
“Dokter siapa?” tanya Abra saat melihat Andre tidak melanjutkan kara-katanya. Sorot matanya yang tajam semakin membuat orang yang ada di sekitarnya ketakutan.
“Namanya dokter Ryan, Bos," jawab Andre dengan menunduk.
“Roni, ayo, segera kita masuk!”
“Bos, apa kita tidak perlu memakai masker?” tanya Roni.
“Tidak perlu, sudah saatnya aku menemui Salwa. Aku tidak rela kalau istriku dekat dengan pria lain.”
Roni mendorong kursi roda Abra dan memasuki rumah sakit. Saat akan ke tempat resepsionis, Andre melihat keberadaan Salwa. Dia pun memberitahu atasannya.
“Bos, itu Nyonya Salwa, sepertinya sedang mengantre obat,” ucap Andre sambil menunjuk ke arah tempat Salwa duduk.
Abra melihat ke arah yang ditunjuk oleh Andre, seketika dirinya mematung. Sudah lama pria itu tidak melihat istrinya dan hari ini wanita itu tampak begitu cantik. Rasa rindu yang selama ini dia pendam, kini tumbuh begitu besar. Ingin sekali Abra berlari dan memeluk istrinya.
Hal yang sudah sangat lama dia inginkan. Namun, tak kunjung terlaksana. Pria itu berharap Salwa juga merasakan hal yang sama.
“Apa kita akan tetap di sini, Bos? Apa kita tidak menemui Nyonya Salwa?” tanya Roni. Namun, Abra masih tetap diam. “Apa Anda tidak melihat pria di sekitar, mereka melihat ke arah Nyonya Salwa.”
Roni sengaja ingin membuat Abra terbakar cemburu karena dirinya juga sudah kesal dengan atasannya itu. Sudah berulang kali dia mengingatkan untuk pulang, tetapi tidak digubris sama sekali. Sekarang rasakan sendiri akibatnya. Jangan salahkan Salwa jika dia mencari orang lain yang bisa melindunginya.
Abra melihat ke sekeliling, memang benar, banyak sekali yang memandangi istrinya. Ingin sekali dia memberi pelajaran pada mereka semua karena berani sekali menikmati kecantikan istrinya. Perlahan pria itu menggerakkan kursi rodanya mendekati sang istri.
“Sayang,” panggil Abra dengan pelan. Namun, masih bisa didengar orang yang berada di sekitar.
Salwa hanya melihat sekilas kemudian bangkit karena namanya dipanggil petugas apotek untuk mengambil obatnya. Tanpa seorang pun ketahui, jika saat ini jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Ada rasa sedih kala melihat sang suami ternyata memakai kursi roda, tetapi dia tidak ingin luluh begitu saja.
Berbulan-bulan Salwa menahan semuanya sendiri. Dia juga menahan rindu yang tidak berbalas. Air mata yang keluar setiap hari, sepertinya tidaklah begitu penting untuk sang suami. Sekarang dengan mudahnya pria itu datang.
Sebagai seorang istri tidakkah dia cukup baik untuk tempat berbagi? Kenapa Abra menghindarinya? Wanita itu juga ingin menjadi tempat sang suami berkeluh kesah.
__ADS_1
Tidakkah Abra tahu bagaimana rasa sakit yang wanita itu rasakan selama ini? Salwa ingin melewati hari-harinya bersama sang suami, tetapi itu ternyata sangat berat untuk dilakukan Abra. Apa permintaannya begitu sulit, hingga pria itu tidak ingin mengabulkannya.
Setelah mengambil obatnya, Salwa berjalan begitu saja melewati Abra. Dia menuju tempat di mana Andre dan Roni berdiri. Wanita itu terus berjalan tanpa ekspresi apa pun.
“Apa kabar, Roni? Lama tidak bertemu,” sapa Salwa.
“Ba–baik, Nyonya,” sahut Roni tergagap.
Dia cukup terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan Salwa tadi, begitu juga dengan Andre. Mereka pikir wanita itu akan sangat senang dengan kedatangan Abra dan segera memeluknya. Namun, kenapa sekarang Salwa seperti tidak peduli dengan keberadaan atasan mereka?
Abra sendiri merasa sedih dengan sikap Salwa. Dia berpikir jika istrinya tidak bisa menerima keadaannya kini. Sebenarnya pria itu bisa melihat ada kerinduan di mata sang istri, tetapi kenapa Salwa pergi begitu saja. Setidaknya dia membalas sapaannya.
“Andre, ayo, pulang!” ajak Salwa.
