Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
18. Pesta di rumah Nando


__ADS_3

Anton duduk di ruang tamu menunggu putrinya yang sedang bersiap. Hingga satu jam, Salwa tak kunjung keluar, membuat pria itu benar-benar kesal. Padahal dia sudah meminta gadis itu bersiap dari sore hari, tetapi sepertinya perintahnya tidak dihiraukan.


"Bik sumi! Panggil Salwa agar cepat turun. Kita bisa terlambat Jika dia tidak juga turun!" perintah Anton yang segera dilaksanakan oleh Bik Sumi.


"Sudahlah, Sayang. Jangan marah-marah. Nanti darah tinggi kamu kambuh," ucap Sheyla dengan mendekati pria itu. Tangannya terulur mengusap dada Anton dengan sensual yang sudah pasti membangkitkan gairahnya.


"Jangan menggodaku sekarang. Kita akan segera pergi. Nanti malam saja," cegah Anton dengan menghentikan gerakan tangan Sheyls. "Aku sudah memintanya bersiap dari sore, tapi sepertinya tidak dihiraukan. Semakin hari dia semakin berani padaku. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran," lanjutnya bergumam.


"Aku setuju denganmu. Kalau dia dibiarkan saja, takutnya dia akan semakin menjadi." Sheyla sengaja ingin memanasi Anton karena wanita itu memang tidak menyukai Salwa. Bagi Sheyla, Salwa adalah penghalang.


"Aku memang akan menghukumnya, tapi setelah acara ini selesai," gumam Anton yang masih bisa di dengar oleh Sheyla, membuat wanita itu tersenyum licik.


Terdengar suara langkah kaki, seketika membuat Anton dan Sheyla menoleh. Pria itu tersenyum menyeringai. Putrinya memang sangat cantik, pantas saja banyak pria yang ingin mendekatinya dan dia bisa memanfaatkan itu. Sementara Sheyla justru memandangnya sinis. Dia akui jika Salwa memang cantik, tetapi justru itu yang wanita itu tidak suka.


"Ayo, kita pergi! Tidak baik membuat tuan rumah menunggu," ajak Anton yang segera berjalan keluar diikuti Sheyla dan Salwa.


Sebenarnya tadi Salwa memang sengaja berlama-lama di kamar, berharap dia tidak jadi datang. Akan tetapi, keinginannya tidak terpenuhi saat Bik Sumi memanggilnya. Sekarang gadis itu harus pergi meski tidak suka.


Selama perjalanan, tidak ada yang berbicara. Mereka seolah orang asing yang berada di satu tempat. Anton sibuk dengan kemudinya, sementara Sheyla dan Salwa memainkan ponsel masing-masing.


"Papa harap kamu nanti di sana tidak membuat ulah. Kamu harus tahu jika Nando adalah tuan rumah jadi, jaga sikapmu selama di sana. Papa tahu kalau kamu tidak menyukainya, tapi kamu harus menghormatinya untuk malam ini," ucap Anton memecah keheningan.

__ADS_1


Seketika membuat Salwa mendongakkan kepalanya. Dia tidak suka hal seperti ini. Bukankah itu sama saja memberi kesempatan untuk Nando? Memang, sih, itu tujuan Anton, tetapi tidak dengan dirinya. Gadis itu tidak ingin memberi harapan palsu pada pria lain dan berakhir menyakiti hatinya.


Salwa tahu bagaimana rasanya terluka dan kecewa jadi, dia tidak ingin orang menjadi korbannya meski itu tidak sengaja. Gadis itu tahu jika Nando pria brengs*k, tetapi bukan berarti Salwa harus menyakitinya.


"Aku heran sama Papa. Sebenarnya apa yang Papa inginkan? Papa dulu menginginkanku bertunangan dengan Ibra, aku sudah mengiyakannya. Sekarang saat Nando menginginkan sesuatu, Papa pun mengiyakannya. Sebenarnya siapa yang Papa pilih di antara mereka?" tanya Salwa dengan menatap punggung papanya.


"Kamu tidak perlu banyak bertanya. Cukup ikuti saja apa yang sudah Papa siapkan."


"Apa Papa tidak takut kalau keluarga Ibra mengetahuinya? Aku sangat tahu bagaimana kekuasaan keluarga Ibra. Mereka bisa saja menghancurkan perusahaan Papa saat itu juga."


