Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
16. Liona


__ADS_3

Salwa kini duduk di sofa ruangan Abra. Dia hanya membaca koran dan majalah yang tersedia di sana. Sesekali melirik pria yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Gadis itu sebenarnya sedang tidak fokus pada apa yang dibacanya karena niatnya datang ke sini, hanya untuk melihat kesibukan Abra.


"Kalau kamu bosan, kamu bisa pulang. Nanti aku akan suruh sopir buat mengantarmu," ucap Abra tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas yang ada di depannya.


"Siapa bilang aku bosan? Aku sama sekali tidak bosan. Malah aku senang bisa selalu melihat wajahmu," ucap Salwa sambil berjalan menuju meja Abra.


Gadis itu duduk di depan meja pria itu dengan sengaja dia menatap Abra. Pria itu pun dibuat salah tingkah olehnya. Padahal selama ini banyak wanita yang menatapnya dengan pandangan memuja, tetapi entah kenapa saat Salwa yang menatapnya, ada rasa gugup yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya.


Salwa yang melihat itu pun tersenyum. Dia tidak menyangka jika pria seperti Abra juga bisa salah tingkah.


"Sebentar lagi waktu makan siang. Kamu mau makan di sini atau makan di luar bersamaku?" tanya Salwa.


"Aku masih banyak pekerjaan, kalau kamu ingin makan di luar, silakan saja," jawab Abra.


"Mana bisa seperti itu. Aku ingin makan sama kamu," sahut Salwa dengan cemberut. "Baiklah, lebih baik kita pesan makanan saja dan makan di sini."


Salwa pun memainkan ponsel dan memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah selesai, gadis itu kembali ke sofa di mana tadi dia membaca majalah. Salwa memainkan ponsel di sana sambil membaringkan tubuhnya, hingga tanpa sadar dia pun tertidur.


Abra yang sudah selesai dengan pekerjaannya pun mencoba melihat apa yang dilakukan Salea. Seketika dia tersenyum melihat gadis itu tertidur.


"Pasti dia kebosanan hingga tanpa sadar dia tertidur," gumam Abra. Pria itu pun berjalan menuju sofa dan menyelimuti Gadis itu dengan jas miliknya. Ditatap wajah Salwa yang tengah terlelap. "Dia memang gadis yang cantik."


Abra mengakui hal itu, dia yakin jika selain Ibra, pasti banyak yang menyukainya. Pria itu tersenyum memandangi wajah Gadis yang tengah terlelap itu. Seketika Abra menggelengkan kepalanya dengan cepat karena teringat peringatan yang sudah diberikan oleh papanya.


Pintu ruangan diketuk oleh seseorang dari luar. Abra pun memintanya untuk segera masuk. Ternyata Romi yang membawakan pesanan makanan yang dipesan oleh Salwa tadi. Dia pun meminta asistennya meletakkan makanan itu di atas meja dan memintanya pergi.


"Salwa," panggil Abra dengan menepuk pundak gadis itu. Namun, tidak ada pergerakan sedikit pun dari Salwa.

__ADS_1


"Salwa," panggilnya lagi. Kali ini disertai guncangan sedikit pada tubuhnya dan akhirnya berhasil. Salwa membuka mata dan bangun.


"Makanannya sudah datang?" tanya gadis itu setelah menguap.


"Iya," jawab Abra. "Makanlah. Bukankah tadi kamu bilang lapar?"


"Iya. Aku cuci muka dulu." Salwa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu kembali ke sofa dan menikmati makan siangnya.


Abra menatap gadis yang ada di depannya. Namun, Salwa sepertinya sedang acuh. Pria itu merasa ada sesuatu yang aneh, tetapi dia tidak ingin bertanya. Abra yakin jika nanti gadis itu pasti akan bercerita dengan sendirinya.


Setelah selesai menghabiskan makan siangnya, Salwa membereskan sisa-sisa makanan. Gadis itu bersiap untuk pergi dari sana. Sepertinya sudah cukup untuk hari ini mengganggu Abra. Dia yakin jika pria itu juga masih banyak pekerjaan.


"Aku pulang dulu, ya! Terima kasih atas waktunya dan terima kasih sudah mengizinkanku di sini," ucap Salwa seraya mengambil tasnya yang ada di meja.


