Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
28. Lukas


__ADS_3

Abra dan Salwa sedang dalam perjalanan pulang. Keduanya sepakat untuk merahasiakan kehamilan Salwa hingga ada jalan keluar. Entah bagaimana nanti, biarlah waktu yang menjawab.


"Tidurlah! Nanti kalau sudah sampai rumah, aku bangunin," ucap Abra sambil mengusap rambut Salwa dengan tangan kiri, sementara yang lama dia gunakan untuk mengemudi.


Wanita itu tersenyum dan menggeleng. "Aku masih ingin melihat wajahmu."


Abra terkekeh dibuatnya. Ternyata ada sisi lain dari wanita yang dicintainya itu. Selama ini Salwa selalu terlihat kuat dan mandiri, tetapi bisa juga menjadi manja.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah Salwa. Tak ada satu mobil pun di sana, berarti Anton belum pulang. Abra menggenggam tangan wanita yang dicintainya dan berjalan memasuki rumah. Tampak Bik Sumi berlari ke arah mereka. Terlihat dari wajahnya jika dia sedang panik.


"Bagaimana keadaan, Non Salwa? Kenapa nggak ngabarin Bibi? Dari tadi Bibi khawatir jika terjadi sesuatu sama Non. Non Salwa, beneran tidak apa-apa, kan?" tanya Bik Sumi beruntun.


"Aku baik-baik saja, kok, Bik. Terima kasih sudah perhatian sama aku. Kata dokter cuma lagi kurang istirahat saja," jawab Salwa.


"Benar tidak apa-apa? Saya tadi juga sudah bilang sama tuan tentang keadaan Non Salwa. Apa Tuan Anton tidak menelepon?"


"Saya nggak pegang handphone, Bik, jadi nggak tahu. Handphone saya, kan, ada di rumah."


"Oh, iya, saya lupa," ucap Bik Sumi sambil menepuk keningnya.


"Tadi Om Anton kirim pesan ke saya, Bik. Saya sudah bilang kalau Salwa baik-baik saja," sahut Abra buat wanita yang ada di sampingnya menatap pria itu.


Sebenarnya antara yakin dan tidak. Apa benar papanya bertanya mengenai keadaannya? Mengingat bagaimana sikap pria itu kepadanya selama ini. Akan tetapi, Abra tidak mungkin membohonginya.


"Sudah, sekarang kamu harus istirahat saja. Ayo, aku anterin kamu ke kamar! Ingat kata dokter, jangan capek-capek!" ujar Abra.


"Iya, kenapa kamu jadi cerewet sekali, sih!" gerutu Salwa. Namun, tetap melangkahkan kakinya ke arah kamar. Abra pun mengikutinya dari belakang. Dia ingin memastikan kekasihnya baik-baik saja. Setelah sampai kamar, Salwa membaringkan tubuhnya. Abra membantu menaikkan selimut.

__ADS_1


"Ini vitaminnya, aku taruh di sini, ya! Istirahatlah, aku akan pulang dulu. Besok aku ke sini lagi dan kamu sudah harus lebih baik lagi." Abra akan beranjak, tetapi dicegah oleh Salwa.


"Temani aku di sini dulu, sampai aku tertidur," ucap Salwa sambil menggenggam telapak tangan pria itu.


"Baiklah, aku akan di sini. Ya sudah, kamu tidurlah." Abra duduk di tepi ranjang.


"Apa benar tadi papa telepon kamu?"


"Iya, apa perlu aku menunjukkannya?" tanya Abra yang dijawab gelengan oleh Salwa. Setidaknya Papa Anton masih perhatian padanya. Entah itu karena demi menjaga nama baik atau memang karena kepeduliannya.


Salwa yang memang merasa tubuhnya sangat lelah tertidur begitu saja. Pria itu tersenyum melihat wanita yang dia cintai terlelap. Disingkirkan rambut yang menutupi dahi Salwa dan dikecup kening wanita itu. Perlahan Abra melepaskan genggaman yang ada di tangannya dan berlalu keluar dari kamar. Sebelum pergi, dia meminta sesuatu pada Bik Sumi.


"Bik, nanti siang tolong buatin bubur buat Salwa. Ingatkan dia buat minum obat yang ada di meja. Bibi harus pastikan dia benar-benar meminumnya," ujar Abra. Dia tidak ingin kejadian hari ini terulang lagi. Akan pria itu pastikan semuanya baik-baik saja.


