
Syakila terdiam. Memang bener apa yang dikatakan Abra. Anak Salwa memang tidak bisa kembali, tetapi dia juga seorang ibu yang tidak tega melihat putranya berada di dalam penjara. Biarlah apa yang akan dikatakan Abra. Dia akan tetap membela Ibra.
"Mama tahu, tapi Ibra juga saudara kandungmu. Tolong lepaskan dia!" pinta Mama Syakila.
"Saudara kandung? Apa dia juga memikirkan aku sebagai saudaranya saat ingin mengambil nyawa anakku?" tanya Abra membuat Mama Syakila terdiam. "Sekarang aku hanya punya dua pilihan untuk Mama. Yang pertama, Ibra tetap berada di penjara atau yang kedua Ibra keluar dan menerima balasan dari tanganku sendiri. Tentu itu bukan hal yang main-main. Mama tahu 'kan apa yang sudah didapatkan oleh anak buah dari para preman yang disewa Ibra? Pastinya Ibra akan mendapatkan lebih dari yang mereka rasakan. Sekarang keputusan ada di tangan Mama. Mama tinggal memilih, aku tidak punya pilihan yang ketiga jadi, hanya dua itu yang aku bisa berikan."
Mama Syakila terdiam. Dia tidak mungkin memberikan Ibra pada Abraham karena bisa dipastikan putranya akan cacat seumur hidup. Sama seperti para anak buah preman itu. Bahkan lebih parahnya Ibra akan meregang nyawa dan dia tidak mungkin bisa menahan kesedihan kehilangan putranya.
"Apa maksud kamu? Kamu tidak mungkin membuat saudara kamu meregang nyawa, kan?" tanya Handi.
"Kenapa tidak? Dia bisa menghilangkan nyawa janin yang tidak berdosa. Kenapa aku harus mengasihi orang yang sudah membunuh anakku? Kalian tidak bisa melihat anak kalian berada di penjara dan aku pun sama. Aku tidak bisa melihat orang yang sudah membunuh anakku berkeliaran dengan seenaknya. Setidaknya dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang dia perbuat. Kebetulan saat ini tanganku ingin sekali menghajar seseorang. Aku tidak akan memaksa Mama untuk menjawab pertanyaanku sekarang juga. Pikirkan dengan baik-baik, jangan sampai menyesal saat semua sudah terjadi. Seperti yang terjadi padaku saat ini."
Papa Handi dan Mama Syakila saling pandang. Sepertinya mereka memang tidak akan mungkin bisa membujuk Abra untuk membebaskan Ibra. Keduanya pun memutuskan untuk pergi dari sana dan mencari cara lain untuk membebaskan putranya. Tanpa berpamitan, Papa Handi dan Mama Syakila meninggalkan ruangan itu.
"Sekarang kita harus bagaimana, Pa? Kasihan Ibra jika dia benar-benar dihukum."
"Papa juga tidak tahu. Kepala papa jadi pusing memikirkannya," sahut Handi sambil memijat pelan keningnya.
Keduanya memutuskan singgah di restoran untuk mengisi perut sambil memikirkan langkah yang diambil. Pilihan yang diberikan Abra benar-benar sulit. Mereka tidak ingin Ibra ditahan, tetapi juga tidak ingin putranya menjadi samsak hidup.
"Apa ini karena kita terlalu memanjakannya, Pa. Sampai Ibra bisa berbuat seperti ini. Buktinya Abra tidak pernah membuat masalah. Dia bisa mandiri dan berpikir dewasa, tapi Ibra selalu saja bertindak seenaknya dan menyalahgunakan kekuasaan. Padahal dulu dia sering membuat kita bangga."
"Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan hal itu dulu. Sebaiknya kita cari cara untuk mencari bukti dan menghilangkannya agar putra kita bisa bebas."
__ADS_1
"Apa kita bisa melakukan hal itu? Sepertinya sulit. Papa bisa lihat sendiri 'kan kekuasaan Abra. Meskipun kita nanti bisa mendapatkan bukti dan menghilangkannya. Abra pasti bisa membuat Ibra mendekam di penjara dengan kekuasaan yang dia miliki."
"Mungkin memang sebaiknya kita menyerah."
"Jadi maksud Papa kita pasrah saja melihat Ibra di penjara?"
"Bukan kita pasrah, tapi memang ini menyangkut nyawa seseorang. Untung saja hanya anaknya yang meninggal. Jika Abra kehilangan Salwa juga, pasti Ibra tidak akan selamat."
