Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
32. Ibra sembuh


__ADS_3

Usai menikmati makan siang, Abra dan Salwa memutuskan untuk segera menemui Papa Handi dan Mama Syakila. Kebetulan keduanya saat ini sedang berada di rumah. Tadi dia sempat bertanya pada Romi dan asistennya itu mengatakan, jika Papa Handi tidak datang ke perusahaan.


Tidak berapa lama akhirnya keduanya sampai juga di rumah keluarga Abra dan memang benar, ada mobil Papa Handi di depan rumah. Akan tetapi, rumah tampak begitu sepi, entah ke mana perginya semua orang.


"Assalamualaikum," ucap Salwa, sementara Abra hanya diam saja sambil berjalan mencari keberadaan kedua orang tuanya.


"Papa di mana, Bik?" tanya Abra pada ART-nya.


"Mungkin ada di atas, Tuan. Akan saya carikan," jawab Bik Ita dengan tergesa-gesa berjalan ke lantai atas.


Abra yang melihatnya pun merasa bingung, tetapi dia berusaha untuk berpikir positif. Pria itu pun mengajak kekasihnya untuk duduk di ruang tamu, sambil menunggu kedua orang tuanya. Ini bukan pertama kali bagi Salwa datang ke rumah ini. Akan tetapi, ada rasa berbeda yang saat ini dia rasakan.


Salwa merasa gelisah, dari tadi wanita itu terus saja memainkan kedua telapak tangannya yang terasa dingin. Abra yang mengerti pun segera menggenggam telapak tangan kekasihnya. Pria itu sangat tahu apa yang Salwa rasakan karena dia pun merasakannya.


"Jangan khawatir. Apa pun yang akan terjadi, aku akan berusaha untuk hubungan kita dan juga calon anak kita," ujar Abra dengan tersenyum.


Salwa pun membalas genggaman Abra. "Entahlah, kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Aku merasa takut terjadi sesuatu."


"Pikirkanlah yang baik-baik, banyak berdoa. Bukannya kamu sering berbicara seperti itu!"


Salwa mengangguk. Dia pun berusaha untuk tetap tenang. Tidak lupa juga baca istighfar untuk menenangkan hatinya. Selang beberapa menit akhirnya Mama Syakila dan Papa Handi turun.


"Ada apa kalian ke sini? Sekarang masih siang, tapi kamu sudah pulang. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Papa Handi yang kemudian duduk di sofa panjang di depan Abra dan Salwa diikuti oleh sang istri.


"Aku sengaja membatalkan jadwalku hari ini, Pa. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," jawab Salwa yang tidak ingin berbasa-basi.


"Bicara apa? Katakan saja."


"Aku sudah menemukan obat penawar untuk Ibra," jawab Abra. Namun, tidak seperti perkiraannya.


Papa Handi dan Mama Syakila terlihat biasa saja. Padahal sebelumnya mereka yang memaksa adalah untuk mencari obat tersebut. Abra dan Salwa saling pandang, keduanya bingung dengan reaksi dari orang yang ada di depannya.

__ADS_1


"Jadi, kamu sudah menemukan obat untuk Ibra dan kamu mengatakan hal itu di depan Salwa. Berarti dia sudah tahu siapa kamu dan apa yang terjadi pada Ibra."


"Benar, Pa, karena itu aku ingin berdiskusi dengan Papa."


"Berdiskusi soal apa?"


"Aku ingin menukarkan obat ini dengan kebebasan Salwa."


Papa Handi mengerutkan keningnya. Pria itu menatap istrinya sejenak kemudian kembali menatap Abra. "Maksudnya?"


"Aku akan memberikan obat penawar ini pada Ibra. Asalkan dia mau melepaskan Salwa. Aku mencintainya dan akan menikahinya," ucap Abra dengan mantap.


"Jadi kamu jatuh cinta pada tunangan saudaramu itu?"


"Iya, Pa. Benar aku jatuh cinta sama dia dan lebih dari itu, Salwa juga sudah mengandung anakku."


