Salwa merasa bahagia diperlakukan seperti itu. Ini pertama kalinya dia merasa dicintai. Apalagi yang melakukan itu adalah orang yang paling wanita itu cintai. Salwa berharap cinta mereka akan semakin tumbuh setiap harinya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Abra.


"Sepertinya kita juga sehati. Berhari-hari aku juga menunggumu di depan rumah. Berharap bisa melihat wajahmu, tapi kamu sama sekali tidak penampakan diri. Kenapa kamu tidak keluar rumah?"


"Jadi kamu setiap hari nunggu di luar rumah?"


"Tidak setiap hari juga. Ada berapa kali di saat ada waktu senggang."


"Aku memang tidak pernah keluar. Papa melarangku ke mana-mana. Kalau aku keluar, harus atas izinnya dan ada orang yang akan mengawasiku."


"Aku akan berusaha membuatmu bisa keluar dari rumah itu. Kita nanti bisa bersama-sama selamanya. Kamu mau, kan, ikut bersamaku tinggal di luar negeri? Di rumahku yang sesungguhnya."


"Kalau kita sudah sah, aku akan ikut ke mana pun kamu pergi.

__ADS_1


"Sah? Apa aku harus menikah denganmu dulu, baru bisa membawamu pergi?"


"Tentu saja, kamu tahu, kan, dalam agama kita melarang wanita dan laki-laki tinggal satu rumah, kecuali mereka sudah sah."


"Itu akan menyulitkan kita. Apalagi kalau aku menikah denganmu, aku harus menggunakan nama Abra jika ingin pernikahan itu sah. Hal yang sulit kita dapatkan."


"Kita akan bersama-sama melewati setiap ujian itu. Cukup restu dari papa, kita bisa menikah."


"Akan aku usahakan, demi kamu dan calon anak kita."


"Apa kamu yakin kalau aku sedang mengandung? Aku sendiri belum begitu percaya."


Abra mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Aku tiba-tiba saja percaya Jika di dalam perut kamu ada calon anak kita."


"Permisi, Bapak, Ibu," ucap dokter.


"Iya, Dok." Keduanya menunggu dokter mengatakan hasil tes yang didapatkan.


"Ini hasilnya, Selamat hasilnya positif," ucap dokter tersebut dengan tersenyum sambil menyerahkan hasil urine tadi.


"Jadi istri saya benar-benar hamil?" tanya Abra meyakinkan.


"Iya, benar, Pak. Saya menyarankan agar bapak segera membawa Ibu periksa ke dokter kandungan agar bisa diperiksa secara menyeluruh. Sekarang saya hanya bisa memberikan vitamin saja. Ini bisa mengembalikan tenaga ibu. Kalau nanti sulit untuk makan nasi mungkin bisa makan bubur atau roti. Setidaknya jangan biarkan perutnya kosong. Ibu, kan, sudah ada janin jadi, Ibu juga harus menjaga kesehatan. Jaga pola makan juga. Jangan memakan makanan yang masih mentah ataupun setengah matang."


"Iya, Dok. Terima kasih atas nasihatnya. Saya akan menjaga istri saya dengan baik," sahut Abra.


"Ini vitaminnya, Pak. Anda bisa membawa Ibu pulang setelah cairan infusnya habis," ucap Dokter itu dengan tersenyum.


"Terima kasih, Dok."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2