Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
20. Kami berbeda


__ADS_3

Azan subuh berkumandang, membangunkan Salwa dari tidurnya. Dia merasa tubuhnya benar-benar lelah. Tidurnya pun terasa tidak nyaman. Wanita itu mencoba membuka matanya.


Salwa tersadar jika dirinya kini berada di dalam mobil. Tiba-tiba tubuhnya bergetar kala teringat apa yang terjadi semalam. Semuanya sangat jelas, dia juga tahu kalau dirinya sudah sangat dikuasai oleh nafs*. Wanita itu sama sekali tidak menyalahkan Abra yang sudah merenggut kehormatannya.


Bagaimanapun semua ini salahnya. Andai Salwa tidak datang dan tidak makan atau minum sesuatu di sana, semua ini tidak akan terjadi. Air mata mengalir dari matanya. Menyesali apa yang sudah terjadi. Namun, semuanya tidak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur. Kehormatannya juga tidak akan bisa kembali lagi.


Dia melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai pakaian dan sudah dipenuhi tanda cinta Abra. Bagian inti tubuhnya pun terasa nyeri. Sekarang Salwa telah kehilangan sesuatu yang selama ini wanita itu banggakan. Entah bagaimana nanti dia menghadapi suaminya kelak.


Isak tangis dari Salwa telah membangunkan Abra. pria itu mencoba mengingat apa yang sudah terjadi, seketika dia tersadar dan segera menatap Salwa, wanita yang sudah Abra renggut kehormatannya. Pria itu sungguh merasa bersalah padanya. Tidak ada niat sedikit pun dalam dirinya untuk melakukan itu. Semuanya terjadi begitu saja tanpa dia kehendaki.


Abra tahu jika semalam adalah yang pertama untuk Salwa. Sungguh dia benar-benar menyesali semuanya, tetapi semuanya sudah terlanjur. Dia juga tidak bisa mengulang waktu karena semalam wanita itu benar-benar telah membangkitkan gairahnya. Abra pun tidak bisa menahan n*fsunya sama sekali.


"Maafkan aku, semalam aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku sudah mencoba menahannya, tapi aku juga pria normal yang memiliki nafsu yang besar," ucap Abra.


Salwa terdiam melihat ke arah Abra. Tidak tahu sejak kapan pria itu terbangun. Dia mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya dan mencoba menetralkan dirinya. Wanita itu juga tidak menyalahkan Abraham karena dia tahu pria itu hanya ingin menolong. Siapa pun orangnya pasti akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan Abra.


"Aku tidak marah padamu. Anggap saja ini semua kesialan untukku," jawab Salwa tanpa melihat Abra.

__ADS_1


"Untuk apa kamu semalam datang ke pesta itu? Bukankah dia saingan cinta Ibra?" tanya Abra. Dia yakin jika ada sesuatu yang terjadi. Tidak mungkin jika Salwa tidak tahu perseteruan antara Ibra dan Nando.


"Kamu benar. Dia terobsesi padaku, entahlah apa yang membuatnya tertarik padaku. Padahal aku sama sekali tidak menggodanya. Banyak wanita di luar sana yang juga lebih cantik daripada aku. Semalam papa mengajakku ke sana. Aku sudah mencoba untuk menolak, tapi papa memaksa dan mengancamku agar mau datang. Kamu tahu, kan, kalau papaku itu orangnya ambisius terhadap perusahaan. Dia ingin semakin memajukan perusahaannya dengan kucuran dana dari Nando. Jadi dia memenuhi keinginan pria itu untuk mengajakku datang ke pesta itu. Bodohnya, aku sama sekali tidak berpikir bahwa Nando akan menjebakku. Bahkan dia juga sudah menikmati tubuhku. Bukankah sekarang aku terlihat seperti wanita mur***n?" desis Salwa dengan air mata yang mengalir semakin deras. Wanita itu tidak tahu dosa apa yang sudah dia lakukan, hingga takdir mempermainkannya dengan sangat kejam. "Tapi aku berterima kasih padamu karena sudah menghilangkan jejaknya. Meskipun aku harus kehilangan sesuatu yang berharga yang sudah aku jaga selama ini," lanjut Salwa dengan tersenyum getir.


Abraham meraih kemeja yang ada di kursi belakang. Dia memberikannya kepada Salwa agar wanita itu memakainya. Tidak mungkin pria itu membiarkannya berbalut selimut saja. Mungkin inilah yang dinamakan takdir. Sejauh apa pun kita menghindar, yang terjadi tetap akan terjadi.