Papa Handi dan Mama Syakila begitu syok mendengarnya. Membayangkan pernikahan Abra dan Salwa saja mereka tidak sanggup, apalagi pernikahan. Bagaimana bisa putranya melakukan itu? Padahal Salwa adalah tunangan saudaranya.


"Sebelumnya sudah aku peringatkan, bukan! Jangan bertindak terlalu jauh pada Salwa. Dia tunangan adikmu!" geram Papa Handi.


"Maaf, Pa, tapi perasaan juga tidak bisa dipaksakan. Semuanya datang dan mengalir begitu saja karena itu, aku membuat penawaran untuk menukar obat ini dengan Salwa."


"Sayangnya aku tidak lagi membutuhkan obat itu," sahut Ibra yang turun dari tangga membuat Abra dan Salwa terkejut.


Bagaimana bisa Ibra sembuh tanpa obat itu? Apa selama ini dia dibohongi oleh kedua orang tuanya mengenai keadaan Ibra yang sebenarnya. Pantas saja akhir-akhir ini Papa Handi jarang sekali pergi ke kantor dan melimpahkan semua pekerjaan padanya.


"Kenapa terkejut melihat keadaanku? Atau kamu ingin aku tidak bangun selamanya? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Salwa dan kamu Salwa ... selamanya akan terikat denganku. Mengenai anak itu, kamu tenang saja. Aku akan menerimanya dengan sepenuh hati dan menganggapnya seperti anakku sendiri."


Salwa menggelengkan kepala dengan cepat. Dia tidak mau hidup dengan Ibra. Pria yang sudah menyakiti dan menghianatinya. Wanita itu juga tidak ingin memisahkan anaknya dengan ayah kandungnya. Salwa yakin Ibra dan keluarganya akan menutupi kebenaran soal ayah kandung anaknya. Jika dirinya menerima tawaran tunangannya.


"Kenapa? Kamu mau menolak keinginanku? Kamu tahu, kan, apa yang terjadi pada perusahaan ayahmu jika kamu menolak keinginanku?" tanya Ibra dengan pandangan menusuk.

__ADS_1


"Aku mohon lepaskan aku! Jangan lakukan apa pun pada perusahaan papa!" Salwa memohon dengan air mata yang menetes.


Bukan dia kasihan pada papanya. Salwa hanya tidak ingin Papa Anton melakukan sesuatu yang kejam pada dirinya dan Abra, terutama calon anaknya. Wanita itu tidak bisa membayangkan semua itu, terlalu mengerikan saat mengingat masa lalunya.


"Ibra, tolong jangan persulit kami. Aku tahu kamu orang yang baik," sela Abra.


Abra dan Salwa berusaha membujuk Ibra agar melepaskan mereka. Keduanya sedang memperjuangkan cinta yang baru tumbuh. Namun, sudah terikat kuat di hati masing-masing.


"Apa kalian benar saling mencintai?" tanya Ibra dengan suara pelan.


"Tentu saja. Kalau tidak, kami tidak mungkin memohon padamu," sahut Abra dengan cepat.


"Baiklah, kalian pergilah."


"Benar apa yang kamu katakan?" tanya Abra seakan tidak percaya. Begitu juga Salwa yang langsung menatap Ibra, berharap apa yang didengarnya tidak salah.


"Pergilah sekarang juga, sebelum aku berubah pikiran," ucap Ibra lagi tanpa melihat ke arah siapa pun.


"Terima kasih. Aku akan pergi."


Abra begitu bahagia. Dia segera mengajak kekasihnya pergi dari rumah itu. Berbeda dengan Salwa yang merasa ada sesuatu yang aneh dengan Ibra. Wanita itu bisa melihat ada tatapan lain dari pria itu. Tiba-tiba saja perasaan khawatir kembali merasuk ke dalam hatinya.


"Kamu yakin melepaskan mereka?" tanya Papa Handi pada Ibra setelah Abra dan Salwa tidak terlihat.


"Tentu saja tidak! Mereka bisa main belakang. Aku pun bisa melakukannya," jawab Ibra dengan senyum smirknya.


"Kamu tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, kan?" tanya Mama Syakila yang bisa melihat tatapan lain putranya.


"Hal berbahaya apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya bermain-main saja."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2