Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
68. Rasa Cinta


__ADS_3

“Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur,” tegur Maysa.


“Iya,” jawab Abra yang kemudian menutup buku dan mematikan ponselnya. Pria itu masih berdiam diri di kursi rodanya, membuat Salwa kesal.


“Kenapa masih diam saja? Tidurlah!”


Salwa menyadari jika Abra pasti kesulitan untuk naik ke ranjang. Dia memukul keningnya sendiri karena melupakan hal itu. Wanita itu turun dari ranjang dan mendekati sang suami.


“Ayo, aku bantu naik ke atas ranjang!”


“Aku boleh tidur di sana?”


“Tentu saja boleh. Memang kamu mau tidur di mana? Bagaimanapun kita tetap suami istri.”


Salwa mendorong kursi roda Abra dan membantunya naik ke atas ranjang. Meski kesulitan, wanita itu tetap berusaha dan akhirnya berhasil. Berdekatan dengan sang istri membuat jantung pria itu berdetak lebih cepat. Salwa tidur di sisi yang lain. Dalam satu ranjang kembali dengan Abra, juga membuat wanita itu merasa gugup sekali.


****


“Astaghfirullah!”


Salwa terkejut karena terbangun kesiangan, dia sampai melewatkan sholat subuh. Di sebelahnya juga sudah kosong. Ini karena semalam wanita itu sulit untuk tidur. Berada dalam satu ranjang dengan Abra membuatnya gelisah.


Samar-samar Salwa mendengar suara orang sedang berbicara, wanita itu pun mencarinya. Ternyata dari taman samping rumah. Di sana ada Abra yang sedang belajar berjalan dengan di dampingi Roni. Salwa mengintip dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua.


Beberapa kali Abra terjatuh, tetapi pria itu tidak menyerah. Dia tetap berusaha agar secepatnya bisa berjalan. Salwa bisa melihat usaha keras sang suami.


“Bos, untuk saat ini belajarnya sudah cukup. Anda harus istirahat,” ucap Roni. Dia bisa melihat jika Abra kali ini cukup keras dalam berusaha. Bahkan terkesan memaksa.


“Aku tidak bisa istirahat di saat seperti ini. Bagaimana bisa aku menggapai Salwa kalau aku seperti ini? Aku ingin menjadi pelindungnya, bukan sebaliknya. Aku sudah lelah duduk di kursi ini. Kaki ini memang sial*n.”

__ADS_1


Abra memukuli kakinya beberapa kali. Roni berusaha melarangnya, tetapi atasannya tidak peduli dan terus memukulinya. Bahkan pria itu mendorong asistennya agar menjauh. Hingga sebuah pelukan menghentikan aksinya siapa lagi kalau bukan Salwa.


Wanita itu merasa sedih dengan apa yang dilakukan sang suami. Dia bisa melihat rasa frustrasi yang dirasakan oleh Abra. Salwa jadi merasa bersalah karena sudah marah pada pria itu. Seharusnya dia mengerti bagaimana kejiwaan Abraham saat mengetahui jika dirinya tidak bisa berjalan.


“Jangan sakiti dirimu. Itu sama saja dengan kamu menyakitiku," bisik Salwa saat memeluk sang suami.


“Aku tidak berguna, benar-benar tidak berguna. Kamu berhak bahagia, aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa,” gumam Abra.


“Tidak, kebahagiaanku hanya bersama denganmu. Tidak ada yang bisa membahagiakanku selain keberadaanmu di sisiku. Maaf, sebelumnya aku sudah mengatakan sesuatu yang menyakitimu. Aku hanya ingin kamu bisa merasakan bagaimana perasaanku selama ini. Yang selalu mengharapkan kehadiranmu, tapi kamu malah menghindariku. Maafkan Aku.”


“Tidak, kamu tidak salah. Aku memang seharusnya datang menemuimu dalam keadaan apa pun, tapi aku malah bersembunyi dan menjadi pria pengecut. Maafkan aku.”


“Berjanjilah kalau kamu akan berusaha dan jangan pernah menyerah, tapi bukan berarti kamu terus berusaha tanpa mengenal waktu.”


