
Abra dan Leo masih mengamati laptop yang terhubung dengan kamera lebah yang masuk ke dalam gedung. Tampak beberapa pengawal yang berjaga di sana. Sepertinya pemilik gedung ini bukan orang biasa. Terlihat dari banyaknya anak buah yang dimiliki. Mereka semua juga terlihat cukup terlatih.
Hingga sampailah kamera itu pada sebuah ruangan yang tampak beberapa penjaga di depan pintu. Leo yakin pasti ada seseorang di dalam itu. Namun, sayang, Leo kesulitan mencari celah untuk memasukkan lebah itu. Tanpa sengaja kamera mengarah pada seseorang yang baru datang yang tidak lain adalah bos mereka.
Bukan itu yang menarik perhatian Abra, tetapi keberadaan Ibra di samping bos mereka. Tentu saja hal itu membuat Abra terkejut. Ternyata dalang dari penculikan Salwa adalah saudara kembarnya. Dia sangat yakin hal itu, sama seperti yang Anton katakan kemarin.
Pria itu penasaran, apa tujuan saudaranya itu menculik Salwa. Apa mungkin dia ingin merebut wanita itu kembali? Bukankah dia sudah sepakat untuk melepaskan wanita itu? Kenapa sekarang ingin kembali lagi? Dalam hati Abra berdoa mudah-mudahan kekasihnya baik-baik saja.
"Oh, jadi ini saudara kembar Anda, Bos? Benar-benar mirip," gumam Leo yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Namanya juga saudara kembar, sedang pasti mirip," sahut Lukas yang duduk di depan.
Abra hanya diam, tidak menghiraukan kedua kakak beradik itu berdebat. Dia memperhatikan saudaranya dengan saksama. Pria itu ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Abra bisa melihat dengan jelas saat Ibra memasuki ruangan dan benar saja ada Salwa di sana.
Wanita itu duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Sungguh Abra sangat sedih melihatnya. Salwa memang wanita yang kuat, tetapi tetap saja dia seorang wanita yang butuh perlindungan. Apalagi sekarang kondisinya sedang hamil.
"Lukas, berapa lama lagi orang-orangmu akan sampai?" tanya Abra yang sudah sangat khawatir.
"Mereka sedang dalam perjalanan, Bos. Mohon tunggu sebentar."
"Tapi aku tidak bisa diam. Ibra bisa saja mencelakai Salwa," ucap Abra yang kembali fokus pada layar laptop.
Terlihat Ibra mulai memaksa Salwa memakan makanannya. Abra mengepalkan tangannya melihat perlakuan saudara kembarnya itu. Dia tidak menyangka jika Ibra masih sama seperti dulu. Pria itu pikir, usia yang sudah dewasa membuat saudaranya bisa bersikap dewasa, nyatanya sama saja.
Dari dulu Abra selalu mengalah, tetapi tidak untuk kali ini. Dia tidak akan pernah memaafkan saudaranya itu jika terjadi sesuatu pada Salwa dan anak mereka.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membiarkan Salwa dalam keadaan bahaya." Abra segera membuka pintu mobil dan berlari ke arah gedung tua itu.
"Bos!" panggil Lukas. Namun, terlambat. Abra sudah berlari menuju gedung
Lukas dan Leo pun terpaksa mengikuti Abra. Mereka tidak ingin atasannya itu dalam bahaya. Abraham mencoba untuk mencari pintu lain karena dia bisa melihat tadi, bahwa ada banyak pengawal di bagian belakang pintu depan. Pria itu mengendap-ngendap di sekitar gedung. Namun, tak juga menemukan pintu lainnya.
Hingga akhirnya di belakang dia bisa melihat ada pintu. Abra mencoba untuk membukanya, tetapi tidak bisa. Berulang kali pria itu berusaha membukanya. Namun, tidak membuahkan hasil.
"Sepertinya pintu ini memang benar-benar tidak bisa dibuka," ujar Lukas yang sedari tadi mengikuti atasannya. Abra kesal hingga menendang pintu itu. Namun, pintu itu sama sekali tidak terbuka sedikitpun.
