Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
48. Musuh


__ADS_3

"Bagaimana? Apa ada perkembangan terbaru?" tanya Abra saat memasuki apartemennya.


"Saat ini belum ada. Anak buah kita masih menelusuri hutan itu. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan," jawab Roni yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Apa kamu tahu mereka dari kelompok mana? Setahu di negara ini hanya ada dua kelompok, yaitu yang dipimpin Alex dan satunya Tom. Apa mungkin salah satu di antara mereka?"


"Kalau Alex, sepertinya tidak mungkin, Bos, karena dia tidak akan berani menyentuh Anda setelah apa yang kita lakukan padanya terdahulu. Kalau tuhan Tom, bisa jadi."


"Kamu jangan terlalu menyepelekan musuh. Bisa saja Alex dendam dan sekarang membuat kelompok yang lebih kuat lagi untuk melawan kita. Semuanya masih abu-abu. Setiap orang bisa menjadi pelakunya, bahkan jika dia orang terlemah sekalipun."


Roni terdiam, dia tidak berpikir sampai ke arah sana. "Anda benar, Bos. Saya akan mencari tahu lebih detail lagi."


"Bagus kalau seperti itu," sahut Abra. "Apa Lukas belum datang ke sini?"


"Belum, Bos. Mungkin sebentar lagi."


Abra mengangguk dan memilih masuk ke ruang kerjanya. Ada beberapa hal yang harus diurus di sana mengenai perusahaan miliknya. Tidak berapa lama bel apartemen berbunyi. Roni pun membuka pintu, ternyata Lukas dan Leo yang ada di depan pintu.


"Apa Bos sudah datang?" tanya Lukas.


"Sudah, tapi sekarang sedang ada di ruang kerjanya. Dia tadi juga menunggu kalian," jawab Roni.


"Kita tunggu di sini saja, barangkali Bos masih ada pekerjaan." Leo hanya menurut saja tanpa berkata apa pun.


Ketiganya duduk di ruang tamu dan sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


"Kalian sudah datang? Bagaimana, apa ada perkembangan mengenai musuh kita yang ada di luar negeri?" tanya Abra yang baru ke luar dari ruang kerjanya. Dia juga ikut duduk di sofa ruang tamu.


"Iya, Bos. Mereka ada pergerakan halus di sekitar markas. Sepertinya mereka mengintai kita. Mungkin ingin tahu apa saja yang kita lakukan," jawab Lukas.


"Wah, ternyata musuh kita sangat berani kali ini. Kita harus hati-hati, sepertinya mereka punya kekuatan yang lebih karena sudah berani memasuki wilayah kita."

__ADS_1


"Benar, Bos. Saya sudah meretas CCTV yang ada di markas mereka. Memang mereka melakukan latihan dengan keras tanpa henti. Bahkan ada beberapa pemuda yang dipaksa masuk ke dalam kelompok mereka. Jika mereka tidak mau melakukan latihan, mereka akan dicambuk bahkan tidak segan keluarga mereka yang menjadi korban," sahut Leo.


"Sungguh biadab sekali mereka, menggunakan cara licik untuk memperkuat kelompok mereka."


"Benar dan yang paling membuat aku marah adalah mereka malah mempermainkan adik perempuan para pemuda itu. Ingin sekali aku memotong tangan mereka yang sudah melakukan hal keji itu." Leo menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Dia benar-benar geram dengan apa yang dilakukan musuh mereka.


Tangan Abra pun juga mengepal. Meski dia tidak mengenal siapa gadis yang dimaksud Leo, tapi sebagai seorang pria, Abra merasa malu dengan apa yang mereka perbuat. Dia jadi teringat kepada istrinya yang juga pernah hampir dilecehkan oleh orang lain.


Kalau mereka mau, kenapa tidak menikah saja? Itu juga tidak akan merugikan siapa pun. Mereka bebas melakukan apa pun pada istrinya, tanpa harus melukai seorang gadis yang tidak bersalah. Memang sudah jika berbicara tentang orang yang sudah buta mata hatinya.


