
Mobil yang ditumpangi Abra dan Roni telah sampai di halaman rumah keluarga Anton. Keduanya turun, kemudian menuju teras rumah. Tampak rumah masih sepi, pasti semua orang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Anton juga pasti masih di kantor. Roni menekan bel rumah yang ada di samping pintu. Tidak berapa lama, pintu terbuka. Tampak Bik Sumi yang membukakan pintu.
“Masya Allah! Den Abra sudah pulang! Kenapa dengan kaki Den Abra? Kenapa pakai kursi roda?” tanya Bik Sumi yang terkejut.
“Saya mengalami kecelakaan, Bik, tapi alhamdulillah saya baik-baik saja. Hanya kaki saya yang lumpuh. Bibi doakan saja agar bisa segera sembuh," jawab Abra.
“Amin. Ayo, silakan masuk! Tapi di rumah nggak ada siapa-siapa. Tuan Anton masih di kantor, sedangkan Neng Salwa pergi. Tadi katanya mau periksa, sampai sekarang belum pulang juga.”
“Belum pulang, Bik?” tanya Abra balik sambil memasuki rumah dengan kursi rodanya.
“Belum, Den. Sebaiknya ditunggu saja. Nanti juga pulang,” jawab Bik Sumi.
Abra dan Roni saling pandang. Jika Salwa belum pulang, ke mana perginya wanita itu? Roni yang mengerti pun segera mengambil ponsel untuk menghubungi Andre. Pasti saat ini pria itu sedang bersama dengan istri atasannya itu. Namun, sayang saat mencoba menghubungi Andre, ponselnya sedang tidak aktif.
Roni sangat mengerti bagaimana perasaan Salwa saat ini. Wanita itu pasti tidak mau diganggu lebih dulu. Dibohongi dan merasa tidak berarti, itu pasti sangat menyakitkan. Padahal selama ini dia menunggu, tetapi ternyata semua hanya kebohongan.
“Ponsel Andre tidak aktif, Bos,” ucap Roni sebelum atasannya bertanya.
Abra membuang napas kasar. Ke mana kira-kira istrinya pergi, dia sangat khawatir. Biasanya setiap menit pria itu pasti tahu apa saja kegiatan dan keberadaan sang istri, tetapi sekarang Abra tidak tahu apa-apa.
“Coba lacak di mana keberadaan mobil yang dipakai Andre.”
Roni pun melakukan seperti yang dikatakan oleh Abra. Namun, lagi-lagi pria itu kecewa. Sepertinya alat lacak sudah dimatikan sejak meninggalkan rumah sakit tadi. Dia sama sekali tidak menyadari hal itu.
Abra masih bersyukur. Setidaknya ada Andre bersama sang istri. Untung saja anak buahnya itu tadi langsung mengejar Salwa. Jika tidak, maka dia akan semakin merasa bersalah.
__ADS_1
“Bibi, masuk saja tidak apa-apa. Biar saya di sini sama Roni,” ucap Abra pada Bik Sumi. Dia tahu jika sejak tadi wanita itu menatapnya aneh.
“Mau dibuatin teh, Den?”
“Tidak perlu, Bik,” ucap Abra.
Bik Sumi pun segera masuk ke dalam rumah. Wanita itu merasa curiga jika ada masalah antara Abra dan Salwa. Akan tetapi, dia tidak bisa banyak bertanya, apalagi ikut campur dalam urusan mereka.
“Ke mana perginya mereka dan kenapa juga pelacaknya dimatikan?" tanya Abra dengan nada kesal. Dia memang sengaja meletakkan alat itu agar bisa melihat di mana saja keberadaan Salwa. Namun, ternyata sekarang malah dimatikan oleh Andre.
“Pasti ini juga permintaan Nyonya Salwa, Bos. Pasti saat ini dia ingin sendiri.”
“Tapi Salwa tidak tahu mengenai alat pelacak itu. Pasti itu juga ulah Andre sendiri," ucap Abra dengan kesal.
“Mungkin dia melakukannya karena memang saat ini Nyonya Salwa butuh waktu sendiri. Sudah beberapa bulan Andre bersama dengannya, pasti dia lebih tahu bagaimana perasaan Nyonya Salwa saat ini.”