"Iya, Tuan Ibra. Nanti saya akan ingatkan jika waktunya minum obat," sahut Bik Sumi.


"Ya sudah, Bik. Saya pergi dulu, saya masih ada pekerjaan."


Abra segera meninggalkan rumah itu menuju perusahaan. Sepanjang perjalanan, pria itu memikirkan bagaimana menghadapi keluarganya dan keluarga Salwa. Dia sangat tahu tidak mudah menghadapinya, tetapi Abra akan berusaha semampunya. Demi Salwa dan calon anaknya, apa pun akan dia lakukan.


Pria itu mengambil ponsel yang ada di saku dan akan menghubungi Roni untuk menanyakan, bagaimana perkembangan penyelidikannya. Anak buahnya itu masih belum bisa menemukan siapa pelakunya. Menurut Roni pasti orang terdekat yang melakukannya dan Pak Bima sendiri juga belum bisa dipastikan jika dia turut andil.


Ponsel yang ada di dalam tasnya berbunyi. Itu adalah ponsel miliknya yang lain, yang khusus untuk orang-orang penting. Dilihat ponsel tersebut hanya tertera satu huruf, yaitu A.


Abra kesal melihatnya. Sudah beberapa kali mereka menghubunginya dan selalu dia tolak. Akan tetapi, dirinya terus saja diteror. Mau tidak mau Akhirnya dia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, selamat siang, Bos. Kapan Anda siap datang ke markas?" tanya orang yang berada di seberang telepon yang bernama Lukas.

__ADS_1


"Sudah berapa kali aku bilang! Aku sudah memberikan kekuasaan itu padamu, semua kendali sudah pada tanggung jawabmu. Kenapa masih menginginkan kedatanganku?" geram Abra.


"Bos, bagi kami Anda tetaplah Bos kami. Tidak akan ada yang bisa menggantikan keberadaan Anda. Saya hanya menggantikan untuk sementara waktu. Semuanya masih dalam kendali Anda."


"Aku sudah mengatakan bahwa aku sudah tidak ingin lagi terlibat di sana. Sudah cukup apa yang aku lakukan selama ini."


"Tapi saya yakin, suatu hari nanti Anda pasti akan kembali. Anda perlu tahu, apa pun perintah Anda, pasti akan segera kami lakukan jadi kami siap membantu."


Sepertinya orang yang berada di seberang telepon itu, orang yang sama keras kepalanya seperti Abra. Tidak heran dia dijadikan pengganti karena sama-sama memiliki watak yang keras.


"Sayangnya aku tidak sedang membutuhkan kalian. Saya masih sanggup menghadapi semua masalah saya."


"Itu terserah pada Anda, tapi keyakinan kami masih tetap jika Anda pasti akan membutuhkan kami."


"Sudahlah, aku masih ada keperluan." Abra memutuskan panggilan begitu saja.


Abra mengambil nafas panjang dan mengembuskan secara perlahan. Sejujurnya ingin sekali dia menghubungi mereka dan meminta tolong mengenai masalah yang tengah dihadapi dengan keluarganya. Semua ini tentunya berhubungan dengan Salwa. Namun, pria itu sudah pernah berjanji tidak akan pernah terlibat dalam jaringan mereka lagi.


Lukas adalah pemimpin mafia yang paling ditakuti di seluruh dunia. Namun, saat ini kelompok mereka sedang dalam masalah. Ada salah satu anak buahnya yang berkhianat dan membantu musuh. Kelompok itu sedang berusaha membuatnya hancur karena itulah Lukas meminta pertolongan Abra.


Hanya mantan atasannya itu yang sangat pandai membuat taktik dan siasat dalam menghancurkan musuh. Sayang Abra sudah bertekad untuk tidak lagi ikut campur dalam jaringan kelompok yang dipimpinnya dulu. Sudah berulang kali Lukas membujuk Abra agar membantunya untuk kali ini saja. Pria itu tetap pada pendiriannya, tidak lagi mau ikut campur.


Lukas sampai putus asa. Dia tidak tahu lagi harus melakukan apa karena itulah pria itu setiap hari pasti menghubungi Abraham. Lukas berharap mantan atasannya itu mau membantu.


Abraham melajukan mobilnya menuju perusahaan. Hari ini ada meeting penting yang harus segera dilaksanakan. Sebenarnya dia cukup malas melakukan kegiatan membosankan itu, tetapi mau bagaimana lagi, itu adalah tugasnya untuk saat ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2