Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
21. Selamat tinggal


__ADS_3

Salwa masih terdiam mendengarkan cerita Abraham. Dia tidak menyangka jika pria itu juga memiliki cerita yang sama persis seperti dirinya. Seorang anak yang tidak diinginkan dalam keluarga. Selama ini dia berpikir hanya dirinya yang memiliki nasib seperti itu. Ternyata pemikirannya salah, bahkan ada yang jauh lebih menderita daripada dirinya.


Abra harus berjuang seorang diri di luar sana. Sementara dirinya, meski tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang ayah, tetapi dia masih hidup satu atap dengan ayahnya. Abra menatap wanita yang ada di sampingnya.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu berpikir jika nasib kita ini sama? Tentu jawabannya tidak bukan? Kamu lebih beruntung karena masih memiliki ayah yang masih perhatian padamu. Dia juga bertanggung jawab menghidupi kamu."


Salwa tersenyum miris menanggapinya. Tidakkah pria itu tahu betapa tersiksanya dia selama ini? Selama ini wanita itu bertahan, berharap ada seseorang yang membawanya pergi. Dulu harapan itu Salwa berikan pada Ibra, tetapi setelah pengkhianatan yang pria itu lakukan, semua kandas begitu saja.


Harapan itu kembali hadir saat Abra datang. Hanya tinggal pria itu yang dia miliki. Bolehkah wanita itu menggantungkan harapannya pada Abra?


"Ya, kamu memang benar. Aku masih memiliki ayah, tapi jika aku boleh memilih, lebih baik aku tidak memilikinya dan hidup sendiri dengan usaha sendiri. Meski aku harus memulung di pinggir jalan," sahut Salwa dengan pandangan lurus ke depan.


"Hidup ini tidak semudah yang kamu bayangkan. Saat ini kamu bilang lebih baik jadi pemulung di tengah jalan, tapi saat kamu merasakan betapa pedihnya kehidupan mereka, kamu pasti akan berkata lebih baik hidup dengan semua keterpaksaan. Namun, semua terpenuhi. Kita tidak bisa membandingkan hidup kita dengan orang lain karena kita tidak tahu bagaimana kehidupan mereka. Sebaiknya kita berusaha untuk membuat hidup kita lebih baik."


"Kamu berkata seolah apa yang kamu katakan sangat mudah. Apa kamu juga mengalami kemudahan selama kamu hidup sendiri?"


"Tidak juga, tidak ada yang mudah di dunia ini. Bahkan jika orang kaya pun pasti hidupnya juga tidak akan tenang. Mereka selalu ingin lebih dan lebih."


Abra menikmati teh miliknya yang sudah dingin. Kembali diingatkan bagaimana kerasnya kehidupan yang dia jalani, membuat pria itu merasakan tiap goresan luka yang didapat. Bukan hanya luka fisik, tetapi juga luka batin dan itu lebih menyakitkan.

__ADS_1


"Abra, jika nanti kamu sudah menemukan pelakunya dan sudah menemukan obat penawar untuk Ibra, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Salwa sambil menatap pria yang ada di sampingnya.


Dia juga perlu mendengar jawaban dari Abra. Bagaimanapun sekarang dia bukan gadis lagi. Bolehkah dia berharap pada pria yang ada di sampingnya?


"Seperti rencana awal. Aku akan kembali ke kehidupanku yang sebelumnya dan menagih janji pada papa. Kalau setelah ini tidak akan ada lagi hubungan antara aku dan keluarga mereka."


"Bolehkah aku minta satu hal. Tolong bawa aku ikut bersamamu! Apa pun yang kamu inginkan, aku akan menurutinya, tapi aku mohon, tolong bawa aku pergi!" pinta Salwa dengan nada lirih.


Ada kesakitan dalam setiap kata yang dia ungkapkan. Mungkin terlihat bodoh, tetapi Salwa sudah jatuh pada pesona Abra. Dia memang sudah jatuh cinta pada pria itu. Entah sadar atau tidak, itulah yang wanita itu rasakan saat ini. Salwa tidak ingin kehilangan pria itu. Jika pun di luar negeri mereka harus hidup serba kekurangan, tetapi selama bersama Abra, Salwa tidak akan pernah menyesalinya karena itu adalah keinginannya.


Dalam hatinya, Abra sangat ingin mengiyakan. Akan tetapi, dia yakin itu hanya akan menambah masalah untuknya. Lagipula pria itu tidak yakin Salwa bisa tahan hidup dengannya, mengingat bagaimana dirinya hidup di sana.


Salwa tertawa miris mendengarnya. Tidakkah Abra tahu bagaimana perasaannya saat ini? Di dalam hatinya sudah tidak ada nama Ibra. Bagaimana dia bisa menjalani kehidupan nanti jika cinta itu sudah kandas karena pengkhianatan yang tunangannya lakukan.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau Ibra adalah pria baik, setelah apa yang dia lakukan padaku. Kamu tidak bodoh, kan? Apa kamu akan menutup mata dengan semua perbuatan saudara kembar kamu itu? Bagian mana yang masih membuatku untuk bertahan dengannya? Tolong katakan padaku!" ucap Salwa dengan air mata yang menetes.


Dia benar-benar terluka mendengar penolakan dari Abra. Dirinya sudah kehilangan mahkotanya, apa mungkin nanti Ibra masih akan memperlakukannya dengan baik? Setelah selama ini dirinya selalu menolak jika tunangannya itu mengajak berhubungan.


Abra terdiam tidak tahu harus berkata apa. Dia memang sudah tahu semuanya, tetapi membawa Salwa pergi bukanlah pilihan yang tepat. Dirinya tidak akan bisa hidup tenang jika wanita itu ikut bersamanya. Semua orang akan kembali mengusik kehidupannya.

__ADS_1


Salwa yang melihat keterdiaman Abra pun tidak berkata apa-apa lagi. Sepertinya pria itu memang tidak berniat membawanya. Dia merasa sedih karena ternyata perasaannya tidak berbalas. Apa mungkin dirinya memang selalu ditakdirkan hidup menderita? Tidak adakah sedikit kebahagiaan untuknya?


Bel apartemen berbunyi. Abra segera beranjak membukanya. Dia yakin itu adalah kurir yang mengantar pakaian untuk Salwa. Sementara wanita itu hanya diam dengan pandangan kosong, merenungi nasibnya yang tidak secantik wajahnya.


"Ini pakaian untukmu," ucap Abra yang baru datang sambil menyerahkan papper bag.


"Terima kasih," ucap Salwa setelah menerimanya dan segera berlalu menuju kamar.


Dia harus segera berganti pakaian dan meninggalkan apartemen ini. Wanita itu tidak ingin berlama-lama di sini yang hanya akan semakin menambah luka di hatinya. Setelah berganti pakaian, Salwa keluar dari kamar. Dia tidak mendapati Abra di sofa tadi. Entah pergi kemana pria itu. Hanya ada orang kepercayaannya yang tadi berbicara dengan Abra.


"Maaf, tolong sampaikan pada Abra, terima kasih sudah menolongku. Terima kasih juga bajunya. Aku harus segera pergi. Aku tidak ingin orangtuaku khawatir," ucap Salwa yang segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari pria itu.


Lebih baik seperti ini. Mungkin setelah ini dia akan berusaha menjauh dari Abra. Wanita itu tidak ingin lagi terikat dengan pria itu. Sebelumnya Salwa memang menginginkan bisa hidup bersama Abra dan berusaha untuk menarik perhatiannya, tetapi melihat keteguhan pria itu semuanya hancur begitu saja.


"Selamat tinggal, Abra. Semoga kamu hidup bahagia."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2