Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
51. Sadar


__ADS_3

Sudah satu minggu Abra dirawat. Namun, pria itu tidak kunjung membuka matanya. Roni dan Salwa selalu bergantian untuk menjaganya. Lukas sendiri masih berada di penjara karena perbuatannya yang menembak Ibra kemarin. Sedangkan Leo berusaha untuk membebaskan kakaknya. Dia juga mengambil alih kepemimpinan sementara di kelompoknya.


Kabar tertembaknya Abraham tentu saja sudah berembus di telinga musuh pria itu. Mereka mulai berbuat semena-mena pada kelompoknya. Leo pun sangat berusaha agar kakaknya segera di bebaskan.


"Roni, apa ada kabar terbaru dari Lukas?" tanya Salwa. Dia merasa bersalah karena yang dilakukan pria itu hanya ingin melindungi suaminya, tetapi polisi malah menangkapnya.


"Leo sedang berusaha, Nyonya. Anda jangan terlalu memikirkannya. Dia pasti bisa melewati semua ini dengan mudah," jawab Roni.


"Tapi aku tetap saja merasa tidak enak padanya."


"Anda tenang saja, sebentar lagi juga Lukas akan bebas. Yang perlu Anda pikirkan adalah kesehatan Anda sendiri dan juga Bos Abra."


Salwa mengangguk sambil menatap wajah sang suami yang masih menutup matanya. Entah sampai kapan pria itu akan tidur. Dia sudah sangat rindu pada sang suami, tapi sepertinya Abra masih betah dalam tidurnya.


"Ada satu lagi, Tuan Handi dan Nyonya Syakila berharap ingin bertemu dengan Boa Abra," lanjut Roni.


"Untuk apa mereka datang ke sini? Bukankah dari dulu mereka tidak peduli pada suamiku?"


"Saya kurang tahu, Nyonya, tapi perkiraan saya mungkin karena Ibra sudah meninggal, jadi hanya tinggal Abra anak laki-laki mereka. Anda sangat tahu jika anak mereka hanya tinggal perempuan saja."


"Jangan biarkan mereka masuk. Biar nanti Mas Abra sendiri yang memutuskan mau bertemu dengan mereka atau tidak," jawab Salwa yang dianguki oleh Roni.


Pria itu segera berlalu keluar. Roni memang selalu menunggu di rumah sakit. Akan tetapi, dia selalu menunggu di luar. Pria itu merasa tidak enak juga harus satu ruangan bersama dengan istri atasannya itu, kecuali dalam keadaan tertentu. Padahal Maysa tidak masalah sama sekali jika Roni ada di dalam.


Kini di ruangan hanya tinggal Salwa dan Abra. Wanita itu menggenggam telapak tangan sang suami yang terbebas dari jarum infus. Dia menciumnya beberapa kali. Salwa sangat rindu dengan belaian tangan ini, yang biasanya selalu mengusap rambutnya setiap akan tidur.

__ADS_1


"Mas, kapan kamu akan sadar. Apakah kamu tidak merindukanku? Kamu betah sekali tidur. Kamu tahu, Mas, orang tua kamu bilang ingin menemuimu, tapi aku melarangnya. Aku tidak tahu kamu mau menemui mereka atau tidak, jadi aku putuskan untuk menunggu keputusanmu saja. Cepatlah sadar."


Salwa merebahkan kepalanya di tepi ranjang sang suami dengan tangan yang masih menggenggam telapak tangan pria itu. Meski tubuhnya selalu terasa pegal saat terbangun. Namun, dia tidak bisa jauh dari Abra. Wanita itu ingin selalu di dekatnya. Meskipun Salwa harus dengan tidur dengan posisi yang tidak nyaman, seperti sekarang ini. Tidak berapa lama, akhirnya dia pun tertidur.


Di tengah malam, Salwa merasa tidurnya sangat nyaman. Sudah lama dia tidak merasakan seperti ini. Wanita itu pun membuka mata. Alangkah terkejutnya saat mengetahui jika dirinya tidur di atas ranjang.