"Jalan satu-satunya cuma lewat pintu depan, tapi di sana sangat banyak orang. Kita bertiga juga pasti akan kesulitan menghadapi mereka," sahut Leo.
"Kalian tunggu saja di luar, biar aku sendiri yang masuk!" seru Abra yang kembali berjalan ke depan.
"Tapi Salwa sedang dalam bahaya. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri di dalam sana!"
Abra tidak bisa fokus dengan tindakannya. Pikirannya ke mana-mana. Ibra sudah benar-benar keterlaluan. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu disakiti. Pria itu tidak ingin menyesal karena terlambat menolong kekasih hatinya.
Abra pun segera masuk ke gedung itu. Lucas pun terpaksa mengikuti atasannya masuk ke dalam, tetapi dia melarang Leo untuk ikut. Biar adiknya yang menunggu anak buahnya yang lain, sementara dia dan Abra mencoba untuk menyelamatkan Salwa. Saat keduanya masuk, benar saja di dalam banyak sekali pengawal yang berjaga. Ada pula yang sedang beristirahat.
Mereka semua mengeroyok Abra dan Lukas. Meskipun keduanya sangat pandai dalam bela diri, tetap saja kalah dengan jumlah mereka yang sangat banyak. Keduanya mencoba untuk bertahan sampai bantuan datang. Hingga sepuluh menit kemudian anak buah mereka datang dan membantu Abra dan Lukas yang tubuhnya sudah dipenuhi luka.
Pria itu tidak menghiraukan luka yang didapat. Dia mencoba mencari di mana mereka menyekap Salwa, hingga sampailah Abra di depan ruangan yang tadi dilihat di kamera. Untungnya ruangan itu tidak dikunci jadi, pria itu bisa segera masuk.
Pintu terbuka. Tampak Salwa yang sudah menangis meminta tolong, tetapi bukan itu yang menarik perhatian Abra. Darah yang mengalir di sela pahanya. Ibra yang melihat kedatangan saudaranya pun terkejut.
__ADS_1
"Salwa!" panggil Abra.
"Wah, saudara kembarmu, kamu hebat sekali bisa menemukan kami secepat ini!" seru Ibra.
"Brengs*k!" umpat Abra yang segera melayangkan bogeman ke wajah Ibra. Tidak cukup di situ saja. Keduanya terlibat adu pukul, hingga panggilan Salwa membuat Abra berhenti dan segera mendekatinya.
"Salwa, kamu tidak apa-apa?" tanya Abra.
"Tolong selamatkan anak kita. Dia tidak bersalah," ucap Salwa dengan menahan sakit.
Abra segera melepaskan ikatan di tubuh Salwa, tetapi saat ikatan itu belum terlepas sempurna. Ibra mendekati keduanya dengan membawa kayu balok. Dia ingin memukul kepala Abra. Teriakan Salwa membuat Abra menoleh ke belakang dan segera memukul Ibra.
Leo dan beberapa anak buahnya masuk ke sana dan membantu Abra membereskan Ibra. Dia mengatakan pada atasannya untuk segera membawa Salwa ke rumah sakit. Pria itu melihat keadaan wanita itu sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Abra segera menggendong Salwa dan membawanya keluar dari gedung.
Darah masih mengalir di sela pahanya. Sedari tadi dia terus bergumam pada Abra untuk menyelamatkan nyawa anak mereka. Hingga akhirnya wanita itu tidak sadarkan diri. Abra sangat panik, dia berusaha untuk menyadarkan Salwa, tetapi kekasihnya tak kunjung sadar.
Abra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali bahkan hampir tertabrak pengendara lain. Namun, dia tidak peduli, asalkan mereka sampai di rumah sakit secepatnya. Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit.
Pria itu berteriak, meminta tolong pada perawat sambil menggendong kekasihnya yang sudah tidak sadarkan diri. Beberapa perawat mendekatinya sambil mendorong brankar dan meminta Abra menurunkan Salwa di sana.
.
.
.
__ADS_1