"Pakailah kemejaku. Kita ke apartemenku dulu, tidak mungkin kamu pulang dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa nanti akan menjadi masalah yang lebih besar lagi."


Salwa hanya diam, dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Abra memalingkan wajahnya ke jendela saat wanita itu memakai kemejanya. Setelah itu dia melajukan mobil ke sebuah apartemen miliknya. Mereka naik melewati pintu rahasia yang hanya bisa dilewati orang tertentu saja.


"Selamat pagi, Bos," sapa seorang pria yang membukakan pintu.


Abraham mengangguk dan menarik tangan Salwa agar mengikutinya masuk. Dia membawanya ke dalam kamar miliknya karena di apartemen itu hanya ada dua kamar. Satu kamar lainnya sudah ditempati oleh orang suruhannya tadi. Hanya tersisa kamarnya yang akan digunakan Salwa untuk mandi.


"Bersihkan dulu tubuhmu. Aku akan membelikan baju untukmu mungkin agak lama. Kamu bisa pakai bajuku terlebih dahulu," ujar Abra.


Salwa hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun. Cukup lama wanita itu membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia keluar dan mendapati Abra yang berbincang serius dengan pria tadi, yang diyakini anak buah Abra karena baru kali ini Salwa melihatnya itu. Dia sangat tahu orang-orang yang berada di sekitar Ibra.

__ADS_1


Tanpa mengganggu mereka Salwa duduk di sebuah sofa yang berada di sana. Yang wanita itu tangkap dari pembicaraan kedua pria itu ternyata mereka tengah membahas masalah penyakit Ibra. Dia baru tahu jika Ibra sakit. Orang tuanya pun tidak pernah mengatakan kepadanya. Apa itu yang membuat Abra menggantikan posisi Ibra?


"Apa itu penyakit yang sangat serius, hingga bisa membuat Ibra kehilangan nyawa?" tanya Salwa dalam hati.


Anak buah Abra segera berlalu menuju kamarnya setelah selesai berbincang dengan Abra. Dia tidak ingin mengganggu atasannya karena pria itu yakin jika Abra dan wanita yang dibawanya masih ada keperluan.


"Kenapa kamu percaya padaku?" tanya Salwa setelah anak buah Abra tidak terlihat.


Abra hanya menyernyitkan keningnya karena tidak mengerti pertanyaan Salwa. Wanita itu menghela napas dan menjelaskan pertanyaannya.


"Kenapa kamu masih melanjutkan pembicaraan kamu dengan pria tadi? Padahal aku tahu itu adalah rahasia. Sedangkan ada aku di sini."


"Oh, itu, aku yakin kamu bisa menjaga rahasia, itu saja."


"Kamu terlalu memandang tinggi aku. Seharusnya kamu tidak terlalu percaya pada orang lain karena bisa saja mereka juga mengkhianatimu," ujar Salwa. "Oh iya, Ibra sakit apa? Apa itu juga yang membuatmu menggantikan posisinya? Apa kalian saudara kembar?"


"Dengan melihat saja, kamu pasti sudah tahu jawabannya. Dia dan aku memang saudara kembar, tapi kami memiliki nasib yang berbeda. Di keluarga, dia adalah anak yang paling disayang. Semua keinginannya pasti akan terpenuhi dengan alasan dia lebih pintar daripada aku. Kami selalu dibanding-bandingkan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah itu dan mencari kehidupanku sendiri. Kehidupan yang jauh dari keluarga dan jauh dari orang-orang yang memandangku dengan sebelah mata. Bertahun-tahun aku tinggal di luar negeri, menjalani kehidupan bebas tanpa ada tuntutan apa pun. Aku juga bisa sukses tanpa bantuan mereka. Hingga mama menghubungiku dan memintaku untuk pulang. Awalnya aku kira mama benar-benar memintaku pulang karena merindukanku. Namun, semuanya hancur saat aku sampai di kota ini. Ternyata mereka ingin aku menggantikan Ibra agar tidak ada satu orang pun yang tahu mengenai kondisinya. Dia terbaring koma di rumah karena ada seseorang yang memberinya racun. Papa memintaku untuk mencari pelakunya dan meminta obat penawarnya pada pelaku."

__ADS_1


__ADS_2