"Apa saja yang sudah kamu perintahkan pada anak buahmu?" tanya Abra.


Lukas pun menjabarkan semua tentang kelompoknya pada Abra. Pria itu juga menambahkan apa yang sudah disusun. Abra tersenyum mendengar penjelasan Lukas. Ternyata usahanya meninggalkan kelompok yang dipimpin selama ini membuahkan hasil. Lukas banyak belajar bagaimana menjadi pemimpin. Penjelasan pria itu pun sangat detail dan memuaskan.


"Kenapa Anda hanya senyum-senyum saja, Bos? Apa ada sesuatu yang aneh dengan penjelasan saya atau Anda kurang suka? Jika seperti itu, Anda bisa merubahnya," ujar Lukas sambil menundukkan kepala.


"Tidak, saya senang dengan cara kerja kamu. Kamu banyak berubah setelah menjadi pimpinan."


"Tidak, Bos. Bagi kami, atasan kami hanya satu yaitu Anda."


"Kami sangat mengerti, Bos. Kami juga sudah memberi pengamanan yang ketat di bandara."


"Bagus kalau begitu. Aku pergi dulu jika ada sesuatu yang terjadi Segera hubungi aku."


"Baik, Bos."


Abra pun meninggalkan apartemen menuju rumah mertuanya. Di tengah perjalanan, dia melihat penjual martabak manis. Pria itu pun teringat jika sang istri sangat menyukainya. Abra turun dan membelikannya untuk Salwa. Pasti wanita itu rindu ingin keluar.


Sejak Ibra kabur, hidup mereka memang tidak tenang. Terutama Salwa, dia terus saja dihantui kekhawatiran. Mungkin karena dirinya pernah menjadi korban penculikan, makanya wanita itu lebih takut.


Akhirnya setelah mengendarai mobil selama tiga puluh menit, Abra sampai juga di depan rumah mertuanya. Ini masih siang, tetapi mobil Papa Anton sudah terparkir di halaman. Entah apa yang membuat pria itu pulang lebih awal. Mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Abra begitu memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Salwa yang baru saja menuruni tangga. Wanita itu mendekati sang suami dan mencium punggung tangannya.


"Sayang, ini aku tadi beliin kamu martabak manis di jalan. Aku tahu kamu suka, jadi aku membelikannya," ucap Abra sambil menyerahkan satu kotak martabak manis.


"Wah, kebetulan aku lagi pengen ngemil. Terima kasih, ya, Mas," ucap Salwa dengan wajah berbinar.


"Sama-sama, Sayang," sahut Abra dengan tersenyum. Dia senang melihat sang istri menyukainya. Itu berarti, usahanya tidak sia-sia.


"Mas, mau makan atau mandi dulu?"


"Mau mandi dulu saja. Tubuhku terasa nggak enak."


"Aku siapin air hangat, dulu, deh!" Salwa akan pergi. Namun, dicegah oleh Abra. Dia tidak ingin merepotkan istrinya.


"Tidak perlu, aku mandi pakai air dingin saja, lebih segar."


"Kalau begitu aku buatin teh."


Abraham mengangguk dan berlalu menuju kamar mandi. Sementara itu, Salwa menuju dapur untuk membuatkan sang suami teh hangat. Setelah selesai mandi, Abra melihat istrinya duduk di sofa sambil menikmati martabak manis yang tadi di bawahnya. Di meja juga sudah tersedia teh yang wanita itu siapkan untuk sang suami.


"Papa kok tumben sudah pulang, Sayang?" tanya Abra.


"Belum, Mas. Itu tadi sopir perusahaan yang bawa ke sini. Papa ada pekerjaan di luar kota."


"Besok kalau kita pergi, nggak ada Papa, dong?"


"Nggak pa-pa, Mas. Nanti juga kita ke sini lagi."


Abra mengangguk. Memang benar, mereka akan kembali lagi saat Ibra ditemukan. Saat itu dia harus memastikan sendiri jika saudaranya benar-benar dihukum. Kalau tidak, maka jangan salahkan pria itu yang akan turun tangan sendiri.

__ADS_1


.


.


__ADS_2