"Kamu mau pulang? Biar sopir perusahaan yang mengantarmu," sela Abra. Padahal dia sebenarnya masih ingin berbincang dengan Salwa.


"Tidak perlu, sopirku sudah ada di bawah. Tadi aku sudah mengirimkannya pesan. Aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum."


Salwa pergi setelah mencium punggung tangan Abra. Seketika membuat pria itu membeku karena baru kali ini dia diperlakukan seperti itu. Abra merasa dihormati. Namun, perasaan itu segera ditepisnya. Dia tidak ingin terlalu terlena dengan keadaan ini.


Pria itu mencari ponselnya yang ada di dalam saku. Abra perlu menghubungi orang kepercayaannya yang ada di luar negeri dan memastikan pekerjaannya segera selesai di sini. Meski ada sesuatu yang mengganjal, dia mencoba menghibur diri jika itu hanya perasaannya saja.


Abra tidak ingin terlarut dengan perasaannya terhadap Salwa. Pria itu mulai sadar jika dirinya mulai ada perasaan terhadap gadis itu. Itulah kenapa dia ingin segera menemukan pelaku dan pergi dari sini. Abra tidak ingin membuat masalah dengan keluarganya lagi. Mengenai perasaannya, pria itu yakin bisa menghilangkannya seiring berjalannya waktu.


"Halo, Tuan," ucap seseorang dibalik telepon.


"Apa kamu sudah mengirim orang yang aku minta?"

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Dia sedang ada dalam perjalanan mungkin besok dia sampai di tempat tujuan."


"Baguslah, kalau dia sampai, suruh ke tempat yang sudah aku kirimkan alamatnya. Nanti aku akan menemuinya di sana."


Abra segera menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari seberang. Pria itu menuju meja kerja, dia ingin melanjutkan pekerjaannya agar besok bisa bebas. Abra perlu bertemu dengan orang kepercayaannya untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi.


Pintu ruangan kembali diketuk. Abra meminta orang tersebut untuk masuk. Terlihat Pak Bima yang masuk bersama dengan seorang wanita yang masih terlihat muda. Abra tidak tahu siapa dia karena baru kali ini keduanya bertemu. Di sini juga tidak ada Romi yang bisa menjelaskan.


"Selamat siang, Tuan Ibra. Apa kabar?" sapa wanita itu yang langsung duduk di pangkuan Ibra.


Abra tidak terkejut lagi dengan apa yang dilakukan wanita-wanita yang ada di dekat Ibra. Dia terlihat biasa saja. Lebih tepatnya berusaha biasa saja karena sesungguhnya pria itu sudah tidak nyaman.


"Tuan Ibra ke mana saja? Sudah lama tidak bertemu. Apa tidak kangen denganku?" tanya wanita itu sambil menempelkan tubuhnya ke tubuh Abra. Tentu saja pria itu semakin muak dengan wanita ini, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti permainan orang-orang di sampingnya.


"Maaf, Tuan Ibra. Saya sudah berkali-kali memberi Liona pengertian agar lebih sabar menunggu Anda, tapi sepertinya putriku sudah sangat merindukan Anda karena itu dia memaksa saya agar membawanya ke perusahaan. Anda tahu sendiri bagaimana dia," ujar Bima.


Abra sekarang tahu siapa wanita yang ada di pangkuannya. Ternyata dia adalah anak dari Bima. Sungguh sangat menjijikkan. Bagaimana bisa, ada seorang ayah yang terlihat biasa saja saat putrinya merendahkan diri di depan seorang pria. Abra jadi curiga, apakah kehadiran putrinya ini yang menjadi penyokong jabatan pria itu? Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ibra, bagaimana bisa mempertaruhkan perusahaan hanya karena wanita seperti ini?


"Bagaimana, Tuan Ibra? Apa Anda tidak merindukanku? Bagaimana kalau kita main sebentar di ruangan pribadi Anda. Aku sangat siap untuk itu atau bahkan melakukannya di meja ini juga boleh. Papa bisa pergi sebentar dengan berpura-pura membeli sesuatu," bujuk Liona dengan nada dibuat semanja mungkin.


"Oh, tidak perlu. Saat ini aku sedang banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lain kali saja kita bermain-main," sahut Abra dengan senyum palsu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2