Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
67. Tidak ingin merepotkan


__ADS_3

Abraham mengurai pelukan dan berkata, “Apa pun yang membuatmu nyaman, lakukanlah. Aku pun akan melakukan sesuatu untuk meluluhkan hatimu kembali. Tolong beri aku kesempatan untuk melakukannya.”


Salwa hanya diam tidak mengatakan apa pun. Abra yang mengerti keadaan sang istri pun tidak ingin memaksa. Dia mencoba untuk tetap tersenyum dengan menatap wanita itu.


“Istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu.”


Abra menjalankan kursi rodanya dan menjauh dari sang istri. Dia berhenti di samping sofa. Pria itu tidak ingin mengganggu waktu istirahat istri dan calon anaknya. Dia akan tetap di sini dan tidak ingin ke mana-mana. Tidak berapa lama, pintu diketuk oleh seseorang dari luar, segera Abra mendekati pintu dan membukanya. Ternyata ada Bik Sumi di sana. Wanita paruh baya itu tersenyum ramah padanya.


“Iya, Bik. Ada apa?” tanya Abra.


“Sudah waktunya makan malam, Den. Ditunggu bapak di ruang makan.”


“Iya, Bik. Akan saya panggilkan Salwa. Kalau saya biar nanti Roni yang membawakan ke sini. Saya tidak ingin merepotkan orang dengan membantu saya bolak-balik naik turun tangga. Tadi dia sudah repot dengan membantu saya naik ke sini.”


“Biar saya saja yang membawakan makanan ke sini," tawar Bik Sumi.


“Tidak perlu, Bik. Biar Roni saja, nanti saya hubungi dia. Saya tidak ingin merepotkan Bibi.”


“Saya tidak merasa direpotkan. Ini juga sudah menjadi pekerjaan saya. Tunggu saja sebentar."


“Iya, Bik. Ini saya juga akan bangunin Salwa biar nanti turun.” Bik Sumi mengangguk dan berlalu dari sana.


Sementara itu, Abra menjalankan kursi rodanya ke arah Salwa. Sebenarnya dia merasa tidak enak harus membangunkan sang istri yang baru saja tidur. Akan tetapi, pria itu tidak mungkin membiarkan istri dan anaknya kelaparan.


Dia pernah mendengar jika wanita hamil suka bertambah pola makannya. Abra ingin istri dan anaknya sehat karena itu tidak boleh telat makan.


“Sayang, bangun, ini sudah waktunya makan malam,” ucap Abra dengan menepuk lengan wanita itu.

__ADS_1


Salwa pun perlahan membuka matanya. Sebenarnya dia sama sekali tidak tidur. Dari tadi wanita itu hanya pura-pura memejamkan mata saja. Dia sama sekali tidak bisa tidur dengan keberadaan Abra di kamarnya, yang tentu saja membuat wanita itu tidak tenang.


“Sudah waktunya makan malam. Tadi Bik Sumi sudah mangil, sebaiknya kamu turun. Papa Anton juga sudah menunggu.” Salwa mengangguk dan berlalu begitu saja.


Abra tetap tersenyum meski dalam hati dia kecewa karena wanita itu sama sekali tidak menawarinya untuk makan bersama. Akan tetapi, pria itu mengerti kenapa istrinya bersikap seperti itu. Salwa menuruni tangga menuju ruang makan. Ternyata benar, di sana sudah ada Papa Anton yang sudah menunggu.


“Katanya Abra sudah pulang, kenapa nggak ikut makan?” tanya Papa Anton.


“Mas Abra di kamar saja, Pa. Repot kalau naik turun tangga. Mas Abra 'kan pakai kursi roda,” jawab Salwa.


“Iya, tadi Bik Sumi juga cerita seperti itu. Apa tidak sebaiknya kamar kamu pindah ke lantai bawah saja, biar Abra juga bisa gerak ke mana-mana. Kalau di atas pasti harus menunggu Roni buat bantu,” ucap Papa Anton.


