
"Aku juga ingin tahu masa lalu kamu. Siapa tahu nanti ada seorang wanita yang datang dan meminta pertanggung jawaban darimu," jawab Salwa sekenanya.
"Aku bukan orang sebrengs*k itu." Abra mendengus kecil. Salwa hanya mengendikkan bahunya.
Abra menerawang kehidupannya. Entah kenapa dia ingin menjadi Abra bukan Ibra. Bolehkah pria itu egois untuk menjadi dirinya sendiri hari ini? Dia hanya ingin sedikit bercerita saja tentang dirinya. Selama ini pria itu selalu memendam semuanya seorang diri.
"Aku akui, aku memang seorang playboy, tapi aku tidak pernah melakukan **** bebas. Banyak wanita yang menawarkan tubuhnya padaku secara cuma-cuma, tapi aku sama sekali tidak tertarik pada mereka. Alasannya kenapa? Aku sendiri juga tidak tahu."
Tepat, jawaban itu seperti perkiraan Salwa. Jika Ibra sudah pasti dia tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu karena dia sendiri pernah melihat tunangannya itu memadu kasih dengan wanita lain.
"Apa kamu seorang gay?" tanya Salwa berpura-pura terkejut dengan menjauhkan tubuhnya sedikit dari Abraham.
"Enak saja kalau bicara. Aku masih lelaki normal. Aku juga masih bisa tegang saat melihat wanita seksi, tapi aku punya pengendalian diri yang kuat jadi tidak akan mudah untuk melakukan hal-hal seperti itu."
Salwa kembali merangkul tubuh pria yang ada di sampingnya dan menyandarkan kepala di bahunya. Keduanya larut dengan pikiran masing-masing. Mereka punya mimpi yang sama, tetapi jalannya berbeda. Entah apa Abra dan Salwa bisa melewatinya.
"Kalau kamu sendiri apa pernah jatuh cinta?" tanya Abra.
"Tidak, aku tidak pernah jatuh cinta," jawab Salwa dengan cepat.
"Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Abra lagi dengan melihat ke arah Salwa. Dia ingin melihat ekspresi wanita itu.
"Tidak, aku bersamamu karena tuntutan dari papa. Kamu tahu sendiri jika perusahaan papa sangat bergantung padamu. Papa selalu memaksaku untuk bisa bersamamu. Namun, jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak pernah memiliki perasaan apa-apa padamu. Apalagi kamu telah melakukan kesalahan yang paling fatal dan aku tidak bisa memaafkannya."
Abra hanya terdiam. Dia sendiri tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan Ibra. Pria itu juga tidak berhak marah pada Salwa karena dia tidak tahu, sebesar apa luka yang sudah Ibra berikan pada wanita itu. Dari yang Abra lihat Salwa bukanlah orang yang akan marah dengan hal-hal yang sepele. Dia bisa melihat kesedihan yang tertutupi dalam diri wanita itu.
Salwa juga wanita yang membutuhkan sandaran. Selama ini dia selalu berusaha agar terlihat kuat supaya orang-orang tidak menindasnya.
__ADS_1
"Kenapa diam? Apa kamu tidak ingin bertanya kenapa aku tidak mencintaimu padahal kita sudah bersama selama ini?"
"Tidak perlu, kalau pun aku tahu juga, aku tidak bisa memaksakan perasaan seseorang karena semua itu murni hadir begitu saja, tanpa kita inginkan dan tanpa kita tahu."
"Kamu pandai berpuitis juga," sindir Salwa.
"Memangnya kenapa? Apakah terlihat aneh di matamu?"
"Tidak juga, aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku seorang laki-laki harus memiliki prinsip yang kuat agar nanti saat berumah tangga, dia bisa menjaga istri dan anak-anaknya."
"Apakah kamu akan tetap menikah denganku meskipun kamu tidak mencintaiku?"