“Nyonya, sebaiknya Bos Abra juga ikut daftar terapi di rumah sakit. Selama ini dokter sudah menyarankan, tetapi Bos Abra malah menolaknya,” sela Roni yang sedari tadi memperhatikan kedua atasannya.


“Kamu nggak pernah ikut terapi, Mas?” tanya Salwa dengan memicingkan matanya ke arah sang suami.


Abra justru melirik ke arah Roni dengan tajam. Semua ini karena asistennya itu. Pria itu pun hanya diam saja, tanpa merasa takut sedikit pun karena menurutnya apa yang dikatakan hanya demi kebaikan atasannya.


“Roni, tolong cari rumah sakit terbaik untuk mendaftar terapi,” ucap Salwa yang tidak ingin dibantah.


“Baik, Nyonya.”


“Sayang, itu tidak perlu," sela Abra.


“Pokoknya mulai hari ini kamu harus nurut sama aku. Tidak ada tapi-tapian dan tidak boleh membantah.” Abraham tidak berkata apa-apa lagi dan hanya bisa mengangguk.


Sejak hari itu, setiap dua hari sekali Abra akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan terapi. Salwa selalu menemani sang suami. Namun, wanita itu hanya duduk saja, itu karena permintaan Abra. Pria itu tidak ingin sang istri lelah. Selama terapi, Abra dibantu oleh seorang dokter dan juga perawat. Roni juga ikut serta di sekitar atasannya. Usai menjalani terapi, Salwa sebuah mengajak Abraham pergi ke sebuah tempat yang sebelumnya dia datangi saat merasa sedih.

__ADS_1


“Kenapa kamu mengajakku ke sini?” tanya Abraham saat melihat sekeliling. Di sana hanya ada area persawahan.


“Biasanya kalau aku sedih selalu ke sini, untuk menumpahkan segala kesedihanku. Sekarang aku hanya berharap bahwa tidak ada lagi kesedihan dalam keluarga kita. Apa pun yang akan terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama. Jangan pernah lari saat kita sedang ada masalah. Kita harus menyelesaikannya sama-sama.”


“Iya, Sayang. Maafkan aku sudah pernah menyakitimu. Mulai hari ini, aku berjanji akan selalu mendampingimu dalam keadaan apa pun. Apalagi sekarang sudah ada malaikat yang harus kita jaga," ucap Abra sambil mengusap perut istrinya yang buncit.


“Terima kasih, Mas. Kita pasti bisa melewati semua ini bersama-sama dan satu lagi. Aku ingin kamu menceritakan apa yang terjadi padamu hingga kamu bisa sampai seperti ini.”


Awalnya Abra tidak mau menceritakannya, tetapi atas paksaan Salwa, pria itu pun mulai bercerita apa yang terjadi padanya dan Lukas saat menyerang musuh. Wanita itu sampai meneteskan air mata kala mendengar perjuangan sang suami. Begitu besarnya perjuangan Abra untuk bertahan hidup, tetapi dirinya malah menyakiti hati pria itu.


“Kamu tenang saja, aku sudah terbebas dari kelompok itu. Aku tidak akan lagi terikat dengan mereka. Seperti yang aku katakan kemarin," ucap Abra dengan tersenyum.


“Aku senang mendengarnya karena aku juga ingin kehidupan yang tenang bersamamu. Apalagi sudah ada anak kita. Aku tidak ingin dia tahu apa saja yang dilakukan ayahnya, hingga harus mempertaruhkan nyawanya.”


“Kamu tenang saja, itu tidak akan terjadi.”


Keduanya saling menumpahkan perasaan masing-masing di tempat ini. Rasa yang ada dalam hati mereka, perasaan cinta dan kasih sayang yang tidak akan pernah mereka bagikan kepada orang lain. Mereka hanya ingin kebahagiaan dalam rumah tangga. Rumah tangga yang sederhana dan kaya akan cinta.


"Apa kamu sudah memiliki nama untuk anak kita?" tanya Salwa dengan menatap wajah sang suami.


Pandangan keduanya pun bertemu. Bukannya sebuah jawaban yang wanita itu dapat, melainkan luapan rindu yang selama ini Abra tahan.


.


.


The end


.

__ADS_1


__ADS_2