"Ha ha ha." Anton tertawa mendengar ucapan Salwa. "Kamu tidak tahu urusan bisnis. Perusahaan keluarga Ibra dari dulu juga seperti itu saja, tidak ada perkembangan signifikan. Sedangkan Nando, dulu dia bukan siapa-siapa, tapi kamu lihat saat ini, dia memiliki perusahaan yang besar bahkan hampir menyamai perusahaan keluarga Ibra. Bukankah pria seperti ini memiliki potensi? Papa yakin suatu saat nanti dia memiliki perusahaan yang besar. Itulah alasannya, selagi memiliki kesempatan, kenapa tidak dimanfaatkan?"


"Jadi Papa cuma memanfaatkan mereka saja?"


Salwa membuang napas kasar. Dia tidak mengerti tentang bisnis dan dia juga tidak begitu tertarik, tetapi dia dipaksa untuk terjun di dalamnya. Lebih tepatnya dimanfaatkan untuk kepentingan perusahaan, tetapi dengan Nando, Salwa tidak respect sama sekali. Pria itu sama halnya dengan Ibra yang sering berganti pasangan.


Gadis itu tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya masa depannya nanti. Salwa berpikir, apakah semua pengusaha juga sama seperti itu? Dia jadi teringat Abra, apakah pria itu juga seorang pengusaha. Apakah sama juga seperti yang lainnya? Suka memainkan wanita? Akan tetapi, dari sikapnya Salwa tidak yakin hal itu, tetapi dulu Ibra juga seperti itu. Bersikap layaknya seorang pria sejati dan setia. Namun, nyatanya sama saja seperti pria di luaran sana.


Tidak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi sampai juga di rumah besar keluarga Nando. Tampak berjajar mobil di halaman rumah, pasti itu milik relasi bisnis keluarga pemilik rumah. Dari tampilan mobilnya saja sudah terlihat jika itu mobil mahal. Salwa tidak begitu mempedulikan hal itu, dia mengikuti papanya memasuki rumah.


Gadis itu tidak mengerti kenapa orang seperti Nando memilih rumah sebagai tempat menggelar pesta. Bukannya di hotel mewah atau restoran besar. Bukankah para pengusaha biasanya seperti itu? Sama halnya seperti Papa Anton yang selalu membuat pesta di hotel mewah dan sudah pasti menghabiskan banyak uang.

__ADS_1


Anton memasuki rumah dengan diapit Sheyla dan Salwa di sebelah kanan kirinya. Kedua wanita itu melingkarkan satu tangan di sisi lengan pria itu. Seseorang memberi petunjuk jika pesta diadakan di samping rumah. Mereka pun menuju ke sana.


"Selamat malam, Tuan Anton," sapa Nando begitu melihat seseorang yang dia tunggu.


"Selamat malam, Nando," sahut Anton.


"Ah, ternyata nona cantik bersedia menerima undangan dariku untuk hadir malam ini. Aku sungguh terharu dengan kedatangan kamu. Mari, masuk!" ucap Nando sambil merenggangkan lengannya agar Salwa menggandeng lengan itu.


Anton memberi kode pada putrinya agar menerima tawaran Nando. Mau tidak mau gadis itu mengikutinya. Dia melingkarkan tangannya di lengan Nando dan segera mengikuti langkah pria itu.


Semua tamu menatap kedatangan Salwa yang menggandeng lengan Nando. Beberapa dari mereka ada yang tersenyum. Adapula yang menatap sinis. Namun, gadis itu tidak peduli. Sudah sering dia mendapat perlakuan seperti itu.


"Silakan duduk," ucap Nando begitu mereka sampai di kursi. Sepertinya itu meja untuk tamu spesial. Pria itu menarik sebuah kursi agar Salwa duduk di sana.


Seorang pelayan datang membawa beberapa minuman untuk mereka. Namun, Salwa menolak karena dia tidak minum alkohol. Nando pun meminta pelayan itu membuatkan jus. Pria itu memberi juga kode disela perintahnya yang tidak diketahui oleh Salwa.


Nando duduk di samping Salwa. Dia mencoba mengajak wanita itu berbincang. Suasana pun yang tadinya kaku menjadi sedikit lunak. Hingga datanglah pelayan tadi dengan membawa minuman pesanan Salwa.


"Silakan, Nona. Ini pesanan Anda."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2