“Seharusnya Anda pikir sendiri apa yang membuat semuanya bisa sampai seperti ini. Kenapa Anda menyalahkan orang lain? Andre saja yang baru berapa bulan bersama Nyonya Salwa sangat mengerti bagaimana perasaannya. Kenapa Anda tidak mengerti juga,” ucap Roni yang kemudian pergi meninggalkan atasannya.
Semakin lama dia bersama dengan pria itu, semakin menambah emosi saja. Lebih baik dia keluar dan menunggu di sana saja. Sebenarnya dia juga khawatir pada keadaan Salwa, apalagi saat ini dia sedang hamil. Akan tetapi, dia percaya dengan keahlian Andre yang pasti bisa melindungi Salwa.
Hari sudah sore, akhirnya yang ditunggu pun datang. Mobil yang ditumpangi Salwa sampai di depan pintu. Wanita itu turun dan berjalan masuk menuju kamarnya. Dia memang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, bahwa Abra akan pulang ke rumah.
Dalam hati dia senang karena sang suami akhirnya mau juga kembali. Namun, ada rasa kesal yang begitu teramat dalam terhadap pria itu. Begitu mudahnya Abra melupakan apa yang sudah dia lakukan. Tidakkah pria itu mengerti bagaimana perasaannya?
“Non Salwa, baru pulang? Den Abra sudah pulang, Non. Dia ada di kamar,” ucap Bik Sumi.
__ADS_1
“Iya, Bik. Terima kasih sudah memberitahu. Saya mau ke kamar dulu,” ucap Salwa yang diangguki oleh Bik Sumi.
Wanita paruh baya itu merasa aneh dengan Salwa karena wanita itu terlihat biasa saja saat mendengar sang suami sudah pulang. Padahal sebelumnya majikannya itu selalu merasa sedih dengan kepergian Abra. Bik Sumi semakin yakin jika telah terjadi sesuatu.
Salwa terus berjalan menuju kamarnya. Sbelum membuka pintu, dia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan, untuk menghilangkan rasa gugupnya. Begitu Salwa membuka pintu, tampak Abra sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
“Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa pergi begitu saja? Apa kamu tidak ingin mendengar apa yang terjadi padaku? Apa kamu tidak ingin bertanya ke mana saja aku selama ini?” ucap Abra dengan pelan.
Salwa berjalan menuju meja rias, berusaha tidak peduli dengan keberadaan sang suami. Abra pun tidak menyerah, dia mendekati wanita itu dan mencoba mengambil hatinya. Hingga kata-kata monohok keluar dari bibir Salwa.
“Apa itu perlu? Selama berbulan-bulan, pernahkah kamu bertanya padaku bagaimana keadaanku?”
“Aku setiap hari menghubungi Andre untuk bertanya bagaimana keadaanmu.”
“Aku juga setiap hari sudah mendengarmu menghubungi Andre, jadi tidak perlu bertanya lagi, kan?”
Abra terdiam, dia tidak menyangka jika sang suami ternyata mendengar semuanya. Tidak ada kata yang mampu keluar dari bibirnya.
Salwa mengambil baju yang ada di lemari. Dia ingin mandi agar tubuhnya lebih segar. Biasanya wanita itu hanya menggunakan handuk saja, tetapi sekarang Salwa ingin berganti di kamar mandi. Dia masih ingin meluapkan kekesalannya.
“Sayang, tunggu! Maafkan aku. Aku sudah sangat melukaimu, tapi sungguh aku tidak punya maksud sama sekali ke arah sana,” ucap Abra sambil mencekal pergelangan tangan Salwa. “Tolong katakan sesuatu, setidaknya marahlah, pukul aku sepuasmu. Setelah itu kita bicara baik-baik,” lanjutnya.
Tidak dipungkiri jika Salwa merasa tersentuh dengan kata-kata Abra. Akan tetapi, dia masih berusaha untuk menguatkan jika dirinya masih sangat marah. Harus ada sesuatu yang bisa membuat pria itu berpikir untuk tidak mengulanginya lagi.
.
__ADS_1
.