Salwa tampak berpikir. Dia juga sempat berpikir seperti itu. Lebih baik pindah kamar ke lantai bawah saja. Tidak mungkin juga Abra terus-terusan meminta bantuan Roni untuk naik ke lantai atas.


“Mungkin besok saja, Pa. Minta bantuan sama Andre dan teman-temannya.”


“Ini buat Mas Abra, Bik?”


“Iya, Neng.”


“Biar saya saja. Lebih baik Bibi lanjutkan pekerjaan Bibi yang lain.”


Bik Sumi pun kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Salwa masih menikmati makan malamnya. Papa Anton merasa ada sesuatu yang aneh pada sang putri. Sepertinya wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu, tetapi dia tidak ingin ikut campur. Setelah selesai makan malam, Salwa membawakan sepiring nasi dan segelas minuman untuk sang suami ke kamar mereka.


“Ini, Mas. Silakan, kamu belum makan malam, kan?” tanya Salwa sambil meletakkan sepiring nasi dan segelas minuman di meja dekat Abra.


“Terima kasih,” sahut Abra dengan tersenyum. Dia senang sang istri masih perhatian padanya.

__ADS_1


“Iya, tadi Bik Sumi nggak sempat ke sini. Pekerjaannya masih banyak, jadi dia minta tolong sama aku.”


“Oh, begitu,” ucap Abra dengan nada kecewa karena apa yang dilakukan Salwa, ternyata bukan keinginannya sendiri. “Seharusnya tadi kamu nggak usah repot-repot membawakannya. Kamu pasti capek.”


“Tidak juga, hanya sepiring nasi tidaklah susah. Setiap hari juga aku melakukan semuanya sendiri,” ucap Salwa membuat Abra terdiam.


Dia tidak lagi berbicara dan lebih memilih menikmati makan malamnya. Setelah selesai, Abra mencoba menghubungi Roni. Pria itu mengirim pesan pada asistennya itu agar datang ke kamar, untuk mengambil piring kotor bekas makan malamnya tadi. Dia tidak ingin merepotkan Salwa lagi.


“Kenapa minta Roni? Kenapa tidak bilang saja sama aku?” tanya Salwa setelah Roni pergi.


“Oh, tidak apa-apa. Kamu pasti capek, sebaiknya istirahat saja."


"Lain kali jangan selalu merepotkan dia, aku juga bisa melakukannya.”


“Iya, maaf. Lain kali aku tidak akan merepotkan orang lain lagi.”


“Bukan itu maksudku, tapi di sini ada aku. Tidak sepantasnya kamu minta pertolongan orang lain.”


“Ah, iya.”


Bolehkah Abra besar kepala jika Salwa peduli padanya. Dia mencoba untuk terlihat biasa saja, tetapi tetap tidak bisa. Hatinya begitu bahagia saat sang istri memperhatikan apa yang pria itu lakukan. Semoga saja hati wanita itu cepat luluh.


Salwa yang merasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan dengan sang suami pun, memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang dengan membelakangi pria itu. Abra pun jadi bingung, dia harus tidur di mana. Jika di ranjang, pria itu takut Salwa akan marah. Namun jika di sofa, untuk tidur di sana terlalu sulit karena terhalang meja.


Terpaksa Abra harus tidur di kursi roda saja. Sekarang juga dia masih belum mengantuk. Pria itu mencoba mencari kesibukan dengan melihat pekerjaan tadi siang, yang sempat tertunda. Ada beberapa email masuk dari anak buahnya yang sedang mengurusi bisnisnya. Salwa yang sedang membelakangi sang suami mencoba melihat apa yang dilakukan Abra.


Ternyata pria itu sedang memainkan ponsel sesekali mencatat sesuatu di dalam buku. Wanita itu tahu jika Abraham sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia pun menghela napas, di saat seperti ini ternyata sang Suami masih sibuk dengan pekerjaan. Padahal sudah ada yang menghandle semuanya.

__ADS_1


Wanita itu bangun dari tidurnya dan menatap sang suami. Untuk apa dia membayar orang jika harus sibuk dengan pekerjaan juga.


__ADS_2