"Jika memang Tuhan menakdirkan seperti itu, aku bisa apa? Aku hanya bisa berencana, tapi semua Tuhan yang menentukan. Aku hanya bisa berdoa, siapa pun jodohku, aku harap dia bisa membawaku ke surganya Allah. Terlalu banyak dosa yang sudah aku lakukan. Aku tidak ingin menambahnya lagi."
"Bukankah itu sama saja dengan kamu menyakiti dirimu sendiri?"
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk berbicara dengan papamu?"
"Apa dia akan mendengarkanku? Aku rasa tidak, aku sangat mengenal sifat papa. Dia hanya mau berbicara denganku saat membahas masalah perusahaan dan juga tunanganku. Selebihnya mengenai perasaanku, itu tidak penting baginya," jawab Salwa dengan tersenyum meski senyumn itu semuanya palsu.
Abra mengajak Salwa berkeliling. Dia tahu perasaan wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Pasti itu karena semalam, rasa bersalahnya semakin bertambah karena melihat wajah sedih tunangan saudaranya itu.
"Apa kamu menyukai bunga?" tanya Abra disela langkah mereka.
"Tentu saja suka. Wanita mana yang tidak menyukai bunga. Mereka sangat cantik dan juga indah. Apalagi yang berbau wangi."
"Bunga apa yang paling kamu suka"
__ADS_1
Salwa berpikir sebelum menjawab, "Melati dan juga bunga teratai."
"Kenapa bunga teratai? Kata orang pemeliharaannya susah."
"Karena aku juga ingin jadi seperti bunga teratai, yang selalu diperhatikan. Bunga teratai juga perlu disiram agar airnya tidak kering. Sedikit saja lengah maka tanaman itu akan mati. Dia butuh air dia juga perlu diperhatikan. Beda dengan tanaman lain disiram secukupnya mereka pasti akan tumbuh."
Abra bisa merasakan apa yang dirasakan Salwa karena dia juga, tidak merasakan kasih sayang dari kecil. Pria itu seolah-olah melihat dirinya dalam sosok wanita. Abra merasa kagum pada Salwa Karena Wanita itu bisa melewati semuanya dengan baik. Dirinya yang laki-laki saja merasakan sakit yang luar biasa, bagaimana dengan wanita seperti Salwa.
"Ayo, kita ke pantai! Kita lupakan semua beban yang ada. Kita bersenang-senang hari ini." Salwa menarik tangan Abra menuju mobilnya.
Pria itu hanya menurut saja. Dia juga sudah memberi pesan pada semua anak buahnya agar tidak mengganggu hari ini jadi, pria itu akan menggunakan waktunya untuk bersenang-senang, seperti yang dikatakan oleh Salwa.
Sampai di samping mobilnya, wanita itu memberi kode kepada Abra untuk membukakan pintu untuknya. Pria itu pun menuruti saja dan membukakan pintu untuk tunangan saudaranya. Untuk hari ini, dia akan melupakan jika Salwa adalah tunangan Ibra. Pria itu hari ini akan menjadi Abra yang sesungguhnya dan pura-pura tidak mengenal wanita yang sedang bersamanya.
Setelah Salwa duduk, Abra berjalan ke sisi mobil yang lain dan menaikinya. pria itu melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Sayang, berhenti sebentar. Aku mau beli itu," ucap Salwa sambil menunjuk penjual batagor di pinggir jalan.
Abra pun menepikan mobilnya. Salwa segera turun dan menuju tempat penjual batagor. Dia sangat menyukai makanan itu. Saat bersama papanya atau Ibra, mereka akan memarahinya karena keduanya sama sekali tidak menyukai makanan yang berada di pinggir jalan. Alasannya makanan itu tidak sehat.
Salwa memesan dua bungkus batagor. Abra hanya diam sambil memandanginya dengan bersandar di badan mobil. Dia tidak tahu makanan apa yang dipesan wanita itu. Ini pertama kali dia melihat makanan itu.
.
.
.
__ADS_1