Bukankah tadi dia tidur di atas kursi? Kenapa sekarang berada di ranjang? saat akan bangun ada sebuah tangan yang memeluknya semakin erat. Salwa kembali terkejut dan saat dilihat, ternyata itu tangan Abra. Apakah sang suami sudah sadar? Kapan? Kenapa dia tidak tahu?


"Sudah, tidurlah lagi. Kamu pasti masih lelah," ucap Abra membuat air mata Salwa menetes.


Ternyata sang suami sudah sadar. Dia membenamkan wajahnya di dada pria itu dan menangis sejadi-jadinya. Setiap malam wanita itu selalu bermimpi jika sang suami sudah sadar. Namun, saat terbangun Salwa kecewa karena itu hanya mimpi.


"Kenapa menangis? Kamu nggak suka kalau aku sadar?" tanya Abra yang justru membuat Salwa memukul dada pria itu. Abra mengadu kesakitan yang sudah pasti dibuat-buat Karena pukulan wanita itu sama sekali tidak terasa.


"Maaf, maaf, aku lupa. Apa kamu sakit? Mana yang sakit?"


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Justru aku yang khawatir sama kamu, tapi kata Roni kamu baik-baik saja. Itu sudah membuat aku senang. Sakit yang aku rasakan, tidak akan terasa selama kamu ada di sisiku," ucap Abra.


"Jadi Roni sudah tahu kalau kamu sudah sadar? Kenapa tidak membangunkanku?"


"Iya, tadi dia berniat untuk melihat keadaan kamu. Dia bilang kamu selalu tidur dengan posisi duduk di atas kursi karena itu, aku memintanya untuk memindahkan kamu ke sini."


"Jadi yang gendong aku bukan kamu? Ternyata Roni. Aku kira kamu," ujar Salwa dengan nada kecewa.


"Aku masih sakit, Sayang. Belum ada tenaga untuk menggendong kamu. Kalau nanti setelah aku sembuh, berapa lama pun kamu minta gendong, pasti akan aku lakukan."

__ADS_1


"Bukan itu, Mas, tapi ada orang lain yang menyentuhku selain kamu," jawab Salwa pelan.


"Kamu tenang saja, aku meminta Roni untuk memakai sarung tangan yang tebal dan berlapis agar tidak meninggalkan jejak di tubuhmu."


Bukan itu maksud Salwa. Sepertinya kali ini mereka tidak sejalan. Biarlah dia tidak ingin berdebat dengan suami hanya karena masalah sepele. Pria itu perlu istirahat terlebih dahulu.


"Ya sudah, Mas. Kamu istirahatlah dulu, kamu belum sembuh benar. Besok, kita tanyakan pada dokter mengenai keadaan kamu. Semoga saja semuanya baik-baik saja," ucap Salwa.


"Aku juga berharap begitu agar aku bisa pulang secepatnya. Aku kasian lihat kamu yang nungguin aku. Aku juga minta maaf sama kamu karena keadaanku, jadi mengulur waktu kepulangan kita."


"Tidak apa, Mas. Ini semua juga bukan karena kesalahan kamu. Keadaan yang membuat semua seperti ini."


Keduanya pun berbincang hangat. Abra sudah meminta istrinya tidur, tetapi wanita itu tidak bisa memejamkan matanya. Dia terlalu bahagia dengan keadaan sang suami yang sudah mulai sadar.


"Mas, kemarin Papa Handi dan Mama Syakila datang, tapi aku menolaknya. Apa kamu mau menemui mereka?" tanya Maysa.


"Aku juga perlu bicara dengan mereka, tapi tidak sekarang. Tunggu keadaanku membaik," jawab Abra. "Apa mereka mengatakan sesuatu?"


"Aku tidak menemui mereka. Aku bahkan tidak tahu keadaan mereka seperti apa sekarang ini. Apa mereka benar-benar tulus menjengukmu atau ada tujuan lain."


Abra mengangguk. Dia juga berpikir hal yang sama seperti seperti istrinya. Akan tetapi, saat ini ada masalah yang harus pria itu selesaikan. Setelah semua jelas, barulah Abra akan menyelesaikan yang lainnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2