“Tapi, Nyonya, itu Bos Abra ....”
“Memang kenapa dengan bos kamu? Di sini ada asistennya. Dia bisa pulang bersama dengan Roni. Saya tidak mungkin pulang bersamanya karena dia sendiri tidak mau pulang. Saya juga tidak mungkin bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak merindukanku, apalagi mencintaiku. Jika aku orang yang sangat berharga untuknya, dia tidak mungkin membiarkanku menangisinya setiap hari. Kalau kamu tidak mau mengantarku, aku bisa pulang sendiri.”
Andre segera mengejar majikannya itu. Dia juga sangat menyayangkan sikap Abra. Ada perasaan bersalah juga karena selama ini, pria itu ikut bekerjasama menyembunyikan keberadaan atasannya. Ternyata Salwa sudah mengetahui semuanya, entah dari mana.
“Nyonya, tunggu!” panggil Andre. Pria itu berlari mengikuti majikannya.
Sementara itu, Roni mendekati Abra yang masih berdiam diri. Dia ingin berbicara, tetapi merasa tidak enak dengan atasannya itu. Terlihat kesedihan yang teramat dalam di wajah Abra.
“Roni, aku sudah sangat menyakiti hatinya. Aku tahu dia terluka," kata Abra.
“Sebaiknya Anda segera minta maaf, Tuan. Sebelum semuanya terlambat.”
Abra berpikir sejenak kemudian berkata, “Kamu benar, Roni. Aku harus minta maaf dan menjelaskan semuanya. Aku tidak ingin Salwa salah paham. Ayo, antar aku pulang.”
Roni segera mendorong kursi roda atasannya. Mereka menaiki mobil dan menuju rumah keluarga Anton. Abra ingin minta maaf pada Salwa, dia baru sadar jika pikirannya selama ini ternyata salah. Justru apa yang dilakukannya sudah sangat menyakiti sang istri.
__ADS_1
Sementara itu, di mobil yang dikendarai Andre, Salwa mencoba menetralkan rasa sakitnya. Dia sudah berjanji akan baik-baik saja dan menghadapi semuanya dengan tenang.
“Andre, turunkan aku di sini. Aku ingin pergi sendiri,” ucap Salwa.
“Saya tidak mungkin meninggalkan Anda sendiri di sini. Saya akan mengantarkan Anda ke mana pun tujuan Anda.”
“Saat ini aku sedang ingin sendiri, Andre.”
“Anda tenang saja, saya tidak akan mengganggu ketenangan Anda, jadi Anda bisa berpura-pura saya adalah orang lain.”
Andre adalah orang yang sangat keras kepala, sepertinya percuma juga minta pria itu untuk menurunkannya. Lebih baik Salwa berpura-pura tidak melihatnya.
“Baiklah kalau begitu, bisakah kamu matikan ponselmu. Aku tidak ingin ada seseorang yang bertanya padamu, di mana aku sekarang.”
“Baik, Nyonya.” Andre pun mematikan ponselnya.
Salwa meminta pria itu untuk membawanya ke sebuah tempat, di mana dia selalu menyendiri. Andre sempat bingung, kenapa wanita itu ingin ke sana, tetapi dia tidak bertanya karena janjinya tadi. Sepanjang perjalanan wanita itu hanya diam sambil melihat ke arah jalanan, yang dipenuhi dengan kendaraan bermotor.
“Nyonya, kita sudah sampai. Apa benar ini tempatnya?” tanya Andrea.
Salwa melihat ke sekeliling dan benar saja mereka sudah sampai di tempat yang wanita itu katakan. Dia turun dari mobil menuju tempat Salwa menenangkan diri. Tempat di mana tidak ada yang bisa mengganggunya. Sebuah tebing dengan pemandangan sawah yang hijau.
Udara yang sudah terasa hangat oleh sinar matahari menerpa tubuh wanita itu. Pemandangan hijau di depannya membuat hati perlahan mulai tenang. Ada juga beberapa petani yang sedang merawat tanaman mereka.
Sudah sangat lama wanita itu tidak datang ke sini. Dulu setiap dia ada masalah dengan papanya, pasti akan datang ke sini. Sekarang untuk pertama kalinya, Salwa bermasalah dengan sang suami dan harus kembali ke tempat ini. Di tempat ini, wanita itu bisa menangis sepuasnya.
Andre hanta melihatnya dari kejauhan. Dia tidak ingin mengganggu majikannya yang sedang menumpahkan keluh kesahnya.
.
.
__ADS_1