"Jadi benar 'kan itu maksud Papa, Ibra memang harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia lakukan?"
Papa Handi menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar. "Memang sepertinya sudah seperti itu, Ma. Mungkin ini juga bisa menjadi pembelajaran untuk Ibra agar lebih dewasa lagi."
Mama Syakila tidak membantah lagi. Jika memang ini yang terbaik untuk Ibra, biarlah waktu yang mengajarkannya menjadi manusia yang lebih baik.
"Apa kamu akan benar-benar memberi hukuman pada Ibra, jika mama kamu memilih untuk membebaskannya!" tanya Salwa pada Abra. Di ruangan hanya tinggal mereka berdua. Papa Anton masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kenapa tidak? Aku bukan malaikat yang bisa memaafkan kesalahan seseorang dengan mudah. Meskipun itu adalah saudaraku. Kalau kesalahan kecil, aku bisa memaafkannya, tapi dia sudah menghilangkan nyawa anakku. Aku tidak bisa memaafkannya. Saat itu kamu sudah memohon padanya, tapi dia sama sekali tidak menghiraukan hal itu. Sekarang pun sama, akan berlaku untuk dirinya."
Salwa bisa melihat amarah di mata Abra. Meski pria itu berbicara dengan tenang, tetapi matanya dipenuhi dengan dendam. Sejujurnya wanita itu juga takut melihat kekasihnya yang seperti ini. pria itu tidak pernah memperlihatkan amarahnya selama ini.
Sekarang baru pertama kali bagi Salwa melihatnya. Dia mengingat kembali kejadian saat di gedung itu. Abra memukuli saudaranya dengan memberi buta. Masih sangat teringat jelas kejadian di gedung. Kalau saat itu Salwa tidak memanggil Abra mungkin pria itu sudah membunuh saudaranya.
"Sayang, jangan kotori tangan kamu dengan mengambil nyawa orang. Biarkan polisi yang menghukumnya. Aku tidak mau kamu juga ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena menghilangkan nyawa orang. Cukup anakku yang menjadi korban dan meninggalkanku. Aku tidak mau kamu juga pergi meninggalkan aku," ucap Salwa dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Abra menggenggam telapak tangan Salwa dan berkata, "Kamu tenang saja, sampai kapan pun, aku akan selalu bersamamu. Tidak akan ada yang bisa menyentuhku kalau bukan keinginanku sendiri. Aku akan selalu berada di sisimu apapun alasannya. Setelah keluar dari rumah sakit, aku ingin kita menikah dan aku akan membawamu pergi dari kota ini. Kamu mau ikut bersamaku?"
"Bagaimana dengan papa? Apa dia sudah setuju mengenai itu?"
"Kamu jangan khawatir, aku akan bicara dengannya nanti. Untuk saat ini, kamu pikirkan kesehatanmu dulu. Setelah kamu benar-benar sembuh, marilah kita bicarakan lagi!"
Keduanya pun berbincang hangat. Tidak berapa lama, Anton datang. Dia membawa satu kotak nasi untuk Abraham. Sedangkan makanan untuk Salwa sudah pasti dari rumah sakit pria itu tidak ingin putrinya memakan makanan sembarangan.
Salwa masih harus menjaga kebersihan dan kesembuhan perutnya. Abra sangat menikmati makanannya. Wanita itu hanya menatap sang kekasih. Pria itu tahu jika Salwa ingin memakan makanannya. Dia pun menyodorkan makanan tersebut ke depan mulut kekasihnya. Hal itu tentu saja membuat wanita itu tersipu karena diperlakukan sangat manis.
Usai menghabiskan makanannya, Abra duduk di sofa samping Anton. Dia mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Salwa. Sebagai seorang ayah, pria itu tidak keberatan. Asal Abra bisa mengalirkan dana ke perusahaan. Seperti yang dulu saudara kembarnya lakukan. Yang kini sudah dihentikan oleh Handi karena kasus Ibrahim masuk penjara.
"Itu bukan masalah yang besar. Nanti akan ada orang yang mengaturnya. Aku hanya meminta satu hal, yaitu Om menjadi wali dalam pernikahan kita."
"Tentu, kalian tentukan saja harinya. Setelah itu, hubungi aku agar bisa menikahkan Salwa denganmu."
"Terima kasih, Om, tidak mempersulit kami."
.
.
.
__ADS_1