Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
66. Jangan usir


__ADS_3

“Sayang, kenapa masih diam saja? Maafkan aku, tolong katakan sesuatu! Jangan diam saja,” ucap Abra yang kini duduk di samping Salwa.


Wanita itu duduk di tepi ranjang, sementara Abra duduk di kursi roda di samping sang istri. Sudah beberapa menit, mereka masih saja berdiam diri, hingga Abra yang bertanya lebih dulu.


“Memangnya apa yang harus aku katakan lagi? Aku sudah tidak berselera untuk berbicara."


“Jangan begitu, kamu bisa marah padaku, memukulku atau melakukan yang lainnya, tapi jangan diam saja. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Maafkan aku.”


“Aku penasaran, jika kemarin aku tidak membuatmu keluar, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Bersembunyi dan tidak mau menemuiku. Apakah aku memang tidak begitu berarti untukmu, sampai-sampai kamu tidak mau bertemu denganku.” Salwa bertanya dengan emosi.

__ADS_1


“Tidak seperti itu, kamu sangat berarti untukku karena itulah aku tidak ingin merepotkanmu. Kamu sedang hamil, aku yakin kamu sudah sangat kerepotan.”


“Kalau aku kerepotan, kenapa kamu tidak menyewa perawat saja? Kamu bisa tetap di sampingku dengan bantuan perawat, bukan? Zaman sekarang banyak yang bisa dilakukan dengan uang. Tidakkah kamu berpikir sampai ke arah sana? Yang aku butuhkan adalah seseorang yang bisa mendampingiku, bukan seseorang yang bisa membayar orang lain untuk menemaniku. Semua orang pasti berpikir jika anak ini adalah anaknya Andre karena selama ini hanya dia yang selalu ada untukku. Jika suatu saat nanti dia memanggil Andre dengan panggilan Papa dan memanggil kamu Om, maka jangan salahkan dia karena semua ini berawal dari dirimu sendiri.”


“Tidak ... itu tidak akan pernah terjadi," sela Abra dengan cepat. "Aku sedang berusaha agar bisa berjalan lagi. Aku tidak akan membiarkan orang lain menempati posisiku. Aku sungguh tidak tahu caranya bagaimana untuk meyakinkanmu.”


“Jangan pikiran, untuk saat ini aku sedang tidak ingin berdebat karena kamu juga sudah pulang, anggap saja tidak pernah terjadi apa pun. Sekarang terserah kamu, mau pergi lagi atau tidak aku—“


Cukup kesalahan yang selama ini Abra lakukan. Dia tidak ingin melakukannya lagi, pria itu ingin selalu bersama dengan istrinya. Menemani wanita itu dalam keadaan apa pun. Abra akan menebus semua kesalahan yang dia lakukan.

__ADS_1


“Cukup! Jangan suruh aku pergi, cukup kerinduanku selama ini yang aku tahan. Sekarang tidak lagi, kebodohan yang sudah aku lakukan merupakan kesalahan terbesar yang aku lakukan. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Kamu boleh melakukan apa pun, tapi jangan pernah mengusirku dari sisimu. Jika kamu merasa jijik padaku, aku akan menjaga jarak. Aku akan berusaha membuatmu yakin padaku."


Salwa yang berada dalam pelukan sang suami pun tidak kuasa menahan air matanya. Pelukan yang selama ini dia rindukan akhirnya wanita itu rasakan juga. Selama ini jika Salwa rindu, selalu memakai baju Abra untuk mengurangi rasa rindunya. Namun, tetap saja rasanya berbeda kalau orangnya sendiri yang memeluknya, seperti sekarang ini.


"Maafkan aku, aku tahu kata Maaf tidak akan bisa mengobati rasa sakit yang selama ini kamu rasakan, tapi tolong beri aku waktu untuk menebus semuanya," ujar Abra lagi.


“Aku akan memberimu waktu, tetapi aku tidak yakin aku bisa memaafkanmu,” jawab Salwa setelah menghapus air matanya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2